Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pernikahan Berbayar Si Gadis Culun

Pernikahan Berbayar Si Gadis Culun

Demi mempertanggungjawabkan kehamilan yang tidak direncanakan, Silia nekat membayar kekasih sahabatnya sendiri untuk menikahinya. Meski terasa janggal, Roby yang tampan dan perhatian ternyata bersedia menerima tawaran tersebut. Seiring berjalannya waktu, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka saat tinggal bersama. Namun, kehadiran Yesika sebagai pacar asli Roby serta Vatra sebagai cinta pertama Silia memicu konflik besar yang mengancam keutuhan rumah tangga baru mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Yesika memandang kesal cowok di depannya. Sudah hampir setengah jam mereka berdebat, tapi belum menemukan kesepakatan. Meyakinkan lelaki yang berstatus pacarnya ini ternyata jauh lebih sulit dibandingkan saat ia meyakinkan Silia.

“Kamu udah gila Yesi. Ini sama aja kamu menjual aku!” kata Roby dengan mata berkilat marah. Tak ia sangka kalau gadis yang sangat ia cintai akan memintanya untuk menikahi wanita lain dengan iming-iming uang.

“Roby, yang jual kamu siapa? Ini aku lakukan demi masa depan kita. Ini untuk modal kita menikah nanti.”

“Aku yang akan memikirkan modal kita untuk menikah nanti. Aku akan bekerja keras. Kamu nggak perlu memaksa aku untuk melakukan ini. Permintaan kamu di luar nalar, ini nggak masuk akal!”

“Nggak cukup, Roby! Sekeras apa pun kamu kerja nggak akan cukup untuk modal kita menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga yang sesuai dengan keinginan aku. Kamu kerja siang malam dalam lima tahun aja belum tentu terkumpul uang segitu. Aku nggak mau hidup susah kayak Ibu aku. Aku nggak mau jadi buruh cuci di rumah orang karena suami yang nggak mampu ngasih aku nafkah!”

“Aku nggak sama dengan Bapak kamu Yesi. Aku ini kerja, sementara...”

“Bapak aku nggak kerja?! Pengangguran maksud kamu?!” potong Yesika. “ Sekarang kamu menghina orang tua aku?!”

Roby berdecak kesal. “Aku nggak bermaksud bilang kayak gitu, Yesi. Aku Cuma mau kamu tahu kalau aku nggak akan membuat kamu menderita. Aku bukan tipe orang pemalas yang akan membiarkan anak istriku nanti hidup susah.”

“Rajin aja nggak cukup, Roby. Kita juga perlu berkorban dan perlu modal kalau mau hidup enak,” bantah Yesika.

“Aku nggak habis pikir kenapa teman kamu yang hamil, aku yang kamu suruh tanggung jawab. Kenapa nggak suruh orang yang menghamilinya yang menikahi dia?”

“Masalahnya nggak sesederhana itu, Roby,” Yesika geregetan.

“Yesi, aku sangat mencintaimu. Selama ini semua aku berikan untuk kamu. Aku memang orang nggak punya, tapi aku selalu berusaha agar kamu bisa mendapatkan keinginanmu selagi aku mampu. Tapi, kenapa sekarang aku merasa kalau perasaanku ini bertepuk sebelah tangan? Aku merasa hanya aku yang mencintaimu.”

“Mulai deh, maksud kamu apa sih?”

“Apa kamu juga mencintai aku, Yesi?”

“Ya iyalah. Kamu kan pacar aku. Ada-ada aja pertanyaannya!” sahut Yesika kesal.

“Kalau gitu, kenapa kamu rela membiarkan aku menikahi perempuan lain hanya karena uang? Apa nggak ada sedikit pun rasa cemburu dalam hati kamu melihatku bersanding dengan orang lain?”

“Ya justru karena alasan uang aku nggak perlu cemburu kan? Karena kamu kan nggak cinta sama dia, dan nggak mungkin bisa jatuh cinta sama cewek kayak dia.”

“Tapi...”

“Udah deh, kalau kamu nggak mau, aku anggap kamu yang nggak cinta sama aku!”

Roby terdiam. Tak tahu lagi harus menjawab apa. Seperti biasa, Yesika selalu egois dan memaksakan apa pun kehendaknya. Hanya saja kali ini ia merasa tak perlu harus menurut, karena bagi Roby, pernikahan bukanlah sebuah permainan.

“Aku antar kamu pulang. Aku capek. Dan aku harap saat kita ketemu nanti, kamu nggak ngomongin hal ini lagi,” tegas Roby. Ia berdiri dan berjalan membelakangi Yesika yang masih duduk. Ia yakin Yesika akan tetap mengikutinya dari belakang.

“Kamu orang baik, Roby. Tolong temanku. Dia korban pemerkosaan. Kalau nggak ada yang menikahinya, dia akan bunuh diri karena malu!”

Kalimat Yesika berhasil membuat Roby menghentikan langkahnya.

