Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Terpaksa Mafia

Pernikahan Terpaksa Mafia

Laluna Cattline, pewaris teknologi yang bebas, terjerat pernikahan paksa dengan bos mafia New York, Leonidas Draven. Aliansi ini lahir dari utang ayahnya demi perlindungan. Bagi Leonidas, ini sekadar bisnis, tapi bagi Laluna, ini adalah penjara. Di tengah intrik keluarga dan rahasia gelap masa lalu, keberanian Laluna mulai mengusik hati Leonidas yang dingin. Akankah ia mampu bertahan di dunia penuh darah atau justru hancur dalam jeratan sang mafia?
Bab
Bagikan

Bab 2

Udara malam itu dingin menusuk tulang, tapi hati Laluna Cattline jauh lebih beku. Ia duduk di kursi penumpang sebuah mobil hitam mengkilap yang membawanya pergi dari rumahnya-atau lebih tepatnya, mengantarnya menuju sangkar emas milik Leonidas Draven. Diam-diam, ia merutuki dirinya sendiri karena tak sempat kabur sebelum pria itu memaksanya masuk ke dalam dunia yang sama sekali tak ia inginkan.

Leonidas duduk di sebelahnya, tenang namun penuh dominasi. Tatapannya lurus ke depan, memerintah tanpa perlu bicara. Laluna ingin sekali meledak, berteriak, atau bahkan memukul pria itu, tapi ia tahu, di dalam permainan ini, ia adalah pion kecil. Untuk saat ini.

"Kau bisa berhenti menatapku seperti ingin membunuh," suara Leonidas terdengar, tenang namun menusuk. "Kemarahanmu tidak mengubah apa pun."

Laluna mendengus. "Tentu saja tidak. Kau sudah mengambil semuanya dariku, bukan?"

Leonidas hanya mengangkat alis. "Aku tidak mengambil apa pun. Kau memberikannya sendiri. Kau hanya tidak menyadarinya."

Pernyataan itu membuat Laluna ingin membalas, tapi ia tahu pria itu hanya akan memutarbalikkan kata-katanya. Jadi, ia memilih diam, menatap keluar jendela, mencoba meredam amarah yang terus membara di dadanya.

Setelah perjalanan yang terasa seperti seabad, mobil berhenti di depan sebuah mansion besar yang lebih mirip kastil. Bangunan itu megah dan gelap, dengan pintu besi besar yang tampak seperti penjara. Laluna menelan ludah, merasa ngeri namun menolak untuk menunjukkannya.

"Selamat datang di rumah barumu," ujar Leonidas sambil membuka pintu mobil dan keluar.

Laluna menatap mansion itu dengan mata menyipit. Rumah baru? Lebih tepat disebut neraka, pikirnya. Namun, ia keluar dari mobil dengan langkah mantap, menolak terlihat lemah di depan pria ini.

Seorang pria berbadan besar dengan wajah dingin membuka pintu untuk mereka. Laluna tidak sempat melihat siapa namanya, karena Leonidas sudah berjalan masuk tanpa menunggu.

"Jangan tertinggal," ucap Leonidas tanpa menoleh.

Laluna mendesis pelan namun tetap mengikuti. Di dalam, rumah itu lebih mengerikan daripada yang ia bayangkan. Tidak ada tanda-tanda kehangatan. Semua serba hitam, putih, dan abu-abu, seperti cerminan jiwa pemiliknya.

"Ini kamarmu," kata Leonidas, berhenti di depan sebuah pintu kayu besar di lantai dua. Ia membuka pintu itu, memperlihatkan ruangan luas dengan tempat tidur besar di tengahnya. Dekorasinya mewah namun dingin, tanpa sentuhan pribadi.

"Dan di mana kamarmu?" Laluna bertanya dengan nada sarkastik.

