Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Suami di Rumah Mertua

Pernikahan Suami di Rumah Mertua

Kemala menjadi korban pengkhianatan Herdian yang lebih memilih wanita lain. Tak hanya dicampakkan, ia pun harus menelan pil pahit akibat kekejaman mertua yang serakah. Awalnya Kemala hanya bisa meratapi nasib, namun teguran sang ayah menyadarkannya untuk bangkit melawan. Di tengah suami yang tunduk pada hasutan ibunya, Kemala harus berani mengambil sikap tegas. Mampukah ia bertahan dan menghadapi penindasan di rumah mertuanya sendiri tanpa rasa menyerah?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Apakah ada kabar terbaru dari suamimu?” tanya Hartono pada Kemala, putrinya.

“Belum, Yah.” Wanita itu menggeleng lirih dengan air muka sedih.

“Sebenarnya kalian ada masalah apa hingga suamimu pergi tanpa pamit,” selidik Hartono, pria itu duduk di kursi kayu di ruang tamu anaknya. “Kalian bertengkar?” Lagi-lagi Kemala hanya menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun.

Pria tua itu menarik napas sambil menengadah melihat langi-langit rumah putrinya yang dihiasi sarang laba-laba. “Bahkan kamu tidak merawat rumahmu dengan baik. Ayah tahu dia suamimu, tapi akan sangat merugi jika kamu terus saja meratapi nasib seperti ini.”

Kemala tertunduk malu atas kritik yang dilontarkan sang ayah padanya. Bagaimana mungkin dia tidak hancur, orang yang selama ini dia utamakan daripada ayahnya seketika menghilang tanpa kabar. Terlebih dia pergi tanpa ada masalah berarti.

“Coba lihat, laba-laba saja tak pernah putus asa meskipun rumahnya kita hancurkan berulang kali. Jadi mengapa kita sebagai manusia yang berakal dan berilmu harus hancur hanya karena suatu hal,” sindir Hartono.

Kemala merasa tertampar hebat oleh kalimat terakhir Hartono. Mungkin benar, selama hampir satu bulan Kemala hanya membuang-buang waktu meratapi kesialan yang menimpanya. Seolah waktu terhenti, tak ada pencapaian apapun yang diperolehnya. Dan sejak hari itu, Kemala bertekad untuk bangkit.

_______

“Mala, masih ingat dengan diriku?” suara seorang wanita menyapanya melalui panggilan seluler.

Beberapa kali Kemala menebak nama beberapa teman yang dia kenal. Ternyata suara itu milik seorang teman lamanya. Di akhir pembicaraan, tiba-tiba wanita itu menyinggung soal Herdian. “Ternyata kamu pindah ke daerah Tegal Besar ya, aku sempat melihat Herdian di sana.”

Apakah Kemala tak salah mendengar? temannya itu bilang bahwa dia melihat Herdian di daerah sekitar tempat tinggalnya. Padahal sebelumnya mereka tidak punya kerabat ataupun sanak keluarga di daerah tersebut. Anehnya lagi, wanita yang tak lain merupakan teman kuliahnya itu juga mengatakan hal lain. “Sekarang aku udah tahu nih kalau kamu tinggal di dekat rumah aku, masa kamu gak ada mengundang aku sih?”

Undangan? Maksudnya bagaimana, Kemala sama sekali tidak mengerti apa yang tengah wanita itu katakan padanya sejak tadi. Tanpa menampik semua yang dikatakan teman lamanya, Kemala tetap bersikap tenang. Dia sama sekali tidak panik apalagi gelisah.

“Baiklah, Kemala. Sampai jumpa, tolong beri kabar kalau undangan untukku sudah siap,” pungkas wanita yang sedang dalam panggilan telepon dengannya.

“Oke. Bye!”

Kemala yang sekarang berbeda dengan Kemala yang dulu. Kemala yang dulu hanya bisa pasrah, menangis dan lemah, kini sudah tiada. Sosoknya berubah menjadi wanita tangguh yang tegar. Semua berkat kalimat pedas Hartono padanya, sebuah kritik yang membangunkan semangatnya. Sehingga dia mampu terlepas dari belenggu pernikahan kejam yang dia jalani.

Saat ini, Kemala tengah disibukkan dengan berbagai kegiatan positif yang digelutinya. Dari seorang ibu rumah tangga biasa, Kemala membuat dirinya mandiri dengan membuka bisnis kecil yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah. Namun tidak mudah baginya untuk sampai di titik ini.

Satu hal yang membuat Kemala sangat bersyukur atas kesibukannya saat ini. Dia berhasil membuang jauh-jauh pikiran tentang Herdian Hadinata. Suami yang meninggalkannya dua bulan yang lalu.

