Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Penguasa Dewa Naga

Penguasa Dewa Naga

Akara gagal memadatkan energi aura saat pembukaan ranah, membuatnya dihina sebagai sampah tanpa bakat. Namun, ia menolak tunduk pada takdir dan bertekad melampaui para jenius lewat kerja keras. Di balik kelemahannya, tersimpan identitas rahasia yang ditakuti para Dewa. Sebagai Penguasa Dewa Naga yang mampu mengendalikan waktu, ia akan membuktikan kekuatannya. Inilah perjalanan Akara menaklukkan alam semesta dan memimpin eksistensi tertinggi yang paling ditakuti.
Bab
Bagikan

Bab 3

Wanita bertopeng tadi sekarang duduk, mengamati air bergelombang yang mulai tenang kembali. Tidak lama kemudian anak itu muncul ke permukaan, menghirup udara segar sambil berenang ke pinggiran.

"Dapat?" ujar wanita bertopeng, padahal jelas-jelas anak itu kembali dengan tangan kosong.

"Dapat dilihat bukan!?" jawabnya dengan berteriak sambil menatapnya dengan kesal.

"Ohh… Siapa namamu?"

"Akara," jawabnya dengan suara lebih tenang, namun raut mukanya masih kesal.

"Akara? Kalau aku panggil saja Si Cantik," ujar wanita bertopeng sambil menunjuk kedua pipinya dengan begitu imut.

"Tidak ada yang nanya! Cantik dari mana? Topeng jelek begitu," ujar Akara sambil menunjuk ke arah muka wanita bertopeng.

"Aku cantik!"

"Jelek!"

"Cantik!" Wanita bertopeng yang tadinya cuek, ternyata berperilaku sangat menyebalkan hingga beradu mulut dengan anak kecil.

Karena terlampau kesal, Akara dengan cepat menarik topengnya: "Jele..?" Ia terdiam sesaat begitu melihat wajahnya.

Wajah seorang gadis berusia 17 tahunan dengan wajah tirus, sorot mata yang terang dengan pupil berwarna hitam dengan garis-garis merah muda, lalu senyuman manis di bibir merah mudanya. Rambut hitam panjangnya yang lurus, terlihat begitu kontras dengan kulitnya yang putih bersih seperti mutiara. Dengan cepat gadis itu mengenakan kembali topengnya, sedangkan Akara malah berteriak.

"Jelek! Week!" teriaknya sambil menjulurkan lidah.

"Hahaha, lihat sepuluh tahun lagi!" ujar gadis tadi dengan suara begitu lembut. Ia berusaha berdiri, lalu mengulurkan tangan kanannya ke arah Akara, dan tiba-tiba saja muncul dua bilah pedang kayu.

"Ambil pedangku," lanjutnya, lalu muncul kilatan listrik berwarna merah muda di sekujur tubuhnya, yang tak lama kemudian membuat dirinya menghilang.

"Wahh keren!" seru Akara kagum melihat kepergiannya, lalu meraih kedua bilah pedang kayu yang terjatuh di depannya.

"Ini, ini pedangku!" teriaknya, namun kemudian menyadari sesuatu yang aneh dan mengayunkannya.

"Bukan pedangku, tapi." Anak itu mengamati bilahnya, lalu mengayunkannya kembali dengan begitu luwes.

"Perasaan yang sama." Ia masih merasa heran dengan pedang yang diberikan gadis bertopeng, karena perasaan yang sama dengan pedang lamanya.

..

Hari mulai sore, langit sudah berubah menjadi merah saat ia pulang ke rumahnya. Rumah kecil di pinggiran kota, tepat di samping ladang perkebunan menjadi tempat anak itu dan mamanya tinggal.

Sebelum membuka pintu, ia mengusap wajahnya yang masam dan memaksakan diri untuk tersenyum beberapa kali. Setelah dirinya bisa tersenyum dengan luwes kembali, ia segera mendekati pintu.

