
Perangkap Cinta Mafia Queen
Bab 3
Wanita paruh baya itu hanya diam badannya gemetar serta jantungnya yang berdetak semakin kencang karena ketakutan.
“Ada apa denganmu, Nyonya?” tanya penjaga itu.
“Aku takut .... “ kata wanita paruh baya itu.
“Anda gemetar? Apa Anda pernah melihat gadis ini, Nyonya?” tanya penjaga itu bertanya kembali.
“Tidak ... Aku tidak pernah melihatnya.” Ungkap wanita itu sambil memalingkan wajahnya.
“Kalau begitu, kenapa Anda gemetar?”
“Karena saya takut saat mendengar nama mereka.” Wanita itu mencari alasan.
“Apakah Anda serius? Hanya karena mendengar namanya saja, Anda ketakutan?” penjaga itu tampak curiga.
“Anda sungguh tidak pernah melihat gadis ini?” penjaga semakin menekan wanita paruh baya itu.
“Saya tidak pernah melihat gadis ini. Apakah mungkin Nona Christina Morgan yang seorang konglomerat, mau memasuki desa kumuh seperti ini?” wanita itu membalikkan pertanyaan.
“Iya Anda benar juga. Saya akan mencoba mencari Nona Christina ke tempat lain. Maaf telah mengganggu Anda!” kata penjaga itu.
“Tidak masalah!” jawab wanita paruh baya. Penjaga pun berlalu pergi meninggalkan wanita itu.
Wanita paruh baya itu segera masuk rumah dan mengunci pintunya.
“Ya Tuhan, jadi gadis yang tadi pagi di sini adalah Christina Morgan? Jadi dia gadis yang sering orang sebut dengan julukan ratu mafia? Anak dari Tuan Morgan, mafia terkuat di negara ini. Namun entah mengapa malah aku membahayakan keselamatanku sendiri untuk melindungi Nona Christina Morgan dengan tidak mengatakan yang sebenarnya?” wanita itu bertanya kepada dirinya sendiri.
Di tempat lain, Alex Morgan mengerahkan seluruh gangster di penjuru negeri untuk mencari Christina Morgan.
“Kenapa kalian becus! Hanya mencari seorang gadis saja, kalian tidak bisa menemukannya!” Tuan Morgan memarahi seluruh penjaga. Penjaga hanya diam tidak berani menjawab.
“Cepat hubungi seluruh gangster di negeri ini. Katakan kepada mereka, siapapun yang menemukan Nona Christina Morgan akan mendapatkan uang tebusan,” terang Tuan Morgan.
“Siap melaksanakan tugas!” jawab salah seorang penjaga.
Setelah penjaga itu pergi, Tuan Alex Morgan merasa pikirannya kacau. Antara marah dan sedih bercampur menjadi satu.
“Mengapa kamu melawan ayahmu sekarang? Selama ini kamu adalah kebanggaan untuk Ayahmu. Kamu sudah bisa memegang kendali pasar global (jual-beli senjata api) di usiamu yang masih cukup muda. Christina, kamu dimana sekarang?” kata Tuan Alex Morgan sambil memandangi foto sang putri kesayangannya.
Di penjuru Negeri kini semua gangster tengah berlomba-lomba untuk mencari keberadaan Christina.
Di tempat lain, Christina menyempurnakan penyamarannya agar menyerupai penampilan sang gadis yang identitasnya kini ia pakai. Christina mengubah warna rambutnya yang pirang menjadi hitam. Ia menggunakan kacamata dan penjepit rambut layaknya penampilan gadis itu. Ia mengenakan gaun warna soft membuat dirinya tampak lebih feminim. Christina juga mengunakan high heels di kaki jenjangnya.
Christina berjalan memasuki Bandara dengan penuh percaya diri. Christina melihat beberapa penjaga kastilnya sedang berlalu lalang di dalam bandara. Ia juga melihat beberapa kelompok gangster sedang berkeliling. Akan tetapi ia tetap berjalan dengan tenang. Tiba-tiba seseorang memegang bahunya.
“Tunggu, Nona!” seorang gangster menghentikan langkahnya.
Mata Christina seketika membulat dan langkahnya seketika terhenti.
“Ehm ... Ehm ... “ Christina mengubah nada bicaranya.
“Iya Tuan, ada yang bisa saya bantu?” jawab Christina sambil tersenyum.
“Tunjukanlah kartu identitas mu!” perintah salah seorang gangster itu.
“Tapi untuk apa kartu identitas saya, Tuan?” tanya Christina.
“Saya ingin mengecek data Anda!” kata gangster tersebut.
“Padahal Anda bukan polisi, tetapi mau mengecek data seseorang?” gerutu Christina sambil memberikan kartu identitasnya kepada gangster tersebut.
“Jagalah cara bicaramu, Nona!” kata gangster sembari menerima kartu identitas tersebut.
Tertera dengan jelas nama Kim Ara, berkewarganegaraan Korea Selatan di dalam kartu identitas tersebut. Gangster itu tampak menyamakan wajah Christina dan Kim Ara.
“Pipimu tampak gemuk di foto kartu identitasmu? Sedangkan kau saat ini, pipimu lebih tampak kurus.” Kata gangster itu mulai tampak curiga.
