
Pesona Uncle Ji
Bab 3
"Ini tidak boleh terjadi! Ingat Ji, Graziela itu sudah kau anggap sebagai keluargamu sendiri, control dirimu terutama dibagian bawahmu yang tidak masuk diakal itu!" ucap Jimmy didalam hatinya.
Jimmy pun segera membaringkan tubuhnya diatas sofa, keputusan Jimmy sudah final tidak akan pernah mau satu ranjang dengan Graziela. Karena memang belum mengantuk, Jimmy lebih memilih memeriksa laporan-laporan dari bisnis-bisnis besarnya melalui IPad, tapi meskipun semua bisnis-bisnis Jimmy sangat besar namun semua bisnis-bisnisnya itu bukanlah bisnis yang legal dan kerajaan bisnisnya ini dibangun dan dibesarkan bersama dengan mendiang Ayah Graziela, namun sayangnya takdir sangat kejam akibat bisnis besar ini jugalah nyawa kedua orangtua dan saudara kembar Graziela direnggut oleh musuh.
Bisnis tersebut terdiri dari beberapa tempat cassino terbesar di Italia, penjualan senjata, pabrik pembuatan wine, dan beberapa diskotik besar, dan beachclub di Italia, jangan salah dalam bisnis seperti ini pun mereka memiliki musuh yang tidak sedikit karena itulah Jimmy selalu bertindak tegas dan kejam terhadap siapapun yang berani mengganggu bisnis-bisnis tersebut.
Karena sangat fokus memeriksa laporan-laporan bisnisnya, Jimmy sampai tidak sadar satu jam telah berlalu dan Graziela baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit didadanya.
Aroma harum dari tubuh mulus Graziela itupun langsung menyeruak terhirup kedalam indera penciuman Jimmy, ketika Jimmy menoleh kearah harum wangi itu datang, Graziela tengah berjalan kearah sofa yang saat ini menjadi tempat Jimmy melepaskan lelah.
Rambut panjang terurainya yang masih basah, serta tubuh fresh Graziela yang begitu harum telah menghipnotis Jimmy selama beberapa detik hingga tubuh Jimmy kaku dan hanya bisa terdiam menatap Graziela.
"Uncle, tubuhku sudah wangi sekarang! Jadi setelah aku memakai pakaian tidurku kita tidur bersama ya!" ucap Graziela.
"Cepatlah pakai pakaianmu!" ucap Jimmy sambil menundukkan pandangannya dari yang seharusnya tidak dia lihat.
Graziela kemudian membongkar kopernya untuk mengambil pakaian tidur yang akan dia pakai! Kebetulan sekali koper itu terletak disamping sofa, jadilah jarak Jimmy dan Graziela sangat dekat.
"Uncle jangan menoleh kearah ku dulu ya, aku akan melepas handukku sekarang," ucap Graziela.
Jimmy pun meremat sofa dengan satu tangannya, dan berusaha untuk fokus kembali pada laporan yang sedang dirinya periksa, dari sudut matanya Jimmy dapat merasakan jika handuk yang tadi melilit tubuh polos Graziela kini telah jatuh kelantai, itu artinya tubuh gadis itu saat Inu benar-benar seperti bayi yang baru lahir.
Glek...
Jimmy menelan salivanya, tapi Jimmy bersumpah demi apapun tidak ada niat dalam dirinya untuk sedikitpun menoleh sedikit saja kearah Graziela, Jimmy sangat berusaha keras untuk tidak melakukan hal seperti itu. Selalu dirinya tekankan bahwa di matanya Graziela bukanlah seorang wanita dewasa melainkan keluarganya sendiri.
Akhirnya Graziela telah selesai memakai pakaian tidurnya, baju tidur berwarna coksu model terusan diatas lutut dengan kedua tali pengait tipis di pundak kiri dan kanannya, membuat lekuk tubuh Graziela terlihat sangat jelas.
Dihampirinya Jimmy oleh Graziela karena Graziela sudah mengantuk dan ingin buru-buru tidur.
"Uncle ayolah kita tidur!"
"Kau tidurlah diranjang dan ungcle disofa!"
"Aku sudah mandi dan tubuhku tidak bau lagi uncle,"
Melihat Graziela memakai pakaian tidur yang terbuka seperti itu, Jimmy sampai tidak mau menatap kearah Graziela.
"Ini bukan masalah tubuhmu wangi atau bau Nala, tapi aku tidak bisa tidur satu ranjang denganmu?"
"Tapi kenapa uncle? Dulu uncle akan tidur disamping ku, kenapa sekarang ungcle tidak mau?"
"Karena aku seorang laki-laki Nala!"
"Lalu?"
"Astaga! Dan kau wanita dewasa!"
"Bukankah aku kau anggap keluargamu? Apakah keluarga tidak boleh tidur bersama ketika aku memang masih suka bermimpi buruk?" tanya Graziela.
"Tunggu, apa uncle takut jika uncle menginginkan tubuhku? Uncle memiliki keinginan untuk melakukan hal tanda kutip denganku?" tanya Graziela lagi dengan polosnya memberikan pertanyaan yang membuat Jimmy langsung menganga.
