
Pernikahan Kilat dengan Sang Miliarder
Bab 3
Karena berdiri membelakangi Riani, Sintia masih membicarakannya dengan penuh semangat.
"Saat masa sekolah, dia merayu seorang guru laki-laki. Aku dengar, guru laki-laki tersebut bahkan membantunya menulis tesis kelulusannya."
"Itu adalah hal yang wajar, siapa suruh dia begitu cantik!" ucap resepsionis tersebut dengan nada cemburu.
"Apa gunanya berwajah cantik kalau hanya bisa merayu pacar orang lain," ucap Sintia dengan tidak senang.
"Itu karena dia punya kemampuan seperti itu. Dengar-dengar pacarnya sangat tampan, apakah dia juga teman sekelas kalian?"
"Huh! Ferry adalah pacarku sekarang," ucap Sintia dengan bangga.
"Wah! Sejak kapan?" tanya resepsionis tersebut dengan penuh semangat. "Jadi, Riani sudah dicampakkan olehnya?"
"Apakah kamu begitu senang mendengarku dicampakkan?" Suara Riani yang muncul dengan tiba-tiba membuat keduanya merasa sangat terkejut.
"Hei! Kamu benar-benar seperti hantu. Kamu bahkan berjalan tanpa suara, benar-benar membuatku kaget setengah mati," ucap Sintia sambil memelototi Riani.
"Sintia, kalau kamu punya begitu banyak waktu untuk bergosip, lebih baik kamu membantu Ferry untuk memasukkan beberapa resume kerja ke perusahaan. Kalau tidak, hanya dengan mengandalkan gajimu, kamu tidak akan sanggup untuk membiayainya."
Sintia dan Riani adalah teman sekelas, tapi Riani sudah lama menjadi kepala bagian keuangan, sedangkan Sintia hanyalah seorang kasir. Oleh karena itu, gaji yang didapat oleh Riani lebih banyak daripada Sintia.
Meski begitu, dia tetap saja masih harus mengambil dua pekerjaan paruh waktu. Pada akhir pekan, dia harus membagikan selebaran di jalan. Selain itu, dia juga bekerja sebagai model di sebuah perusahaan periklanan dan alasannya melakukan semua ini karena pengeluaran Ferry sangat besar.
Sehari-hari, yang dilakukan oleh pria itu hanyalah bermain video game, membeli barang-barang mewah dan bersenang-senang di bar sepanjang malam. Dia sangat boros dan menghabiskan uang seperti air yang mengalir.
Tentu saja, Riani tidak akan begitu berbaik hati mengingatkan Sintia akan hal ini. Bahkan sampai saat ini, wanita itu masih mengira kalau dia telah menemukan harta karun. Jadi saat mendengar kata-kata ejekan yang keluar dari mulut Riani, Sintia hanya menganggap kalau Riani cemburu padanya.
Karena itu juga, dia pun tertawa mengejek dan berkata, "Kamu tidak perlu mengkhawatirkan hal ini. Perusahaan Sutrisno sudah menelepon dan meminta Ferry untuk pergi melakukan wawancara kerja. Pernahkah kamu mendengar tentang Perusahaan Sutrisno? Itu adalah perusahaan yang sangat besar, gaji yang mereka tawarkan padanya adalah 100 juta per bulan."
Sintia mengulurkan kesepuluh jarinya dan melambaikannya di depan mata Riani. "Kamu iri, bukan?"
"Kekanak-kanakan!" Riani berjalan melewati Sintia dan kembali ke kantornya.
Begitu dia masuk ke ruang kantornya, dia melihat adanya tumpukan tagihan yang belum diproses menumpuk di mejanya.
"Bukankah ini tugas kasir? Kenapa jadi diberikan kepadaku?" tanya Riani pada asistennya.
"Tuan Evan mengatakan bahwa Sintia sedang tidak enak badan akhir-akhir ini, jadi dia memintamu untuk mengambil alih pekerjaannya," jawab asisten tersebut.
"Menyuruhku mengambil alih pekerjaannya lagi?" ucap Riani sambil melempar map dokumen tersebut di atas meja hingga membuat tagihan-tagihan tersebut berserakan di lantai.
