Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pupus

Pupus

Hafiz dan Aina terpaksa mengakhiri hubungan mereka akibat perjodohan orang tua. Tiga dekade kemudian, takdir mempertemukan anak-anak mereka, Gwen dan Arsakha, yang saling jatuh cinta. Namun, rahasia masa lalu terungkap saat Arsakha bertemu ibu Gwen. Mengetahui Arsakha adalah putra mantan kekasihnya, ibu Gwen menentang keras hubungan tersebut. Akankah asmara Gwen dan Arsakha berakhir tragis seperti orang tua mereka, ataukah mereka berhasil mempertahankan cinta itu?
Bab
Bagikan

Bab 3

Di luar kedai—berpuluh meter jaraknya—seorang perempuan berkebaya encim cokelat muda menghentikan langkah dan berpatah-balik ke arah ia datang semula, tapi sampai di dekat kedai—penjual tembakau—Babah Liong, ia berhenti. Agaknya ada sesuatu yang ingin dicarinya. Sosok lelaki gagah yang tadi menyapa dan menawarkannya untuk mencoba juadah di kedai kopi, dan berkata ia pula yang akan membayarnya. Amboiii ... alangkah ramah dan baik hati lelaki gagah itu, bisik hati perempuan berkabaya encim cokelat muda sambil memanjangkan lehernya—meninjau—ke arah kedai kopi yang berada sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Ingin sekali lagi ia melihat paras rupa Si Lelaki itu. Senyum dan suaranya bagai pangeran dari kayangan. Sering ia ditegur-sapa oleh lelaki, tapi tak sedikit pun berkenan di hatinya. Lain sekali dengan lelaki yang tadi menyapanya dari kedai kopi. Lagak dan gayanya sangatlah sopan dan tak ada sedikit pun terkesan hendak menggoda. Aina terpesona juga dengan lelaki itu, tapi apa ia punya nama? Aih! Bersemu merah wajahnya, malu hati pada diri sendiri. Mengangankan lelaki yang belum ia kenal, tak tahu pula asal-muasalnya. Aina masih berdiri di depan kedai Babah Liong, melempar pandangan dengan malu-malu ke arah kedai kopi—seperti takut ketahuan kalau ia sedang mengintai—berharap lelaki yang menegurnya tadi keluar lagi dari kedai itu, tapi sudah agak lama menunggu, lelaki yang dinantinya tak juga kunjung keluar dari kedai. Sejurus kemudian Si Perempuan berkebaya encim cokelat muda beranjak pergi meninggalkan tempat itu.

Matahari semakin tinggi, Si Lelaki keluar dari kedai kopi setelah perempuan berkebaya encim cokelat muda sudah pergi menjauh. Niat Si Lelaki tadi pergi ke Pekan hanya ingin membeli tembakau. Kalau hari biasa, tempat ini sepi. Hanya ada satu dua kedai yang buka, tapi kalau hari pekan, pedagang dari mana-mana pelosok datang menggelar barang dagangannya. Tempat ini jadi ramai. Bagus juga untuk mencuci mata, itulah sebab ia singgah di kedai kopi Pak Badrun. Memang rumahnya tak berapa jauh dari Pekan. Ia cukup berjalan kaki saja, tak sampai tiga puluh menit. Lagi pula untuk apa pulang cepat, di rumah pun pening kepala. Ayah dan ibunya selalu menegur, menasihati, bahkan menunjuk-nunjuk mukanya, supaya hidup lebih terarah. Cari kerja, jangan hanya sibuk bersyair, harapkan jadi pujangga. Mau makan apa? Menurut hematnya, semua rejeki manusia sudah ditanggung oleh Tuhan. Semut di lubang batu saja bisa makan, apalagi ia seorang manusia. Lelaki itu tak pernah risau pada masa depannya. Hidup itu jangan dipikirkan, kalau banyak pikiran alamat cepat masuk liang kubur!

Hampir dekat ke rumahnya, ia berhenti di bawah pohon ketapang yang rindang, ada penjual es doger di situ. Satu-dua pedati melintas di jalan yang masih berupa tanah, warna kuning kecokelatan. Ada juga beberapa orang mengendarai sepeda, tapi lebih banyak yang berjalan kaki, searah dengannya pulang dari Pekan.

“Bang, kasih aku es doger,” lelaki itu berkata seraya duduk di bawah pohon ketapang.

