Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Perih Dicintai yang Tak Direstui

Perih Dicintai yang Tak Direstui

Lima tahun menjalin kasih, Luna yakin Arman adalah masa depannya. Namun, takdir berputar kejam saat ia justru menikah dengan Reza, tunangan sepupunya, demi menjaga kehormatan ayahnya yang sakit. Di balik pengorbanan Luna, terungkap pengkhianatan pahit: Arman dan Nadia ternyata menjalin hubungan gelap hingga memiliki anak. Kini Luna terjebak dalam pernikahan tanpa cinta bersama Reza yang pengangguran, sembari meratapi luka masa lalu yang menghancurkan impiannya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Luna duduk di ruang tamu rumah Reza, memandangi secangkir teh yang mulai dingin. Suara hujan tipis terdengar dari luar jendela, menimbulkan suasana muram yang seakan mencerminkan isi hatinya. Hari ini, sesuatu akan berubah. Ia bisa merasakannya-gelombang besar kehidupan yang selama ini ia hindari akan datang menghantam.

Beberapa hari terakhir, Reza mulai menunjukkan perilaku yang berbeda. Ia tidak lagi hanya diam dan menunggu; tatapan matanya menahan amarah yang terkumpul, dan sikapnya penuh kewaspadaan. Luna menyadari, Reza mulai menebak bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang tidak ia ceritakan tentang masa lalunya, tentang Arman, dan tentang Nadia.

"Luna... kita perlu bicara," suara Reza terdengar serius dari pintu ruang tamu. Luna menelan ludah. Ia tahu ini bukan pembicaraan ringan. Ia menutup cangkirnya perlahan dan mengangkat kepala.

"Apa yang ingin kau bicarakan?" Luna mencoba terdengar tenang, meski hatinya berdebar.

Reza melangkah masuk, duduk di sofa bersebrangan dengannya. "Aku tahu ada yang kau sembunyikan dariku. Aku bisa merasakan ada rahasia yang terus menghantui pikiranmu. Luna... aku bukan anak kecil. Aku tahu kau pernah mencintai Arman, dan aku tahu ada sesuatu yang kau ketahui tentang Nadia dan bayinya."

Luna terdiam. Kata-kata Reza tepat sasaran, menusuk lapisan pertahanan yang selama ini ia bangun. Ia tahu ia tidak bisa lagi menahan semuanya. "Reza... aku... aku tidak tahu bagaimana harus memulai." Suaranya bergetar, air mata mulai menggenang di mata.

Reza menghela napas panjang. "Luna... aku tidak di sini untuk menyalahkanmu. Aku hanya ingin kau jujur. Tidak ada rahasia di antara kita, jika kita ingin membangun rumah tangga ini."

Dengan gemetar, Luna menceritakan semua yang selama ini tersembunyi: hubungan Arman dan Nadia, rahasia bayi mereka, ancaman yang muncul, dan surat-surat misterius yang ia terima. Reza menatapnya lama, ekspresinya sulit dibaca. Namun setelah beberapa saat, ia menarik napas, mencoba menenangkan diri.

"Kau... kau sejujurnya selama ini menahan semua ini sendiri?" Reza bertanya, suaranya rendah, hampir berbisik.

Luna mengangguk. "Aku tidak ingin kau tersakiti. Aku juga tidak ingin pernikahan kita hancur karena masa laluku."

Reza berdiri, berjalan ke jendela, menatap hujan yang turun. "Luna... aku tidak tahu harus berkata apa. Aku marah, kecewa, tapi... aku juga mengerti. Kau berada di tengah badai, dan aku tidak pernah menyadari betapa besar bebannya."

Luna berdiri, mendekatinya. "Reza... aku ingin kita bisa melewati ini bersama. Aku tidak ingin kehilanganmu. Aku... aku hanya takut tidak bisa menjadi istri yang kau harapkan."

