
Potret Sederhana
Bab 3
"Agni nggak pulang?" tanya Banyu seraya berdiri setelah duduk lama di tepi danau. Agni yang sedang berdiri di dekat danau pun menggeleng tanpa sedikitpun menoleh pada lelaki polos itu. "Nanti dicariin mama sama papanya loh."
Ucapan Banyu terasa menohok sampai ke ulu hati Agni. Apa pernah mereka khawatir andai Agni tak pernah lagi pulang ke rumah? Lima tahun pergulatan takdir tak berakhir. Setan apa yang merasuki ayahnya yang dulu sangat rajin dan pekerja keras juga penyayang kini menjadi pemabuk, penjudi, dan suka menyiksa.
"Kok Agni ngelamun? Nanti kalau kecebur ke danau, Banyu nggak bisa nolongin loh."
"Lo nggak bisa renang ha?" Agni membalikkan badannya dan menahan tawanya yang dijawab Banyu dengan gelengan membuat Agni tak kuasa menahan tawanya lagi. Agni berjalan ke arah Banyu dan duduk di dekatnya sambil tertawa terbahak-bahak sementara Banyu menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan apa yang tengah Agni tertawakan.
"Eh Nyu, Nyu liat deh tuh di tengah danau." Agni menghentikan tawanya dan melihat ke tengah danau. Banyu pun mengikuti arah pandang Agni. "Boleh ya naik sampan gitu ke sana? Mau dong, please!" Agni menangkupkan kedua tangannya seperti anak kecil yang meminta mainan. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Agni memohon dengan puppy eyesnya yang menggemaskan. Entah kenapa pula ia bisa begitu mudah mengubah sikap batunya menjadi selembut kapas pada cowok aneh semacam Banyu.
"Bentar nunggu Om Tio ke sini aja."
"Om Tio?"
"Om Tio itu tuh yang lagi di tengah danau, dia yang jagain taman ini. Biasanya Om Tio lagi liat ekosistem danau buatan ini seimbang apa nggak."
"Lo sering ya ke sini?"
"Tiap hari ke sini kok, kenapa?"
"Nggak papa, kalau gue lagi suntuk, bosen bisa dong main ke sini sama lo."
"Boleh."
"Nyu, lo nggak gerah apa pake jaket gitu? Panas banget loh ini," ujar Agni yang sudah melepas jaketnya sejak tadi dan Banyu hanya menjawab dengan gelengan pelan. "Lo kenapa? Sakit?" tanya Agni lagi yang merasa sikap Banyu itu aneh juga penampilan dan semua tentang Banyu, itu aneh.
"Itu Om Tio." Banyu mengarahkan telunjuknya pada lelaki paruh baya yang baru saja memberhentikan sampan di tepi danau, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Agni. "Om!" panggil Banyu sembari melambaikan tangan yang dibalas Tio dengan senyum lembut dari jarak tak seberapa jauh.
"Ayok Agni," ajak Banyu yang sudah lebih dulu melangkah mendekat ke arah Tio diikuti Agni yang baru mengambil jaket yang ia taruh di rerumputan.
"Hai Om!" Banyu mencium punggung tangan Tio dan Agni mengikuti Banyu mencium punggung tangan Tio, padahal biasanya ia paling anti bersalaman dengan orang, sudah lima tahun Agni menjadi makhluk anti sosial, dan karena Banyu, ia bisa mulai bersosialisasi. "Kenalin Om ini temen Banyu namanya Agni, Agni ini Om Tio pengurus taman ini."
"Agni Om."
"Tio." Mereka saling bersalaman.
"Oh iya Om, Agni mau ikut ke tengah danau boleh kan Om?"
"Iya boleh. Om siapin sampannya dulu ya."
"Oke Om." Agni menoleh pada Banyu ssmentara Tio menyiapkan sampan. "Heh lo nggak ikut?" Agni memicingkan matanya pada Banyu.
"Kan Banyu nggak bisa renang kalau perahunya kebalik gimana? Yang ada dimakan buaya nanti."
"Hahaha mana ada buaya di danau kaya gini dasar marmut lo."
"Kok dikatain marmut." Banyu memanyunkan bibirnya membuat Agni gemas.
"Lo penakut kaya marmut."
"Agni galak kaya macan."
"Marmut."
"Macan."
"Dasar marmut wlee." Agni menjulurkan lidah ke arah Banyu.
