Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pria Kedua (Ayah Untuk Anakku)

Pria Kedua (Ayah Untuk Anakku)

Divonis menderita kanker payudara, Risa memilih berkelana ke Kanada dan menjalin hubungan singkat dengan Jaya. Namun, sekembalinya ke Prancis, ia mendapati diagnosis tersebut salah dan dirinya justru tengah mengandung. Risa pun bergegas ke Indonesia demi mencari Jaya, tapi pria yang ia temui justru menolak identitas itu dan mengaku sebagai Danu Atmawijaya. Mengapa sosoknya begitu berbeda? Risa kini terjebak dalam misteri identitas ayah dari janinnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

“Apa?” Jaya mengernyit, tak yakin dengan apa yang barusan didengarnya. “Jangan bercanda, Ris.”

“Sumpah. Dokter mendiagnosis kanker padaku. Apa kau tidak merasakan ada benjolan di payudaraku saat menyentuhnya?”

Jaya menutup mulut menggunakan tangan, tak percaya jika gadis yang ditemuinya pun mempunyai kondisi yang sama. “Apa mungkin Tuhan mempertemukan kita agar bersatu di surga nanti?”

Risa terbahak-bahak mendengar perkataan Jaya yang dikiranya bakal menunjukkan rasa sedih atau iba dan lain-lain. Namun, rupanya pria itu lebih pandai membuat suasana menjadi lebih baik.

“Kamu mau menungguku di surga?” Risa menanggapi candaan Jaya dan pria itu mengangguk. “Kalau begitu jangan bertemu dengan wanita lain sebelum aku datang menyusulmu.”

“Jangan lama-lama karena aku bukan tipe orang yang suka menunggu!”

Malam sebelum keduanya berpisah, Jaya dan Risa menghabiskan malam panas dengan semangat membara, menghabiskan seluruh tenaga seolah-olah itu adalah kali terakhir mereka bisa merasakan nikmat dunia dengan seseorang yang disukai.

Wanita itu pun memaksa diri, bahwa ini adalah satu-satunya kesempatan yang Tuhan beri untuknya sebelum kembali ke tangan-Nya. Risa pikir, dia benar-benar mati menyesal jika tidak memanfaatkan kesempatan ini.

Di bawah kungkungan pria bernama Jaya Bratadikara, Risa membiarkan semua harga dirinya direnggut, membiarkan tubuhnya yang suci menjadi wanita kotor yang berhubungan intim dengan laki-laki yang bukan suaminya.

Lagipula, setelah didiagnosis menderita kanker, Risa tidak berpikir untuk menikah dengan laki-laki mana pun. Hidupnya tidak akan lama, menikah hanya akan membuat dirinya dan suaminya berada dalam kesedihan yang lama nantinya.

Satu minggu sebelum bulan November habis, Jaya dan Risa menyatakan perpisahan dengan baik. Mereka pun tidak saling berharap untuk saling bertemu setelah tiba di Prancis karena keduanya tidak ingin terlibat lebih jauh.

Mereka memang suka, tetapi tak ingin berpisah karena kesedihan.

"Di surga nanti, kita harus bertemu lagi karena aku membutuhkanmu dan kamu membutuhkan aku."

***

Setelah Jaya pergi, Risa melanjutkan perjalanannya di berbagai negara yang bertetanggaan dengan Kanada. Dia benar-benar akan menghabiskan seluruh uangnya dan membawa mereka ke surga dalam bentuk ingatan.

Setelah satu bulan lebih, gadis itu kembali ke Prancis dengan perasaan senang; lupa dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya dan lantas menemui Margareth. Risa ingin segera memeriksakan kondisinya, barangkali rasa gembira yang dia rasakan bisa mengalahkan penyakit ganas itu. Namun, mengingat akhir-akhir ini dia sering meriang, harapan itu pupus. Dia tahu sisa waktunya di dunia ini tinggal sedikit.

Padahal gadis itu tidak mau mati mendahului Margareth yang selama ini mengeluh ingin mati daripada menjalani kehidupan sulit. Namun, Risa juga tidak bisa melepaskan keinginan terbesarnya untuk pergi ke salah satu kota di Kanada dan menjalani operasi yang bakal menguras habis semua uangnya.

Margareth ingat betul bagaimana Risa menghubunginya enam minggu yang lalu dan berkata bahwa dia tidak akan menjalani operasi atau perawatan lainnya. Kesehatan dan hidup lama memang penting, tetapi kebahagiaan yang telah dirancangnya sejak jauh-jauh hari tidak boleh digagalkan.

“Benar! Hidup dan mati itu sudah menjadi takdir. Aku tidak akan marah pada Tuhan meski hanya hidup selama dua puluh empat tahun.”

Perempuan yang sebentar lagi menginjak usia dua puluh empat tahun itu yakin jika dirinya tidak akan menyesal. Dia akan menghabiskan tabungan hasil bekerja sebagai administrasi di sebuah perusahaan selama satu tahun dan empat tahun menjadi pegawai paruh waktu dari satu tempat ke tempat yang lain.