Reza menoleh, tatapannya lembut tapi tegas. "Kau sudah cukup, Luna. Kau selalu cukup. Dan sekarang, kita harus menghadapi ini bersama, tanpa rahasia."

Kelegaan sesaat terasa, tapi Luna tahu masalah belum selesai. Ia harus menghadapi Arman dan Nadia secara langsung. Ia tidak bisa lagi menahan diri, apalagi setelah rahasia itu terbuka.

Beberapa jam kemudian, Luna mengunjungi rumah Nadia. Tekanan di dadanya semakin berat, setiap langkah menuju pintu rumah membuat jantungnya berdebar lebih kencang. Nadia membuka pintu, wajahnya pucat, matanya penuh ketakutan.

"Kau... kau datang lagi?" Nadia bertanya, suaranya gemetar.

Luna mengangguk. "Kita perlu bicara. Semua ini... tidak bisa dibiarkan begitu saja. Arman, bayi... semuanya harus jelas sekarang."

Mereka duduk di ruang tamu, udara terasa tegang. Luna menatap Nadia dengan mata tajam, mencoba membaca ekspresi sepupunya. Nadia menunduk, menelan ludah, dan mulai bercerita lebih lengkap daripada sebelumnya. Ia mengungkapkan tekanan keluarga, janji-janji palsu Arman, ketakutan yang ia rasakan, dan bagaimana semuanya berkembang hingga sekarang.

Luna mendengar dengan penuh perhatian, meski hatinya tersayat. Ia menyadari bahwa Arman bukan hanya mengkhianati dirinya, tapi juga memanipulasi Nadia. Rasa sakit dan marah bercampur, membuatnya merasa dunia seakan runtuh di sekelilingnya.

Sesampainya di rumah, Luna merasa bingung. Ia harus memberitahu Reza tentang semua yang ia dengar, tapi ia juga tahu reaksinya bisa berbeda. Ia memilih menunggu, menenangkan diri sejenak sebelum menghadapi kemungkinan konfrontasi baru.

Malam itu, Reza duduk di ruang tamu menunggu Luna. Ia sudah membaca raut wajahnya, tahu bahwa sesuatu telah terjadi. "Luna... kau tampak gelisah. Apa yang terjadi di sana?"

Luna mengambil napas panjang. "Reza... semuanya lebih rumit daripada yang kau kira. Arman... Nadia... ada hal-hal yang aku dengar hari ini. Mereka tidak hanya menyembunyikan rahasia, tapi juga membuat keputusan yang bisa menghancurkan banyak orang."

Reza menatapnya tajam. "Apa maksudmu?"

Luna menceritakan isi pembicaraannya dengan Nadia, semua tekanan dan ancaman yang muncul, serta situasi bayi yang sedang dikandung. Reza mendengarkan dengan wajah serius, sesekali menghela napas, mencoba mencerna semua informasi.

"Luna... kita harus berhati-hati. Ini bukan hanya tentang kita, tapi juga tentang keluarga, tentang masa depan kita, dan tentang bayi itu. Kita harus membuat strategi, bukan hanya bertindak emosional," kata Reza akhirnya, suaranya tegas.

Luna mengangguk. Ia merasa lega, tapi juga takut. Reza kini menjadi sekutu sekaligus tanggung jawab baru yang harus ia lindungi. Ia menyadari bahwa pernikahannya dengan Reza bukan sekadar formalitas, tapi kini telah menjadi medan pertempuran emosional yang kompleks.

Beberapa hari berikutnya, ketegangan semakin meningkat. Arman mulai melakukan langkah-langkah drastis, menghubungi Nadia secara sembunyi-sembunyi, mencoba memanipulasi situasi agar tetap menguntungkan dirinya. Luna harus terus memantau, berkomunikasi dengan Reza, dan membuat keputusan cepat untuk melindungi dirinya dan orang-orang yang ia sayangi.