"Dasar macan wlee," sahut Banyu yang menutup sebelah matanya dengan jari tengah dan telunjuk sembari memeletkan lidahnya ke arah Agni.
"Nak Agni, ayo udah siap semua ini." Tio berseru dari atas sampan yang sudah siap.
"Iya Om!" teriak Agni. "Gue pergi dulu Marmut." Agni mengacak rambut Banyu dan Banyu melambaikan tangan ke arah Agni dan Tio yang kini mulai berlayar ke tengah danau.
Banyu kembali duduk di tepian danau, meraih kerikil-kerikil kecil dan melemparnya ke tengah danau. Sesekali juga ia memotret pemandangan di sekeliling danau, juga Agni yang tampak bahagia berada di tengah danau bersama Tio. Andai bisa, ingin rasanya Banyu seperti orang lain. Mereka yang dengan bebas bisa bermain di tengah danau tanpa takut jatuh dan tenggelam, tapi Banyu? Berenang pun tidak bisa. Ingin juga rasanya melepas jaket pada suhu sepanas ini, tapi Banyu? Ia tidak bisa melakukannya, kulitnya terlalu sensitif terhadap paparan sinar ultraviolet dari matahari. Hidupnya serba terkekang, tapi Banyu? Banyu memilh tersenyum, ia memilih tertawa, ia masih punya Tuhan dan Tuhan yang Mahabaik itu mengirim Bayu sebagai sosok malaikat tak bersayap di hiduo Banyu. Bayu adalah hidup bagi Banyu.
Sementara itu Agni tampak kegirangan berada di atas sampan bersama Tio. Sesekali Tio terkikik melihat tingkah kekanakan gadis urakan di hadapannya. Dari tampilan, Tio dapat menyimpulkan bahwa Agni ini anak bermasalah, entah dengan apa. Sesekali Agni mencuri pandang pada sosok Banyu yang tengah melempari kerikil di tepi danau.
"Om," panggil Agni pada Tio yang dijawab dengan deheman. "Saya boleh tanya?" Agni agak takut memulai pembicaraan dengan lelaki paruh baya yang tengah mendayung sampan mereka.
"Tentang Banyu?"
"Iya Om, boleh saya tau?"
"Boleh, tapi saya nggak bisa jelasin secara detail. Nanti biar Bayu saja yang jelasin sama kamu."
"Bayu?"
"Iya Bayu, saudara kembar Banyu."
"Kembar?" Agni semakin bingung. Ia bertemu dengan Bayu tadi di kampus, tapi mana mungkin cowok maskulin itu yang dimaksud Tio. Kalaupun Bayu dan Banyu kembar, kenapa Bayu sekarang sudah semester enam, sedangkan Banyu kan sama dengannya, baru delapan belas tahun.
"Pasti kamu bingung kan, Nak? Sudah bertemu dengan Bayu?" tanya Tio pada Agni yang masih bingung dengan semuanya dan hanya diam menatap Tio. "Bayu memang sekarang sudah semester enam mengambil kedokteran," ujar Tio memutus kebingungan Agni.
"Jadi bener Bayu yang itu, tapi mereka sama sekali nggak mirip Om dan kenapa Bayu udah semester enam, unurnya delapan belas tahun kan?"
"Bayu masuk akselerasi dulu, dia anak yang pintar. Mereka mungkin tidak mirip karena penampilannya saja, coba penampilanya sama mereka mirip."
"Kalau Bayu bisa keren kaya gitu kenapa Banyu harus kaya anak playgroup yang sepolos itu Om?" tanya Agni dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.
"Kelainan genetik."
"Kelainan genetik?"
"Iya, kamu mungkin tidak akan percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Sampai sekarang Banyu hanya bisa makan bubur dan makanan yang lembut. Ia hanya bisa minum susu dan air putih. Banyu masih punya sepuluh gigi susu. Tidak bisa mengancingkan baju, tidak bisa memakai dasi, tidak bisa menalikan sepatu sendiri, tidak bisa menyisur rambutnya sendiri dan tidak bisa menyebrang jalan," jelas Tio membuat Agni tercengang.
"Sampai segitunya?" tanya Agni yang dijawab Tio dengan anggukan. "Terus siapa yang ngikatin tali sepatu dia? Ngancingin baju? Nyisirin rambut? Bikinin bubur? Susu?"
"Bayu."
Anda Mungkin Juga Suka





