
Pernikahan Rahasia: Ajay dan Fatimah
Bab 3
Fatimah menghentikan langkahnya saat memasuki sebuah kamar. Gadis itu menatap punggung Ajay yang berada di hadapannya.
"Kamu tahu kan bahwa hubungan kita harus di sembunyikan selama sekolah?" ujar Fatimah membuat Ajay berbalik menatapnya. Pemuda itu tersenyum kepada istrinya itu, "Aku tahu, kamu nggak perlu khawatir."
"Hmm. Dan, apa perlu kita tidur se kamar?" tanya Fatimah.
Hening
Keduanya tenggelam dalam keheningan. Dapat di lihat wajah kedua pemuda pemudi itu nampak memerah merona.
"Mungkin, entahlah. Ku-kurasa aku harus menemui ayah dulu. Ka-kamu bisa membereskan barang-barangmu," ucap Ajay dengan tergagap dan dengan terburu-buru pemuda itu pergi keluar kamar.
Fatimah memegang wajahnya yang terasa panas. Gadis itu membuka lemari pakaian dan membereskan semua pakaian-pakaiannya di dalam sana. Jantungnya masih terus berdebar-debar. Jauh dalam lubuk hatinya gadis itu merasa menyesal menanyakan hal itu kepada Ajay.
Hari sudah menunjukkan pukul 18.10, adzan maghrib pun berkumandang. Fatimah beranjak dari duduknya dan pergi ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Setelah selesai berwudhu, Fatimah pun keluar dan mendapati Ajay yang telah mengenakan sarung dan kemejanya.
"Udah? Sholat barengan ajah yok," ajak Ajay dengan tersenyum manis. Pemuda itu membentangkan sajadahnya dan juga sajadah untuk gadis itu.
Fatimah tersenyum tipis dan mulai mengambil posisi untuk melaksanakan sholat.
"Allahu Akbar."
"Bismillahirrohmanirrohiim.. "
Hingga beberapa waktu berlalu, keduanya pun sudah melaksanakan sholat dengan kusyuk. Ajay pun memanjatkan do'a di ikuti Fatimah. Setelah selesai berdo'a Ajay pun berbalik dan mengulurkan tangannya pada gadis itu. Fatimah yang mengerti pun mencium tangan pemuda itu takzim meski jantungnya terus berdebar-debar saat dirinya menyentuh tangan pemuda itu.
"Aku mau bantuin ibu masak," izin Fatimah dan beranjak. Ajay menganggukkan kepalanya, "Aku mau ngaji dulu, kalo makan malam udah siap, nanti panggil aku aja."
Fatimah mengangguk mengerti dan keluar dari kamar. Kamar keduanya berada di lantai dua begitu juga kamar mertuanya. Fatimah menuruni tangga dengan perlahan dan mendapati Ibu mertuanya yang tengah mencuci sayuran.
"Bu," panggil Fatimah membuat ibu mertuanya menatapnya.
"Fatimah? Udah sholat maghrib?" tanya Ibu mertuanya kepada gadis itu. Fatimah mengangguk dan tersenyum ramah, "Udah bu, Fatimah boleh bantu masak bu?"
"Eh, nggak papa nih? Yaudah, kamu cuci aja dagingnya ya. Ibu mau blender bumbu dulu," pinta ibu mertuanya. Fatimah pun menuruti titah ibu mertuanya itu dan mulai mencuci daging.
"Fatimah," panggil ibu mertuanya lagi.
"Hmm? Kenapa bu?"
"Ibu harap kamu menerima semua kelebihan dan kekurangan Ajay ya," kata ibu mertuanya membuat Fatimah tersenyum kepada wanita itu.
"Baik bu, Fatimah juga yakin Ajay orangnya baik. Hanya saja, Fatimah masih terlalu terkejut sama kehidupan baru Fatimah ini, maafkan Fatimah bu kalo Fatimah nanti banyak melakukan kesalahan," kata Fatimah dengan lirih, Ibu mertuanya pun nampak merasa bersalah kepada gadis itu, "Maafin ibu juga ya, tapi jujur ibu senang karena kamu jadi menantu ibu."
"Makasih bu, Fatimah bakal berusaha. Oh ya bu, anuu.. Apa Fatimah harus tidur sekamar sama Ajay?" tanya Fatimah dengan ragu-ragu. Ibu mertuanya nampak terkekeh, "Mah, kamu tahu kan bahwa suami-istri harus tidur sekamar?"
"Te-terus, gi-gimana nanti kalo Fatimah emm.."
"Ibu ngerti maksud kamu," ujar Ibu mertuanya membuat wajah Fatimah sepenuhnya memerah.