Suatu sore, saat hujan turun deras, Reza dan Luna duduk di ruang tamu membicarakan langkah mereka selanjutnya. "Kita harus bersatu, Luna. Aku tidak akan membiarkan mereka merusak hidup kita. Kita akan menghadapi semuanya bersama," kata Reza, menggenggam tangan Luna dengan kuat.

Luna menatapnya, air mata jatuh perlahan. Ia tahu Reza benar. Mereka harus bertahan, harus menghadapi kebenaran, dan harus membuat keputusan yang tidak mudah. Tapi untuk pertama kalinya, ia merasa ada cahaya di tengah gelap, ada kekuatan yang bisa mereka bangun bersama.

Malam itu, Luna menulis di jurnalnya: "Hari ini aku sadar satu hal: pernikahan bukan sekadar kata atau janji. Ini adalah pertarungan, tempat di mana kita belajar menghadapi rahasia, pengkhianatan, dan pilihan yang sulit. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi besok, tapi aku tahu satu hal: aku tidak akan menghadapi ini sendirian."

Di luar, hujan berhenti, meninggalkan udara segar yang menenangkan. Bulan menembus awan gelap, memantulkan cahayanya di kaca jendela. Luna menatapnya, merasakan campuran harapan dan ketakutan. Hidupnya mungkin penuh rahasia dan konflik, tapi untuk pertama kalinya, ia merasa siap menghadapi semuanya-bersama Reza, dan dengan keberanian yang baru lahir di hatinya.

Sinar matahari pagi menembus jendela rumah Luna dengan lembut, tetapi di dalam hati, ia tidak merasakan kedamaian. Pikiran tentang malam sebelumnya terus menghantuinya—telepon misterius, langkah-langkah Arman yang semakin dekat, dan wajah Reza yang sulit ditebak. Hari ini, ia tahu, semuanya akan berubah.

Di dapur, Luna menyiapkan sarapan dengan tangan gemetar. Reza masuk beberapa menit kemudian, wajahnya serius, tanpa senyum yang biasanya menenangkan. “Luna… kita harus bicara,” katanya sambil meletakkan tas kerja di meja.

Luna menatapnya, mencoba tetap tenang. “Tentang apa, Reza?”

“Semua ini… situasi kita, rahasia, dan masalah dengan Arman. Aku tidak bisa menunggu lagi. Kita harus menghadapi semuanya sekarang.”

Luna menelan ludah. Ia tahu Reza benar. Menunda hanya akan menambah ketegangan. “Baik… mari kita selesaikan.”

Mereka duduk di ruang tamu, saling menatap. Reza mengeluarkan beberapa dokumen, foto-foto, dan pesan yang ia kumpulkan selama beberapa hari terakhir. “Aku menginginkan kebenaran, Luna. Semua. Aku tidak ingin ada yang tersembunyi lagi.”

Dengan napas berat, Luna mulai menceritakan setiap detail yang ia ketahui: hubungan Arman dan Nadia, rahasia bayi mereka, ancaman yang muncul, dan pesan-pesan misterius yang diterimanya. Reza mendengarkan dengan wajah serius, sesekali menghela napas panjang.

“Luna… kau tahu ini berisiko. Tapi kita tidak bisa mundur,” kata Reza akhirnya, suaranya rendah. “Kita harus menghadapi Arman dan Nadia secara langsung. Kita perlu strategi.”

Luna mengangguk. “Aku tahu… tapi aku takut, Reza. Aku takut Arman akan melakukan hal-hal yang lebih berbahaya.”

Reza meraih tangan Luna, menggenggamnya dengan tegas. “Kau tidak sendirian. Kita akan menghadapi ini bersama.”

Malam harinya, mereka menyusun rencana. Reza memutuskan untuk menghadapi Arman di tempat yang aman, sementara Luna akan berbicara dengan Nadia. Strategi ini tidak mudah, karena setiap langkah harus diperhitungkan dengan hati-hati. Mereka tahu, satu kesalahan bisa menghancurkan semuanya.