Minggu pertama pada bulan november, Risa memesan tiket penerbangan dari Prancis ke Kanada. Dia ingin ke tempat indah yang tidak akan pernah ada di negaranya, yaitu melihat lampu-lampu cahaya dari alam bernama aurora.

“Kamu gila atau apa? Kondisimu bisa saja semakin parah, tapi kamu malah memilih bepergian?!” teriak Margareth.

Perempuan itu baru saja datang dan berteriak seperti orang gila ketika Risa sedang berkemas. Margareth tahu jika temannya itu sangat ingin pergi melihat aurora yang cantik, tetapi apa gunanya jika setelah itu dia mati.

“Ris, dengar dan pikirkan lagi. Kamu bisa pergi nanti saat semuanya membaik. Kanada tidak akan runtuh dan aurora juga tidak akan lenyap. Dia muncul setiap tahun saat musim dingin!” Margareth kesal sekali ketika Risa tak acuh padanya.

“Reth, kita tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya karena Tuhan pandai sekali memberi kejutan–”

“Memangnya kamu punya Tuhan?” timpal Margareth cepat. “Kamu pernah berdoa dan mengikuti acara mingguan? Jangankan itu, selama aku kenal denganmu, kamu bahkan tidak pernah datang ke gereja, tapi sekarang kamu ingat Tuhan?” Dia tertawa lepas. “Lucu sekali.”

“Ya, aku memang sempat hilang arah, tapi sekarang aku sadar kalau aku ini cuma manusia yang tidak abadi.” Risa menunjukkan ekspresi sok tenang dan itu membuat Margareth mendengkus keras.

“Semoga Tuhan menerima taubatmu.” Margareth melakukan gerakan berdoa dengan menyentuh kedua bahu dan kening, lalu menyatukan telapak tangan di depan dada. “Kamu pikir Tuhan bakal mengampunimu?!”

Margareth menghela napas panjang. Meski perasaan kesalnya kepada Risa masih begitu memenuhi ruang di hatinya, seperti ketika wanita itu sengaja mematikan ponsel agar tidak ada yang bisa menghubunginya, atau juga ketika Risa memilih menginap di hotel saat Margareth mencarinya di rumah.

Wanita bermata biru itu benar-benar kesal mengingat perlakuan Risa yang seperti ingin mati sendiri di negara pecahan es di Amerika Utara tersebut dan mengirimkan video rekaman di Saskatoon di Kanada setelah terbang selama delapan jam dari Bandara Internasional Charles De Gaulle.

Margaret bersyukur bahwa gadis itu kembali dengan utuh, tidak dalam kondisi kritis yang tinggal menunggu hari kematian. Dia lantas memelototi Risa begitu perempuan itu masuk ke ruangan sambil tersenyum tanpa dosa. “Kamu masih hidup? Kukira kamu sudah mati terkubur salju di bawah aurora itu!”

“Mana mungkin,” balas Risa sambil duduk di depan Margareth. “Aku tidak akan mati sebelum dirimu.”

Setelah itu Margareth memeriksa kondisi Risa yang membuatnya terperangah melihat hasil pemeriksaan sang sahabat. Dia berulang kali menatap Risa dan lembar kertas yang kini dipegangnya. Ada perasaan takut dan bersalah, tetapi daripada itu, dokter muda tersebut merasa terkejut melihat hasil yang tidak bisa diduga-duga.

“Katakan. Kamu bersenang-senang dengan siapa di Kanada?” tanya Margareth begitu meletakkan kertas hasil medical check up di atas meja.

“Kenapa?” Risa balik bertanya dengan kening berkerut. “Kenapa kamu bertanya soal itu?”

Margareth menutup mulut, merasa ragu untuk mengatakan semua kabar buruk yang tercetak dalam kertas itu. Namun, dia tidak bisa diam begitu saja saat dirinya telah melakukan kesalahan besar. “Kamu tahu, Peneliti itu manusia. Mereka bisa yakin dengan hasil penelitian mereka, tapi terkadang hasil bisa berubah tanpa bisa diduga,” ucapnya berbelit-belit.

“Apa yang sedang kamu coba katakan?” Risa mendesak, tak sabar dengan omong kosong Margareth yang membuatnya bingung sekaligus penasaran.

“Hm … sama seperti Peneliti, Dokter juga terkadang salah mendiagnosis–”

“Bicara yang jelas!” sela Risa dengan mata melotot. Dia sudah merasakan ada sesuatu yang salah.

Margareth begitu saja beranjak dari kursinya, lalu berlutut di depan Risa dengan ekspresi menyesal. “Maafkan aku, Ris! Aku sudah salah mendiagnosismu! Maafkan aku!” Dia tampak malu.

Benjolan yang ada di payudara kanan Risa bukanlah sel kanker, tetapi benjolan kista yang tidak menunjukkan sifat berbahaya. Bisa dihilangkan dengan operasi kecil, atau dibiarkan dengan catatan harus menjaga pola hidup dan rutin memeriksakan keadaan.

Risa tercengang, tak bisa berkata apa-apa selain diam dan mengatur pikirannya yang campur aduk. Jika memang dia tidak salah dengar, maka ini benar-benar menjadi berita baik. “Jadi, maksudmu aku tidak akan mati, ‘kan?” tegasnya sekali lagi.