Leonidas menoleh, menatapnya dengan ekspresi datar. "Aku tidak perlu menjelaskan hal-hal yang tidak relevan. Ini rumahku. Kau hanya tamu sementara di sini."

"Bagus," Laluna membalas dengan cepat. "Karena aku tidak berniat tinggal lama."

Leonidas tertawa kecil, suara itu dalam dan penuh sindiran. "Kita lihat saja. Tapi ingat, Laluna, semakin keras kau melawan, semakin sulit hidupmu di sini."

Pria itu berbalik dan pergi, meninggalkan Laluna sendirian di kamar itu. Ia menatap pintu yang tertutup di depannya, napasnya terengah-engah karena menahan emosi.

Malam itu, Laluna tidak bisa tidur. Ia duduk di dekat jendela besar yang menghadap ke taman belakang mansion, menatap bulan yang menggantung di langit. Pikirannya penuh dengan pertanyaan, ketakutan, dan rencana pelarian. Tapi di atas segalanya, ia dipenuhi oleh amarah.

Pagi harinya, ia dibangunkan oleh suara ketukan di pintu. Sebelum ia sempat menjawab, pintu itu terbuka, dan seorang wanita muda dengan seragam pelayan masuk.

"Nona Laluna, Tuan Leonidas meminta Anda bersiap-siap untuk sarapan."

Laluna menatap wanita itu dengan mata tajam. "Apa aku terlihat seperti seseorang yang perlu diperintah?"

Wanita itu tampak bingung sejenak, namun Laluna menghela napas dan bangkit. "Baiklah, aku akan turun. Tapi jangan pernah masuk tanpa izin lagi."

Wanita itu mengangguk cepat, lalu pergi. Laluna berdiri di depan cermin, memandang bayangannya sendiri. Ia tahu ia harus memainkan permainan ini dengan cerdas jika ingin keluar hidup-hidup.

Saat ia turun ke ruang makan, Leonidas sudah duduk di ujung meja panjang, membaca sesuatu di tablet. Ketika Laluna masuk, ia mengangkat pandangannya sebentar, lalu kembali fokus pada tabletnya.

"Kau suka menyuruh orang, ya?" Laluna berkata sambil duduk di ujung meja yang lain.

Leonidas tersenyum tipis. "Itu bagian dari pekerjaanku."

"Dan pekerjaanmu apa? Mengancam orang dan memaksa mereka menyerahkan hidup mereka padamu?"

Leonidas menatapnya, senyum di wajahnya menghilang. "Pekerjaanku adalah memastikan semua orang tahu tempat mereka, termasuk kau."

Laluna mendengus. "Kau tidak tahu siapa yang sedang kau hadapi, Leonidas."

Pria itu memiringkan kepalanya, menatapnya dengan ekspresi ingin tahu. "Kau pikir aku tidak tahu? Kau keras kepala, pemberontak, dan tidak tahu kapan harus menyerah. Tapi percayalah, Laluna, aku adalah orang terakhir yang ingin kau tantang."

Mereka saling menatap, suasana di ruangan itu penuh dengan ketegangan. Laluna tahu Leonidas bukan tipe orang yang mudah dihadapi, tapi ia juga bukan tipe wanita yang menyerah begitu saja.

Hari-hari berlalu, dan Laluna mulai memahami bahwa hidup bersama Leonidas adalah sebuah ujian. Pria itu tidak pernah secara langsung menyakitinya, tapi ia memastikan Laluna tahu siapa yang berkuasa. Setiap langkahnya diawasi, setiap kata yang ia ucapkan dianalisis.

Namun, di balik semua itu, Laluna mulai melihat sesuatu yang aneh. Leonidas mungkin dingin dan penuh kontrol, tapi ada momen-momen ketika ia terlihat... manusiawi. Ia tidak pernah berbicara tentang masa lalunya, tapi Laluna tahu ada sesuatu yang menghantui pria itu.