Keesokan harinya, Luna pergi ke rumah Nadia. Kali ini, ia tidak datang untuk bertanya, tetapi untuk menghadapi. Nadia membuka pintu dengan wajah pucat, menahan ketakutan yang jelas terlihat.

“Kau… datang lagi?” Nadia berkata, suaranya gemetar.

“Ya, Nadia. Kita harus bicara. Aku tidak bisa membiarkan ini terus terjadi,” Luna menatap tajam.

Mereka duduk di ruang tamu. Luna menatap mata Nadia, mencoba membaca ketakutan dan kebohongan di baliknya. “Aku ingin kau jujur. Semua. Tentang bayi, tentang Arman, tentang apa yang kalian rencanakan.”

Nadia menunduk, menahan air mata. “Aku… aku tidak punya pilihan, Luna. Arman memaksa, mengancam, dan aku… aku takut.”

Luna merasakan campuran emosi: marah, sedih, dan prihatin. “Kau harus sadar, Nadia. Kita semua akan terjebak dalam masalah ini jika terus berbohong atau menunda. Aku ingin kau mengambil keputusan yang benar.”

Di saat yang sama, Reza menunggu di lokasi yang ditentukan untuk menghadapi Arman. Ketegangan terasa di udara ketika Arman muncul, wajahnya dingin dan tersenyum sinis. “Reza… akhirnya kita bertemu,” katanya.

Reza menatapnya tanpa ragu. “Arman… sudah cukup dengan permainanmu. Aku tahu semua yang kau lakukan. Sekarang, kau harus bertanggung jawab.”

Arman tertawa pelan, penuh ejekan. “Kau pikir kau bisa menghentikanku? Dunia ini terlalu rumit untuk hanya mengikuti kata hatimu, Reza.”

Pertengkaran itu semakin memanas. Reza mencoba tetap tenang, mengendalikan amarahnya, sementara Arman terus memprovokasi. Ketegangan mencapai puncaknya ketika Arman mengancam akan membeberkan sesuatu yang bisa menghancurkan reputasi Luna dan keluarganya.

Sementara itu, Luna menghadapi Nadia yang tampak bimbang. Ia menatap sepupunya dengan tegas. “Ini saatnya kau bertindak benar, Nadia. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kebohongan.”

Nadia mengangguk, perlahan menurunkan kepala. “Baik… aku akan jujur.”

Dengan keberanian yang baru lahir, Luna dan Nadia memutuskan untuk menghadapi Arman bersama Reza. Mereka menyusun strategi agar kebenaran terungkap tanpa ada yang terluka lebih jauh.

Malam itu, ketegangan mencapai puncak. Reza, Luna, dan Nadia berkumpul di satu tempat, menghadapi Arman yang mulai kehilangan kendali. Semua rahasia terbuka, semua kebohongan terungkap. Arman mencoba membela diri, tapi bukti-bukti yang dibawa Reza terlalu kuat. Ia tidak bisa lagi menyangkal.

Luna merasakan lega dan sakit sekaligus. Semua yang ia sembunyikan, semua yang ia tanggung sendirian, kini terbuka. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Ia harus menghadapi konsekuensi dari setiap keputusan, tetapi setidaknya sekarang, ia tidak sendiri.

Setelah pertemuan itu, Reza menatap Luna dengan lembut. “Kau kuat, Luna. Kita kuat bersama. Tidak ada yang bisa menghancurkan kita jika kita tetap bersatu.”

Luna mengangguk, menahan air mata. Ia sadar, pernikahannya bukan hanya soal cinta atau pengorbanan. Ini tentang keberanian, kejujuran, dan kemampuan untuk menghadapi kegelapan hidup bersama.

Malam itu, di rumah, mereka duduk bersama, membicarakan langkah berikutnya. Rasa lega bercampur dengan ketegangan yang masih tersisa, tapi mereka tahu satu hal: mereka akan menghadapi dunia, rahasia, dan ancaman dengan kepala tegak, bersama-sama.

