
PERNIKAHAN DIATAS KERTAS
Bab 2
Bab 2
PAGI PERTAMA
"Nathan, Nindy, sekarang kalian sudah menikah! Jadi, Papa harap, kalian mau saling mengenal. Nathan, tolong jaga Nindy. Perlakukan dia dengan baik!" ujar Jarvis.
"Iya, Pa!" sahut Nathan ogah-ogahan.
"Nathan, yang serius kamu. Kalau sampai kamu menyakiti Nindy, Papa tak segan-segan mencoret nama kamu dari daftar ahli waris," bentak Jarvis.
"Iya, Pa. Nathan paham."
"Ya sudah, ajak dia ke kamar. Biarkan dia Istirahat," ujar Jarvis.
"Pa, boleh Nathan mengajukan permintaan?"
"Apa itu?" tanya Jarvis.
"Pa, kami kan belum saling mengenal. Kami juga baru beberapa kali bertemu. Jadi, kalau boleh, aku mau bawa Nindy tinggal di apartemen saja," ujar Nathan.
"Kenapa harus di apartemen, sih? Kenapa gak disini saja?" protes Mamanya.
"Ma, kami kan pengantin baru. Jadi, perlu privasi. Lagipula, aku ingin belajar mandiri," sahut Nathan.
Jarvis tampak berpikir.
"Bagaimana menurut kamu, Nindy?" tanya Jarvis.
"Saya terserah Mas Nathan saja, Pa!" sahut Nindy lirih.
"Baiklah, Papa kasih izin kalian tinggal di apartemen, tapi mulai besok. Malam ini, kalian menginap disini. Sekarang, ajak dia ke kamar! Biarkan dia istirahat!" ujar Jarvis.
"Iya, Pa! Terimakasih!" sahut Nathan sembari tersenyum.
"Ayo!" ajaknya kepada Nindy.
Nindy mengikuti langkah panjang Nathan.
Nathan membuka pintu kamarnya. Nindy memandang takjub. Kamar itu sangat luas, bahkan lebih luas dari rumahnya. Warna catnya dominan abu menampilkan ciri khas sang pemilik yang selalu tampil maskulin. Nathan terus melangkah masuk dan berbaring. Nindy yang tampak kebingungan hanya berdiri saja di tengah ruangan.
“Ngapain bengong disitu? Sini, aku mau ngomong!” ujar Nathan dingin.
Nindy melangkah mendekati Nathan.
“Barang kamu taruh situ saja, gak usah dibongkar, besok kita pergi. Itu kamar mandinya!” ujar Nathan memberi penjelasan.
“Iya, Mas!” sahut Nindy.
“Oya, satu lagi. Malam ini kamu tidur di sofa. Nih, selimut sama bantal! Sudah sana, aku ngantuk, mau tidur!”lanjut nathan sembari melemparkan selimut dan bantal ke arah Nindy.
Nindy menerimanya dengan sedih. Meski ini pernikahan karena terpaksa, dia tetap berharap merekabisa menjalani pernikahan ini seperti orang lain.
“Mungkin dia perlu waktu!” pikir Nindy.
Nindy segera menuju kamar mandi, membersihkan badan, lalu membaringkan badan di sofa.
Sembari berbaring, dia memandang suaminya. Ternyata, pria itu belum tidur. Dia sedang berbalas pesan sambil senyum-senyum. Cukup lama nindy memperhatikan mereka, hingga akhirnya dia tertidur.
Tepat pukul 03.00 WIB Nindy terbangun. Dia melangkah ke kamar mandi untuk mengambil wudhu dan melaksanakan sholat tahjjud, lalu dlanjutkan tilawah. Nindy menangis dalam doanya. Dia merindukan orang tuanya, meski hidup mereka tergolong sederhana namun kala itu rasanya penuh kedamaian. Dia merindukan masa-masa itu. Dia juga berdoa semoga rumah tangganya bisa langgeng hingga kahir hayat.
Dilhatnya, sang suami masih tertidur pulas. Usai melaksanakan salat subuh, Nindy membangunkan Nathan.
“Mas, bangun, ayo salat subuh dulu!” ujar Nindy.
“Mas!” panggil Nindy lagi, namun Nathan tampak tak bergeming.
Perlahan, Nindy menepuk-nepuk bagu Nathan.
“Mas!” panggilnya lagi.
“Apa sih? Pagi-pagi sudah berisik!” bentaknya.
Nindy tampak terkejut.
“Ada apa?” tanya Nathan lagi.
“Salat subuh dulu, Mas! Udah mau jam lima!” ujar Nindy.
Nathan kembali memejamkan matanya.
“Kamu salat sendiri sana! Aku masih ngantuk!” sahut Nathan.
Nindy tak berani membangunkan Nathan lagi. Perlahan, Nindy membuka pintu kamar dan menuruni tangga. Dia berkeliling mengamati rumah tersebut dan berhenti di dapur.
