Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Putra Rahasia Sang CEO dan Istri Dokternya

Putra Rahasia Sang CEO dan Istri Dokternya

Alina terkejut saat pasien kecilnya ternyata putra rahasia Bramantyo, suaminya. Pengkhianatan memuncak di pesta besar saat Bramantyo mencelakai Alina demi melindungi anak itu, hingga ia kehilangan janinnya. Diabaikan saat berduka, Alina hampir tewas akibat serangan selingkuhan suaminya. Namun, ia selamat dari maut dan memalsukan kematiannya. Meninggalkan luka lima tahun pernikahan, Alina terbang ke Zurich demi memulai hidup baru sebagai wanita berbeda.
Bab
Bagikan

Bab 1

Kehidupan rahasia suamiku masuk ke ruang kerjaku di hari pertamaku sebagai Kepala Residen: seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata ayahnya dan alergi turunan langka yang sangat kukenal.

Bramantyo, pria yang kunikahi, saingan brilian yang bersumpah tidak bisa hidup tanpaku, ternyata punya keluarga lain.

Di pesta ulang tahun perusahaannya, putranya secara terang-terangan menyebutku perempuan jahat yang mencoba merebut ayahnya. Saat aku melangkah mendekati anak itu, Bramantyo mendorongku hingga jatuh ke lantai untuk melindunginya. Kepalaku terbentur, dan saat nyawa calon anak kami mengalir keluar dari tubuhku, dia pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun.

Dia tidak pernah menjengukku di rumah sakit. Dia membiarkanku menghadapi kehilangan bayi kami sendirian. Saat itulah aku tahu pria yang kucintai benar-benar telah tiada, dan lima tahun pernikahan kami adalah sebuah kebohongan.

Selingkuhannya mencoba menyelesaikan pekerjaan itu, mendorongku dari tebing ke laut. Tapi aku selamat. Dan saat dunia berduka atas kematian Alina Wijaya, aku naik pesawat ke Zurich, siap memulai hidup baruku.

Bab 1

Kehidupan rahasia suaminya masuk ke ruang kerjanya di hari pertamanya sebagai Kepala Residen. Seorang anak laki-laki berusia empat tahun dengan mata gelap ayahnya dan alergi turunan langka yang sangat ia kenal. Ibunya, Sandra Halim, adalah perwujudan kesempurnaan yang terawat, mulai dari tas desainer ternama hingga ekspresi khawatir namun tetap tenang.

Saat Alina mencatat riwayat penyakit anak itu, lonceng alarm dingin di benaknya berbunyi semakin kencang dengan setiap detail yang familier.

“Dan informasi ayahnya?” tanya Alina, menjaga suaranya tetap stabil sambil menunjuk formulir pasien.

Sandra mengambil pulpen, kuku manikurnya beradu dengan plastik. Dia menulis sebuah nama, lalu menggeser papan formulir itu kembali ke seberang meja. Mata Alina tertuju pada kertas itu.

Bramantyo Wijaya.

Dunia seakan jungkir balik. Ini pasti kebetulan. Pasti.

Sandra memperhatikannya, sebersit ekspresi yang tak terbaca—hiburan? kasihan?—di matanya. “Ayahnya sangat menyayanginya,” katanya, nadanya begitu manis dibuat-buat hingga membuat kulit Alina merinding. “Tapi dia sangat sibuk dengan pekerjaan. Selalu bepergian untuk urusan bisnis. Aku hanya berharap bisa memberikan putraku rumah yang utuh, kau tahu?”

Sindiran itu bagai tamparan keras yang tak terlihat, langsung menghantam hati Alina. Sebelum dia bisa merangkai jawaban, ponsel Sandra bergetar. Dia menjawab, suaranya berubah menjadi bisikan mesra.

“Hai, sayang. Iya, kami baru saja selesai.”

Suara di seberang telepon terdengar samar, terdistorsi oleh telepon, tapi Alina akan mengenalinya di mana saja. Itu Bram.

Gelombang mual yang hebat menerpanya. Jari-jarinya, kaku dan kikuk, menari di layar ponselnya sendiri, mengirim pesan teks ke suaminya.

Lagi apa?

Balasannya datang hampir seketika.

