
Perjalanan Fantasi
Bab 3
Keisha duduk di taman bersama Yoana, menikmati teh sore mereka sambil mengobrol. Taman ini adalah tempat favorit mereka untuk berkumpul, di mana bunga-bunga yang indah dan aroma yang harum membuat suasana menjadi begitu tenang.
“Keisha, apakah kamu pernah mendengar kisah cinta Pangeran Dominic?” tanya Yoana dengan nada penasaran.
Keisha menggelengkan kepala, “Tidak, aku belum pernah mendengarnya. Apa yang terjadi?”
Yoana menyesap tehnya sejenak sebelum mulai bercerita. “Pangeran Dominic pernah sangat mencintai seorang wanita. Mereka berencana menikah, tetapi menjelang pernikahan, dia menemukan bahwa wanita itu telah mengkhianatinya. Kabarnya, dia selingkuh dengan seseorang yang sangat dekat dengan pangeran.”
Ia merasa sedih mendengar cerita itu. “Ya ampun, itu pasti sangat menyakitkan baginya.”
Yoana mengangguk. “Sungguh. Sejak itu, Pangeran Dominic belum pernah menemukan wanita yang benar-benar tulus mencintainya. Dia tampak begitu kesepian dan patah hati.”
Mendengar kisah ini membuat Keisha merasa empati terhadap Pangeran Dominic. Ia ingin pangeran tahu bahwa masih ada cinta yang tulus di dunia ini. Dan mungkin, hanya mungkin, Keisha bisa menjadi orang itu untuknya.
***
Matahari terbenam dan Keisha berdiri di kejauhan, mengamati sosok Pangeran Dominic yang sedang duduk sendirian di balkon istananya. Walaupun jarak mereka jauh, Keisha bisa merasakan kesedihan yang mendalam dari ekspresinya. Dia tampak begitu jauh dan terisolasi, sangat berbeda dengan pangeran yang kemarin dikenalnya.
Keisha tahu tentang pengkhianatan yang dia alami. Kabar tentang calon istri pangeran yang selingkuh telah menyebar di seluruh kerajaan sudah sejak lama, dan berita itu membuat Keisha merasa sedih untuknya. Ia hanya bisa membayangkan betapa sakitnya hatinya, betapa hancurnya kepercayaannya.
Dalam hati, ia berharap bisa membantu menyembuhkan luka itu. Keisha ingin menunjukkan kepadanya bahwa masih ada cinta yang tulus di dunia ini. Dan mungkin, hanya mungkin, dia bisa menjadi orang itu untuknya.
“Selamat sore, Pangeran Dominic,” sapa Keisha dengan suara yang sedikit gugup.
Dia menoleh, menatap dengan ekspresi yang sulit di baca. “Selamat sore, Keisha. Apa yang kamu lakukan di sini?”
Keisha menelan ludah. “Aku ... aku hanya ingin berjalan-jalan. Taman ini begitu indah, dan cuaca hari ini juga sangat bagus.”
Pangeran Dominic mengangguk, tampaknya dia setuju. “Ya, taman ini memang indah. Ini adalah salah satu tempat favoritku di istana.”
“Benarkah?” tanya Keisha merasa senang mendengar hal itu. “Mungkin suatu hari, Anda bisa memberi tahu saya lebih banyak tentang tempat-tempat favorit Anda lainnya di istana.”
Dia tampak terkejut sejenak, sebelum akhirnya tersenyum tipis. “Mungkin suatu hari nanti, Keisha.”
“Yang Mulia.”
“Iya Keisha.”
“Yang Mulia, saya bersedia sebagai tempat curhat jika Yang Mulia mau saya temani.”
“Terima kasih, Keisha.”
Keisha tersenyum lembut, merasa senang bisa menawarkan dukungan kepada Pangeran Dominic. “Tentu saja, Yang Mulia. Saya akan selalu ada untuk Anda.”
Pangeran Dominic menatapnya sejenak, seolah mencari kepastian dalam tatapan Keisha. “Terima kasih, Keisha. Aku menghargai tawaranmu. Mungkin suatu saat aku akan membagikan cerita dan perasaanku denganmu.”
Dari saat itu, hubungan mereka mulai berkembang. Mereka sering menghabiskan waktu bersama, berjalan-jalan di taman atau berbicara di perpustakaan istana. Pangeran Dominic mulai membuka diri tentang masa lalunya, pengkhianatan yang dia alami, dan harapannya untuk menemukan cinta sejati.
Seiring berjalannya waktu, Keisha merasa semakin dekat dengannya, dan ia percaya bahwa pangeran juga merasa demikian. Mereka saling mendukung dan menguatkan satu sama lain, menghadapi rintangan bersama, dan menjalin ikatan yang kuat dan tulus.
Keisha melihat Ratu Shourina melihat mereka dari kejauhan, matanya menyala dengan kemarahan dan ketidaksukaan. Keisha bisa merasakan suasana menjadi tegang saat dia menatap mereka. Tak lama kemudian, dengan langkah cepat dan marah, dia pun pergi meninggalkan tempat itu.
