
Pengkhianatanmu Adalah Kesalahan Terbesarmu
Bab 2
Pagi itu, matahari baru saja naik ketika Alya membuka jendela rumah kecilnya. Angin lembut membawa aroma roti dari toko di seberang jalan. Di dapur, Rayan sudah sibuk menuangkan susu ke gelas plastik bergambar mobil balap.
"Ma, nanti aku pulang jam empat, ya. Soalnya habis sekolah ada latihan lomba cerdas cermat," katanya dengan semangat.
Alya tersenyum sambil menyiapkan bekalnya. "Iya, tapi jangan lupa makan siang dulu, ya. Jangan cuma minum susu kayak kemarin."
"Siap, Ma!" seru Rayan sambil menenteng tasnya.
Alya menatap putranya yang berlari kecil keluar rumah. Hatinya hangat sekaligus takut - setiap kali Rayan melangkah pergi, Alya selalu takut kehilangan. Ia sudah kehilangan terlalu banyak dalam hidup ini, dan ia tak sanggup kehilangan lagi.
Namun pagi itu berbeda. Ketika ia menatap keluar, di seberang jalan, Revan berdiri di sisi mobil hitamnya. Ia tidak mengenakan jas mahal seperti dulu, hanya kemeja sederhana dengan tangan dilipat.
Alya tertegun. Ia ingin menutup jendela, tapi tatapan mereka sudah bertemu. Revan tersenyum kecil - senyum yang dulu pernah membuatnya merasa aman, tapi kini justru menimbulkan sesak.
Alya cepat-cepat menurunkan tirai dan mengunci pintu.
Hari itu Alya tak bisa bekerja dengan tenang. Tangannya gemetar setiap kali memegang jarum. Dalam pikirannya hanya ada satu bayangan - Revan.
Kenapa dia muncul lagi setelah semua yang terjadi? Apa belum cukup ia hancurkan hidupnya dulu?
Menjelang siang, suara bel rumahnya berbunyi. Alya menegakkan tubuhnya, menatap pintu dengan gugup. Ia ragu untuk membuka, tapi bel itu terus berbunyi.
"Alya, ini aku. Revan."
Suara itu. Suara yang dulu membuat jantungnya berdebar, kini berubah jadi mimpi buruk.
"Pergi, Revan! Aku nggak mau lihat kamu lagi!" teriaknya dari balik pintu.
"Aku cuma mau bicara sebentar. Aku nggak akan maksa kalau kamu nggak mau dengar," suaranya terdengar tenang tapi berat. "Aku cuma mau minta maaf."
"Maafmu nggak ada gunanya!" Alya menahan isak. "Kalau kamu benar-benar menyesal, kamu harusnya udah datang dulu, waktu aku butuh pertolongan, waktu aku sendirian melahirkan anakmu!"
Hening sejenak.
"Aku pengecut waktu itu," akhirnya Revan berkata pelan. "Dan aku nyesel setiap hari karena hal itu. Aku cuma minta kesempatan buat benerin semuanya."
Alya menutup telinganya. Ia tak mau mendengar. Tapi suara Revan terus menggema dari balik pintu.
"Aku tahu kamu benci aku. Kamu berhak. Tapi tolong jangan larang aku buat lihat Rayan."
Kata itu - Rayan - membuat tubuh Alya menegang. Ia membuka pintu dengan cepat dan menatap Revan tajam. "Jangan sebut nama anakku!"
Revan menatapnya dengan mata merah. "Dia anak kita, Alya."
Tamparan itu mendarat begitu cepat di wajah Revan hingga suara kerasnya terdengar di udara. Alya menatapnya dengan air mata mengalir deras.
"Kita? Kamu pikir kamu punya hak ngomong begitu? Kamu yang suruh aku gugurin dia! Kamu yang bikin aku diusir dari rumah! Sekarang kamu datang, ngomong seolah kamu ayah yang baik?"
Revan memejamkan mata, menerima semua amarah itu tanpa melawan. "Aku pantas ditampar seribu kali. Tapi biarin aku tebus semuanya, Alya. Tolong."
Alya menatapnya dengan tatapan yang tak lagi marah, tapi hancur. "Tebus? Kamu nggak tahu rasanya jadi aku. Setiap malam aku bangun takut, setiap kali Rayan nanya 'ayahku siapa, Ma?' aku cuma bisa bilang dia udah meninggal. Kamu tahu betapa sakitnya bohong kayak gitu?"
Revan terdiam. Suaranya hilang di tenggorokan.
Alya menarik napas berat. "Pergi, Revan. Sebelum Rayan pulang. Aku nggak mau dia tahu siapa kamu sebenarnya."
