Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Profesor Yang Mengklaim Hidupku

Profesor Yang Mengklaim Hidupku

Ivy terpaksa menyerahkan dirinya kepada Ezra demi melindungi nama baik sang kekasih dari masalah kampus. Meski membenci sang profesor yang dingin, ia setuju menjadi teman tidurnya untuk satu malam. Ivy berharap segalanya usai setelah fajar tiba, namun Ezra justru menjadi terobsesi dan tak ingin melepaskannya. Pria itu bertekad menjerat Ivy dalam genggamannya selamanya, memastikan bahwa hubungan rahasia mereka tidak akan pernah berakhir begitu saja.
Bab
Bagikan

Bab 2

Ivy berusaha menenangkan dirinya, namun setiap inci tubuhnya terasa terperangkap. Setiap detik yang berlalu semakin berat, seperti ada sesuatu yang menahan gerakannya. Ezra berdiri begitu dekat, keberadaan pria itu membekukan segenap rasa yang berkecamuk dalam dirinya. Dia ingin mundur, ingin melepaskan diri dari situasi ini, namun semakin dia berusaha melawan, semakin kuat tarikan yang ia rasakan.

"Apa kau takut, Ivy?" suara Ezra menggema dalam ruang sepi itu, penuh dengan ironi. Suaranya rendah dan menghujam, seolah tahu apa yang ada dalam pikirannya.

Ivy memaksakan diri untuk menatap matanya, meskipun rasa takut itu menyesak. "Tidak... aku tidak takut," jawabnya, meski suaranya bergetar.

Ezra tertawa pelan, lalu menatap Ivy dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kau pasti tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tidak ada yang namanya jalan keluar. Kau sudah memilih untuk terjebak dalam permainan ini, Ivy. Dan sekali kau terjebak, tidak ada yang bisa menarikmu keluar."

Setiap kata Ezra seperti beban berat yang menekan dadanya. Ivy ingin membantah, ingin mengatakan bahwa dia tak punya pilihan, bahwa ini semua adalah demi orang yang dia cintai-namun kata-kata itu terasa semakin kosong di telinganya. Dia tak bisa menipu dirinya sendiri. Mungkin dia sudah terjebak dalam permainan ini sejak lama, tanpa benar-benar menyadarinya.

Ivy mencoba menarik napas, namun rasanya sesak. "Aku hanya... aku hanya ingin menyelesaikan semuanya. Aku tidak ingin terlibat lebih jauh," katanya dengan suara hampir tak terdengar.

Ezra mendekat lagi, wajahnya hanya beberapa inci dari wajah Ivy. "Kau tak pernah benar-benar bisa memilih untuk tidak terlibat. Itu bukan bagaimana dunia ini bekerja." Tangannya dengan lembut meraih pipi Ivy, mengangkat wajahnya agar mereka bertatap muka. "Kau sudah terlalu jauh untuk mundur, Ivy."

Ivy merasa matanya mulai memanas. Tidak hanya karena tatapan Ezra yang menuntut, tetapi juga karena kenyataan pahit yang perlahan meresap ke dalam dirinya. Dia sudah terjebak. Dalam cara yang paling mengejutkan dan menakutkan, dia tahu bahwa dia tak bisa lari. Begitu banyak yang tergantung pada keputusan ini, pada malam yang akan datang. Dia tahu apa yang dia hadapi. Namun, perasaan itu-perasaan yang seharusnya menjijikkan-malah mulai memunculkan sensasi yang berbeda. Suatu sensasi yang membingungkan dan asing.

"Aku tidak tahu apakah aku bisa," suara Ivy tersendat, mencoba menahan kegelisahannya. "Aku tidak tahu apakah aku bisa terus bertahan dalam ini, Ezra."

Ezra menatapnya dengan serius. Tidak ada gurauan, tidak ada lagi permainan kata-kata. Hanya ada keheningan yang memadai untuk memaksa Ivy menghadapi kenyataan. "Kau bisa. Kau selalu bisa. Karena pada akhirnya, kita semua terjerat dalam hal-hal yang kita coba hindari." Ezra menarik tangan Ivy ke arah tubuhnya, membuatnya merasa seolah terperangkap lebih jauh dalam jaring yang tak bisa ia lepas.

Ivy ingin berontak, ingin melepaskan diri dari pelukan ini, namun tubuhnya terasa lemas, tak mampu melawan kehadiran Ezra yang menguasai setiap ruang di sekitarnya. Semua perasaan itu bercampur aduk-kesal, takut, namun juga terperangkap dalam daya tarik yang tak bisa dipahami.

"Ezra..." Ivy ingin berkata sesuatu, namun kata-kata itu tersangkut di tenggorokannya. Semua yang bisa ia rasakan adalah napas Ezra yang terengah di dekat telinganya, dan ketegangan yang menyelimuti mereka berdua.

"Jangan melawan, Ivy," bisiknya, suaranya penuh dengan dominasi. "Kau tahu ini tak akan selesai dengan mudah. Bahkan jika kau berusaha, aku akan selalu ada di sini, lebih dekat daripada yang kau kira."

Ivy menggigit bibirnya, berusaha keras menahan diri agar tidak menangis. Setiap detik yang berlalu hanya memperburuk situasi. Tak ada jalan keluar. Hanya ada satu pilihan yang tersisa.