“Non Nindy mau apa? Biar saya ambilkan!” sapa Bik Siti.
“Gak ada, Bi. Saya hanya berkeliling saja. Bibi masak apa?” tanya Nindy.
“Masak cap cay, nasi goreng, sama udang goreng tepung, Non!”
“Saya bantu ya, Bi!”
“Jangan, Non! Non Nindy duduk saja disana!” ujar Bibi sembari menunjuk meja makan.
“Gak enak, Bi. Aku bantu masak nasi goreng saja, ya!”
“Ya sudah, terserah Non saja!” sahut Bibi pasrah.
Sambil memasak, mereka berbincang ringan. Ternyata, Nathan tak suka makan sayur. Nindy tertawa terpingkal mendengar cerita Bibi.
“Masak gak mau sayur sama sekali, Bi? Kayak anak kecil saja!!” ujar Nindy.
“Beneran, Non! Dulu pernah Den Nathan mogok makan karena dipaksa Papanya harus makan sayur.”
Tanpa terasa, seluruh masakan mereka sudah matang. Dengan dibantu Tiwi, anak Bi Siti, mereka menata makanan di meja makan.
“Sudah siap, Bi?” tanya Adel.
“Sudah, Nya!”
“Ya sudah, sana panggil Nathan!” perintahnya.
“Biar saya saja, Ma!” sahut Nindy.
“Terserah!” sahutnya cuek.
Nindy melangkah naik dan memasuki kamar Nathan. Disana, tampak Nathan sudah selesai bersiap.
“Ada apa?” tanyanya.
“Dipanggil Mama, disuruh sarapan!”
“Hmm!” sahut Nathan singkat.
Nindy segera berbalik dan hendak turun kembali.
“Tunggu!” panggil Nathan.
“Iya, Mas?” tanya Nindy. Dia segera menghentikan langkahnya.
Nathan mendekati Nindy. Berada pada jarak sedekat itu dengan lawan jenis, membuat jantung Nindy berdetak kencang.
“Jangan bilang-bilang kalu tadi malam aku menyuruh kamu tidur di sofa! Ingat itu!” ujar Nathan, lalu mendahului menuruni tangga. Nindy mengikuti dari belakang.
“Selamat pagi, Ma! Selamat pagi, Pa!” sapa Nathan.
“Pagi! Ayo, sarapan!” ajak Mamanya.
Nathan segera duduk di kursinya. Dengan kikuk, Nindy pun ikut duduk di sebelah Nathan.
“Nindy, ayo makan! Jangan malu-malu!” ujar Jarvis.
“Iya, Pa!” sahut Nindy.
“Tumben nasi goreng Bibi rasanya beda!” ujar Adel.
“Iya, Ma, malah lebih enak dari biasanya!” sahut Nathan.
“Masak, sih?” tanya Jarvis yang memang memilih sarapan menggunakan cap cay.
“Beneran, Pa. Cobain deh!” ujar Adel, lalu menyuapkan satu sendok ke mulut suaminya.
“Bener, kan?” ujar istrinya setelah satu suapan mendarat dengan manis di mulut suaminya.
“Ini masakan Nindy, Ma! Papa hafal sama rasa nasi gorengnya!” ujar Jarvis.
Uhuk . tiba-tiba, Adel tersedak.
“Hati-hati, Ma, kalau makan!” ujar Jarvis sembari menyerahkan segelas air minum.
“Terima kasih, Pa!” sahut Adel setelah agak tenang.
“Udah,lanjutkan makannya! Jangan sambil ngobrol!” lanjut Jarvis.
Mereka menyelesaikan acara makan pagi mereka dengan tenang.
“Kalian ke apartemen berangkat jam berapa?” tanya Jarvis.
“Setelah ini kami langsung berangkat, Pa, soalnya kan, agak siangan nanti ada janji sama klien,” sahut Nathan.
“Apa gak sebaiknya kamu ambil cuti dulu? Kasihan Nindy, masak baru menikah sudah kamu tinggal. Ajaklah dia jalan-jalan!”
“Gak bisa sekarang, Pa! Kantor sedang sibuk-sibuknya! Lagian, kami masih bisa jalan-jalan kok, walau hanya dalam kota saja!”
“Terserah kamu sajalah! Oya, mulai besok, Nindy akan bekerja di kantor kita!”
“Apa? Memangnya dia bisa bekerja?” ejek Adel.
“Ma, jangan merendahkan orang seperti itu! Dia itu menantu kamu!” tegur Jarvis kepada istrinya.
Adel tak menanggapi ucapan suaminya.
“ Lagipula, apa kamu tidak tahu, dia ini sarjana ekonomi. Dia lulusan terbaik di kampusnya,” lanjut Jaevis.
“Trus, dia mau ditempatkan dimana? Kantor kita kan, sedang tidak membutuhkan karyawan,” tanya Nathan.
Anda Mungkin Juga Suka





