
Pernikahan Kontrak Sang Pendendam
Bab 2
Setelah malam pertama yang berakhir ambigu-Dion menatapku tanpa ekspresi, aku telanjang di lantai-semuanya bergerak terlalu cepat. Malam itu, Dion tidak menolak, tapi juga tidak menyambut. Dia cuma mengambil selimut, menutupiku, dan bilang, "Kita bahas lagi besok. Malam ini, istirahat saja."
Malam itu, aku tidur di sofa ruang tamu penthouse-nya. Marah, kecewa, tapi anehnya, sedikit takut. Pria itu menakutkan, bukan karena dia marah, tapi karena dia datar.
Pagi harinya, kami kembali ke kantor pengacara yang sama, tapi kali ini bukan untuk menikah, melainkan untuk meresmikan detail dari bencana yang disebut kontrak ini.
Aku duduk di kursi yang sama, tapi kini lebih tegar. Semalam, aku gagal membangkitkan gairahnya. Aku gagal menggunakan tubuhku sebagai senjata. Hari ini, aku akan menggunakan kata-kataku.
Pengacara Dion, namanya Pak Bima, mulai bicara soal kompensasi, tunjangan bulanan, dan jadwal pertemuan sosial yang harus kami hadiri sebagai pasangan. Aku mengangguk, semua itu omong kosong.
"Bisa kita langsung ke Klausul 4.1?" potongku, tatapanku langsung ke Dion. Dia mengenakan kemeja biru muda yang terlihat sangat rapi, kontras dengan kekacauan di hatiku.
Dion mengangguk, "Silakan, Keira."
"Aku sudah bilang, aku nggak mau ini cuma pernikahan di atas kertas. Aku mau skinship," kataku, mengulang kata-kata yang kubayangkan akan membuat Adnan menangis darah.
Pak Bima berdeham. "Nona Keira, kami sudah jelaskan. Kontrak ini murni bisnis. Tuan Dion tidak memiliki kewajiban untuk-"
"Aku nggak peduli kewajiban atau bukan," sergahku, suaraku meninggi sedikit. "Aku butuh malam pertama yang kubayangkan itu. Aku butuh mengakhiri statusku ini. Aku mau mahkota ini hilang malam itu juga, karena status ini yang bikin aku dihina."
Aku melihat kerutan tipis muncul di dahi Dion. Dia sedang menganalisis, bukan emosi.
"Apa motif Anda, Nona Keira?" Dion bertanya, suaranya tenang, seperti suara ombak yang menarik pasir.
"Motifku? Aku mau balas dendam pada mantanku, Adnan," jawabku, jujur dan blak-blakan. Aku memutuskan untuk membuang semua topeng. "Dia ninggalin aku karena aku pertahanin keperawananku. Sekarang, aku mau ngasih ini ke pria yang nggak peduli, biar dia tahu betapa nggak berharganya yang aku jaga selama ini. Puas?"
Pak Bima terlihat ngeri, tapi Dion hanya menyeringai tipis, hampir tidak terlihat.
"Menarik," kata Dion. "Sebuah pengorbanan yang cukup besar hanya untuk membuktikan poin."
"Bukan pengorbanan. Ini pelepasan," koreksiku tajam. "Aku nggak mau status ini jadi beban seumur hidup. Jadi, syaratku: Malam pertama harus terjadi, paling lambat 48 jam setelah penandatanganan kontrak. Kalau nggak, kontrak batal, dan lo harus bayar penalti yang jumlahnya fantastis."
Aku sengaja membuat klausul ini jadi pedang bermata dua. Kalau Dion menolak, dia bayar mahal. Kalau dia setuju, dia harus melakukannya. Aku akan menang, entah bagaimana caranya.
Dion menatapku lama, pandangannya menelusuri wajahku. Aku bisa merasakan dia mencoba membaca setiap pikiran liarku. Aku balas menatap, mempertahankan api yang kupasang di mataku.
Akhirnya, dia mengambil pena, membuat coretan di klausul 4.1.
"Saya setuju," kata Dion, suaranya kembali dingin. "Tapi ada revisi. Saya akan laksanakan, tapi saya punya hak penuh untuk menentukan kapan, di mana, dan bagaimana. Dan setelah itu terjadi, klausul skinship di masa depan kembali seperti semula: tidak diwajibkan."