***

Silia celingukan. Langkahnya maju mundur saat hendak memasuki pintu sebuah restoran cepat saji di sebuah Mall yang menyediakan menu ayam goreng khas negeri Paman Sam itu.

“Namanya Roby, dia kerja jadi waiter di gerai Texas Chicken di Mall. Kalau kamu mau ketemu dia, langsung datangin aja ke tempat kerjanya. Besok dia kerja shift siang.”

Kalimat Yesika saat tadi meneleponnya masih terngiang di telinga. Silia memang meminta untuk bertemu langsung secara pribadi dengan orang yang akan menikahinya setelah Yesika memberitahu kalau temannya sudah setuju untuk membantu, dengan syarat yang telah diajukan sebelumnya, yaitu uang 50 juta.

Silia yang ke mana-mana tidak pernah sendiri karena sifatnya yang tertutup dan pemalu, kali ini mau tidak mau harus menyelesaikan semua sendiri. Tangan dan kakinya sudah gemetaran. Ia selalu merasa grogi setiap akan bertemu orang baru. Setelah memantapkan hati dan memberanikan diri, Silia mendorong pintu kaca di depannya.

“Selamat siang, mau pesan apa?” sapaan ramah wanita di belakang mesin kasir menyambut kedatangannya.

Silia menyebutkan pesanan dengan gugup, sambil matanya memandang ke sekeliling yang terlihat hanya ada beberapa meja yang terisi. Ia mencari sosok Roby. Ia sama sekali tak tahu bagaimana wajah Roby, karena Yesika mengaku tak menyimpan fotonya.

Silia mengunyah makanannya dengan pelan. Dilihatnya sekelompok gadis yang masuk, seumuran anak SMA, sambil cekikikan para gadis itu memesan.

“Kamu yakin Kak Roby hari ini masuk siang?” suara salah seorang gadis SMA tadi terdengar sekilas di telinga Silia, membuatnya menoleh karena tertarik dengan percakapan di meja sebelahnya itu.

“Iya yakin. Aku kemaren ke sini, kata Mbak Kasir yang kemarin, hari ini Kak Roby masuk shift siang.”

“Mana ya dia, belum kelu... Eh, itu dia tuh...” gadis berambut panjang sebahu dengan heboh memberi isyarat pada teman-temannya. Serentak mereka menoleh ke arah yang ditunjuk, tak terkecuali Silia.

Seketika jantung Silia berdebar. Terasa seperti ada angin yang meniup wajah dan rambutnya. Sosok bernama Roby yang dilihatnya, sedang berjalan dengan membawa tray di tangan. Melangkah gontai dengan gaya jalan khas lelaki.

Dengan cekatan mengumpulkan barang kotor di atas meja, dan mengelapnya. Kulitnya bersih, dengan bibir merah yang jarang dimiliki pria, serta badan ideal yang tinggi tegap. Sebuah topi berwarna hitam yang sepertinya merupakan pelengkap seragam kerja, menyempurnakan penampilannya. Wajahnya manis, dengan hidung bangir dan alis mata tebal. Wajahnya benar-benar tampan, dan tampannya khas Indonesia banget. Membuat Silia hampir tak berkedip memandanginya.

Sejauh ini, Silia jarang mengagumi seorang lelaki, kecuali Vatra, cinta pertamanya sejak masih duduk di Sekolah Dasar. Kepribadiannya yang tertutup dan penampilannya yang biasa saja, membuat Silia tak pernah dekat dengan sosok pria mana pun. Selain itu, Silia masih menyukai Vatra yang kini sedang kuliah di luar negeri.

“Udah ambil fotonya? Ambil lagi yang banyak,” terdengar bisik-bisik anak SMA yang sejak tadi seperti cacing kepanasan saat Roby keluar.

Silia mendengkus kesal. Entah kenapa ia benci sekali melihat anak-anak itu mengambil foto Roby diam-diam.

“Adik-adik, jangan suka ngambil foto orang sembarangan tanpa sepengetahuan orangnya. Nggak sopan tau!” tegur Silia dengan suara pelan.

Ketiga gadis muda itu manyun. “Ih, siapa sih tuh nenek-nenek? Sok ngatur. Dia naksir juga kali sama Kak Roby, cih!”

Mata Silia membulat. Ia dibilang nenek-nenek? Anak-anak kurang ajar!

“Biarin aja dah, nggak mungkin kayak Kak Roby suka sama perempuan modelan kayak gitu. Nggak seimbang, hihihi.” Mereka kembali cekikikan. Kuping Silia panas mendengarnya.

“Kak Roby... Sini deh, aku titip yang kotor,” salah satu gadis itu melambai pada Roby. Roby mendekat.

“Kak Roby, minta nomor HP dong,” gadis berambut sebahu berkata dengan gaya centil. Roby hanya mengangguk dan tersenyum. Tapi tak mengatakan apa pun. Ia langsung pergi dari situ dan menuju ke belakang.

