Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Berlandaskan Penipuan

Pernikahan Berlandaskan Penipuan

Lima tahun membina rumah tangga, kebenaran pahit terungkap di sebuah lelang. Aku memergoki suamiku bersama sepupuku yang dikira telah tiada, lengkap dengan anak mereka. Ternyata, pernikahan ini hanyalah tipu daya suami dan nenekku demi melindungi sang pembunuh. Aku cuma dijadikan tameng belaka. Saat mereka hendak membiusku, aku memilih melepaskan seluruh harta, menggugat cerai, lalu menghilang selamanya dari kehidupan penuh kepalsuan tersebut.
Bab
Bagikan

Bab 2

SUDUT PANDANG KIRANA:

Di dalam kabin mobil pikap dalam perjalanan pulang, Bima menyetir dengan satu tangan, tangannya yang lain diletakkan di konsol di antara kami. Dia melirikku, ekspresinya dibuat sesantai mungkin. "Kirana, kamu tahu… hari peringatan kematian Maya sebentar lagi."

Aku menatap ke luar jendela, pemandangan peternakan kami yang familier kabur di depan mata, jantungku terasa seperti batu mati di dalam dada.

"Aku tahu ini masih jadi topik sensitif untukmu, kamu tidak suka memikirkannya. Eyang dan aku hanya akan mampir sebentar ke pemakaman. Kamu sebaiknya di rumah saja dan istirahat, ya?" Nadanya lembut, merendahkan, seperti cara orang berbicara pada anak kecil yang rewel.

Selama lima tahun terakhir, dia selalu menggunakan alasan yang sama, nada yang sama, untuk meninggalkanku di rumah pada hari itu. Dan seperti orang bodoh, aku selalu berterima kasih atas "perhatiannya".

"Oke," bisikku. Suaraku begitu tenang hingga membuatku takut.

Persetujuanku yang mudah tampaknya melenyapkan sisa-sisa kecemasannya. Di lampu merah berikutnya, dia menoleh padaku, mencondongkan tubuh untuk mencium keningku—hadiahnya yang biasa atas kepatuhanku.

Saat bibirnya mendekati kulitku, aku tersentak menghindar.

Dia membeku.

Udara di dalam mobil menjadi tegang dan berat.

"Aku… aku merasa sedikit mabuk perjalanan," gagapku, menancapkan kuku ke telapak tanganku. Rasa perih yang tajam adalah satu-satunya hal yang membuatku tetap tegak, menahanku agar tidak berteriak.

Sesampainya di rumah, aku beralasan ingin minum jus dan menyuruhnya ke dapur. Begitu dia tidak terlihat, aku langsung berjalan ke ruang kerjanya. Ruangan yang jarang kumasuki. Bukan karena dilarang, tapi karena dia selalu begitu terbuka, begitu percaya. Dia tidak pernah menyembunyikan apa pun dariku, dan transparansi itulah yang membuatku merasa aman.

Ironisnya terasa begitu pahit.

Aku menekan tombol daya di komputernya. Layar menyala, dan sebuah gambar membakar retinaku.

Itu adalah foto Bima, Maya, dan Bagas. Mereka berdiri di ladang bunga matahari, Bima menggendong anak itu, Maya bersandar padanya, kepalanya di bahu Bima. Matahari menyepuh rambut mereka, wajah mereka yang tersenyum. Itu adalah potret kebahagiaan yang murni dan tanpa noda.

Itu adalah latar belakang desktop-nya.

Napas ku tercekat. Jari-jariku gemetar saat aku menggerakkannya ke keyboard, mengetik serangkaian angka pendek ke kolom kata sandi—ulang tahun Bagas.

Komputer berbunyi. Terbuka.

Aku mengklik album foto. Banjir foto menghantamku. Perayaan satu bulan Bagas, Bima menggendongnya sementara nenekku, Eyang Dewi, tersenyum cerah di sisinya. Sebuah rodeo ayah-anak lokal, Bima dengan sabar menunjukkan pada Bagas cara duduk di atas kuda poni. Akhir pekan yang tak terhitung jumlahnya dihabiskan di peternakan mewah Maya—pesta barbeku, pesta kolam renang, piknik.

Nenekku, Dewi Cendana, ada di sebagian besar foto itu. Ekspresi cinta murni tanpa syarat di wajahnya saat dia menggendong Bagas adalah ekspresi yang belum pernah kuterima sekali pun. Dia bukan nenekku. Dia adalah nenek mereka.

