
Pilihan Yang Membawa Petaka
Bab 3
Nerissa berdiri di tepi jendela besar kamar hotel yang menghadap ke kota, mencoba menenangkan pikirannya. Malam itu telah berlalu begitu cepat, namun rasa mual yang menggerogoti dadanya tidak kunjung hilang. Di luar, kota berkilauan dengan ribuan cahaya, kontras dengan kekosongan yang ia rasakan dalam dirinya.
Leonard memandanginya dengan tatapan yang tajam, penuh analisis, seakan ia sedang mengukur setiap gerakan Nerissa. Saat ia mendekat, suara langkah kakinya menggema di ruang sepi.
"Nerissa," kata Leonard dengan lembut, namun penuh kekuatan. "Apa kamu tahu mengapa aku memilihmu malam ini?"
Nerissa menoleh dengan wajah yang semakin bingung. "Karena aku membutuhkan uang," jawabnya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia tahu ini klise, tapi itu adalah kenyataan yang ia hadapi.
Leonard tersenyum tipis. "Itu bagian dari alasan. Tapi bukan alasan utamaku. Kamu berbeda, Nerissa. Ada sesuatu dalam dirimu yang menarik perhatian aku sejak pertama kali melihat profilmu."
Nerissa merasa gugup, tapi berusaha untuk tidak menunjukkannya. Apa yang ia rasakan lebih dari sekadar ketertarikan fisik. Ada sesuatu yang lebih dalam-sesuatu yang meresap ke dalam jiwanya, yang membuatnya merasa sangat kecil, terperangkap dalam dunia yang tidak ia mengerti.
Leonard mendekat, mengambil gelas wine yang terletak di atas meja, dan menyodorkannya ke Nerissa. "Kamu mungkin merasa bingung sekarang, tapi percayalah, aku bukan monster yang akan menyakitimu. Malam ini hanya tentang kamu dan aku, tidak lebih, tidak kurang."
Nerissa mengambil gelas itu, menyentuh bibirnya, namun tidak meminumnya. Sesuatu di dalam dirinya berontak-tapi ia tahu ia tidak bisa mundur. Ia harus menghadapi semuanya.
Tetapi semakin lama ia berada di dalam permainan ini, semakin sulit baginya untuk memisahkan antara kenyataan dan keinginan Leonard yang penuh dengan kekuatan dan godaan. Leonard tidak hanya menawarkan uang atau kekayaan. Ia menawarkan kontrol, kendali atas hidupnya, dan itu yang membuat Nerissa merasa seolah-olah ia telah kehilangan kebebasannya hanya dalam satu malam.
Namun, meskipun semua itu, ada sesuatu yang memikatnya-sesuatu yang sangat sulit untuk ia abaikan. Tatapan Leonard yang penuh dengan pengertian dan kekuatan. Tidak ada yang bisa menandingi cara ia melihat dunia, cara ia menguasai segalanya.
"Tidak ada yang perlu kamu takuti, Nerissa," kata Leonard, suaranya dalam dan penuh dominasi. "Aku hanya ingin menunjukkan padamu dunia yang berbeda. Dunia di mana kamu tidak perlu khawatir tentang uang, masa depan, atau masalah apapun."
Nerissa menelan ludah, hatinya berdebar keras. Apakah ini yang ia inginkan? Apakah ini apa yang sebenarnya ia butuhkan?
Namun, sebelum ia sempat menjawab, Leonard melangkah lebih dekat, membelai rambutnya dengan lembut, seolah ingin memastikan ia tidak bisa lepas dari cengkeramannya. "Kamu sudah berada di sini, Nerissa. Dan sekarang, kamu tidak akan bisa mundur."
Setiap kata yang keluar dari bibir Leonard semakin membuatnya terperangkap dalam dunia yang ia tidak sepenuhnya pahami. Nerissa merasa seolah-olah ia sedang berada di ujung jurang, dan hanya ada satu pilihan yang tersisa: jatuh atau berusaha bertahan.
Malam itu berlanjut dengan kediaman yang mencekam, penuh dengan ketegangan yang tak terucapkan. Leonard tidak hanya mengejar tubuh Nerissa, tetapi juga jiwanya, menginginkan bagian dari dirinya yang bahkan ia sendiri belum sepenuhnya pahami.
Pagi datang begitu cepat, membawa dengan serta keputusan yang tidak bisa diubah. Nerissa terbangun dengan rasa cemas yang mencekam. Satu malam itu telah mengubah segalanya. Tetapi meskipun ada bagian dari dirinya yang merasa terperangkap, ada juga bagian dari dirinya yang mulai mempertanyakan: Apakah ini hanya awal dari permainan yang lebih besar?
Dan di balik pikirannya, satu pertanyaan mengganggu: Apakah Leonard benar-benar ingin melepaskannya, atau ia hanya baru saja memulai perburuan yang lebih dalam?
Anda Mungkin Juga Suka





