
Sang Ratu Kembali: Dimanjakan oleh Tiga Saudaranya yang Kuat
Bab 3
Rina beralih ke pesan suara berikutnya, yang ternyata berasal dari Adrian, salah satu dokter yang paling dihormati di Rumah Sakit Angkasa.
Suara pria tua itu terdengar sedikit mengemis saat berkata, "Rina, aku menghadapi situasi yang cukup rumit. Putra salah satu teman lamaku menderita penyakit kronis selama bertahun-tahun dan baru-baru ini kondisinya semakin memburuk. Obat khusus yang kamu berikan padaku tidak terlalu efektif lagi untuk mengatasi penyakitnya. Apa kamu bisa meluangkan waktu untuk memeriksanya?"
Rina segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Adrian. Begitu panggilan telepon tersambung, dia berkata, "Aku akan datang ke klinik setelah kelas besok malam. Suruh dia datang menemuiku saat itu."
Adrian menghela napas pelan sebelum berkata, "Tapi, saat ini dia sedang dirawat di ruang VIP di rumah sakit. Karena protokol di rumah sakit sangat ketat, mustahil baginya untuk meninggalkan rumah sakit dan menemuimu."
Rina mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja dan bertanya "Pak Adrian, tolong katakan padaku siapa pasien itu."
Setelah terdiam sejenak, Adrian menjawab dengan suara berbisik, "Dia adalah Juna Dewantara, cucu Jenderal Sirman Dewantara. Ini bukan kasus biasa. Keluarga Dewantara diam-diam telah menghubungi dokter-dokter terkemuka di seluruh negeri. Mereka menawarkan 40 miliar rupiah pada siapa pun yang dapat menyembuhkannya."
Reaksi Rina hanya mengangkat salah satu alis. Keluarga Dewantara adalah keluarga legendaris yang dipimpin oleh Sirman Dewantara, seorang jenderal yang tangguh. Dia adalah seorang pria yang bahkan dihormati oleh presiden.
Adapun Juna Dewantara, dia telah mendengar tentang tuan muda dari keluarga terkemuka ini. Di usianya yang masih menginjak 30 tahun, dia sudah mengumpulkan sejumlah besar penghargaan militer berkat kecerdasannya dalam menyusun taktik, sehingga dia dipercaya menjabat sebagai laksamana laut termuda.
Mengingat rekam jejak Juna yang luar biasa, Rina bertanya-tanya apa yang terjadi dengan pria itu.
Dia mengecek email pribadinya, yang terenkripsi, dan benar saja, di sana terdapat undangan resmi dari Departemen Kesehatan Nasional.
Beroperasi dengan nama samaran 'Tangan Ajaib' di Internet, dia adalah seorang spesialis dalam menangani kasus medis yang sangat kompleks. Seiring berjalannya waktu, dia mengumpulkan individu-individu yang sevisi dengannya dan membentuk sebuah tim elit. Tidak mengherankan jika pemerintah datang mencarinya.
Dia menjawab dengan tenang, "Aku sudah menerima undangan itu. Imbalannya memang sangat menggiurkan. Aku akan menangani kasus ini."
Sementara itu, kabar tentang undangan mendesak Keluarga Dewantara ini juga sampai ke telinga Keluarga Kurnoto. Eric segera bertindak dengan menghubungi sejumlah kontak dengan harapan bisa mendapatkan peluang.
Di kalangan kaum elit, Keluarga Kurnoto dipandang sebelah mata sehingga mereka tidak mampu menjalin hubungan dengan pejabat pemerintah. Jika mereka berhasil menyembuhkan Juna, tiket untuk memasuki lingkaran sosial tertinggi berada di depan mata.
Sementara itu, rumor lain telah menggemparkan kota, yaitu keluarga terkaya di Kota Kanma telah mendarat di Kota Kuno dan menjanjikan imbalan bernilai fantastis bagi siapa saja yang berhasil menemukan putri mereka yang hilang. Tergiur oleh iming-iming ini, seluruh warga kota langsung heboh dan berlomba-lomba mencari putri yang hilang.
...
Keesokan harinya.
Bunyi dering ponsel yang melengking membangunkan Rina dari tidurnya. Rasa kantuk masih menguasainya, dia meregangkan badan sambil menguap lebar-lebar, lalu menyeret dirinya turun dari atas ranjang dengan malas.
Di ujung telepon yang lain, Lilo, ketua tim peneliti, hampir tidak bisa menutupi kekesalannya saat dia menegur, "Rina! Aku sudah menyuruhmu untuk mengurus pengorganisasian data, tapi kamu belum juga datang ke kampus sepanjang pagi ini! Apa kamu ingin mengundurkan diri dari kelompok penelitianku? Lisa sudah datang ke sini sejak pagi. Cepat datang ke sini sekarang juga!"
Alih-alih mengucapkan sesuatu, Rina langsung mengakhiri panggilan telepon dan melirik jam.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi.
Pikirannya melayang kembali pada malam sebelumnya. Sepanjang malam, dia meneliti dan memilah beberapa resep obat kuno yang sudah berumur berabad-abad, sehingga hari ini dia bangun kesiangan dan melupakan tugas dari Lilo.
Dia menguap lebar-lebar saat menyalakan laptopnya, menulis email dengan santai, dan mengirimkannya. Setelah mandi, dia berpakaian, menenteng tas ranselnya, dan melangkah keluar dari apartemen menuju tempat parkir, di mana motornya sudah menunggu.
Motornya melaju kencang di jalan-jalan kota sampai dia tiba di depan laboratorium universitas. Setelah memarkir motornya, dia melangkah menuju pintu masuk.
Ketika menggesek kartu aksesnya di mesin akses kontrol pintu, layar mesin berkedip dan terpampang pesan 'akses ditolak', yang menandakan bahwa aksesnya telah dicabut.
Pada saat ini, pintu laboratorium terbuka dan keluarlah Lisa, diapit oleh dua mahasiswa senior dari tim peneliti.
Melihat Rina yang kebingungan, senyum mengejek tersungging di bibir salah satu senior saat dia berkata dengan nada mencibir, "Rina, kamu pikir dirimu istimewa? Selain datang terlambat, kamu juga lalai dalam melaksanakan tugas, sehingga kesabaran Pak Lilo habis dan dia mencabut aksesmu ke laboratorium sepenuhnya. Aku penasaran ingin melihat apa yang akan kamu lakukan sekarang."
Anda Mungkin Juga Suka





