Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Potret Sederhana

Potret Sederhana

Agni terpuruk dalam kegelapan akibat kehancuran rumah tangga orang tuanya yang mematikan segala harapan. Di tengah keputusasaan, kehadiran saudara kembar Bayu dan Banyu menjadi titik balik yang memberinya kekuatan untuk bangkit. Saat Agni mulai meraih kembali impian masa depannya, ia justru dihadapkan pada dilema besar di persimpangan jalan. Kini ia harus memilih antara cahaya yang menuntun langkahnya atau sayap yang memungkinkannya terbang bebas menggapai angan.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Agni nggak pulang?" tanya Banyu seraya berdiri setelah duduk lama di tepi danau. Agni yang sedang berdiri di dekat danau pun menggeleng tanpa sedikitpun menoleh pada lelaki polos itu. "Nanti dicariin mama sama papanya loh."

Ucapan Banyu terasa menohok sampai ke ulu hati Agni. Apa pernah mereka khawatir andai Agni tak pernah lagi pulang ke rumah? Lima tahun pergulatan takdir tak berakhir. Setan apa yang merasuki ayahnya yang dulu sangat rajin dan pekerja keras juga penyayang kini menjadi pemabuk, penjudi, dan suka menyiksa.

"Kok Agni ngelamun? Nanti kalau kecebur ke danau, Banyu nggak bisa nolongin loh."

"Lo nggak bisa renang ha?" Agni membalikkan badannya dan menahan tawanya yang dijawab Banyu dengan gelengan membuat Agni tak kuasa menahan tawanya lagi. Agni berjalan ke arah Banyu dan duduk di dekatnya sambil tertawa terbahak-bahak sementara Banyu menaikkan sebelah alisnya, bingung dengan apa yang tengah Agni tertawakan.

"Eh Nyu, Nyu liat deh tuh di tengah danau." Agni menghentikan tawanya dan melihat ke tengah danau. Banyu pun mengikuti arah pandang Agni. "Boleh ya naik sampan gitu ke sana? Mau dong, please!" Agni menangkupkan kedua tangannya seperti anak kecil yang meminta mainan. Untuk pertama kalinya seumur hidup, Agni memohon dengan puppy eyesnya yang menggemaskan. Entah kenapa pula ia bisa begitu mudah mengubah sikap batunya menjadi selembut kapas pada cowok aneh semacam Banyu.

"Bentar nunggu Om Tio ke sini aja."

"Om Tio?"

"Om Tio itu tuh yang lagi di tengah danau, dia yang jagain taman ini. Biasanya Om Tio lagi liat ekosistem danau buatan ini seimbang apa nggak."

"Lo sering ya ke sini?"

"Tiap hari ke sini kok, kenapa?"

"Nggak papa, kalau gue lagi suntuk, bosen bisa dong main ke sini sama lo."

"Boleh."

"Nyu, lo nggak gerah apa pake jaket gitu? Panas banget loh ini," ujar Agni yang sudah melepas jaketnya sejak tadi dan Banyu hanya menjawab dengan gelengan pelan. "Lo kenapa? Sakit?" tanya Agni lagi yang merasa sikap Banyu itu aneh juga penampilan dan semua tentang Banyu, itu aneh.

"Itu Om Tio." Banyu mengarahkan telunjuknya pada lelaki paruh baya yang baru saja memberhentikan sampan di tepi danau, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan Agni. "Om!" panggil Banyu sembari melambaikan tangan yang dibalas Tio dengan senyum lembut dari jarak tak seberapa jauh.

"Ayok Agni," ajak Banyu yang sudah lebih dulu melangkah mendekat ke arah Tio diikuti Agni yang baru mengambil jaket yang ia taruh di rerumputan.

"Hai Om!" Banyu mencium punggung tangan Tio dan Agni mengikuti Banyu mencium punggung tangan Tio, padahal biasanya ia paling anti bersalaman dengan orang, sudah lima tahun Agni menjadi makhluk anti sosial, dan karena Banyu, ia bisa mulai bersosialisasi. "Kenalin Om ini temen Banyu namanya Agni, Agni ini Om Tio pengurus taman ini."

"Agni Om."

"Tio." Mereka saling bersalaman.

"Oh iya Om, Agni mau ikut ke tengah danau boleh kan Om?"

"Iya boleh. Om siapin sampannya dulu ya."