Apakah sebaiknya aku mendatangi tempat itu? Kemala bertanya pada dirinya sendiri setelah mendengar banyak tentang Herdian. “Iya. Aku harus pergi. Aku harus datang ke tempat itu!” secara refleks dia mengatakan apa yang tengah dia pikirkan tatkala seseorang menepuk pundaknya dari belakang.

“Ada apa?” tanya seorang pria tua yang baru saja memasuki rumahnya.

“Maaf aku hanya sedang tidak fokus,” ucapnya pada Hartono. “Tidak ada apa-apa, Yah!” Kemala memutar badan menghadap kepada Hartono yang baru saja memasuki rumah. “Ayah sudah makan? Makan bareng Kemala, yuk! Kebetulan tadi Kemala beli makanan kesukaan ayah.”

Keduanya pergi ke ruang makan sederhana di rumah Kemala. Ayahnya, Hartono memang tinggal tak jauh dari rumah tempat tinggalnya. Sesekali pria berumur enam puluh tahun itu mengunjunginya diwaktu senggang. Ibu Kemala sudah lama meninggal, sejak Kemala masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Beliau meninggal akibat kanker yang dideritanya.

Dan sejak menikah dengan Herdian, Kemala tinggal di rumah yang mereka beli dengan KPR di sebuah komplek perumahan yang juga masih satu kelurahan dengan rumah Hartono. Sekarang Kemala memanfaatkan rumahnya juga untuk bisnis kecil-kecilan. Dia menerima berbagai pesanan kue.

“Yah, nanti bawa ini untuk teman nonton televisi di rumah.” Kemala menyodorkan sebuah bungkusan berisi brownies kesukaan ayahnya.

“Gara-gara kamu jualan kue, ayah jadi lebih sering makan kue daripada nasi,” goda pria tua itu terhadap putrinya.

Gelak tawa pun menyelimuti mereka. Kemala sangat menyayangi Hartono. Sebab hanya dialah satu-satunya keluarga Kemala. “Yah...” Kemala ragu untuk mengatakannya, “eng...Kemala akan pergi ke Tegal Besar besok, ke rumah teman. Nanti sebelum pergi, aku akan antarkan makanan dulu untuk Ayah.”

“Tidak perlu repot-repot, ayah bisa beli di warung depan rumah.”

“Tidak apa, obat Ayah juga habis bukan. Nanti sekaligus Mala beli obatnya juga ya, Yah.”

“Baiklah kalau kamu memaksa, ayah juga tidak ingin membuatmu sedih.”

_______

Setelah mengantarkan makanan dan obat untuk ayahnya, Kemala melajukan motornya ke alamat yang dia dapatkan dari teman lamanya. Beberapa saat mencari, akhirnya dia menemukannya. Namun jika benar rumah itu yang dia tuju, mengapa terlihat sedang ada acara penting? Sebuah tenda berdiri kokoh di jalan perumahan tepat di depan rumah yang menurut temannya adalah tempat tinggal Herdian.

“Apakah aku salah alamat?” Kemala bermonolog sendirian.

Langkahnya seakan tak mau berhenti. Dia tetap saja mendekat ke rumah tersebut meskipun ada keraguan dalam hatinya. Sepertinya acara pernikahan, ada sebuah foto pengantin yang dicetak seukuran banner di depan pintu masuk.

“Mas Dian,” gumam Kemala, dia menatap lekat wajah pengantin pria yang ada pada foto berukuran besar di hadapannya.

“Apakah anda teman mempelai pria?” tanya seorang wanita bersanggul Jawa yang bertindak sebagai penerima tamu.

Kemala mengangguk. Kemudian wanita itu menyodorkan sebuah buku tamu tebal ke hadapan Kemala agar diisi. Setelah mengisi buku tamu, Kemala memasuki tenda. Dan benar saja, kedua mempelai telah duduk di hadapan penghulu. Ternyata acaranya baru akan dimulai.

Meskipun dalam hatinya sangat kacau, Kemala tetap bersikap tenang. Dia tidak ingin membuang energi untuk meluapkan emosinya. Dia hanya berharap untuk dapat berbicara empat mata dengan pengantin pria yang tak lain adalah suaminya sendiri.

Acara demi acara telah dilalui, para tamu bersalaman pada kedua mempelai untuk menyelamatinya tak terkecuali Kemala. “selamat menempuh hidup baru, Mas. Semoga pernikahanmu selalu diliputi kebahagiaan.” Kemala melempar senyum cantiknya kepada Herdian yang tengah panas dingin karena berhadapan dengan Kemala.

“Ada apa, Mas? Apakah kamu kenal wanita ini?” tanya wanita yang merupakan pengantin wanitanya.

Herdian semakin salah tingkah berbanding terbalik dengan sikap Kemala yang tampak tenang dari luar tapi mendidih di bagian dalamnya. Kemala beralih kepada wanita berkebaya pengantin warna putih di samping Herdian. Dia mengulurkan tangannya, “perkenalkan saya adalah istri sah dari suamimu!”