Pak Bima tampak lega, sementara aku tercekat. Dia mengubahnya jadi permainan kucing-kucingan. Dia setuju mengambilnya, tapi dia yang akan jadi penentu waktu. Itu berarti aku harus terus-terusan agresif dan menggoda, sampai dia capek dan mau melakukannya.
"Deal," kataku cepat, tanpa memikirkan konsekuensinya. Aku terlalu fokus pada kemenangan kecilku. Aku memaksakan diriku tersenyum. "Selamat, Tuan Dion. Anda akan menjadi yang pertama."
Dion hanya mengangguk, seolah aku baru saja menyerahkan kunci mobil, bukan sesuatu yang kuanggap mahkota.
Setelah penandatanganan itu, hidupku langsung pindah ke penthouse Dion. Pindah yang terasa seperti diasingkan.
Penthouse itu terlalu besar, terlalu bersih, dan terlalu sepi. Warnanya didominasi abu-abu, hitam, dan kaca. Tidak ada kehangatan di sana. Tidak ada foto keluarga, tidak ada buku yang berserakan, tidak ada bekas kehidupan. Dion, sebagai suami, sama seperti rumahnya: minim data, minim emosi.
"Dion punya kamar lain nggak, selain kamar utama ini?" tanyaku pada Mbak Yuni, asisten rumah tangga di sana, saat aku menata bajuku di lemari raksasa.
Mbak Yuni, wanita paruh baya yang tenang dan sopan, tersenyum kecil. "Ada, Bu. Tapi Tuan Dion selalu di kamar utama. Kamar lain cuma dipakai kalau ada tamu penting."
Hanya kamar utama. Berarti, kami harus tidur di ranjang yang sama. Klausul ini yang paling membuatku cemas sekaligus bersemangat.
Malam itu, aku mengenakan kimono sutra tipis berwarna merah. Aku sengaja memilih warna yang paling berani dan paling bertentangan dengan diriku yang lama. Ketika Dion masuk kamar, dia baru selesai mandi. Rambutnya basah, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa.
Dia melihatku, lalu melihat kimono-ku. Tidak ada perubahan di matanya. Tidak ada detak jantung yang terlewat.
"Di sofa saja, Keira," katanya, sambil mengambil bantal tambahan dari lemari.
"Sofa?" Aku tertawa hambar. "Dion, lo baru aja setuju sama klausul gila itu. Lo cuma punya waktu 48 jam. Dan lo nyuruh istri lo tidur di sofa?"
Dion menatapku. "Aku butuh tidur nyenyak. Aku ada rapat jam lima pagi. Aku tidak mau terganggu, dan aku yakin kamu juga butuh waktu untuk menenangkan diri."
"Menangkan diri dari apa? Dari fakta bahwa aku gagal lagi membangkitkan gairah lo?" kataku, suaraku tajam.
Dion berjalan ke ranjang, membuka selimut. "Tidak. Menenangkan diri dari fakta bahwa kamu menikahi pria asing hanya karena dendam. Itu bukan kondisi mental yang stabil untuk memulai keintiman, Keira. Apalagi yang pertama."
Brak.
Kata-katanya seperti palu godam. Dia tidak memarahiku, dia tidak menolakku karena aku jelek, dia menolakku karena motifku yang kotor.
"Lo... lo pikir lo siapa, menilai gue?" gumamku, mataku mulai panas.
"Saya suami kontrak Anda," jawab Dion datar. "Tugas saya memastikan kontrak ini berjalan lancar. Kalau Anda sakit mental karena keputusan gegabah ini, kontrak terancam. Jadi, malam ini, tidur di sofa. Besok, kita mulai sesi 'mengenal suami' agar Anda tidak terlalu kaget ketika 'malam itu' tiba."
Aku ingin berteriak, merobek kimono ini, dan membuktikan betapa salahnya dia. Tapi aku terlalu lelah. Lelah melawan orang yang bahkan tidak mau melawan.
Aku mengambil selimut di sofa. "Oke, Dion. Tapi ingat, waktu lo cuma tinggal 46 jam."
Keesokan harinya, aku memutuskan untuk menjalankan peran 'istri agresif' yang kubayangkan.
Aku mengikuti Dion ke ruang kerjanya. Ruangan itu didominasi komputer dan dokumen.
"Mau kopi?" tawarku, mencoba ramah, tapi tanganku gemetar.
