
Pupus
Bab 3
Di luar kedai—berpuluh meter jaraknya—seorang perempuan berkebaya encim cokelat muda menghentikan langkah dan berpatah-balik ke arah ia datang semula, tapi sampai di dekat kedai—penjual tembakau—Babah Liong, ia berhenti. Agaknya ada sesuatu yang ingin dicarinya. Sosok lelaki gagah yang tadi menyapa dan menawarkannya untuk mencoba juadah di kedai kopi, dan berkata ia pula yang akan membayarnya. Amboiii ... alangkah ramah dan baik hati lelaki gagah itu, bisik hati perempuan berkabaya encim cokelat muda sambil memanjangkan lehernya—meninjau—ke arah kedai kopi yang berada sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. Ingin sekali lagi ia melihat paras rupa Si Lelaki itu. Senyum dan suaranya bagai pangeran dari kayangan. Sering ia ditegur-sapa oleh lelaki, tapi tak sedikit pun berkenan di hatinya. Lain sekali dengan lelaki yang tadi menyapanya dari kedai kopi. Lagak dan gayanya sangatlah sopan dan tak ada sedikit pun terkesan hendak menggoda. Aina terpesona juga dengan lelaki itu, tapi apa ia punya nama? Aih! Bersemu merah wajahnya, malu hati pada diri sendiri. Mengangankan lelaki yang belum ia kenal, tak tahu pula asal-muasalnya. Aina masih berdiri di depan kedai Babah Liong, melempar pandangan dengan malu-malu ke arah kedai kopi—seperti takut ketahuan kalau ia sedang mengintai—berharap lelaki yang menegurnya tadi keluar lagi dari kedai itu, tapi sudah agak lama menunggu, lelaki yang dinantinya tak juga kunjung keluar dari kedai. Sejurus kemudian Si Perempuan berkebaya encim cokelat muda beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
Matahari semakin tinggi, Si Lelaki keluar dari kedai kopi setelah perempuan berkebaya encim cokelat muda sudah pergi menjauh. Niat Si Lelaki tadi pergi ke Pekan hanya ingin membeli tembakau. Kalau hari biasa, tempat ini sepi. Hanya ada satu dua kedai yang buka, tapi kalau hari pekan, pedagang dari mana-mana pelosok datang menggelar barang dagangannya. Tempat ini jadi ramai. Bagus juga untuk mencuci mata, itulah sebab ia singgah di kedai kopi Pak Badrun. Memang rumahnya tak berapa jauh dari Pekan. Ia cukup berjalan kaki saja, tak sampai tiga puluh menit. Lagi pula untuk apa pulang cepat, di rumah pun pening kepala. Ayah dan ibunya selalu menegur, menasihati, bahkan menunjuk-nunjuk mukanya, supaya hidup lebih terarah. Cari kerja, jangan hanya sibuk bersyair, harapkan jadi pujangga. Mau makan apa? Menurut hematnya, semua rejeki manusia sudah ditanggung oleh Tuhan. Semut di lubang batu saja bisa makan, apalagi ia seorang manusia. Lelaki itu tak pernah risau pada masa depannya. Hidup itu jangan dipikirkan, kalau banyak pikiran alamat cepat masuk liang kubur!
Hampir dekat ke rumahnya, ia berhenti di bawah pohon ketapang yang rindang, ada penjual es doger di situ. Satu-dua pedati melintas di jalan yang masih berupa tanah, warna kuning kecokelatan. Ada juga beberapa orang mengendarai sepeda, tapi lebih banyak yang berjalan kaki, searah dengannya pulang dari Pekan.
“Bang, kasih aku es doger,” lelaki itu berkata seraya duduk di bawah pohon ketapang.
Penjual es doger lekas berjingkat dari duduknya. Menyiapakan segelas es yang warnanya merah jambu, sungguh cerah dan sangat menerbitkan selera. Siang semakin terik. Lelaki itu berniat berangin-angin barang sejenak—melinting lagi tembakaunya sambil menunggu segelas es doger dengan tapai berwarna putih yang rasanya enak. Baginya hidup itu diselenggarakan dengan cara sederhana saja. Tak perlu risau pada kedudukan dan harta. Jiwa dapat bebas berkelana sesuka hati. Tidak pernah takut akan hilang-kehilangan dan punya tak berpunya. Harta duniawi itu makin dikira, semakin terasa kurangnya. Hah! Seperti minum air laut saja. Baiklah ia mengisap tembakau sambil minum es doger. Dapat luput sejenak silang-sengkarut dalam hati. Jangan pulang dulu. Begitulah yang ada di dalam pikirannya.