Dan malam itu, ketika akhirnya Ivy menyerah pada kenyataan yang tak bisa ditolak, dia tahu bahwa semuanya akan berubah. Untuk selamanya.

Keesokan harinya, Ivy merasa seperti orang yang berbeda. Matanya berat, dan pikirannya kabur, seakan-akan dia baru saja bangun dari mimpi buruk yang tak pernah berakhir. Namun, kenyataan yang dihadapinya jauh lebih buruk daripada mimpi buruk itu sendiri. Ezra telah mencapnya, dan ia tahu, tak ada yang akan bisa menghapus jejak malam itu.

Di kampus, Ivy mencoba untuk menjalani hari-harinya seperti biasa, berusaha menyembunyikan segala kekacauan dalam dirinya. Namun, setiap kali dia bertemu dengan Ezra, baik di ruang kelas atau di lorong kampus, mata mereka selalu bertemu dalam sebuah perjanjian diam-diam yang mengikat mereka bersama, tanpa kata-kata.

"Jangan pikir kau bisa menghindar," suara Ezra melayang di telinganya saat mereka bertemu di depan ruang dosen. Ivy menoleh, dan Ezra hanya berdiri di sana, dengan ekspresi yang tak terbaca. "Aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja."

Ivy ingin berteriak, ingin memberontak, namun dia tahu, lebih dari siapapun, dia tidak memiliki kendali atas apa yang terjadi selanjutnya.

Ezra sudah menguasai permainan ini. Dan Ivy baru menyadari, dia sudah terperangkap dalamnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AFFAIR
9.5
Mauren yang masih 19 tahun terpaksa menikahi Aron, duda kaya berusia 45 tahun, setelah dijual oleh ayahnya. Di sisi lain, putra Aron yang berumur 23 tahun, Liam, terjebak dalam pernikahan hambar bersama Bella karena ketidakpuasan ranjang. Sementara Liam merasa frustrasi dengan istrinya, Mauren harus menderita melayani nafsu pria tua tanpa pernah merasakan kepuasan. Takdir pahit ini menjerat mereka dalam kemelut rumah tangga yang penuh penderitaan batin.
Sampul Novel Dear Clarissa
7.9
Dua tahun di Jakarta, Clarissa berjuang menjaga diri saat bekerja di dunia malam. Namun, misinya terancam sejak Arga hadir sebagai pelanggan tetap yang obsesif. Meski Clarissa benci laki-laki dan berusaha menjauh, kekuasaan Arga membuatnya sulit lepas. Arga harus berjuang keras menaklukkan hati Clarissa sambil menghadapi penolakan saudaranya yang memicu konflik besar. Akankah Clarissa menyerah pada pria yang kini terus menguntit hidupnya itu?
Sampul Novel Demi Ranjang Panas
7.9
Elena, pelayan klub malam berusia 23 tahun, terjebak dalam masalah besar akibat ulah ayahnya, Hendrik. Setelah sang ibu tiada, Hendrik justru terjerumus judi hingga berutang 500 juta kepada Darel. Darel adalah rentenir berperut buncit berusia 45 tahun yang kini menagih janji. Karena tak mampu membayar, Hendrik menjadikan putri kandungnya sebagai jaminan. Akankah Elena terpaksa menyerahkan hidupnya menjadi budak pemuas nafsu Darel demi melunasi utang sang ayah?
Sampul Novel ENIGMA: When We Are
8.1
Elang Albimanyu adalah pemuda dari keluarga broken home yang mendambakan kehangatan sebuah rumah. Baginya, rumah bukan sekadar bangunan, melainkan kasih sayang tulus. Di tengah pencariannya, ia jatuh hati pada Sabiru Anantasya, sang wakil ketua OSIS yang masih terjebak bayang masa lalu. Meski sering dibuat kesal oleh sikap judes Sabiru, Elang tetap berjuang. Di antara rumitnya perasaan dan tanggung jawab organisasi, mampukah cinta Elang mengubah segalanya bagi Sabiru?
Sampul Novel Fatal Attraction: Jatuh Cinta dengan Target
9.6
Sebelum usia 26, aku adalah penipu ulung tanpa empati yang mahir memikat pria demi uang. Bagiku, mereka hanyalah mangsa hingga Dylan Hewitt muncul. Reputasiku hancur karena tipu dayaku gagal menaklukkannya. Saat aku hampir menyerah, Dylan justru menunjukkan jati diri dan perasaan yang selama ini dia sembunyikan. Terjebak dalam situasi tak terduga, aku kehilangan kendali atas permainanku sendiri. Dylan benar-benar mengubah hidup dan hatiku selamanya.
Sampul Novel Luka Sang Bidadari
8.8
Kehidupan Alina Dzakiya runtuh sejak sang ayah mengkhianati ibunya demi wanita lain. Luka itu perlahan sembuh saat ia menikahi Raka, sahabat setianya. Namun, di tengah kebahagiaan menanti kelahiran anak pertama, pengkhianatan serupa justru terulang. Raka berselingkuh, menghancurkan kepercayaan yang tersisa di hati Alina. Kini ia terjebak dalam dilema besar: tetap bertahan demi rumah tangga atau menyerah pada takdir pahit yang dulu menimpa sang ibu.