
Pria Yang Disimpan
Bab 2
Robin berdiri di depan pintu kamarnya. Ada perasaan ragu untuk masuk, tapi kalau tidak masuk, bagaimana dia bisa bekerja tanpa tas kerja, dan itu ada di dalam kamar. Selain itu, jauh di dalam hati Robin, ada keinginannya untuk mengetahui keadaan istri tercinta.
Saat masuk, Robin mendapati istrinya duduk bersandar di tempat tidur. Sedikit pun Nadia tak berpaling untuk menatap Robin. Suasana kamar terasa dingin dan kaku. Itu membuat Robin salah tingkah.
"Mama sudah pulang. Aku berangkat kerja dulu, ya." Robin melangkah perlahan menuju ke meja , di mana tas kerjanya berada.
"Sampai kapan drama ini berjalan, Mas?" Kali ini Nadia menatap Robin dengan marah. "Aku dengar semua yang mamamu omongin."
Robin langsung tercenung. Berdirinya tak nyaman. Mau bicara pun tak berani, lebih ke khawatir salah.
"Jawab Mas!" tuntut Nadia dengan suara meninggi. Tubuhnya ditegakkan dan kakinya diturunkan.
"Gak usah kamu masukkan hati, semua yang Mama omongin. Abaikan aja." Robin memunggungi Nadia dan mengambil tasnya. Tapi, dia belum siap berbalik, Robin pura-pura memeriksa isi tas kerjanya.
"Gimana caranya?"
Robin tidak menjawab dan Nadia yang gemas, mendekati suaminya.
"Gimana caranya, aku mengabaikan ucapan mamamu, hah? Bilang segala aku mandul. Bilang segala aura aku gelap. Dan apa lagi itu.... Ahhh..., suruh kamu cari istri baru, hah?"
Robin berbalik dengan lemah. Percuma untuk berkelit, istrinya sudha mendengarkan semua. Yang harus Robin lakukan saat ini adalah mencoba menenangkan nadia yang rasanya itu akan sangat sulit.
"Makanya tadi aku bilang apa? Gak usah dengerin apa pun yang Mama omongin. Gak penting juga."
"Gak penting buatmu, tapi sangat penting buatku! Di sini, aku yang mendapat tekanan. Suruh makan inilah, suruh minum itulah, harus ke dokterlah, ke dukunlah, apa aja semua ditimpakan ke aku. Sedangkan kamu apa, hah? Malah disuruhnya kawin lagi."
"Ya, udahlah. Toh, akunya juga gak peduli. Aku juga gak akan nurutin apa mau Mama, kok." Robin mendekati istrinya dan mencoba membelai pipi si istri.
"Gak usah pegang-pegang." Nadia menepis tangan Robin dengan kasar.
"Aku capek, Mas kalau direndahkan seperti ini terus-menerus. Semua orang menatapku dengan tudingan macam-macam. Yang aku penyakitan lah. Yang aku mandullah. Padahal, kamu yang salah! Kamu yang gak sehat, Mas! Kamu yang harusnya diobati!"
"Nad, sudah ya. Cukup. Gak usah lagi bahas ini. Aku harus ke kantor." Robin buru-buru melakukan pengalihan. Dia berbalik dan mengambil tas kerjanya.
"Aku akan bilang ke orang tuamu."
Robin berbalik panik. Kedua matanya mendelik sangat lebar. Itu adalah ancaman yang tidak dibayangkan Robin.
"Apa maksudmu, Nad?" tanya Robin.
"Aku akan bilang ke mama dan papamu, apa yang sebenarnya terjadi di pernikahan kita ini. Aku akan bilang ke meraka siapa yang lemah dan siapa yang perlu pengobatan," jawab Nadia dengan sikap tenang yang mengancam. Kedua tangannya terlipat di dada.
"Buat apa kamu melakukan itu? Gak perlulah kamu perbesar masalah ini."
"Gak diperbesar bagaimana, kalau setiap hari, setiap waktu, setiap kesempatan, semua orang selalu mengata-ngataiku di belekangku? Aku gak sanggup. Aku gak kuat direndahin ters."
"Ya, gak usah kamu masukkan hati. Toh, aku selalu membelamu. Dan aku sedang mencari obatnya. Gak lama lagi, semua akan baik-baik saja, Nad. Bersabarlah kamu ini," ucap Robin yang mulai kesal.
"Enak aja kamu kalau ngomong. Aku tetap mau bicara sama mama papamu dan mama papaku," ucap Nadia keras kepala.