Tentu saja bukan itu yang dilakukan Kemala, dia tidak selemah itu untuk mempersingkat hukuman bagi Herdian. Semua kalimat tadi hanya ada di dalam pikirannya. Tidak benar-benar terjadi.

“Selamat berbahagia, saya teman lama Mas Herdian.” Itulah kalimat yang dilontarkan Kemala pada kenyataannya. Mempelai wanita pun menyambut ucapan selamat dari Kemala. Air mukanya masih terlihat bingung sebab selama mengenal dengan Herdian, dirinya belum pernah melihat Kemala.

Herdian pun tak kalah panik dari istri yang dinikahinya hari ini. Dia menatap siluet Kemala yang berangsur-angsur menghilang di balik tirai tenda berwarna biru itu. Antara ingin menyusul Kemala dan tidak. Herdian merasa bingung. Sementara Kemala mengutuki dirinya sendiri karena dia tak punya nyali untuk bersikap brutal di acara pernikahan suaminya. Namun dalam hatinya dia berjanji, dia akan memastikan mereka semua merasakan penderitaan yang dia rasakan.

“Kupastikan kamu akan menyesal, Mas!”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antagonist Girl
8.2
Arlan memenuhi setiap sudut apartemennya dengan foto seorang wanita demi menjaga ingatan agar tidak pudar barang sejenak pun. Tindakan ini bukan sekadar obsesi, melainkan bentuk ketakutan mendalam akan kehilangan memori tentang sosok tersebut. Sementara itu, Vellice hadir sebagai manusia dari dimensi berbeda yang justru sangat menikmati perannya sebagai antagonis. Kisah ini mengikuti ikatan unik mereka di tengah benturan dunia modern dan fantasi.
Sampul Novel Asisten Pribadi CEO yang Terlalu Mempesona
8.2
Demi membalas budi sahabat yang membiayai pengobatan anaknya, Wilona Anastasia bertahan menjadi asisten Marten Dewangga Yanuardi. Meski Marten adalah CEO muda yang arogan dan keras kepala, pesona Wilona perlahan melunakkan sifat kekanakannya hingga ia terobsesi pada asistennya itu. Namun, sebuah rahasia besar membayangi hubungan mereka yang kian intens. Akankah cinta Marten tetap bertahan saat mengetahui bahwa Wilona sebenarnya adalah seorang janda beranak satu?
Sampul Novel Di Antara Dua Pria Yang Kucinta
9.6
Hesti hancur saat tahu Haris diam-diam melakukan vasektomi karena trauma masa lalu, padahal ia sangat mendambakan anak. Kecewa berat, Hesti memilih bercerai dan nekat mencari pria lain demi kehamilan. Di sebuah klub, ia bertemu Samuel dan terlibat hubungan panas yang membuat mereka sepakat bersama. Namun, Haris tiba-tiba kembali memohon maaf dan berjanji menjalani operasi demi mewujudkan impian Hesti. Kini, Hesti terjebak dalam dilema antara dua pria.
Sampul Novel Gairah Citra dan Kenikmatan
8.1
Di sebuah pinggiran kota yang sunyi, Seto dan Anissa memilih mengabaikan dinginnya malam demi memuaskan hasrat satu sama lain. Saat orang lain terlelap, pasangan suami istri ini justru sengaja bangun lebih awal untuk ritual pagi yang penuh gairah. Seto dengan lembut menjamah tubuh istrinya, memberikan sentuhan intens yang membangkitkan birahi. Keduanya larut dalam kemesraan yang menggebu, berusaha saling memberi kenikmatan maksimal melalui keintiman fisik yang sangat mendalam.
Sampul Novel Gairah Terkutuk
8.5
Liana memaksa Hart masuk ke dunianya dan menjadikannya budak tanpa menyadari bahwa pria itu berasal dari masa lalunya. Hart sengaja menyembunyikan identitas aslinya demi sebuah rencana besar. Pertemuan mereka yang tampak kebetulan di hidup Veronica ternyata telah diatur rapi oleh Hart sejak awal. Di balik kepatuhannya, Hart menyimpan rahasia gelap dan ambisi tersembunyi yang menjadi tujuan utamanya mendekati Liana dalam jeratan gairah penuh misteri.
Sampul Novel Guruku Suamiku
8.4
Arjuna terikat wasiat mendiang ayahnya untuk menikahi Asmara, siswi SMK berusia tujuh belas tahun. Jika menolak, Arjuna akan kehilangan seluruh harta warisan keluarga Darmawan. Selain itu, ayah Asmara yang bernama Pak Banu terancam masuk penjara akibat kecurangan bisnis di masa lalu. Kini, Arjuna harus berjuang meyakinkan gadis belia tersebut agar bersedia membangun rumah tangga demi menyelamatkan masa depan mereka berdua. Akankah pernikahan paksa ini berhasil?