"Ti-tidak mana mungkin aku memiliki pemikiran gila seperti itu, lagipula aku memiliki kekasih dan bagiku kau adalah keluargaku!"
"Lalu masalahnya apa?" tanya Graziela.
"Tidak ada masalah!"
Karena tidak ingin Graziela berpikir dirinya menginginkan tubuhnya, Jimmy pun langsung berdiri dari sofa dan naik keatas ranjang, disusul oleh Graziela yang juga langsung naik keatas ranjang! Ditariknya bad cover berwarna putih itu oleh Jimmy ketika Graziela telah merebahkan tubuhnya diatas ranjang, Jimmy ingin buru-buru menutup tubuh Graziela hingga kebagian dada Graziela dengan menggunakan bad cover tersebut, karena dua benda yang bertumbuh pesat itu sampai terlihat separuh karena tidak dapat ditutupi oleh pakaian tidur Graziela saking besarnya kedua benda tersebut.
"Terimaksih uncle Ji,selamat tidur," ucapnya.
"Selamat tidur," kata Jimmy.
Barulah Jimmy bisa menarik nafasnya panjang-panjang, sekarang yang perlu dirinya lakukan adalah tidur membelakangi Graziela yang sudah terlihat memejamkan kedua matanya.
Malam semakin larut dan Jimmy pun sudah tertidur pulas tidur menyamping membelakangi Graziela yang tidur terlentang, namun seperti biasanya Graziela akan selalu bermimpi tentang kejadian tubuh tahun silam yang merenggut nyawa orangtua dan saudara kembarnya!
Wajah Graziela mulai berkeringat, tanpa disadari kedua tangan Graziela langsung mencengkram sprei dikanan dan kirinya, bibirnya pun mulai mengeluarkan suara kegelisahan karena kejadian menakutkan dalam hidupnya itu terus berulang masuk kedalam mimpinya.
Dor..
Dor..
Dor..
"Dad, Mom!" terkak Graziela didalam mimpinya.
Terlihat juga didalam mimpinya Jimmy yang buru-buru menggendongnya dan berlari menjauh dari kedua orangtuanya yang sudah tertembak dan jatuh dilantai rumah!
"Gunza!" teriak Graziela, ketika Jimmy sambil menggendong Graziela menuju kamar Gunza yang merupakan saudara kembar laki-laki Graziela, namun sayangnya di mimpi tersebut masih sesuai kenyataan karena Gunza pun tidak dapat diselamatkan.
"Tidak! Gunza! Jangan!" teriak Graziela didalam mimpinya.
"Nala! Nala bangun! Nala hei!" Jimmy berusaha membangunkan Graziela yang diyakininya pasti sedang bermimpi buruk.
Graziela akhirnya membuka kedua matanya, nafasnya yang sudah sesak membuat Graziela langsung bangun mengambil posisi duduk! Dipeluknya Graziela oleh Jimmy supaya Graziela bisa segera tenang.
"Uncle, aku takut!" lirih Graziela.
"Jangan takut, ku harus lawan rasa trauma itu! Aku berjanji akan selalu menjagamu,"
"Aku melihat semua itu! Aku melihat Gunza tertembak mereka terus menerus menembak Gunza padahal Gunza masih kecil! Kenapa mereka tega uncle?"
Hiks.
Hiks.
"Menangis lah, tapi setelah ini aku akan membuatmu bahagia! Akan aku pastikan tidak akan pernah ada yang berani menyakitimu Nala, aku janji!l" ucap Jimmya.
Graziela pun semakin mempererat pelukannya dengan Jimmya, keduanya sampai berpelukan cukup lama.
"Sekarang kau tidurlah lagi, aku akan menjagamu!" ucap Jimmy.
"Aku mau uncle tetap memelukku meskipun aku sedang tertidur," ucap Graziela.
"Aku akan melakukannya.
Graziela pun barulah bisa tenang dan tersenyum pada Jimmy, secara perlahan Jimmy kembali menidurkan Graziela dengan posisi Graziela tidur sambil tetap dipeluk oleh Jimmy, kali ini Jimmy tidak bisa tidur membelakangi Graziela justru dirinya tidur menyamping menatap Graziela dengan tangan yang melingkar ditubuh Graziela.
Ketika Graziela menoleh kearah Jimmy, keduanya berpandangan dan hampir tidak ada jarak lagi diantara kedua wajah keduanya.
"Uncle, ini hangat sekali," kata Graziela sambil satu tangannya melingkar ditubuh Jimmy.
"Tidurlah!" ucap Jimmy.
Dari jarak sedekat ini Jimmy dan Graziela sama-sama dapat merasakan tarikan dan hembusan nafas keduanya, semakin lama semakin terasa hembusan nafas yang begitu cepat.
Bibir ranum berwarna merah muda dan sedikit lembab itu berhasil menarik perhatian Jimmy, Graziela pun menatap kedua mata Jimmy dan sadar jika Jimmy sedang melihat kearah bibirnya.