Di luar, hujan mulai turun lagi, menetes di jendela seperti irama yang menenangkan. Luna menatapnya, merasa damai untuk pertama kalinya setelah minggu-minggu penuh ketegangan. Ia tahu perjalanan masih panjang, tapi malam itu, ia merasa memiliki kekuatan yang cukup untuk menghadapi apapun yang datang.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Gairah panas sang presdir
8.0
Joshua berubah menjadi pria dengan gairah seksual berlebih yang tak terkendali setelah dikhianati oleh kekasih masa lalunya. Luka perselingkuhan itu mengubah kepribadiannya secara drastis tanpa ia sadari sepenuhnya. Namun, takdir mempertemukannya dengan seorang mahasiswi muda dalam sebuah pertemuan yang tidak terduga. Akankah kehadiran gadis ini mampu menyembuhkan trauma Joshua dan mengembalikannya menjadi sosok pria yang dulu, atau justru memperumit keadaan?
Sampul Novel Identitasku Dipakai di Pernikahan Mantanku
7.9
Hidup Rani hancur saat Angela, sahabatnya sendiri, mencuri identitasnya demi menikahi Azlan Bagaskara. Tak cukup mengkhianati cinta Rani, Angela bahkan memaksa wanita itu bekerja sebagai pelayan di rumah mereka. Setiap hari Rani harus menelan kepahitan saat menyaksikan kemesraan palsu sang mantan kekasih dengan sahabatnya. Di tengah siksaan batin tersebut, akankah Rani tetap diam atau bangkit menuntut keadilan atas pengkhianatan keji yang menghancurkan masa depannya?
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
9.7
Brendan meninggalkan pernikahan demi wanita lain dan yakin aku akan memohon untuk kembali. Namun, keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri hubungan kami. Saat dunia mengira aku terpuruk, Edrence, sang pangeran sekaligus paman Brendan, justru mengunggah bukti pernikahan kami. Brendan yang panik segera mendatangi kediamanku, namun ia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Sambil bersandar pada suamiku, aku bertanya sinis, Ada urusan apa kemari, Ponakan?
Sampul Novel Kekasih Bersama: Penghinaan Seorang Istri
9.5
Kehidupan rumah tanggaku hancur saat suamiku membawa selingkuhannya ke rumah. Namun, kejutan sebenarnya muncul ketika ayah mertuaku, Julio James, justru membela wanita itu dengan amarah besar. Pertikaian hebat antara ayah dan anak demi satu wanita yang sama terjadi di hadapanku. Skandal memuakkan ini pun meledak hingga menjadi berita utama nasional. Kini, aku terjebak sebagai istri sah yang dikasihani sekaligus menjadi bahan tertawaan publik akibat drama gila keluarga kaya ini.
Sampul Novel Penuh Luka Penderitaan
7.8
Valeria terpaksa bekerja lembur demi menghindari perundungan rekan kerjanya. Saat sedang membersihkan meja di ruang CEO baru, seorang pria asing yang perkasa tiba-tiba menariknya ke sebuah kamar rahasia yang mewah. Valeria terhempas ke atas tempat tidur besar di bawah kungkungan tubuh kekar pria tersebut. Tanpa daya, ia kini terjebak dalam cengkeraman sosok misterius dari dunia yang berbeda, yang secara paksa menuntutnya untuk menjadi bagian dari hidupnya.
Sampul Novel Sang Anak Konglomerat
8.6
Dewi ditugaskan merawat William, putra konglomerat yang mengalami kelumpuhan dan depresi berat. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa istri serta calon anaknya mengubah William menjadi sosok arogan, kasar, dan sangat sensitif. Sifat buruknya membuat tidak ada satu pun perawat yang mampu bertahan lebih dari tiga hari di sisinya. Kini, Dewi harus menghadapi tantangan besar tersebut. Akankah keteguhan hatinya sanggup melampaui batas waktu yang gagal dilewati orang lain?