
Pernikahan Wasiat
Bab 2
Dua hari setelah keputusan gila itu dibuat, Alayna berdiri di depan cermin, mengenakan gaun putih berdesain sederhana namun tetap memancarkan kemewahan. Gaun itu bukan pilihannya. Semua ini bukan pilihannya. Tapi tetap saja, ia ada di sini, di hari pernikahannya dengan Zariel Vian Karyan-pria yang bahkan tidak pernah menganggapnya lebih dari sekadar tanggung jawab yang harus ia pikul.
"Napasku terasa sesak," gumamnya sambil meremas jemarinya.
"Tidak ada yang peduli dengan perasaanmu, Alayna," suara dingin itu terdengar dari ambang pintu.
Ia menoleh cepat, menemukan Zariel berdiri dengan jas hitamnya yang begitu rapi, menampilkan kesan sempurna dan tak tergoyahkan. Wajahnya tetap tanpa ekspresi, seperti biasa. Seakan pernikahan ini hanyalah sebuah kesepakatan bisnis yang tidak meninggalkan jejak sedikit pun dalam hidupnya.
Alayna menghela napas panjang. "Kau bahkan tidak terlihat seperti seseorang yang akan menikah."
Zariel berjalan mendekat, tatapannya tajam menusuk ke matanya. "Itu karena aku tidak benar-benar menikah. Ini hanya kontrak."
Kata-kata itu menusuk seperti belati. Kontrak. Sejak awal, Alayna tahu ini bukan tentang cinta, bukan tentang keluarga, dan tentu saja bukan tentang kebahagiaan. Ini tentang kontrol. Tentang bagaimana ayahnya memastikan aset keluarga tetap berada dalam lingkaran orang yang bisa dipercayainya.
Dan orang itu adalah Zariel.
"Kita akan menikah di hadapan semua orang. Kita akan hidup bersama di bawah atap yang sama. Tapi jangan salah paham, Alayna," lanjutnya, suaranya tajam. "Aku tidak akan pernah menjadi suami yang kau impikan."
Alayna menahan tawanya yang pahit. Impian? Sejak kapan ia mengimpikan pernikahan seperti ini? Jika bukan karena wasiat ayahnya, ia tidak akan pernah mengizinkan dirinya terperangkap dalam ikatan seperti ini.
"Aku tidak pernah menginginkanmu sebagai suami," balasnya tajam.
Zariel menatapnya lama, seolah menelanjangi pikirannya. "Bagus. Setidaknya kita sepemikiran."
Lalu, tanpa kata-kata lagi, pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan Alayna sendiri di dalam ruang rias, dengan kebencian yang mendidih dalam dadanya.
-
Upacara pernikahan berlangsung dengan megah. Wartawan, keluarga terpandang, serta para investor menghadiri acara ini, seolah ini adalah penyatuan dua kerajaan bisnis, bukan pernikahan dua insan yang saling membenci.
Alayna berdiri di samping Zariel di depan altar, mengabaikan pandangan tamu yang penuh rasa ingin tahu. Dari luar, mereka tampak seperti pasangan yang sempurna-pria dengan kharisma yang mengintimidasi dan wanita dengan kecantikan elegan yang tampak lembut.
Tetapi di balik semua itu, tidak ada kehangatan.
Saat pendeta mengajukan pertanyaan sakral itu, suara berat Zariel terdengar tanpa ragu. "Saya bersedia."
Alayna menggigit bibirnya, hatinya menjerit ingin menolak, ingin lari. Namun, suara Leonard masih terngiang di kepalanya-"Jika kau menolak, kau kehilangan segalanya."
Dengan tangan gemetar, ia mengucapkan dua kata yang mengunci nasibnya.
"Saya bersedia."
Tepuk tangan menggema di seluruh ruangan. Kilatan kamera menyilaukan. Senyum palsu terpajang di wajahnya saat Zariel menyentuh punggungnya dengan lembut-sebuah gestur yang terlihat intim di mata publik, tapi terasa dingin baginya.
Mereka kini suami istri.
Namun, di balik semua itu, mereka hanyalah dua orang asing yang terikat dalam pernikahan tanpa cinta.
Anda Mungkin Juga Suka