"Sudah dibuatkan Mbak Yuni, terima kasih," jawab Dion, bahkan tanpa mendongak dari tabletnya.
"Gue bisa pijitin leher lo," kataku lagi, berjalan mendekat.
Dion akhirnya mengangkat pandangan. "Keira. Kamu tidak perlu melakukan itu. Tugasmu hanya menjadi istri di depan publik, dan memenuhi klausul yang kamu buat sendiri. Saat ini, kita masih dalam mode profesional."
"Mode profesional?" Aku mendengus. "Gue cuma mau nunjukkin kalau gue bisa jadi istri yang perhatian, nggak cuma istri kontrak yang nuntut."
Dion mematikan tabletnya, menyandarkan punggung, dan menatapku dengan tatapan serius yang menusuk.
"Baiklah. Mari kita bicara serius tentang 'kebutuhan' Anda," katanya. "Kenapa begitu penting bagi Anda untuk melepaskan itu sekarang? Kenapa Anda tidak bisa menunggu sampai Anda bertemu pria yang benar-benar Anda cintai setelah kontrak ini berakhir?"
Pertanyaannya membuatku terdiam. Aku tak pernah memikirkan itu.
"Karena... karena itu beban!" kataku, nyaris berteriak. "Itu alasan aku dikhianati. Aku capek. Aku mau buktikan pada semua orang, pada Adnan, bahwa aku nggak selemah itu. Bahwa aku bisa bangkit dan memilih, bahkan jika pilihannya adalah melepaskan kehormatan pada pria sedingin es kayak lo!"
Dion mendengarkan dengan sabar. "Jadi, Anda menganggap tubuh Anda sebagai senjata untuk balas dendam?"
"Lo sebut aja apa pun! Senjata, tameng, bom bunuh diri-gue nggak peduli!"
"Dan Anda berpikir, setelah 'malam itu' terjadi, sakit hati Anda akan hilang?"
Aku terdiam. Jawabannya adalah, tidak. Aku tahu itu. Tapi aku harus meyakinkan diriku sendiri bahwa itu akan berhasil.
Dion bangkit dari kursinya, berjalan ke jendela besar, dan menatap pemandangan kota.
"Dua hari lagi, aku ada acara makan malam amal yang sangat penting. Aku butuh kamu di sana. Kamu harus tampil sempurna, anggun, dan terlihat sangat mencintaiku," kata Dion, tanpa menoleh. "Setelah acara itu selesai, kita pulang. Dan malam itu akan jadi malammu, Keira. Malam pertama yang kamu tunggu."
Aku tersentak. Dia memberi kepastian. Tapi dia juga memberi syarat: Aku harus memainkan peran istri sempurna dulu.
"Kenapa setelah acara itu?" tanyaku penuh curiga. "Lo nggak mau malam ini? Lo takut?"
Dion menoleh, menyunggingkan senyum yang bukan senyum, tapi lebih mirip ekspresi rasa kasihan.
"Saya tidak takut, Keira," katanya, berjalan mendekat. Jarak kami menipis, dan baru kali ini aku merasakan auranya yang mendominasi. "Saya hanya ingin memastikan, ketika Anda menyerahkan mahkota itu, Anda sadar penuh bahwa Anda melakukannya untuk diri sendiri, bukan untuk Adnan. Lakukan tugasmu besok, dan sisanya terserah aku."
Dia menyentuh bahuku sekilas, sentuhan profesional yang membekukan.
"Oh, ya, satu hal lagi," tambah Dion saat ia hendak keluar ruangan. "Di depan semua orang, kamu adalah istriku yang penuh gairah, yang mencintaiku sampai mati. Tapi di kamar, kamu harus membuktikan bahwa kamu lebih seksi dan lebih agresif daripada yang kamu pikirkan. Karena kalau kamu gagal membangkitkan gairahku, Keira, aku akan minta maaf, tapi malam itu tidak akan pernah terjadi."
Dia menutup pintu. Aku berdiri terpaku di tengah ruangan, darahku mendidih. Dia baru saja menantangku.
Dia ingin melihat Keira yang seksi dan agresif, yang tak pernah kulihat selama ini. Baik, Tuan Dion. Aku akan memberikannya. Aku akan buktikan bahwa tubuh yang kusediakan untuk cinta sejati, juga bisa berfungsi sebagai mesin pembalasan dendam yang tak tertahankan.
Anda Mungkin Juga Suka