“Ya,” jawab Margareth pelan. Dia masih menyembunyikan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada kesembuhan Risa yang mendadak. Namun, saat hendak mengatakannya, Risa tiba-tiba berdiri.

Gadis itu terlihat senang bukan main dan tiba-tiba dia berteriak sambil berlompat kegirangan. Dia bersalah telah membenci Tuhan selama beberapa waktu sampai-sampai menjalani semua yang dilarang.

“Ya Tuhan ampuni semua dosaku lima minggu ini!” teriak Risa dengan jantung berdebar-debar.

Gadis berambut coklat itu masih berlompatan, merayakan anugrah paling indah dalam hidupnya sampai-sampai membuat Margareth cemas. Dia berusaha menghentikan Risa yang terus melompat-lompat itu.

“Jangan melompat begitu, bisa bahaya,” gumam Margareth dengan dahi mengernyit, tetapi dia tidak berani mengatakan yang sesungguhnya. “Ris, jangan melompat lagi nanti kau bisa keguguran ….”

Risa berhenti begitu saja setelah mendengar ucapan Margareth yang terdengar pelan. Dengan wajah kebingungan, dia menatap sahabatnya itu. “Kamu bilang apa barusan?”

Margareth mendongak, kembali mengeluarkan ekspresi bersalah. “Ris, kamu hamil.”

“Apa?”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GFJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GFJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan
9.5
Demi membalas penderitaan keluarganya, Layla berpura-pura mencintai seseorang dalam sebuah rencana balas dendam yang matang. Namun, ambisinya terancam saat perasaan tulus mulai tumbuh di tengah misinya. Kini ia terjebak dalam dilema besar antara menuntaskan dendam masa lalu atau menyerah pada cinta yang tak terduga. Akankah Layla tetap pada tujuannya, atau justru melepaskan segalanya demi perasaan itu? Ikuti kisah penuh intrik dalam Bunga Kejahatan Dalam Pernikahan.
Sampul Novel Cinta & Pengorbanan Alya
8.5
Alya terjebak dalam keputusasaan saat ibunya, Kartika, butuh biaya medis besar dan donor organ langka. Di tengah krisis ini, Niko, pengusaha kaya yang mendambakan anak, menawarkan kesepakatan menjadi ibu pengganti demi kesembuhan Kartika. Meski ragu, Alya setuju demi nyawa ibunya. Namun, benih cinta tak terduga tumbuh di antara mereka, memicu dilema emosional. Saat rahasia besar terungkap, pandangan mereka tentang arti cinta dan keluarga pun berubah selamanya.
Sampul Novel Hot Billionaire
8.6
Kehidupan Ariel dipenuhi cemoohan karena statusnya sebagai anak dari hubungan gelap. Meski menyandang nama besar sang ayah, ia tetap dianggap sebagai noda hitam yang tak termaafkan. Di tengah penderitaan itu, takdir mempertemukannya dengan Shawn Geovan, seorang miliarder sempurna yang memiliki dunia berbeda. Akankah Shawn mampu menjadi pelindung bagi Ariel dan menjaganya dari hinaan dunia? Ikuti perjuangan cinta mereka yang penuh tantangan dan perbedaan kasta.
Sampul Novel Istri Yang Berjuang Sendiri
9.1
Kehidupan pernikahan ini terasa sangat hambar karena suamiku enggan menafkahiku dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman-temannya. Puncak penderitaanku bermula saat dia mendesakku mengambil utang bank demi membelikannya sebuah mobil. Meski sudah berkorban, pengabdianku justru dibalas dengan pengkhianatan pahit saat aku memergokinya berselingkuh dengan wanita lain. Kini, aku berdiri di persimpangan jalan, mempertanyakan nasib rumah tangga kami yang hancur.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Dewi Pendendam
9.3
Dikhianati oleh tunangan dan saudara angkatnya setelah kembali dari desa, Sabrina membalas dendam dengan mendekati paman sang mantan, Charles. Meski awalnya Charles menolak ikatan emosional setelah malam penuh gairah, Sabrina justru memancing harga dirinya hingga mereka terikat selamanya. Kini sebagai bibi mantan kekasihnya, Sabrina yang dianggap remeh ternyata menyimpan kekayaan miliaran dolar, membuktikan bahwa dia bukan sekadar pemburu harta, melainkan pemilik takhta sesungguhnya.
Sampul Novel Oriaga Niel, Cintailah Aku
8.5
Menikah sebulan dengan Oriaga Niel, CEO brand Gregorious, menjadi neraka bagi Amanda. Tanpa cinta, hubungan mereka hanyalah ajang pelampiasan nafsu dan dendam masa lalu Oriaga terhadap keluarga Amanda. Amanda merasa terhina karena hanya dianggap sebagai alat pemuas saat dibutuhkan. Terjebak dalam kebencian yang mendalam, ia merasa seperti tawanan yang dibeli selamanya oleh sang suami yang dingin dan penuh ambisi untuk menghancurkannya.