Revan menatapnya sekali lagi sebelum melangkah mundur. "Aku nggak akan nyerah, Alya. Sekalipun kamu benci aku, aku akan tetap ada di sini. Buat kalian."
Ketika mobilnya berlalu, Alya jatuh terduduk di lantai. Tangannya menutupi wajah, menahan tangis yang tak pernah benar-benar berhenti sejak malam itu bertahun-tahun lalu.
Beberapa hari kemudian, Revan mulai sering muncul di sekitar sekolah Rayan. Ia tak pernah mendekat langsung, hanya memperhatikan dari jauh. Kadang ia meninggalkan bekal di meja guru, pura-pura sebagai donatur sekolah. Kadang ia membantu memperbaiki pagar yang rusak, hanya agar bisa melihat Rayan sebentar.
"Om itu siapa, Bu Guru?" tanya Rayan suatu hari.
Guru hanya tersenyum. "Dia bantu-bantu di sekolah, katanya temannya kepala sekolah."
Rayan mengangguk polos, tak tahu apa-apa. Tapi tanpa sadar, ia mulai terbiasa melihat sosok pria itu.
Suatu sore, ketika hujan turun, Rayan belum dijemput. Alya terjebak macet karena jalan tergenang. Saat ia sampai, tubuh Rayan sudah basah kuyup - tapi seseorang berdiri di sampingnya, memayunginya.
"Om Revan?"
Rayan menatap Alya, lalu menatap pria itu. "Om ini nolongin aku, Ma. Soalnya aku lupa bawa payung."
Alya menelan ludah. "Terima kasih, tapi nggak perlu repot-repot."
Revan menggeleng pelan. "Aku cuma lewat. Nggak apa-apa."
Namun pandangan mereka bertemu lagi. Mata Revan penuh kerinduan, sementara Alya menahan diri agar tidak terlihat lemah.
Sepanjang perjalanan pulang, Alya diam. Rayan, seperti biasa, banyak bercerita tentang sekolah, tapi di tengah cerita, ia bertanya sesuatu yang membuat Alya hampir berhenti bernapas.
"Ma, kenapa Om Revan mirip banget sama aku, ya?"
Pertanyaan sederhana yang menusuk jantungnya.
Alya memaksa tersenyum. "Mungkin cuma kebetulan, Sayang."
"Tapi matanya sama, warnanya juga sama. Terus cara senyumnya kayak aku waktu seneng."
Alya terdiam. Matanya panas, tapi ia tak boleh menangis. "Sudah, Rayan. Jangan terlalu banyak mikir."
Rayan menatap ibunya bingung, tapi menuruti. Ia tidak tahu bahwa kata-katanya barusan membuka luka lama yang belum kering.
Malam itu, Alya tak bisa tidur. Ia memandang Rayan yang terlelap di sebelahnya. Anak itu tumbuh dengan wajah yang begitu mirip Revan - bahkan lesung pipitnya pun sama.
"Aku nggak bisa biarin dia tahu, Tuhan," bisiknya. "Dia terlalu suci buat tahu dosa ayahnya."
Di luar, suara motor berhenti di depan rumah. Alya menegakkan tubuh. Ia menyingkap tirai - Revan berdiri di sana lagi, menatap jendela yang tertutup.
Hati Alya bergetar, tapi bukan karena cinta. Karena ketakutan - takut hatinya luluh.
Ia tahu, di balik semua luka, masih ada bagian kecil di hatinya yang belum bisa benar-benar membenci Revan. Bagian kecil itu yang paling ia takuti.
Keesokan harinya, Revan kembali muncul di pasar tempat Alya biasa belanja bahan. Ia membawa dua kantong besar berisi beras dan bahan makanan.
"Aku nggak butuh belas kasihan kamu," kata Alya dingin.
"Ini bukan belas kasihan," balas Revan lembut. "Anggap aja bantuan dari seorang teman."
"Teman?" Alya tertawa miris. "Kita nggak pernah jadi teman, Revan. Kita cuma dua orang yang terikat oleh dosa."
Revan menatapnya dalam-dalam. "Kalau aku bisa ngulang waktu, aku bakal pilih jadi orang asing buat kamu - asal aku nggak nyakitin kamu kayak dulu."
Alya berhenti, menatapnya. Ada ketulusan di mata Revan, tapi juga keputusasaan.
"Kenapa kamu baru muncul sekarang?" tanya Alya pelan. "Kenapa nggak waktu aku hampir mati di ruang bersalin, waktu aku kerja siang malam buat nyusuin anak sendirian?"
Revan menunduk. "Karena aku pengecut. Aku kabur ke luar negeri, cari alasan buat lari dari rasa bersalah. Tapi nggak ada satu hari pun aku lupa kamu, Alya. Aku balik cuma buat satu hal - nebus dosa itu."