"Mama, aku pulang!" teriaknya saat membuka pintu.

"Akara, cepatlah mandi, lalu makan!" seru mamanya yang terdengar dari arah dapur.

Setelah mandi, ia kemudian makan bersama mamanya.

"Akara, bagaimana akademinya?" ujar mamanya saat mengambilkan nasi untuk anaknya. Namanya Rina, ia memiliki wajah tirus dengan kulit seputih mutiara, dihiasi dengan bibir berwarna merah alami, lalu matanya yang lebar dengan tatapan tajam. Rambutnya hitam, dipotong pendek di atas bahu yang terlihat begitu kontras dengan warna kulitnya. Kaos pendek yang sederhana, tidak bisa menutupi tubuh indahnya dengan bentuk pinggang yang ramping dan dadanya yang cukup besar. Ada juga kaki jenjangnya yang diselimuti oleh celana ketat panjang.

"Hebat mama!" seru Akara dengan riang, seolah-olah tidak terjadi apa-apa.

"Tadi altar batunya rusak, jadi besok diuji lagi," lanjutnya.

"Ohh, kalau begitu cepat habiskan dan istirahat," ujar mamanya sambil menaruh piring berisi nasi di depan anaknya.

..

Saat Akara tertidur, mamanya melihat ke arah dua bilah pedang kayu yang anaknya taruh di ujung ruangan. dalam pandangannya, dua bilah pedang kayu tadi diselimuti oleh kilatan listrik berwarna merah muda. Saat ingin menyentuhnya, tiba-tiba saja kilatan listrik cukup besar menyambar tangannya.

"Posesif sekali hihihi," ujarnya sambil tertawa kecil, lalu meninggalkannya begitu saja.

...

Hari selanjutnya

Akara datang ke akademi, walau dirinya telah gagal memadatkan aura ranahnya, dan gagal diterima sebagai murid akademi. Akan tetapi, dengan penuh percaya diri, ia menenteng kedua bilah pedang kayu miliknya. Anak kecil itu berbaur dengan anak-anak lainnya, namun ternyata ada yang mengenalinya saat sampai di lapangan utama.

"Lihat! Itu dia sampah yang bahkan tidak dapat memadatkan auranya." Seorang anak laki-laki seumurannya menunjuk ke arahnya, memberitahukan kepada anak-anak yang umurnya lebih tua dari mereka.

Semua pandangan seketika mengarah kepada Akara, waktu terasa terhenti dari sudut pandang anak kecil itu. Semua tatapan mata yang mengasihani, juga merendahkannya terasa amat mencekam.

Saat waktu terasa berjalan kembali, kini terdengar suara tawa, dan bisik-bisik yang sedang membicarakannya.

"Hahaha malang sekali, hidup apa yang akan ia jalani tanpa aura energi,"

"Tentu saja hidupnya tidak akan lama,"

"Memang sudah ditakdirkan sebagai sampah seumur hidupnya,"

Dengan tatapan tajam, Akara menengok ke arah mereka hingga cukup membuat terkejut. Setelah itu, ia melanjutkan berjalan kembali, namun ada sekelompok siswa yang menghalangi jalannya. Mereka berlima, empat orang laki-laki dan satu perempuan yang membawakan tas mereka. Gadis kecil itu bernama Kana, yang juga dari keluarga Beton.

"Ehh mau ke mana?" Salah satu laki-laki yang bernama Cor Beton, tuan muda keluarga Beton cabang kota Biru.

"Master Aura terkuat," lanjutnya, diikuti gelak tawa ketiga temannya, sedangkan Kana yang menjadi pesuruh mereka hanya bisa menunduk.

"Hahaha, master Aura terkuat katanya!"

"Seekor semut ingin menjadi naga,"

Tanpa basa-basi, Akara melempar kedua pedang kayunya di udara, lalu mendaratkan pukulan tepat di hidung Cor Beton.

Buggh!!

"Akgg!"