Lagi meeting proyek besar, sayang. Makan malam kita mungkin telat. Nanti aku tebus ya, janji. Aku cinta kamu.

Ponsel di tangan Sandra bergetar lagi. Dia tersenyum, senyum kecil yang penuh rahasia dan kepuasan, lalu menutup telepon. “Dia sedang dalam perjalanan menjemput kami,” umum Sandra dengan ceria.

Alina merasa seperti bergerak di dalam air. Dia menyelesaikan konsultasi dengan mode autopilot, profesionalismenya menjadi perisai tipis melawan dunianya yang hancur berkeping-keping. Dia meresepkan obat yang diperlukan, memberikan instruksi pada Sandra, dan melihat mereka pergi.

Dari jendela kantornya, dia melihat semuanya. Mobil Bram yang familier menepi di pinggir jalan. Dia melihat suaminya keluar, bukan dengan postur lelah seorang pria yang baru selesai rapat menegangkan, tetapi dengan senyum santai dan lega seorang pria yang pulang ke rumah. Dia mengayunkan Leo ke dalam pelukannya, gerakannya begitu terlatih dan pasti. Dia mencium Sandra, sebuah kecupan singkat yang akrab di pipi. Mereka tampak seperti sebuah keluarga. Keluarga yang sempurna dan bahagia.

Seorang perawat muda, yang sedang menyortir arsip di sebelahnya, mendesah penuh harap. “Wah. Lihat mereka. Suami dan ayah idaman banget.”

Komentar polos itu adalah pukulan terakhir yang menghancurkan. Sebuah keluarga? Lalu dia siapa?

Pikirannya melayang kembali ke lima tahun pernikahan mereka. Semua “perjalanan bisnis mingguan yang sudah terjadwal.” “Keadaan darurat larut malam di kantor.” Saat dia meringkuk kesakitan karena kram perut, dan Bram tidak bisa dihubungi, konon sedang dalam penerbangan. Selama ini, dia bersama mereka. Selama ini.

Dia teringat ulang tahun pernikahan mereka beberapa bulan lalu. “Kurasa aku siap,” bisiknya di tempat tidur. “Ayo kita punya bayi.” Bram terdiam, mengusap rambutnya. “Jangan sekarang, Alina,” katanya dengan suara lembut. “Perusahaan sedang dalam tahap kritis. Beri aku waktu setahun lagi.” Dan Alina percaya padanya.

Dia teringat masa-masa kuliah kedokteran, di mana Bram adalah saingan terberat sekaligus pengagum paling gigihnya. Dia membawakannya sup saat jaga 24 jam yang melelahkan, menemaninya saat dia pingsan karena kelelahan, dan melamarnya di keheningan ruang jaga yang dingin dan steril, bersumpah dia tidak bisa membayangkan hidup tanpanya. Semuanya terasa begitu nyata.

Ponselnya berdering, menghancurkan kenangan itu. Itu Bram. Namanya bersinar di layar, simbol cinta yang kini menjadi kebohongan mengerikan.

Dia menjawab, tangannya gemetar.

“Hei, gimana hari pertama di pekerjaan baru?” Suaranya hangat, nada penuh kasih yang selalu dia gunakan padanya.

Di latar belakang, Alina mendengarnya dengan jelas. Suara Leo berteriak, “Papa!” diikuti oleh tawa lembut Sandra.

“Aku lagi makan malam sama tim proyek,” kata Bram lancar. “Agak berisik. Aku kangen kamu.”

“Papa!” suara Leo terdengar lagi, kali ini lebih dekat.

Nada suara Bram berubah, sedikit panik menyelinap masuk. “Itu cuma… anak salah satu rekan kerjaku.” Dia menutup telepon dengan tiba-tiba.

Melalui jendela, Alina melihatnya menggendong anak itu, mencium keningnya, ekspresinya adalah potret pengabdian seorang ayah yang sempurna. Itu adalah tatapan yang belum pernah Alina lihat sebelumnya. Tatapan yang tidak pernah ditujukan untuknya.

