
PERNIKAHAN JEBAKAN: RAHASIA SUAMIKU
Bab 3
Suara ketukan pintu terus terdengar. Suara tersebut semakin keras dan keras.
Tidak biasanya tetangga bertamu sepagi ini, kemungkinan besar sanak saudara atau kenalan— itulah yang dipikirkan Elena.
"Sebentar, aku buka dulu, siapa tahu Tante datang, walau kayaknya nggak mungkin sepagi ini," katanya segera berdiri dan berjalan keluar. Sementara Sam tetap sibuk menggoda bayi mereka.
Kenyataannya yang berdiri di luar pintu depan bukanlah sosok Tante ataupun kenalan lain, melainkan seorang pria empat puluh tahunan bersetelan hitam. Orang ini tidak terlalu asing bagi Elena, selama empat bulan belakangan, dia sangat mengenalnya.
Pria ini mengaku bernama—
"Pak Harold?" sapa Elena menyunggingkan senyuman palsu.
Dia mungkin mengenalnya, tapi bukan berarti mengetahui asal usulnya. Selama ini ia sudah curiga, sebenarnya apa hubungan orang ini dan suaminya?
"Pagi, Nyonya Adinata, maaf kalau terlalu pagi, tapi apa suaminya anda sudah siap? saya menjemputnya," ucap pria bernama Harold itu menatap Elena yang tentu terlalu seksi untuk mata tuanya.
Elena segera menutup kain atas dada yang longgar. Dia lupa kalau tidak sopan berkeliaran dengan kimono seperti ini. Kalau saja tahu tamunya Harold
Sejujurnya, dia tidak suka dengan kedatangan pria ini yang menjemput Sam setiap minggu. Kalau diingat kembali, benar juga, sekarang hari senin— hari dimana suaminya akan dijemput untuk pertemuan. Pagi hari, di hari senin, dengan orang yang sama. Mencurigakan.
Elena lantas berkata, "sebentar ya, saya panggilkan dia dahulu."
"Tentu, Nyonya," sahut pria berparas ramah ini.
Dia tersenyum aneh, lebar dan misterius seolah-olah ada tawa tersembunyi di baliknya. Terkadang Elena tidak nyaman bicara dengan pria ini.
Dia berjalan ke ruang makan dengan was-was. Entah mengapa sejak melihat orang itu, perasaannya jadi kalut. kebahagiaan menanti malam hari menjadi sirna.
Sam masih menaruh perhatiannya pada El. Mereka kompak tertawa sambil bermain tepukan tangan.
"Sam, aku sampai lupa— ada yang menjemputmu, pantas aja kamu sudah siap berpakaian rapi," kata Elena mengagetkan suaminya.
Sam mengangguk. "Maaf ya, aku tinggal kerja dulu." Dia berdiri, mengecup kening El, kemudian berjalan mendekati istrinya. "Jangan lupa nanti."
"Sebenarnya kenapa dia selalu menjemputmu tiap minggu? kamu bilang dia bukan atasanmu atau rekan kerja?" Elena bingung ingin mengutarakan isi hatinya.
Sam mencium kening wanita itu sesaat. "Kan sudah kubilang Pak Harold itu karyawan di anak perusahaan tempatku bekerja, walau tidak satu area, tetap saja kami pada dasarnya rekan— lagipula dia itu semacam Om bagiku."
"Pertemuan apa?"
"Kenapa tanya lagi? tentu saja pertemuan untuk pekerjaan."
"Iya sudah. Hati-hati."
Sam pergi dengan langkah cepat.
Akibat keberadaannya yang menghilang dari ruang makan, El menangis. Anak itu memutar tubuh agar bisa melihat sang ayah.
"Waaa~" rengek El.
Elena segera menggendongnya, lalu mengajaknya ke pintu depan. Sambil menepuk punggung El, dia merayu, "itu Papa— kamu jangan nangis, Papa cuma kerja, Sayang, nanti pulang lagi."
El mengarahkan kedua tangannya kepada punggung Sam yang menjauh. Semakin jauh sampai tidak terjangkau.
Ayahnya sama sekali tidak menoleh, malah buru-buru menutup pintu.
Tangisan kembali pecah.
Sebenarnya Elena tahu kalau lebih baik membawa El kembali ke kamar, tapi dia juga penasaran dengan sikap Sam. Dia mengintip tingkah laku aneh pria itu dari balik jendela.
Sam dan Harold saling bercakap sebentar. Keduanya terlihat pergi keluar dari halaman depan menuju mobil hitam yang terparkir di seberang jalan. Mereka kompak memasang raut wajah tegang seakan ada peristiwa penting sedang terjadi.
Selalu saja begini, selalu saja setiap minggu.
Dia pernah mengikuti mereka pergi, tapi entah kenapa jejak mereka menghilang. Mungkin kelihatannya tidak ada masalah serius, tapi firasat berkata lain.
Seorang istri selalu memiliki firasat kuat tentang suaminya. Dan, kali ini firasat buruk.
Kata orang manusia itu tidak sempurna. Akan tetapi bagi Elena, suaminya sudah pantas disebut sempurna. Fisik, hati dan kepribadian Sam sudah memenuhi kriteria pendamping hidup terbaik. Luar biasa baik— tidak pernah berbohong ataupun melanggar janji.
Seharusnya begitu, tapi semenjak pria bernama Harold itu datang, rasanya aneh, tidak wajar, apakah benar suaminya itu sempurna?
Dia mulai goyah.
Apalagi setelah sepanjang sore, ia menunggu dalam balutan gaun malam hitam nan seksi, tapi sang suami tak kunjung pulang.
Padahal bayi mereka sudah ia titipkan, jadi dia sudah siap berangkat. Sam masih belum datang.
Makin malam dan malam.
"Dimana dia ini?" tanya Elena sembari memanggil nomor suaminya. Tidak aktif selama berjam-jam?
Aneh.
Dia melanggar janji? untuk pertama kalinya?, tanya Elena dalam hati.
Kata sempurna itu pun akhirnya retak. Memang benar kata orang, kesempurnaan pada seseorang tidak akan terbentuk selamanya.
Ada sesuatu dengan "pertemuan" yang dimaksud itu. Setiap minggu ada saja hal membuat Sam telat. Masalahnya sekarang sudah sangat larut.
Ia khawatir. Apa jangan-jangan Sam terjebak masalah?
Dan, ponselnya pun bergetar saat sudah pukul delapan malam. Sebuah pesan suara dari Sam masuk. Saat diputar, pria itu terdengar menjelaskan situasi:
"Sayang, aku minta maaf, maaf banget telat mengabari pertemuannya ternyata sampai tengah malam nanti, maaf, kita akan jadwal ulang saja, kamu jangan ngambek ya— Kamu tidur duluan saja, kemungkinan aku akan menyewa kamar hotel dan besoknya langsung kerja, jadi kita bertemu besok sore ya. Aku mencintaimu."
"Aku harus ke kantornya besok," ucap Elena mematikan ponselnya.
Pertemuan kerja apa yang sampai menyita waktu suaminya sepanjang hari? makin lama— orang bernama Harold itu terdengar berbahaya. Apa yang terjadi di antara mereka? kemana suaminya dibawa?
***
Anda Mungkin Juga Suka