Dan seperti perang yang tak terhindarkan, Laluna menyadari satu hal: jika ia ingin mengalahkan Leonidas Draven, ia harus lebih dari sekadar pemberontak. Ia harus memahami musuhnya, mempelajari kelemahannya, dan pada akhirnya, mengubah aturan permainan.

Tapi, apakah ia sanggup melakukannya tanpa kehilangan dirinya sendiri?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bodyguard Mafia Seksi
8.4
Drystan Cordner tidak menyangka akan menjadi pengawal pribadi Avyana Burcardo, putri mafia yang gemar mengoleksi pria tampan. Di tengah godaan Avyana yang intens, Drystan berjuang keras menjaga profesionalitas meski hatinya goyah. Avyana sendiri merasa geram karena Drystan terus menekankan batasan status atasan dan bawahan di antara mereka. Akankah Avyana berhasil mengubah sosok Drystan yang polos menjadi pria yang lebih agresif dalam hubungan ini?
Sampul Novel Mafia dalam penjara
8.5
Seorang narapidana harus menjalani masa hukuman di balik jeruji besi demi menebus dosa masa lalunya. Namun, ia segera menyadari adanya kejanggalan besar yang menyelimuti seluruh area lembaga pemasyarakatan tersebut. Atmosfer yang tidak biasa dan berbagai kejadian misterius mulai memicu rasa curiga yang mendalam. Apa sebenarnya rahasia gelap yang tersembunyi di dalam penjara ini? Ikuti perjalanan penuh aksi dan teka-teki ini hingga akhir cerita.
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila
9.0
Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan ditakuti, mendapati hidupnya jungkir balik setelah menikahi Yara. Gadis itu sangat konyol dan penuh tingkah ajaib yang menguji kesabaran Arkhan. Namun di balik keceriaannya, Yara menyimpan trauma kelam yang membuatnya selalu menghindar dari keintiman. Di tengah ancaman rival dan konflik organisasi, Arkhan harus meruntuhkan tembok masa lalu Yara. Inilah kisah cinta absurd nan emosional antara sang predator dan istri uniknya.
Sampul Novel Mengirim Tunangku ke Neraka
8.0
Cathy Begum gagal tampil di kapal pesiar, memicu amarah pemimpin mafia Nate Adams yang mengancam menghancurkan tangannya. Tunanganku, Chris Dobson, awalnya bersikap acuh tak acuh sebelum akhirnya membiusku hingga pingsan. Saat terbangun, aku terikat di kamar Nate demi menyelamatkan karier Cathy. Chris justru memohon agar aku melayani Nate semalam saja sebagai pengganti. Meski dia berjanji menjemputku, aku meragukan Nate akan melepaskan dendamnya begitu saja.
Sampul Novel Pengantin Mafia: Terlahir Kembali dalam Penghinaan
9.2
Diana Dixson tewas secara tragis akibat kekejaman Sophia Visconti dalam dunia kriminal. Alih-alih membela, suamiku, Vincent Rossi, justru memanipulasi bukti dan menyebut Diana gila demi melindungi Sophia. Aku dipaksa menandatangani surat permohonan maaf yang menghancurkan harga diri demi menjaga kenangan terakhir kakakku. Di balik paksaan ini, api kebencian membara dalam diriku. Aku bersumpah akan menuntut balas atas nyawa Diana yang telah dirampas.
Sampul Novel PESONA IBLIS MAFIA KEJAM
9.6
Meskipun berusaha keras menjauh dari dunia kriminal dengan melarikan diri dari sang ayah, darah mafia tetap mengalir deras di nadinya. Pria ini dikenal sangat dingin dan kejam, memiliki rupa menawan layaknya iblis Lucifer dengan gerak-gerik yang mematikan. Namun, watak keras dan berbahaya tersebut justru menjadi daya tarik yang tak tertahankan bagi para wanita serta orang-orang di sekelilingnya, menciptakan pesona gelap yang sangat memikat.