Hatinya bukan hanya hancur, tapi membatu. Dia tidak menelepon sahabatnya. Dia tidak menelepon pengacara. Dia mencari kontak direktur program beasiswa penelitian medis bergengsi di Zurich. Program enam bulan yang imersif, yang pernah ia tunda demi tetap bersama Bram.

Suaranya terdengar anehnya tenang saat direktur itu menjawab. “Saya ingin menerima posisi itu,” katanya. “Saya bisa segera berangkat.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Lima Anak Kembar
9.4
Isabella Ardhani mengalami nasib tragis setelah terjebak di kamar Rafael Damar, bos mafia penguasa bisnis. Insiden tersebut membuatnya hamil lima anak kembar jenius. Diusir dari rumah, ia kabur ke luar negeri demi membesarkan mereka. Bertahun-tahun berlalu, Isabella kembali sebagai wanita berkuasa. Takdir membawanya bertemu Rafael lagi, namun kali ini kelima anaknya telah menyiapkan rencana balas dendam besar terhadap ayah kandung mereka.
Sampul Novel HASRAT MEMBARA CEO PERKASA
8.5
Sekuel dari Cintaku Bersemi di Masa Remaja ini mengisahkan Joseph Mikuel, CEO JM Corp, yang tak sengaja bertemu kembali dengan cinta lamanya, Mary Violet. Mary, yang dulu menghilang tanpa penjelasan, tiba-tiba melamar sebagai sekretaris pribadi di perusahaannya. Menggunakan kekuasaannya, Joseph memastikan Mary diterima demi menuntaskan perasaan yang belum usai. Pertemuan tak terduga ini mengejutkan Mary dan memicu tanya: apakah cinta lama mereka bisa bersemi kembali?
Sampul Novel Istri mandul CEO bucin
8.8
Lima tahun membina rumah tangga, Asmaraloka dan Cadis Diraizel dikenal sebagai pasangan harmonis yang saling mencintai. Namun, kebahagiaan mereka mulai goyah saat Ara divonis mandul oleh dokter. Meski sang CEO tetap setia dan menerima kondisi tersebut tanpa menuntut keturunan, rasa minder Ara memicu keretakan. Situasi kian pelik ketika pihak ketiga hadir memperkeruh suasana dengan berbagai kesalahpahaman. Mampukah cinta tulus mereka bertahan menghadapi cobaan ini?
Sampul Novel Ketika Cinta Tak Mendapat Musimnya
8.5
Tujuh tahun menjadi sekretaris dan kekasih Navish, Cassia harus menghadapi kenyataan pahit saat pria itu bertunangan dengan orang lain. Berniat mundur karena patah hati, Cassia terkejut ketika Navish tiba-tiba membatalkan pertunangan itu di depan publik. Namun, sebuah acara lelang mengubah segalanya. Alih-alih dilamar, Cassia justru dihadapkan pada kemunculan 'cinta sejati' Navish yang berwajah sangat mirip dengannya. Di tengah gunjingan publik, Cassia akhirnya menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang pengganti.
Sampul Novel Pembantu dan pewaris muda
8.5
Amelia terjebak utang ayahnya dan kemiskinan saat bekerja di rumah keluarga De la Vega. Hidupnya berubah sejak Luciano, sang pewaris arogan, mulai memperhatikannya. Hubungan rahasia mereka tumbuh di tengah perbedaan kelas, namun skandal besar mengancam martabat Amelia. Kini ia harus memilih antara cinta yang membara kepada Luciano atau melindungi adiknya serta janin di rahimnya. Dua dunia yang bertabrakan ini siap meledak dalam konflik yang penuh emosi dan pengorbanan.
Sampul Novel Penyesalan Mantan Suami di Depan Makamku
8.6
Kepulangan Rina Januar menandai akhir pernikahan tokoh utama dengan miliarder Galih Gunawan. Setelah mengabaikan istrinya semalaman dan kedapatan bermesraan dengan Rina di media sosial, Galih tanpa ragu menyodorkan surat cerai demi mengembalikan posisi Nyonya Gunawan kepada cinta sejatinya. Tanpa penolakan, sang istri yang diam-diam sedang sekarat memilih merelakan segalanya. Namun, setelah kematian menjemputnya, penyesalan hebat justru menghantam Galih yang kini hanya bisa menangis pilu di depan makamnya.