
Pengkhianatan Istri Presdir
Bab 2
***
Pagi pun tiba, suara kicauan burung menjadi alarm pagi hari mereka. Damike yang terbangun lebih awal dari Sheyla menatap wajah wanita yang tertidur lelap dengan tenang.
"Umach." Kecupan manis mendarat tepat di kening Sheyla. Sheyla menyadari kecupan manis dari Damike langsung membuka mata sedikit demi sedikit lalu tersenyum tipis.
"Kau sudah bangun, Sayang?" tanya Sheyla.
Damike hanya mengangguk sambil menatap wajah Sheyla sambil tersenyum manis hingga kedua lesung pipi pria itu terlihat indah.
"Ya sudah, aku mandi dulu ya, Sayang," ucap Damike kembali memberi kecupan manis tepat di pipi Sheyla.
"Iya."
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu dari luar, menandakan kalau itu seorang pelayan. "Iya," teriak Sheyla sedikit.
"Nyonya maaf, saya mengganggu! Saya hanya ingin memberitahukan kalau sarapan paginya sudah siap," ujar pelayan Sheyla dari luar saat Sheyla membuka pintu.
"Iya." jawabannya singkat.
Sheyla pun menutup pintu beranjak dari sana dan membuka pintu balkon yang ada di kamarnya menghirup udara pagi.
Damike yang selesai mandi menghampiri Sheyla yang berada di balkon. "Ayo sana mandi!" sambil memeluk Sheyla dari belakang.
"Iya, Sayang. Kamu sudah mandinya?" Sheyla memutar tubuhnya dan membalas pelukan Damike. Damike mengangguk, yang artinya lelaki itu baru saja selesai mandi.
"Ya sudah, aku mandi dulu." Sheyla pun pergi meninggalkan Damike yang masih berada di balkon kamarnya.
Damike melirik Sheyla yang masuk ke dalam kamar mandi sontak tersenyum mengingat indahnya malam tadi.
Setelah punggung Sheyla menghilang di balik pintu kamar mandi yang ditutup, Damike pun melangkah ke dalam kamar dan membuka pintu lemari yang begitu besar di penuhi pakaian kerja miliknya.
***
"Astaga, ada apa dengan rem mobilku? Mengapa mobil ini tidak bisa berhenti?"
Mobil itu terlihat oleng kesana kemari hingga tak sengaja menabrak batas jurang.
"AHHHH!" teriak wanita itu. Saat mobil itu jatuh tergelincir dan terguling-guling, pengemudi mobil yang ada didalam itu terpental keluar hingga suara ledakan mobil terdengar.
"Ahhhh!" teriak gadis lusuh itu saat sadar dari pingsannya. Dokter Justin Smirt yang kebetulan ada disana langsung menoleh melihat gadis lusuh itu sadar dan langsung menghampirinya.
"Ah! Ternyata cuma mimpi," ringis gadis lusuh itu memegang kepalanya. Ia merasa kepalanya berat dan berdenyut.
"Anda berbaring saja Nona! Nona jangan bergerak dulu, biar saya periksa sebentar yah?" perintah dokter Justin.
Gadis lusuh pun mendengar perintah dari Dokter Justin. 'Apa yang terjadi padaku? Astaga malam itu?' tanyanya dalam hati.
"Maaf, boleh saya tahu nama, Nona?" tanya Dokter Justin, sambil memeriksa nadi dan jantung gadis lusuh itu dengan stetoskopnya.
"Cindy." jawabnya singkat.
"Oke baik, Nona Cindy istirahat saja dulu!" perintah Dokter sambil berjalan keluar dan mengambil ponselnya di dalam saku.
***
Ting
Suara dering ponsel Damike.
Sebuah pesan dari dokter Justin, [Gadis itu sudah sadar dan dia baik-baik saja]
"Hm!"
Tut
Suara panggilan Damike menghubungi Justin sambil fokus mengemudi. Ia memasang alat pendengar yang terhubung dari telinganya agar tak mengganggunya saat menyetir.
"Iya halo? Ah.. ia, aku kesana sekarang," ucap Damike lalu mematikan teleponnya.
Mobil yang Damike kendarai melaju begitu cepat hingga dedaunan beterbangan di udara.
Tak memakan waktu lama, Damike pun sampai di hospital BERLIN. Yah? Itu nama rumah sakit terbesar yang ada di kota X itu. Dimana tempat gadis lusuh itu di rawat.
"Selamat datang Tuan?" sapa salah satu karyawan rumah sakit sambil menundukkan kepalanya. Semua karyawan maupun suster dan dokter yang melihatnya ikut menunduk. Dan baiknya, Damike membalas sapaan mereka dengan kata 'Iya'.