"Ibu sih tidak masalah, tapi kalo kamu ingin menunda karena masih sekolah ibu juga bakal mendukung kamu," jelas Ibu mertuanya dengan lembut dan membuat Fatimah merasa nyaman kepada wanita itu.
"Makasih bu," ucap gadis itu dengan tulus. Ibu mertuanya pun mengangguk dan mengelus kepalanya perlahan.
~Keesokan Harinya~
Pada pagi harinya, di kamar dengan nuansa biru. Fatimah tengah merenung, gadis itu menatap ke sebelahnya dan mendapati Ajay yang masih terlelap di dalam tidurnya. Hari menunjukkan pukul 04.30 yang berarti sekitar 20 menit lagi adzan subuh akan berkumandang.
Gadis itu memutuskan untuk beranjak dari tidurnya. Ia menatap tubuhnya sendiri dan sedikit merasa beruntung karena malam pertamanya tidak terjadi apa pun.
"Aku tahu kok kamu belum siap, aku juga belum siap. Jadi, kita sama-sama belum siap. Lagian ya, aku nggak mau nyakitin kamu."
"Oh ya! Sekali lagi makasih karena kamu yang jadi istriku."
Mengingat perkataan pemuda itu kemarin membuat Fatimah diam-diam tersenyum. Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi dan mulai membersihkan tubuhnya. Setelahnya, Fatimah pun mengenakan seragam sekolahnya.
Kret
Derit ranjang mengalihkan perhatian gadis itu. Ajay perlahan beranjak dari tidurnya sembari mengucek-ucek matanya. Rambutnya begitu berantakan namun tidak menghilangkan kesan yang tampan pada pemuda itu.
Ajay nampak terkejut melihat Fatimah yang berada di hadapannya, namun sejenak pemuda itu menghela napas lega, "Ya Allah, aku kaget. Baru ingat kalo kemarin baru nikah."
Fatimah yang sudah siap dengan seragamnya pun diam-diam menahan tawanya, "Ada-ada aja. Sana ambil wudhu, sholat berjamaah dulu."
Ajay mengangguk-angguk, "Ah ya, kamu tunggu aja ya, aku nggak lama kok."
Fatimah mengganggukkan kepalanya pelan meng-iyakan pemuda itu. Gadis itu menyiapkan sajadahnya dan mengenakan mukenanya. Tidak lama dari itu, Ajay pun datang dan telah siap. Pemuda itu berdiri di tempat yang seharusnya dan memulai memimpin sholat berjamaah.
Pukul 06.20 semua anggota keluarga nampak berkumpul di meja makan. Budaya yang mengharuskan tidak berbicara saat sedang makan masih menjadi kebiasaan keluarga tersebut. Ayah mertua Fatimah menggeser piringnya yang menandakan bahwa ia telah selesai makan.
"Ayah mau berangkat kerja dulu. Oh ya Ajay, Fatimah.. Kalian mau berangkat barengan?" tanya Ayah mertuanya.
"Aku pikir, mungkin kami berdua berangkat pisah aja yah. Takutnya kalo barengan, nanti ada orang yang lihat. Karena, selama sekolah kami nggak pernah dekat," jawab Fatimah menjelaskan. Ajay menatap gadis itu sejenak dan ikut berpikir.
"Gitu ya, yaudah. Nanti Fatmah bisa minta anterin Pak Suhardi. Kalo Ajay nanti bisa naik motor ajah," kata Ayah mertuanya, keduanya pun mengangguk mengerti.
Keduanya pun sudah siap dan hendak berangkat sekolah. Fatimah membawakan helm Ajay dan memberikannya pada pemuda itu, dan setelah itu Fatimah sedikit merapikan dasi Ajay sembari berkata, "Kamu nggak usah ngebut, santai aja. Aku tahu kalo kamu biasanya ngebut."
Ajay tersenyum tipis, "Makasih, tenang aja. Dari sekarang sampai ke depannya aku nggak akan ngebut lagi. Kalo gitu aku duluan yah!"
Fatimah melambaikan tangannya sembari menatap kepergian pemuda itu.
"Neng Fatimah, mau berangkat sekarang?" tanya Pak Suhardi, Fatimah mengangguk, "Ayo pak, nanti saya telat."
***
Fatimah meletakkan tasnya pada bangkunya. Beruntungnya bell masuk belum berbunyi. Setelah mengambil Al-Qur'an kecilnya, Fatimah pun berjalan menuju lapangan dan membariskan dirinya pada tempat yang sudah di tentukan. Lalu setelah semua siswa berkumpul ke lapangan, rutinitas pengajian pun di mulai dan pimpin oleh para Osis yang sudah di tunjuk.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