Penjual es doger lekas berjingkat dari duduknya. Menyiapakan segelas es yang warnanya merah jambu, sungguh cerah dan sangat menerbitkan selera. Siang semakin terik. Lelaki itu berniat berangin-angin barang sejenak—melinting lagi tembakaunya sambil menunggu segelas es doger dengan tapai berwarna putih yang rasanya enak. Baginya hidup itu diselenggarakan dengan cara sederhana saja. Tak perlu risau pada kedudukan dan harta. Jiwa dapat bebas berkelana sesuka hati. Tidak pernah takut akan hilang-kehilangan dan punya tak berpunya. Harta duniawi itu makin dikira, semakin terasa kurangnya. Hah! Seperti minum air laut saja. Baiklah ia mengisap tembakau sambil minum es doger. Dapat luput sejenak silang-sengkarut dalam hati. Jangan pulang dulu. Begitulah yang ada di dalam pikirannya.

Kalau di rumah pastilah ia mendengar permintaan remeh-temeh orangtuanya. Supaya ia cepat berumah-tangga, punya istri dan anak. Disuruhlah ia mencari kerja, ijasah HBS⁶--Hogere Burger School, sudah ada di tangan. Kata ayah dan ibunya, sudah tinggi sekali sekolahnya pada jaman itu. Sangat mudahlah mencari kerja kalu saja ia mau. Pada saat itu jangankan yang bersekolah sampai sejenjang dengannya, yang masih buta hurup lebih banyak daripada yang berpendidikan. Itulah yang saban hari didengarnya, tapi lelaki itu tak pernah bersedia menjadi kacung, pesuruh di jawatan negara. Apalagi perusahaan milik perseorangan. Baginya kalau kita sudah bekerja pada satu jawatan negara atau perusahaan perseorangan, itu namanya sudah teken mati. Tak ada kebebasan lagi. Dari pagi sampai petang habis tersita waktu untuk bekerja. Waktu kita sudah dibeli! Ia lebih suka menulis syair-syair—membacakan sajak-sajaknya pada acara-acara kesenian. Saban hari kerjanya hanya berjalan sesuka hati, sekali waktu ia numpang tidur di rumah kawan, lain waktu tertidur pulas di emperan toko daerah Kesawan yang terletak di pusat Kota Medan. Kalau tak ada uang, ia pulang ke rumah, minta pada ibunya. Lalu pergi lagi, begitu sajalah kerjanya. Semangat bersyair semakin menjadi-jadi ketika ia baca sajak-sajak Chairil Anwar, pada Majalah Nisan. Chairil itu anak Medan yang sudah pindah ke Jakarta. Dulu mula-mula sekali, ia pernah terjumpa sekali-dua dengan lelaki kurus berambut tebal itu. Ah, sosok Chairil semakin mengapi-apikan semangatnya untuk bersyair. Seniman itu bebas, bebas dari kungkungan norma!

Sewaktu duduk di bawah pohon ketapang yang rindang daunnya, sambil sesekali meneguk es doger, tak lupa juga ia mengisap tembaku linting. Angan-angan pun memenuhi benaknya. Baru hari ini hatinya tergerak memikirkan perempuan. Memang aku tak boleh luput dari makhluk yang bernama perempuan, tapi bila harus menaklukkan diri pada pekerjaan, karena itulah syarat untuk bisa menghidupi anak-bini, sangatlah risau hatinya. Kalau tidak, makan apa mereka nanti? Semakin risaulah hati lelaki itu. Keruh juga air mukanya. Omelan orang-tuanya kembali bersipongang di telinga: bersyair-syair sepanjang hidup, mau makan apa?

“Abang sudah kawin, anak berapa?” ujar Si Lelaki mengalihkan risau hatinya pada penjual es doger.

“Anak saya lima, Tuan.”

“Ha?! Abang bisa menghidupi lima anak dengan seorang bini, hanya berjualan es doger saja?” terkejut Si Lelaki mendengarnya.

“Rejeki sudah ada yang mengatur, Tuan. Asal kita mau berusaha.”

Terdiam ia. Rasa ditampar mukanya. Jawaban penjual es doger itu membangkitkan rasa malu di hati. Ia tersenyum—meski terpaksa—sambil memandang penjual es doger.

“Ya, betul apa yang Abang katakan tadi. Rejeki sudah ada yang mengatur,” ujar Si Lelaki menutup rasa malu di hatinya.

Dua orang anak kecil berlarian menghampiri penjual es doger di bawah pohon ketapang. Sambil melayani kedua anak kecil itu, penjual es doger menoleh pada Si Lelaki yang duduk tak jauh dari gerobak es.

“Tuan ini pastilah seorang pegawai. Bekerja di jawatan apa?”