Bukan hanya mempunyai perusahaan yang sukses dan tahta Presdir di perusahaan. Akan tetapi Damike juga salah satu orang yang berperan penting di rumah sakit itu. Sebab keluarga Damike lah yang membangun rumah sakit itu dan membantu segala fasilitas yang di butuhkan.
Ia memasuki lift dan menekan tombol 8. Hanya ada dirinya dan beberapa suster cantik yang sedang mengangumi ketampanannya dari belakang. Hingga beberapa menit kemudian, lift kembali terbuka. Ia kembali berjalan dan sudah sampai di ruang VIP dimana gadis lusuh itu di rawat.
Ceklekk
Suara pintu kamar terbuka. Yang ternyata di dalam ruangan sudah ada Dokter Justin bersama salah satu perawat yang ada di rumah sakit dan juga Cindy atau gadis lusuh yang Damike juluki.
"Eh.. ternyata kau sudah datang?" tanya Justin.
"Hm," balasnya dengan jawaban yang singkat.
Cindy terpesona melihat Damike yang berperawakan tinggi, putih dan mempunyai bibir yang sexi di wajah tampannya. Dan saat ia melihat pria itu tersenyum membuat hati wanita itu berdegup kencang. 'Wah sangat sempurna' gumam Cindy memuji paras pria yang baru datang itu.
Langkah Damike terhenti sejenak sambil melirik Dokter Justin yang ikut berhenti pas di depannya. Justin lalu memberikan dokumen untuk menandatangani kertas yang ada di dalam dokumen yang ia genggam sembari mengulurkannya pada Damike.
"Tak bisakah kita melakukan sebentar?" Dengan ucapan begitu ketus, sebab ia baru saja tiba.
"Sorry kawan, tapi ini berkas penting!" ucapnya sembil tersenyum tipis.
Srett
Suara kertas yang menyatu dengan pena hitam. Dengan cepat Damike menandatangani berkas itu lalu kembali memberikan berkas itu pada Justin. Begitupun Justin memberikan berkas itu pada suster yang bersamanya.
Damike kini melanjutkan langkahnya ke arah Cindy.
Mata Cindy membola sempurna, saat melihat langkah Damike berhenti tepat di depan brangkarnya, sembari memasukkan tangannya kedalam saku celana.
"Baguslah kalau kau sudah sadar, jadi kau bisa pulang dan urusan kita selesai!" Ucapan kalimat Damike yang membuat Cindy melotot. Dengan wajah datarnya tanpa senyum.
"Oh.. ternyata kau pria yang menabraku? Bukannya meminta maaf malah bertingkah sombong seperti itu," cerca Cindy yang tak kalah jutek.
'Ck,ternyata sikap seperti ini bisa mengalahkan ketampanan seseorang. Percuma tampan.' geramnya dalam hati.
"Salah kau sendiri, mengapa malam-malam begitu berkeliaran?"
"Karena aku--" Cindy tak bisa melanjut ucapannya karena menurut dia, itu tidak seharusnya dijelaskan.
***
Sedangkan Sheyla sedang asik bersama selingkuhannya di sebuah apartemen, "Ahhh... Sayang, lain kali kau jangan ceroboh begitu! Kalau sampai kau ketahuan, kau habis oleh Suamiku," ucap Sheyla bermanja-manja di pangkuan pria itu.
"Iya iya maafkan aku," ucap pemilik jas, yang ternyata kekasih Sheyla yang bernama Max. Sebenarnya Sheyla mempunyai kekasih saat ia kuliah. Akan tetapi ia juga mempunyai hubungan dengan Damike Davinton, lelaki kaya yang terkenal. Ia menikahi Damike karena kekayaannya saja. Bukan karena ia cinta pada Damike. Ia sebenarnya sangat mencintai Max, sempat juga ia tak ingin menerima lamaran Damike, tetapi Max yang memaksanya untuk menikah agar ia bisa menghabiskan uang Damike. Sungguh tega Sheyla pada suaminya itu.
"Untung saja, aku punya alasan. Kalau tidak, habis aku."
"Iya iya, nggak lagi."
Hening
"Sayang ayo puaskan aku!" pintah Max tiba-tiba agar Sheyla memuaskan nafsu birahinya.
Sheyla menggeleng, bermaksud menolak namun dengan tangan nakal Damike membuat Sheyla terpekik sebab bokongnya sudah diremas kuat oleh Max.
"Ahh.. kamu nakal yah! Ya sudah ayo, aku juga merindukanmu."
Merekapun bergulat.
*****
Anda Mungkin Juga Suka