"Oke Om." Agni menoleh pada Banyu ssmentara Tio menyiapkan sampan. "Heh lo nggak ikut?" Agni memicingkan matanya pada Banyu.

"Kan Banyu nggak bisa renang kalau perahunya kebalik gimana? Yang ada dimakan buaya nanti."

"Hahaha mana ada buaya di danau kaya gini dasar marmut lo."

"Kok dikatain marmut." Banyu memanyunkan bibirnya membuat Agni gemas.

"Lo penakut kaya marmut."

"Agni galak kaya macan."

"Marmut."

"Macan."

"Dasar marmut wlee." Agni menjulurkan lidah ke arah Banyu.

"Dasar macan wlee," sahut Banyu yang menutup sebelah matanya dengan jari tengah dan telunjuk sembari memeletkan lidahnya ke arah Agni.

"Nak Agni, ayo udah siap semua ini." Tio berseru dari atas sampan yang sudah siap.

"Iya Om!" teriak Agni. "Gue pergi dulu Marmut." Agni mengacak rambut Banyu dan Banyu melambaikan tangan ke arah Agni dan Tio yang kini mulai berlayar ke tengah danau.

Banyu kembali duduk di tepian danau, meraih kerikil-kerikil kecil dan melemparnya ke tengah danau. Sesekali juga ia memotret pemandangan di sekeliling danau, juga Agni yang tampak bahagia berada di tengah danau bersama Tio. Andai bisa, ingin rasanya Banyu seperti orang lain. Mereka yang dengan bebas bisa bermain di tengah danau tanpa takut jatuh dan tenggelam, tapi Banyu? Berenang pun tidak bisa. Ingin juga rasanya melepas jaket pada suhu sepanas ini, tapi Banyu? Ia tidak bisa melakukannya, kulitnya terlalu sensitif terhadap paparan sinar ultraviolet dari matahari. Hidupnya serba terkekang, tapi Banyu? Banyu memilh tersenyum, ia memilih tertawa, ia masih punya Tuhan dan Tuhan yang Mahabaik itu mengirim Bayu sebagai sosok malaikat tak bersayap di hiduo Banyu. Bayu adalah hidup bagi Banyu.

Sementara itu Agni tampak kegirangan berada di atas sampan bersama Tio. Sesekali Tio terkikik melihat tingkah kekanakan gadis urakan di hadapannya. Dari tampilan, Tio dapat menyimpulkan bahwa Agni ini anak bermasalah, entah dengan apa. Sesekali Agni mencuri pandang pada sosok Banyu yang tengah melempari kerikil di tepi danau.

"Om," panggil Agni pada Tio yang dijawab dengan deheman. "Saya boleh tanya?" Agni agak takut memulai pembicaraan dengan lelaki paruh baya yang tengah mendayung sampan mereka.

"Tentang Banyu?"

"Iya Om, boleh saya tau?"

"Boleh, tapi saya nggak bisa jelasin secara detail. Nanti biar Bayu saja yang jelasin sama kamu."

"Bayu?"

"Iya Bayu, saudara kembar Banyu."

"Kembar?" Agni semakin bingung. Ia bertemu dengan Bayu tadi di kampus, tapi mana mungkin cowok maskulin itu yang dimaksud Tio. Kalaupun Bayu dan Banyu kembar, kenapa Bayu sekarang sudah semester enam, sedangkan Banyu kan sama dengannya, baru delapan belas tahun.

"Pasti kamu bingung kan, Nak? Sudah bertemu dengan Bayu?" tanya Tio pada Agni yang masih bingung dengan semuanya dan hanya diam menatap Tio. "Bayu memang sekarang sudah semester enam mengambil kedokteran," ujar Tio memutus kebingungan Agni.

"Jadi bener Bayu yang itu, tapi mereka sama sekali nggak mirip Om dan kenapa Bayu udah semester enam, unurnya delapan belas tahun kan?"

"Bayu masuk akselerasi dulu, dia anak yang pintar. Mereka mungkin tidak mirip karena penampilannya saja, coba penampilanya sama mereka mirip."

"Kalau Bayu bisa keren kaya gitu kenapa Banyu harus kaya anak playgroup yang sepolos itu Om?" tanya Agni dengan rasa penasaran yang semakin memuncak.

"Kelainan genetik."

"Kelainan genetik?"