Lelaki itu menghabiskan sisa es doger dalam cangkirnya, lalu meletakkan uang lima puluh sen pada sisi gerobak es.

“Aku penyair, mana ada potongan jadi pegawai?” ujarnya sambil berlalu.

Penjual es doger terkejut. Ia memandangi Si Lelaki dengan saksama.

“Penyair?”

Lelaki itu menoleh sebentar.

“Ya, penyair,” jawabnya dengan lagak.

“Seperti Chairil Anwar?” seru penjual es doger merasa takjub.

“Ah, bu-bukan. Kalau aku belum lagi seperti beliau,” sahut Si Lelaki gugup.

“Meskipun begitu, tapi Tuan adalah penyair juga, kan?”

“I-iya ... betul itu. Aku penyair, menulis sajak, tapi belum pernah masuk surat kabar,” lelaki itu menyeringai sedikit, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan penjual es doger.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MDH" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MDH
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Sang Majikan
9.7
Trauma masa lalu menghancurkan hidup Amber Aileen hingga ia nyaris mengakhiri segalanya. Di tengah keputusasaan, Gavin Austin hadir sebagai penyelamat. Meski dikenal sebagai pria dingin tanpa ampun, Gavin justru bersikap lembut pada Amber, memicu kemarahan ibu dan tunangannya. Sebuah insiden satu malam mengikat takdir mereka lebih dalam. Namun, saat Amber mengandung, sebuah kabar mengejutkan dari Gavin mengancam janji kebahagiaan yang pernah diucapkannya.
Sampul Novel Cinta Setelah Menikah
9.4
Bunga, wanita cantik dengan bayang-bayang masa lalu, dipertemukan dengan Rio Xen Zhin. Rio adalah CEO asal Jepang yang kaya, berwibawa, namun sangat dingin. Sosoknya sangat mirip dengan mendiang mantan tunangan Bunga yang telah tiada. Rio memutuskan untuk menikahi Bunga hanya demi membalas sebuah jasa. Di tengah pernikahan tanpa cinta ini, mampukah Bunga merelakan masa lalunya dan menghadapi kenyataan bersama pria yang memiliki wajah serupa?
Sampul Novel Derita berujung bahagia
8.3
Arini berjuang sendirian membesarkan buah hatinya di tengah kerasnya hidup. Saat sang anak telah sukses, mantan suami yang dahulu membuang mereka tiba-tiba datang menuntut harta dengan alasan hubungan darah. Kemarahan Arini memuncak melihat ketidakadilan tersebut. Di tengah konflik batin dan dendam masa lalu, Arini justru dipertemukan dengan jodoh tak terduga yang ternyata memiliki kaitan erat dengan keluarga Hakam. Akankah ia menemukan kebahagiaan sejati?
Sampul Novel Kerinduan Tak Berujung
9.4
Lima tahun membina rumah tangga, Stella justru menemukan kenyataan pahit bahwa dokumen pernikahannya dengan Felix adalah palsu. Status istri sah ternyata diberikan kepada wanita lain bernama Tania demi melancarkan bisnisnya di luar negeri. Felix mengira Stella yang telah mengorbankan segalanya tidak akan pernah pergi. Namun, rasa sakit hati yang teramat dalam membuat Stella memutuskan untuk menghilang selamanya, tepat saat Felix mencoba membawa akta pernikahan yang asli.
Sampul Novel Malam Panas Bersama Mafia Dingin
9.6
Amora Nouline selalu hidup di bawah bayang-bayang kakaknya, Alana, karena pilih kasih sang ibu. Saat ayahnya sakit parah dan butuh biaya besar, ibu dan kakaknya justru tega mendesak Amora menjual diri. Demi kesembuhan sang ayah, Amora terpaksa setuju meski hatinya hancur. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mafia dingin yang sangat berkuasa. Meski pria itu berwajah tampan, aura kejamnya membuat Amora dilingkupi rasa takut yang luar biasa malam itu.
Sampul Novel Pernikahan Dadakan dengan CEO
8.8
Dalam Pernikahan Dadakan dengan CEO, konflik rumah tangga memuncak akibat masalah finansial. Sang suami menuntut agar semua pengeluaran, termasuk biaya hidup, cicilan KPR, dan cicilan mobil, dibagi secara patungan. Situasi semakin tegang karena kehadiran sang adik yang menumpang tinggal. Kontribusi bulanan sebesar empat juta rupiah dinilai tidak cukup dan dianggap setara dengan menumpang gratis, memicu tuntutan agar ia membayar setengah dari biaya hidup mereka.