"Jangan macam-macam kamu, Nad. Kita sudah sepakat untuk ini."
"Kesepakatan itu aku batalkan. Aku gak kuat, Mas, selalu berada di posisi salah terus-menerus. Aku gak bisa. Di sini, akulah yang menderita. Punya suami lemah. Punya mertua modelan begitu, yang hanya melihat dan membela sepihak. Aku gak sanggup."
"Ayolah, Sayang. Jangan begini. Tidak lama lagi aku pasti sembuh."
"Kapan? Ini sudah sepuluh bulan lho, Mas. Sebenarnya kamu kenapa, sih? Kenapa burungmu bisa lemes begitu? Kamu gak nafsu sama aku? Kalau memang iya begitu, ya sudah, ceraikan aja aku."
"Sudah cukup, Nad! Cukup!"
Akhirnya Robin mengeluarkan nada keras untuk istrinya. Kesabarannya mungkin bisa awet saja, andai kata Nadia tidak mengungkit-ungkit kelemahannya sebagai lelaki. Keperkasaannya sedang direndahkan oleh si istri dan itu sangat menyakitkan untuk diakui.
Wajah Robin yang mengeras hingga urat rahangnya menonjol, membuat Nadia terdiam. Meskipun Nadia masih marah, tapi melihat Robin yang sudha mulai naik darah, tak urung membuat nyali Nadia perlahan surut.
"Cukup membahas ini semua! Bukan hanya kamu saja yang menderita. Aku juga!" teriak kasar Robin.
"Tidak ada yang tahu tentang penyakitmu itu. Jadi buat apa kamu merasa menderita." Nadia masih ingin meluapkan keluhannya. Tapi, kali ini suaranya dilemahkan.
"Pakai otakmu itu! Aku ini laki, Nad. Harga diriku tinggi. Kalau keluargaku tahu kelemahanku, atau bahkan orang-orang di luar sana tahu kalau aku lemah, kamu pikir aku masih bisa hidup?"
Pertanyaan Robin tidak dijawab Nadia. Wanita itu mulai sedikit ketakutan dengan nada suara dan ekspresi Robin. Apalagi Robin justru maju mendekat, yang membuat Nadia otomatis mundur.
"Atau semua kata-katamu itu hanya omong kosong saja? Mencintaiku? Apa benar kamu mencintaiku? Apa benar selama hampir dua tahun kita pacaran, kamu memang mencintaiku?"
Tetap Nadia tidak menjawab apa-apa. Mulutnya terkunci rapat. Sedangkan jarak Robin dengan Nadia begitu tipis. Pria itu sedikit saja membungkuk, hanya agar wajahnya sejajar dengan wajah Nadia.
"Atau, kamu berpacaran denganku, hanya agar bisa menikah dengan keluarga kaya. Keluarga yang banyak ...."
Plak!
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Robin, menghentikan kalimat-kalimat suaminya lebih lanjut. Air mata tak bisa ditahan, luruh begitu saja di pipi Nadia.
"Keluargaku memang tidak sekaya keluargamu, Mas. Tapi, aku tidak serendah itu menerima cintamu, menjadi kekasihmu, dan menikahimu. Jahat kamu!"
Nadia berlari ke kamar mandi, membanting pintunya, dan menguncinya. Robin terhenyak. Dia menarik napas dalam-dalam. Ada penyesalan meny0isip, membuat Robin semakin frustasi. Karena gemas, Robin mengacak-acak rambutnya sendiri dan menghentakkan kaki di lantai.
Setelah beberapa saat terdiam, Robin menatap ke arah pintu kamar mandi yang masih tertutup. Perlahan dia mendekat dan mengetuknya pelan.
"Nadia, aku berangkat kerja dulu, ya. Maafkan aku dan lupakan yang tadi."
Tak ada sahutan dari dalam. Dengan langkah gontai, Robin keluar dari kamar.
Nadia menghentikan tangisnya, tubuhnya kemudian merapat ke daun pintu, mencoba mendengar suara pintu kamar terbuka kemudian menutup. Setelah yakin suaminya sudah keluar kamar, Nadia pun keluar dari kamar mandi.
Sesaat, wanita itu memandangi daun pintu kamar yang tertutup. Dengan helaan napas, Nadia menuju ke meja nakas di sebelah tempat tidur dan mengambil ponsel pintarnya. Nadia kemudian menelepon seseorang yang saat ini sedang dia butuhkan sebagai teman bicara.
"Halo..., Ris, kamu ada di rumah? Aku main ke sana, ya."
Anda Mungkin Juga Suka