Aku teringat sebuah wawancara yang Bima berikan pada majalah peternakan tahun lalu. Dia menatap lurus ke kamera dan berkata dengan pesonanya yang tulus, "Aku mencintai keluargaku. Mereka adalah segalanya bagiku."

Aku akhirnya mengerti. Aku tidak pernah menjadi keluarga yang dia bicarakan.

Aku duduk di sana di kursi kulitnya, hampa seperti cangkang kosong, sampai ponselku bergetar di sakuku.

Sebuah pesan dari nomor tak dikenal.

"Lama tidak bertemu, Kirana. Lihat betapa suamimu dan nenekmu mencintai aku dan Bagas? Berhentilah bermimpi. Semua milik keluarga Cendana Hitam, termasuk Bima, akan menjadi milikku. Oh, ngomong-ngomong, pesta ulang tahun peternakan kudaku besok. Kenapa kamu tidak datang dan melihat bagaimana suamimu menghabiskan waktu dengan keluarga aslinya?"

Pesan itu ditandatangani: Maya.

Tepat pada saat itu, pintu ruang kerja terbuka. Bima berdiri di sana, segelas jus di tangannya dan senyum lembut di wajahnya.

"Hei, sayang. Aku mungkin harus pergi ke luar kota besok. Hanya perjalanan singkat untuk memeriksa padang rumput utara. Aku mungkin akan pulang larut malam."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta di Tepi: Tetaplah Bersamaku
9.4
Demi melindungi wanita pilihannya, Regan terpaksa menikahi Ella dua tahun lalu. Di mata Regan, Ella adalah sosok licik yang menjeratnya dalam pernikahan, sehingga ia bersikap dingin dan mengabaikan pengabdian tulus Ella selama sedekade. Namun, saat Ella mulai lelah dan berniat menyerah, ketakutan melanda hati Regan. Ketika nyawa Ella terancam saat mengandung anaknya, barulah Regan tersadar bahwa cinta sejatinya selama ini hanyalah untuk sang istri.
Sampul Novel Dendam Istri Yang Dikhianati
8.7
Dunia Amora hancur saat menyaksikan Aries berselingkuh dengan adik tirinya, Arin, di kamar mereka sendiri. Pengkhianatan suami yang dianggap setia ini semakin menyakitkan karena keterlibatan ibu tirinya, Resti, yang sengaja merencanakan muslihat tersebut. Merasa kebaikannya dibalas dengan durjana, Amora tidak tinggal diam. Amarahnya memuncak menjadi dendam membara. Ia mulai menyusun rencana matang untuk menghancurkan Resti, Arin, dan Aries sebagai pembalasan atas luka hatinya.
Sampul Novel Disekap Wanita Yang Menginginkan Suamiku
8.9
Upaya Laras melarikan diri dari rumah berubah menjadi mimpi buruk saat ia dan ketiga buah hatinya diculik oleh seorang sopir travel. Di dalam penyekapan yang penuh siksaan, Laras harus menelan pil pahit kehilangan salah satu anaknya. Tragedi ini memicu dendam membara dalam dirinya. Ia bertekad mengungkap dalang serta motif keji di balik penderitaan mereka. Mampukah Laras menyelamatkan anak-anaknya yang tersisa dan lolos dari jeratan maut yang mengancam nyawa?
Sampul Novel Dua Sahabat yang Bercerai
8.7
Mely dan sahabatnya, Winda, memutuskan untuk menikah dengan dua bersaudara dari Keluarga Wicaksono yang kaya raya. Namun, di hari pernikahan mereka, Riko Wicaksono yang merupakan seorang dokter justru pergi meninggalkan Mely demi membantu mantan kekasihnya mencari anjing yang hilang. Kepergian Riko memicu serangan jantung fatal pada nenek Mely hingga meninggal dunia. Diliputi rasa duka dan kekecewaan mendalam atas sikap dingin suami mereka, kedua sahabat ini sepakat untuk mengajukan gugatan cerai, meninggalkan penyesalan mendalam bagi dua bersaudara Wicaksono.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Luka Sang Bidadari
8.8
Kehidupan Alina Dzakiya runtuh sejak sang ayah mengkhianati ibunya demi wanita lain. Luka itu perlahan sembuh saat ia menikahi Raka, sahabat setianya. Namun, di tengah kebahagiaan menanti kelahiran anak pertama, pengkhianatan serupa justru terulang. Raka berselingkuh, menghancurkan kepercayaan yang tersisa di hati Alina. Kini ia terjebak dalam dilema besar: tetap bertahan demi rumah tangga atau menyerah pada takdir pahit yang dulu menimpa sang ibu.