Kalau di rumah pastilah ia mendengar permintaan remeh-temeh orangtuanya. Supaya ia cepat berumah-tangga, punya istri dan anak. Disuruhlah ia mencari kerja, ijasah HBS⁶--Hogere Burger School, sudah ada di tangan. Kata ayah dan ibunya, sudah tinggi sekali sekolahnya pada jaman itu. Sangat mudahlah mencari kerja kalu saja ia mau. Pada saat itu jangankan yang bersekolah sampai sejenjang dengannya, yang masih buta hurup lebih banyak daripada yang berpendidikan. Itulah yang saban hari didengarnya, tapi lelaki itu tak pernah bersedia menjadi kacung, pesuruh di jawatan negara. Apalagi perusahaan milik perseorangan. Baginya kalau kita sudah bekerja pada satu jawatan negara atau perusahaan perseorangan, itu namanya sudah teken mati. Tak ada kebebasan lagi. Dari pagi sampai petang habis tersita waktu untuk bekerja. Waktu kita sudah dibeli! Ia lebih suka menulis syair-syair—membacakan sajak-sajaknya pada acara-acara kesenian. Saban hari kerjanya hanya berjalan sesuka hati, sekali waktu ia numpang tidur di rumah kawan, lain waktu tertidur pulas di emperan toko daerah Kesawan yang terletak di pusat Kota Medan. Kalau tak ada uang, ia pulang ke rumah, minta pada ibunya. Lalu pergi lagi, begitu sajalah kerjanya. Semangat bersyair semakin menjadi-jadi ketika ia baca sajak-sajak Chairil Anwar, pada Majalah Nisan. Chairil itu anak Medan yang sudah pindah ke Jakarta. Dulu mula-mula sekali, ia pernah terjumpa sekali-dua dengan lelaki kurus berambut tebal itu. Ah, sosok Chairil semakin mengapi-apikan semangatnya untuk bersyair. Seniman itu bebas, bebas dari kungkungan norma!
Sewaktu duduk di bawah pohon ketapang yang rindang daunnya, sambil sesekali meneguk es doger, tak lupa juga ia mengisap tembaku linting. Angan-angan pun memenuhi benaknya. Baru hari ini hatinya tergerak memikirkan perempuan. Memang aku tak boleh luput dari makhluk yang bernama perempuan, tapi bila harus menaklukkan diri pada pekerjaan, karena itulah syarat untuk bisa menghidupi anak-bini, sangatlah risau hatinya. Kalau tidak, makan apa mereka nanti? Semakin risaulah hati lelaki itu. Keruh juga air mukanya. Omelan orang-tuanya kembali bersipongang di telinga: bersyair-syair sepanjang hidup, mau makan apa?
“Abang sudah kawin, anak berapa?” ujar Si Lelaki mengalihkan risau hatinya pada penjual es doger.
“Anak saya lima, Tuan.”
“Ha?! Abang bisa menghidupi lima anak dengan seorang bini, hanya berjualan es doger saja?” terkejut Si Lelaki mendengarnya.
“Rejeki sudah ada yang mengatur, Tuan. Asal kita mau berusaha.”
Terdiam ia. Rasa ditampar mukanya. Jawaban penjual es doger itu membangkitkan rasa malu di hati. Ia tersenyum—meski terpaksa—sambil memandang penjual es doger.
“Ya, betul apa yang Abang katakan tadi. Rejeki sudah ada yang mengatur,” ujar Si Lelaki menutup rasa malu di hatinya.
Dua orang anak kecil berlarian menghampiri penjual es doger di bawah pohon ketapang. Sambil melayani kedua anak kecil itu, penjual es doger menoleh pada Si Lelaki yang duduk tak jauh dari gerobak es.
“Tuan ini pastilah seorang pegawai. Bekerja di jawatan apa?”
Lelaki itu menghabiskan sisa es doger dalam cangkirnya, lalu meletakkan uang lima puluh sen pada sisi gerobak es.
“Aku penyair, mana ada potongan jadi pegawai?” ujarnya sambil berlalu.
Penjual es doger terkejut. Ia memandangi Si Lelaki dengan saksama.
“Penyair?”
Lelaki itu menoleh sebentar.
“Ya, penyair,” jawabnya dengan lagak.
“Seperti Chairil Anwar?” seru penjual es doger merasa takjub.
“Ah, bu-bukan. Kalau aku belum lagi seperti beliau,” sahut Si Lelaki gugup.
“Meskipun begitu, tapi Tuan adalah penyair juga, kan?”
“I-iya ... betul itu. Aku penyair, menulis sajak, tapi belum pernah masuk surat kabar,” lelaki itu menyeringai sedikit, sebelum ia benar-benar pergi meninggalkan penjual es doger.
Anda Mungkin Juga Suka