Ini bukanlah pertama kalinya dia seperti itu. Sebelumnya, Riani tidak tahu bahwa Sintia ternyata begitu licik dan sekarang, dia baru sadar kalau dirinya benar-benar sangat bodoh. Selama ini, dia bahkan menganggap Sintia sebagai sahabatnya dan telah membiarkan wanita licik tersebut masuk ke dalam kehidupannya.
Karena hal itu, Riani jadi sangat sibuk sepanjang hari ini. Dia bahkan tidak punya waktu untuk minum air, apalagi makan siang, hingga sampai malam hari ketika dia sampai di rumah, dia baru sempat makan mi instan.
Setelah itu, dia melakukan panggilan video dengan neneknya Siska. Saat ini, neneknya masih belum tahu kalau dirinya mengidap kanker dan Riani juga tidak memberitahunya. Dia hanya meminta neneknya untuk menuruti perkataan dokter dan mengobati penyakitnya tanpa perlu memikirkan masalah biaya.
Namun, Siska yang tahu kalau Riani sangat sibuk malah berbalik menghiburnya dan memintanya untuk tidak terlalu khawatir dengan penyakitnya.
Sebenarnya, Riani sudah beberapa kali ingin memberi tahu neneknya tentang pernikahannya, tapi saat kata-kata itu sudah sampai ke ujung bibirnya, dia pun menelannya kembali.
Keesokan paginya, Riani merasa sedikit demam, seluruh tubuhnya terasa pegal. Karena itu, dia akhirnya pun meminta cuti dari perusahaannya.
Siangnya, setelah merasa lebih baik, dia pun mulai mengemasi barang-barangnya dan berencana untuk pindah ke kediaman Keluarga Sutrisno malam ini. Saat membayangkan kalau dirinya akan tidur seranjang dengan seorang pria asing membuatnya merasa sangat gugup.
Malamnya, Riani pun membawa kopernya dan beberapa barangnya pergi ke alamat yang dikirim oleh Rizky padanya.
Alamatnya adalah Gang Bajari, No.88. Gang Bajari terletak di kawasan pemukiman tua. Jalanan di sana sangat sempit, kedua sisi jalannya penuh dengan sepeda, becak listrik dan juga barang-barang rongsokan.
Riani menyeret kopernya dan berjalan dengan terseok-seok. Sambil berjalan, dia mencari tahu, di mana alamat tersebut, tapi bagaimanapun juga dia tetap tidak bisa menemukan di mana rumah nomor 88 tersebut.
Lama kelamaan, dia merasa kalau dia telah tersesat, karena makin dia berjalan masuk ke dalam, lingkungan di sana makin mewah dan bersih. Jalanan di sana juga semakin lebar, ditambah lagi dia juga melihat beberapa rumah yang memiliki garasi pribadi.
Namun, Riani tetap saja tidak bisa menemukan rumah tersebut.
Dia lalu menanyakannya kepada beberapa orang yang dia temui di jalan dan mereka semua menyuruhnya untuk berjalan lebih ke dalam, tapi saat dia hampir mencapai ujung Gang Bajari, dia tetap saja tidak menemukan rumah tersebut.
Riana tidak punya pilihan lain selain menelepon Rizky, tapi dia sama sekali tidak menjawab teleponnya ....
Pada akhirnya, ponselnya malah dimatikan.
Seketika itu, Riani merasa cemas sekaligus marah, dia benar-benar tidak bisa mengerti, apa yang terjadi dengannya?
Rizky-lah yang memintanya untuk pindah ke rumahnya malam ini dan dia juga tidak mempermasalahkan kalau dia itu tidak menjemputnya. Namun sekarang, di saat dia tersesat, Rizky malah tidak menjawab teleponnya.
Riani yang merasa sedikit pusing pun lalu berjongkok di tangga batu di samping sekumpulan tanaman. Beberapa saat kemudian, sebuah cahaya lampu yang menyilaukan mata berhenti beberapa kaki di depannya.
Riani mendongakkan kepalanya dan melihat Rizky yang membelakangi cahaya keluar dari mobilnya. Dia lalu mencoba untuk berdiri, tetapi karena dia berjongkok terlalu lama, kakinya jadi mati rasa dan saat dia berdiri dia langsung terjatuh ke depan. Untung saja, Rizky segera menangkapnya dengan lengannya yang kuat.