Ketiga gadis itu kecewa. Silia tersenyum senang. “Sukurin!” katanya dalam hati.

Setelah ketiga gadis itu pergi, Silia masih betah duduk di situ. Dia tidak tahu bagaimana cara memulai untuk berbicara dengan Roby. Silia memperhatikan Roby yang sedang serius membersihkan meja di sebelahnya.

Silia berdehem. “Bisa minta tolong bawakan yang kotor?” Silia memberanikan diri. Roby hanya tersenyum dan dengan cekatan ia membersihkan meja Silia.

“Roby...” Saat baru saja hendak berbalik, langkah Roby terhenti saat Silia kembali memanggilnya. “Bisa bicara sebentar? Saya... Saya temannya Yesika,” badan Silia gemetar, dan itu berpengaruh juga pada suaranya.

Roby yang mendengar itu langsung paham. Ia sempat terdiam. “Sekarang aku masih ada jam kerja. Kalau mau bicara, aku keluar jam 4 sore,” kata Roby datar.

Silia melirik jam di tangan. Masih jam 1 siang. “Saya... Saya tunggu di luar,” kata Silia dengan susah payah.

Tanpa jawaban Roby berbalik dan meninggalkan Silia yang kini hanya bisa bengong.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bismillah, Aku Ikhlas
8.2
Kehidupan rumah tangga yang seharusnya indah berubah menjadi penderitaan akibat lisan tajam ibu mertua. Tuduhan mandul dan penyesalan atas pernikahan terus dilontarkan, menambah beban pekerjaan rumah yang tiada habisnya. Sang istri terus dipojokkan dan dituntut memberikan cucu dalam tekanan mental yang berat. Di tengah badai konflik dan sikap mertua yang semena-mena, ia kini berdiri di persimpangan jalan antara terus bertahan atau memilih menyerah.
Sampul Novel Perceraian Ditolak: CEO yang Sombong Tak Mau Biarkan Saya Pergi
8.1
Banyak pihak menanti Rhett menceraikan Jillian demi cinta lamanya. Namun, kejutan terjadi saat konferensi pers digelar. Bukannya berpisah, sang CEO justru memamerkan buah hati mereka ke hadapan publik. Rhett dengan tegas membantah isu keretakan rumah tangga yang beredar luas. Ia menyatakan bahwa hubungan mereka sangat harmonis dan kini semakin lengkap berkat kehadiran sang bayi. Harapan orang-orang untuk melihat mereka bercerai pun sirna seketika.
Sampul Novel Dibuang Suami Diratukan Boss
8.6
Delapan tahun menikah, Alya justru dikhianati suaminya sendiri karena dianggap mandul. Ia bahkan dijual kepada penguasa kota demi melepaskan beban tanggung jawab. Namun, takdir berkata lain saat Alya dinyatakan hamil setelah pertemuan malam itu. Kini ia terjebak di antara masa lalu yang menyakitkan atau memulai hidup baru dengan pria asing yang merupakan ayah biologis bayinya. Mampukah Alya menuntut keadilan atas segala penderitaan yang ia alami?
Sampul Novel Istri yang terbuang
9.2
Natasha terpaksa pergi setelah diusir oleh Aiden, suami yang sangat ia puja, di depan seluruh keluarga besar hanya karena masalah sepele. Ironisnya, tak ada satu pun anggota keluarga yang mencari atau mempedulikannya. Saat Natasha mencoba menghubungi mereka, panggilannya pun diabaikan. Di bawah guyuran hujan deras, ia jatuh pingsan sambil meratapi kehancuran pernikahannya. Akankah Natasha sanggup memaafkan Aiden setelah pengkhianatan menyakitkan ini?
Sampul Novel Jerat Janda Terhormat
8.2
Pasca kematian suaminya, Serena Aqulea Abraham terpaksa berjuang sebagai ibu tunggal demi putri kecil dan ibunya yang sakit. Di tengah beban ekonomi dan stigma negatif sebagai janda muda, ia harus bertransformasi dari sosok lemah menjadi wanita tangguh. Serena bekerja keras melakoni apa pun demi bertahan hidup tanpa sandaran. Akankah ia terus kuat menghadapi cemoohan orang sekitar, atau justru menemukan sosok pria baru yang tulus menerima masa lalunya?
Sampul Novel Kiana (Anak yang tidak di Harapkan
9.3
Kiana menjalani hidup yang penuh luka di tengah pengabaian keluarganya sendiri. Meski menyandang status sebagai anak, ia justru merasa dikucilkan dan tidak pernah dianggap ada. Saat dunianya terasa runtuh, Kiana hanya bisa memohon kesembuhan bagi sang ayah, sosok yang menjadi satu-satunya tumpuan harapannya. Di tengah rasa sakit dan ketidakadilan yang ia terima, Kiana berseru kepada Tuhan, mencari setitik kekuatan untuk bertahan hidup dalam kesendiriannya.