Alya menghela napas panjang. "Kamu nggak bisa nebus semuanya cuma dengan kata maaf."
"Aku tahu," jawab Revan lirih. "Tapi biarin aku mulai dari hal kecil. Aku cuma mau Rayan tahu bahwa dia dicintai - bukan cuma sama kamu, tapi juga sama aku."
Alya menatapnya lama. Rasa sakit, marah, dan rindu bercampur jadi satu. "Kalau kamu beneran mau buktiin, buktikan dengan diam. Jangan ganggu hidup kami lagi."
Revan tersenyum pahit. "Kalau itu yang bikin kamu tenang, aku akan nurut. Tapi aku nggak akan pergi jauh. Aku akan tetap ada di sekitar kalian, sampai kamu bisa percaya lagi sama aku."
Hari berganti minggu. Alya berusaha mengabaikan kehadiran Revan, tapi mustahil. Ia selalu muncul dalam hal-hal kecil. Kadang ada bunga di depan rumahnya dengan catatan: Untuk Rayan, semangat sekolahnya. Kadang ada mainan sederhana di kotak surat.
Rayan senang, mengira semua itu dari "Om Revan yang baik hati".
Alya hanya bisa diam. Ia tak tahu apakah harus marah atau berterima kasih.
Suatu sore, saat Rayan demam, Revan datang tanpa dipanggil. Alya panik karena obat di rumah habis, tapi sebelum ia sempat keluar, Revan muncul membawa kantong obat dan termometer.
"Dokter temanku," katanya singkat. "Dia bilang ini cuma demam karena kelelahan."
Alya ingin menolak, tapi ketika melihat cara Revan menatap Rayan - penuh cemas, tulus, dan lembut - ia tak bisa berkata apa-apa.
Rayan menggenggam tangan Revan yang dingin. "Om, jangan pergi dulu, ya. Temenin aku tidur."
Revan menatap Alya meminta izin.
Alya diam sejenak, lalu mengangguk pelan. "Cuma sebentar."
Revan duduk di sisi ranjang, menepuk lembut punggung Rayan hingga anak itu tertidur. Ia menatap wajah mungil itu lama, lalu berbisik lirih, "Maafkan ayahmu, Nak."
Alya berdiri di ambang pintu, menatap keduanya dengan dada sesak. Ada kehangatan di pemandangan itu - pemandangan yang dulu ia impikan, tapi tak pernah bisa ia miliki.
Beberapa hari kemudian, Rayan sembuh. Tapi sesuatu berubah - dalam dirinya, dan dalam hati Alya. Ia mulai sadar, kehadiran Revan membawa kembali kenangan lama yang belum sepenuhnya padam.
Malam-malamnya kembali dihantui mimpi masa lalu. Tapi anehnya, kali ini mimpi itu tak selalu menyakitkan. Kadang, ia memimpikan masa kecil mereka - saat Revan berjanji akan selalu melindunginya.
Dan setiap kali bangun, ia menangis. Bukan karena benci, tapi karena bingung.
Suatu malam, ketika ia menutup toko jahitnya, Revan datang membawa termos kecil. "Aku bawain sup ayam. Katanya kamu belum makan dari siang."
Alya menatapnya tanpa ekspresi. "Kamu nggak perlu repot."
Revan tersenyum lemah. "Aku cuma pengin ngelakuin hal kecil buat kamu. Nggak usah kamu makan pun nggak apa-apa, yang penting aku nyoba."
Alya terdiam lama sebelum akhirnya duduk di bangku kayu depan rumah. "Kenapa kamu nggak nikah aja, Revan? Cari kehidupan baru. Lupakan aku."
Revan menatapnya, lalu berkata pelan, "Karena aku nggak bisa lupakan dosa yang aku buat sama kamu. Aku nggak pantas bahagia sebelum kamu bisa maafin aku."
Alya menatapnya dengan mata berkaca. "Dan kalau aku nggak pernah bisa maafin kamu?"
"Berarti aku akan habiskan hidupku buat nyoba," jawabnya tanpa ragu.
Hening. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma hujan yang baru turun.
Alya menunduk, air matanya jatuh satu per satu. Ia tak tahu apakah tangisnya karena sedih atau lega. Tapi untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, hatinya tak lagi hanya dipenuhi kebencian - ada secercah sesuatu yang ia benci akui: harapan kecil.
Dan di dalam rumah kecil itu, di tengah luka yang belum sembuh, mungkin Tuhan mulai menulis bab baru dalam hidup mereka - bab yang tak lagi hanya tentang penyesalan, tapi tentang kesempatan kedua.
Anda Mungkin Juga Suka