Pangeran Dominic tampak sadar akan perubahan suasana tersebut. “Aku khawatir Ratu Shourina tidak setuju dengan pertemanan kita, Keisha,” ujarnya dengan nada khawatir.
Ia mengangguk, merasa sedikit cemas. “Saya juga merasa begitu, Yang Mulia. Tapi kita tidak berbuat salah, kan? Kita hanya berteman, dan saya ingin selalu mendukung Anda.”
Dia tersenyum lembut, memberikan semangat. “Terima kasih, Keisha. Kita harus berhati-hati, tetapi jangan biarkan ketidaksukaan Ratu Shourina menghalangi persahabatan kita.”
Mereka berjanji untuk terus menjaga persahabatan mereka, meskipun mereka tahu bahwa Ratu Shourina mungkin tidak setuju. Mereka akan menghadapi tantangan ini bersama, berusaha mempertahankan ikatan yang telah dibangun.
Dominic melanjutkan obrolan mereka dengan antusias, tampaknya dia sangat ingin menceritakan tentang kerajaan ini yang penuh dengan sihir. Dia tahu Keisha pasti belum mengenal dunia sihir karena ia orang asing.
“Dunia ini berbeda, Keisha,” kata Dominic dengan nada serius. “Sihir adalah bagian integral dari kehidupan kita. Tetapi, karena peristiwa masa lalu yang tragis, ayahku, Raja Abhiseva, memutuskan untuk membatasi penggunaan sihir di kerajaan.”
Keisha terkejut mendengar penjelasannya. “Tapi, mengapa aku tidak pernah melihat orang-orang menggunakan sihir?” tanyaku, penasaran.
Dominic tersenyum ringan. “Itu karena sihir di sini digunakan dengan bijaksana. Kita tidak menggunakannya untuk hal-hal sepele. Dan, tentu saja, ada aturan ketat tentang penggunaan sihir.”
Mendengar penjelasan Dominic membuatnya semakin penasaran tentang dunia ini. Ia ingin tahu lebih banyak tentang sejarah kerajaan, sihir, dan bagaimana semua ini mempengaruhi kehidupan orang-orang di sekitar. Ia bertekad untuk belajar lebih banyak dan memahami dunia baru ini.
Ia tiba-tiba tersadar tentang Gilbert dan bertanya kepada Dominic, “Dominic, di mana Gilbert? Aku sudah lama tidak melihatnya.”
Dominic menatapnya sejenak sebelum menjawab, “Gilbert sedang ada tugas lain yang menyangkut penyihir. Dia harus menangani beberapa masalah yang muncul akibat penggunaan sihir yang tidak bertanggung jawab.”
Keisha terdiam, mencerna informasi yang baru saja kudengar. Ia merasa khawatir tentang Gilbert, berharap semoga Gilbert baik-baik saja dalam menjalankan tugasnya. Meskipun ia belum mengenal dunia sihir dengan baik, ia menyadari bahwa masalah yang melibatkan sihir bisa menjadi sangat rumit dan berbahaya.
Dominic, melihat kekhawatiran Keisha, menepuk pelan tangannya dan berkata, “Jangan khawatir, Keisha. Gilbert adalah seorang pejuang yang tangguh dan cerdas. Aku yakin dia akan baik-baik saja.”
Keisha mengangguk, mencoba merasa lebih tenang. “Terima kasih, Dominic. Aku berharap suatu saat nanti aku bisa bertemu dengan Gilbert lagi dan berbicara tentang pengalamannya dengan dunia sihir ini.”
Dominic menatapnya dengan senyuman yang penuh arti. Keisha pun membalas senyumannya. Mereka saling menatap.
Keisha menceritakan kembali bahwa dia senasib dengannya. Di mana tunangannya mengkhianati dan berselingkuh. Dominic tersenyum karena mereka mempunyai kesamaan.
Keisha tersenyum, melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Dominic saat dia berada di dekatku. Dia menoleh, menyadari senyuman Keisha, dan membalas dengan senyum lembut. Mereka berdua memiliki nasib yang sama – sama-sama dikhianati oleh kekasih sendiri.
Dominic menatapnya dengan penuh pengertian. “Tahu, Keisha, aku merasa sangat bersyukur bisa bertemu denganmu. Kita berdua telah melalui pengalaman yang serupa, dan itu membuatku merasa lebih dekat denganmu.”
Ia mengangguk, setuju dengan perasaannya. “Sama, Dominic. Aku merasa kita bisa saling mengerti dan mendukung. Aku tidak merasa sendirian lagi, dan itu sangat berarti bagiku.”
Mereka berdua duduk di sana, menikmati kebersamaan dan kehangatan persahabatan yang telah kita bangun. Meskipun mereka berdua pernah dikhianati, mereka menemukan kenyamanan dan kebahagiaan dalam satu sama lain. Bersama, mereka bertekad untuk melupakan masa lalu yang menyakitkan dan melanjutkan hidup dengan harapan akan masa depan yang lebih cerah.
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