“Hik ... Hik ... Hik ... Kamu siapa sebenarnya? Apakah kamu mantan pacarku? Bukan! Iya memang aku dulu lebih gemuk. Tetapi aku berusaha sekuat tenagaku untuk diet dan olahraga agar tidak di-bully. Tetapi kenapa kamu tiba-tiba datang dan mengintimidasiku?” Christina berpura-pura menangis sambil menjambak rambut anggota gangster itu.
“Aw ... Aw ... Nona sakit! Hentikan!” gangster tersebut merasa kesakitan ketika di jambak.
Karena mendengar keributan, beberapa polisi datang melerai Christina dan gangster itu.
“Ada apa ini? Kenapa ribut?” Tanya seorang Polisi.
“Dia ... Dia mengintimidasi penampilanku, Pak! Padahal aku sama sekali tidak mengenalnya. Hik ... Hik ... Hik .... “ Christina berpura-pura menangis.
“Bukan mengintimidasi, Pak! Lihatlah foto di identitas dan dirinya saat ini sangatlah berbeda!” gangster itu membela dirinya sambil memberikan kartu identitas Christina kepada polisi tersebut.
Sesaat kemudian, polisi itu mengerutkan keningnya ketika mulai merasa curiga.
“Tentu aku berbeda! Itu sebelum aku diet. Sekarang aku sudah berhasil diet apakah tetap menjadi masalah untuk kalian? Apakah istri kalian yang dulu dan sekarang tetap sama? Ada yang tambah gemuk. Juga ada yang sekarang semakin langsing. Benar tidak?” Christina menjelaskan kepada Polisi.
Polisi tersebut menganggukan kepala sambil memegang kumisnya tanda setuju dengan pendapat Christina.
“Ada benarnya perkataan dari Nona Kim. Istriku dulu waktu masih berpacaran, dia langsing dan seksi. Sedangkan sekarang, lebih berisi dan melebar badannya,” kata polisi itu sambil menepuk jidatnya.
“Sebaiknya Anda meminta maaf kepada Nona Kim,” tambah polisi itu.
“Sialan! Maafkan aku Nona Kim Ara!” umpat gangster itu dan segera meninggalkan Christina dan polisi.
“Anda berkewarganegaraan Korea Selatan?” tanya polisi.
“Iya benar, Pak! Saya berkewarganegaraan Korea Selatan sesuai kartu identitas saya,” kata Christina.
“Bisakah anda menunjukkan paspor Anda, Nona Kim?” tanya Polisi.
“Tentu Pak. Ini paspor saya! Christina memberikan paspor milik Kim Ara.
“Di paspor foto Anda juga masih sangat gemuk, Nona. Saya berpesan, nanti sesampai di Korea Selatan Anda harus segera mengganti foto kartu identitas dan paspor Anda secepatnya. Agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali,” tutur polisi tersebut.
“Oke Pak, terima kasih!” jawab Christina.
Christina merasa lega telah berhasil mengelabui polisi dan gangster. Siapa sejatinya gangster itu saja Christina mengetahuinya. Gangster itu adalah orang suruhan Tuan Alex Morgan, ayahnya sendiri.
Beberapa gangster lainnya tetap berkeliling di sekitar bandara. Christina tetap bersikap tenang agar tidak ada yang mencurigai gerak-geriknya. Ia juga mematuhi peraturan untuk antri di loket dan menunjukkan bahwa dirinya adalah warga negara yang baik.
Christina memasukan tas nya ke mesin deteksi. Sialnya ia lupa mengeluarkan pistol di dalam tasnya.
“Sial! Kenapa aku bisa sebodoh ini. Kenapa aku bisa lupa mengeluarkan revolver itu?” Christina menggerutu menyalahkan kecerobohannya.
Tiba-tiba ada panggilan untuk Kim Ara dari petugas bandara.
“Panggilan kepada Nona Kim Ara, kewarganegaraan Korea Selatan agar segera ke ruang pusat informasi dan menemui petugas. Sekali lagi panggilan untuk Nona Kim Ara, kewarganegaraan Korea Selatan agar segera ke ruang pusat informasi dan menemui petugas.”
“Sial! Aku harus bagaimana sekarang?” Christina berjalan ke ruang informasi untuk memenuhi panggilan tersebut.
Di ruang informasi.
“Selamat siang, Pak! Ada yang bisa saya bantu?” Christina menampakan wajah polosnya.
“Selamat siang, Nona! Apakah Anda tahu kenapa Anda dipanggil ke sini?” kata seorang petugas bandara.
“Maaf Pak, saya tidak tahu alasannya.” Christina menjawab dengan wajah lugu.
“Selamat siang! Nona Kim Ara, kenapa Anda di sini?” kata seorang polisi memasuki ruang informasi. Polisi itu adalah polisi yang tadi melerai Christina dan gangster waktu di lobi bandara.
“Apakah tas ini milik Anda?” tanya petugas bandara.
“Iya ... Benar itu tas saya, Pak!” jawab Christina tetap menampilkan kepolosannya.
“Kami menemukan dua buah revolver di dalam tas ini,” Petugas bandara menunjukan dua buah senjata api tersebut.
“Siapa Anda sebenarnya? Kenapa Anda memiliki senjata api? Cepat katakan!” tanya petugas bandara dengan nada tinggi.
Anda Mungkin Juga Suka