"Aku belum pernah berciuman uncle, apa bibirku terlihat bagus?" tanya Graziela.
"Ya," dengan gugup Jimmy menjawab pertanya Graziela.
Graziela pun meraih satu tangan Jimmy kemudian meraih jari telunjuk Jimmy untuk dia letakan dibibir ranumnya, Jimmy pun hanya bisa terdiam ketika Graziela melakukan hal yang membuat hembusan nafasnya semakin terasa cepat.
"Jangan asal katakan bagus, kau harus memastikannya dulu dengan menyentuhnya dengan jarimu,
Satu jari telunjuk Jimmy pun benar-benar menyentuh bibir ranum selembut sutra milik Graziela, terasa lembab dan lembut Jimmy rasakan. Tanpa sadar jari telunjuk Jimmy pun mulai meraba-raba bibir bawah Graziela dengan lemah lembut.
"Eumm uncle," tangan Graziela meremat punggung belakang Jimmy karena memang tangannya sedang memeluk Jimmy.
Sentuhan jari telunjuk Jimmy pada bibir bawahnya membuat Graziela merasakan sesuatu hal yang baru, dan ternyata sentuhan dibibirnya itu memberikan efek pada bagian tubuhnya yang lain, dimana semua bagian tubuh Graziela seoalah ikut merasa tersentuh oleh jari telunjuk Jimmy.
Saat ini jari telunjuk Jimmy juga sudah meraba bibir bagian atas Graziela, hingga jari telunjuk Jimmy itupun menyentuh dibagian tengah antara bibir bagian atas dan bibir bagian bawah.
"Seperti lolipop!" ucap Graziela.
Jimmy pun hanya menatap tajam bibir Graziela.
"Aku mau lolipop," ucap Graziela.
Jari telunjuk Jimmy pun langsung masuk kedalam rongga mulut Graziela, terasa geli dan dingin langsung dirasakan oleh Jimmy ketika Graziela benar-benar melahap jari telunjuknya. Hal itu membuat seluruh tubuh Jimmy langsung meradang hebat, sentuhan bibir Graziela dan dinginnya didalam rongga mulut Graziela membuat Jimmy merasa bahwa bukan jari telunjuknya yang saat ini sedang berada didalam rongga mulut Graziela, melainkan bagian tubuhnya yang lebih besar dan lebih panjang dari jari telunjuknya.
Jimmy seperti merasakan bagian tubuhnya dibawah sana yang saat ini sedang dilahap oleh Graziela, sehingga Jimmy pun memejamkan kedua matanya.
"Arghhh,,,," Jimmy tiba-tiba meringis ketika dia merasakan jarinya digigit oleh Graziela.
Ckckckck...
Graziela pun tertawa sehingga jari telunjuk itupun tidak lagi berada didalam rongga mulutnya, Graziela seolah puas telah menjahili ungcle Ji dengan menggigit jari telunjuknya.
"Kau nakal ya!"
"Maaf uncle," sambil tertawa.
Namun Jimmy tetap memberikan hukuman pada Graziela dengan menggelitik pinggulnya sehingga Graziela terus tertawa geli dan meminta Jimmy mengampuninya.
"Stop uncle geli, ampun uncle! Aku janji tidak akan jahil lagi!" teriak Graziela sambil tertawa.
"Tidak, aku tidak akan mengampunimu! Enak saja sudah menggigit minta diampuni!"
"Please uncle, oke oke kali ini aku berjanji dengan serius tidak akan gigit lagi!"
"Baiklah kali ini aku ampuni, tapi lain kali jika kau jahil lagi maka aku tidak akan ampuni!"
"Iya iya aku janji, Uhh pendendam sekali,"
"Sekarang cepatlah tidur, besok jika kita kesiangan akan ketinggalan pesawat!"
"Hmm iya uncle cerewet,"
Keduanya pun tertidur sambil berpelukan dengan erat. Meskipun hanya Graziela saja yang benar-benar tertidur pulas dalam posisi seperti ini sedangkan Jimmy dia tidak mampu tidur pulas karena memang dibawah sana sangat tidak dapat dikondisikan walaupun Jimmy terus meyakinkan pada pikiran dan dan tubuhnya bahwa saat ini yang dia peluk adalah wanita yang sudah dia jadikan keluarga, tapi sepertinya alam tetap tau jika yang saat ini sedang dipeluk tidak mengalir sedikitpun darah Jimmy, naluri sebagai seorang laki-laki pun tidak dapat dia control lagi.
Meskipun saat ini Jimmy sedang sangat ingin tapi Jimmy bersumpah tidak akan pernah mungkin dirinya melakukan perbuatan gila itu terhadap Graziela, Jimmy berharap agar pagi segera datang dan dia kembali ke Itali, barulah semua yang dirinya inginkan saat ini bisa dia tuntaskan pada Eve, setelah itu Jimmy berharap bagian bawahnya itu tidak lagi merespon ketika berada didekat Graziela.
"Eve aku sangat membutuhkanmu saat ini!" ucap Jimmy didalam hatinya.
Anda Mungkin Juga Suka