"Iya, kamu mungkin tidak akan percaya, tapi kenyataannya memang begitu. Sampai sekarang Banyu hanya bisa makan bubur dan makanan yang lembut. Ia hanya bisa minum susu dan air putih. Banyu masih punya sepuluh gigi susu. Tidak bisa mengancingkan baju, tidak bisa memakai dasi, tidak bisa menalikan sepatu sendiri, tidak bisa menyisur rambutnya sendiri dan tidak bisa menyebrang jalan," jelas Tio membuat Agni tercengang.

"Sampai segitunya?" tanya Agni yang dijawab Tio dengan anggukan. "Terus siapa yang ngikatin tali sepatu dia? Ngancingin baju? Nyisirin rambut? Bikinin bubur? Susu?"

"Bayu."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas dendam sang pewaris yang tak bertopeng
8.1
Saat tiba di bar miliknya, sang pemilik terkejut mengetahui Lucas, kekasihnya yang mengaku bangkrut, memesan ruang mewah. Lewat kamera pengawas, terungkap Lucas hanya menjadikannya bahan taruhan dan memanfaatkannya demi uang. Lucas bahkan menghina dirinya miskin di depan wanita lain. Merasa dikhianati, sang pewaris asli ini akhirnya mengungkap identitas aslinya. Ia mempermalukan Lucas yang berlutut dengan tumpukan uang sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Bukan Istri Idaman
9.3
Terus-menerus direndahkan oleh keluarga mertua membuat Karmila bertransformasi. Ia tak lagi pasrah menanti belas kasihan sang suami, melainkan bangkit demi masa depan anak-anaknya. Bertekad membuktikan kekuatannya, ia menyulap barang bekas menjadi kerajinan bernilai tinggi. Di tengah tekanan batin, Karmila memilih jalannya sendiri untuk meraih sukses dan kemandirian. Akankah kreativitas dan kerja kerasnya mampu membungkam semua hinaan yang selama ini ia terima?
Sampul Novel Cinta pertama dan terakhirku
8.7
Intan Arselina, seorang perawat, terkejut saat bertemu kembali dengan Abian Dirgantara di rumah sakit. Setelah empat tahun terpisah akibat fitnah ibunda Dirga, luka lama Intan kembali terbuka. Dirga yang baru saja mengalami kecelakaan berusaha keras memenangkan hati Intan lagi. Namun, perjuangannya tidak mudah karena kebencian keluarga Intan dan kehadiran Zidan sebagai penghalang. Dirga bertekad menebus kesalahan masa lalu demi cinta sejatinya.
Sampul Novel Cinta Untuk Farisa
8.1
Farisa, seorang gadis desa, memberanikan diri merantau ke kota demi menjalankan wasiat terakhir ibunya untuk mencari sang ayah. Di tengah perjalanan, ia bertemu sosok pria baik hati yang menolongnya. Meski berhasil menemukan ayahnya, Farisa terkejut karena posisinya telah direbut oleh orang lain yang mengaku sebagai anak kandung pria itu. Kini, Farisa harus memilih antara menyerah atau tetap berjuang demi mendapatkan kembali hak dan pengakuan yang seharusnya ia miliki.
Sampul Novel GADIS PENCURI VS TUAN MUDA
9.3
Seorang pencuri wanita lihai menjadi buronan elit dengan imbalan jutaan Dollar bagi siapa pun yang melenyapkannya. Di tengah kepungan maut, Martin Jakovsky, tuan muda kaya raya yang menderita alergi aneh terhadap sentuhan wanita, justru mengerahkan segala kekuatannya demi melindungi sang gadis dari kejaran penguasa. Mengapa Martin rela mempertaruhkan nyawa untuk melindunginya meski ia sendiri tak bisa bersentuhan dengan lawan jenis? Simak kisahnya.
Sampul Novel Kehormatan Yang ternoda
9.0
Salmah, gadis desa yang hidup melarat, harus membesarkan Ayuna sendirian setelah menjadi korban pemerkosaan. Tiga tahun berlalu, Jhondra Mahardika, sang pelaku, muncul kembali untuk merebut putrinya. Hal ini terjadi karena istrinya, Dinda Kirana, tak lagi bisa hamil usai operasi pengangkatan rahim. Demi melindungi hak asuh Ayuna, Salmah terpaksa bersedia menjadi istri kedua Jhondra. Namun, pernikahan ini justru menjadi awal penderitaan batin yang sangat menyiksa dirinya.