Pukulan yang cukup kuat hingga membuat Cor Beton terdorong ke belakang, lalu darah mengalir dari hidungnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95JZA" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95JZA
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Air Force Skadron7
7.9
Yudi Juliansyah, pemuda asal Bandung anak seorang dokter dan model Prancis, nekat mengejar mimpi menjadi tentara meski ditentang orang tuanya. Setelah terusir dari rumah, ia berjuang mandiri berjualan gorengan demi membiayai sekolah di AAU Yogyakarta. Kerja kerasnya membuahkan gelar Adi Makayasa sebagai lulusan terbaik Angkatan Udara. Kini, Yudi pulang berseragam untuk membuktikan baktinya. Akankah orang tuanya luluh dan mengakui pilihannya sebagai prajurit?
Sampul Novel Darah Sang Mafia
8.9
Dastan, sang pembunuh berjuluk The Black Wings, terpaksa menampung Dara di kediamannya sebagai jaminan utang. Meski awalnya membenci Dara karena dianggap wanita simpanan ayahnya, Dastan mulai luluh setelah kebenaran terungkap. Dara tetap mencintai Dastan walau sering diperlakukan kasar. Di tengah ancaman maut dan dunia mafia yang kelam, mampukah Dara membawa Dastan menuju cahaya, ataukah takdir akan memisahkan mereka selamanya dalam kegelapan?
Sampul Novel GAIRAH TENGAH MALAM
9.5
Seorang fotografer alam liar melakukan ekspedisi mendalam ke jantung hutan Amazon yang misterius. Di sana, ia bertemu dengan pemandu lokal tangguh yang memicu ketertarikan kuat sejak awal. Di balik pesona hutan hujan yang eksotis, mereka harus menghadapi berbagai rintangan berbahaya yang mengancam nyawa. Di sela ketegangan dan ancaman alam tersebut, tumbuh gairah membara yang menyatukan keduanya dalam sebuah petualangan cinta yang penuh dengan risiko dan aksi.
Sampul Novel Istri Jaminan Sang Laksamana
8.2
Admiral Shawn Miller, Jenderal bintang satu termuda AS, terjebak perjanjian gelap dengan mafia Yousef Kanishka. Demi data rahasia negara, ia menyetujui pernikahan rahasia dengan putri Kanishka, Kiran, sebagai jaminan. Syaratnya mutlak: Shawn dilarang menyentuh istrinya tersebut. Tanpa pernah bertemu sebelumnya, Shawn terpana saat menyadari jaksa cantik di pengadilan militer adalah sosok wanita yang kini terikat secara hukum dengannya.
Sampul Novel Jahatnya Pacar Kakakku
8.5
Rencana sederhana pergi ke festival musik bersama sahabat berubah menjadi petaka mengerikan bagi sang protagonis. Tanpa alasan jelas, kekasih kakaknya mengurungnya di toilet, menuduhnya menggoda pacar orang, lalu melakukan penyiksaan keji. Korban disiram air kotor, ditampar, ditelanjangi, hingga kulitnya disolder dengan tulisan hinaan. Saat sang kakak, Calvin, akhirnya tiba dan mendapati adiknya terluka parah hingga tak mengenali wajahnya, pelaku hanya bisa berdalih bahwa ia salah mengira korban sebagai orang asing.
Sampul Novel Mafia in The Morning
9.3
Pasca kontrak kerja berakhir, Mayumi menjadi relawan di acara Jepang demi bertemu idolanya, Mamoru V. Keberuntungan berpihak padanya saat ia terpilih menjadi LO sang cosplayer. Namun, perjalanan menuju studio foto berubah mencekam ketika sekelompok orang bersenjata menyerang mereka. Saat terjebak di gedung tua dalam aksi kejar-kejaran maut, Mayumi terkejut melihat Mamoru mengeluarkan pistol asli. Ternyata, sosok sang idola menyimpan rahasia gelap yang berbahaya.