"Terima kasih," ucap Riani dengan malu-malu.
"Kenapa kamu tidak masuk ke dalam?"
"Aku tidak tahu di mana rumah nomor 88."
"Apakah kamu yang meneleponku tadi?" Karena ponsel Rizky terus berdering saat dia sedang rapat dengan para eksekutif senior, jadi dia langsung mematikannya.
"Ya, kenapa kamu tidak menjawab teleponku?" Melihatnya yang berpura-pura bodoh, Riani jadi merasa sedikit marah.
"Ayo masuk ke dalam." Rizky sama sekali tidak memberinya penjelasan, dia lalu mengeluarkan kunci rumahnya dan berjalan menuju ke rumah yang ada di seberang Riani.
'Inikah rumah nomor 88?' gumam Riani dalam hati. Dia melihat nomor pintu yang terhalang oleh ranting pohon dan ternyata memang benar.
Setelah Rizky membuka pintu gerbang, seorang wanita berusia lima puluhan keluar dari rumah.
"Bibi Dian, apakah Kakek sudah tidur?"
"Belum, dia sedang menunggumu."
Rizky lalu melangkah melewati pintu gerbang, dia sama sekali tidak memperhatikan Riani yang sedang menyeret kopernya dengan sekuat tenaga di belakangnya.
Karena tangganya sangat tinggi, Riani yang telah berusaha dengan sekuat tenaga tetap saja tidak berhasil naik ke satu anak tangga pun.
Saat ini, sebuah tangan yang besar tiba-tiba terulur keluar dan mengambil kopernya dari tangannya.
Saat Riani mendongak dan melihat bahwa ternyata Rizky yang membantunya, dia merasa sangat tersentuh.
Di dalam ingatannya, Ferry tidak pernah membantunya, bahkan saat terakhir kali dia pindah rumah, Ferry sama sekali tidak mengulurkan tangannya untuk membantunya. Riani sendirilah yang memindahkan barang-barang mereka ke atas.
Meskipun begitu, Ferry masih saja mengeluh dan mengatakan kalau dia sangat malas. Dia mengatakan bahwa barang yang dipindahkan ke atas hanya diletakkan begitu saja dan tidak dibereskan sama sekali, sementara dia sendiri hanya bermain gim. Dia bahkan menyuruhnya untuk memesan makanan untuknya.
"Kenapa kamu tidak masuk?" Suara Rizky yang tidak senang menghentikan lamunannya.
Mendengar perkataan Rizky, Riani pun buru-buru melangkah masuk ke dalam. Halamannya tidak terlalu luas, tapi sangat bersih dan rapi. Beberapa pot tanaman tampak diletakkan berjejer di sepanjang dinding.
"Aduh!" teriak Riani tiba-tiba. Karena sibuk melihat ke sekeliling, dia tanpa sengaja menginjak batu besar dan hampir terjatuh.
Mendengar teriakannya, Rizky pun berbalik dan menatapnya.
"Aku baik-baik saja." Riani buru-buru melambaikan tangannya dengan canggung.
Rizky lalu melirik ke arah kerikil yang ada di tanah, kemudian berjalan mendekat dan menendangnya ke samping, setelah itu dia mengulurkan tangannya pada Riani.
Pembuluh darah di tangannya tampak menonjol dan kapalan di telapak tangannya menunjukkan kalau dia sering berolahraga.
Riani menatapnya dengan bingung. Dia tidak tahu apa yang sedang Rizky lakukan.
Melihat wajah Riani yang tampak bingung, Rizky pun mengatupkan bibirnya. Dia lalu mengambil inisiatif untuk memegang tangan Riani.
Seketika itu, kehangatan dari telapak tangannya membuat jantung Riani berdegup dengan kencang, ada rasa hangat yang mengalir ke dalam hatinya.
Rizky lalu menyerahkan koper itu kepada Bibi Dian, setelah itu dia pun membawa Riani pergi ke kamar kakeknya.
Anda Mungkin Juga Suka





