
Pengkhianatan Dibalik Cinta Duda
Bab 3
Hari pertama Alina bekerja di rumah megah Adriel Wicaksana dimulai lebih awal dari biasanya. Matahari belum sepenuhnya terbit ketika ia berdiri di depan cermin, memastikan dirinya tampak rapi dan profesional. Meski hatinya dipenuhi kegelisahan, ia memutuskan untuk menyingkirkan semua perasaan itu.
"Ini hanya pekerjaan, Alina. Fokus saja," katanya pelan, seolah mencoba meyakinkan dirinya sendiri.
Sesampainya di rumah Adriel, suasana pagi terasa hening. Pelayan-pelayan rumah berdiri berjajar dengan sopan, menyapanya dengan senyum kecil sebelum mempersilakannya masuk. Alina berjalan dengan langkah hati-hati, merasa seperti tamu yang tak diundang di dunia yang terlalu megah untuknya.
Ia dipandu menuju ruang belajar yang sudah disiapkan untuk Naya. Ruangan itu luas, dikelilingi rak-rak buku yang penuh dengan koleksi bacaan anak-anak dan beberapa buku ensiklopedia yang terlihat mahal. Di tengah ruangan, meja kayu besar dengan kursi-kursi kecil tampak rapi, seolah menunggu Alina untuk memulai pekerjaannya.
"Nona Mahendra, Naya sedang bersiap-siap. Dia akan segera datang," ujar seorang pelayan dengan sopan sebelum meninggalkan ruangan.
Alina menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Ia mengeluarkan beberapa buku yang sudah ia siapkan dari tasnya, memastikan semua materi pelajaran tersusun rapi.
Namun, ketenangan itu hanya bertahan sebentar. Pintu ruangan tiba-tiba terbuka, dan suara langkah kecil terdengar. Naya masuk, diikuti oleh Adriel yang berdiri di belakangnya.
"Selamat pagi, Kak Alina!" Naya menyapanya dengan ceria. Gadis kecil itu berlari menghampiri meja, duduk dengan antusias sambil tersenyum lebar.
"Selamat pagi, Naya," balas Alina, mencoba menyesuaikan diri dengan energi anak itu.
Adriel tetap berdiri di ambang pintu, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celananya. Tatapannya tajam, mengamati Alina seolah menilai setiap gerakannya. Hal itu membuat Alina sedikit tidak nyaman, tapi ia berusaha mengabaikannya.
"Kamu akan mengajar apa hari ini, Kak Alina?" tanya Naya penuh semangat.
Alina tersenyum. "Kita akan belajar membaca cerita, lalu menghitung. Bagaimana menurutmu?"
"Seru sekali!" Naya berseru sambil bertepuk tangan.
Adriel mendekat, berdiri di sisi meja. "Naya, ingat apa yang Papa katakan. Dengarkan apa pun yang Kak Alina ajarkan. Tidak ada alasan untuk bermain-main."
Naya mengangguk cepat, meski senyumnya sedikit memudar. "Iya, Papa."
Alina memandang Adriel, lalu Naya. Ia bisa merasakan ketegangan kecil di antara mereka. Adriel jelas seorang ayah yang tegas, dan mungkin sedikit terlalu keras untuk anak seusia Naya.
"Baik, Pak Adriel, saya akan memastikan Naya belajar dengan baik," ujar Alina, mencoba meredakan suasana.
Adriel mengangguk, lalu menatap Alina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Kalau begitu, saya serahkan Naya pada Anda."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Adriel meninggalkan ruangan. Tapi sebelum pintu tertutup, ia sempat berhenti dan berbalik. "Oh, satu hal lagi. Jika Naya mulai rewel, panggil saya."
Alina mengangguk cepat. "Tentu, Pak."
Setelah Adriel pergi, suasana di ruangan itu terasa lebih ringan. Naya segera menunjukkan antusiasmenya, dengan penuh semangat mengikuti setiap instruksi yang diberikan Alina. Gadis kecil itu cerdas, tapi seperti yang sudah Alina duga, Naya sedikit sulit fokus jika pelajaran berlangsung terlalu lama.
"Kenapa kita harus belajar matematika?" keluh Naya setelah satu jam. "Kenapa aku tidak boleh menggambar saja?"
Alina tersenyum. "Karena matematika itu penting. Kalau kamu pintar berhitung, kamu bisa membeli banyak es krim tanpa salah hitung."
Naya tertawa kecil. "Kalau begitu, aku mau belajar lagi. Tapi nanti Kak Alina harus belikan aku es krim!"
"Baiklah, itu janji," kata Alina, meski dalam hati ia tidak yakin apakah boleh membawa Naya keluar.
Ketika jam makan siang tiba, seorang pelayan datang untuk menjemput Naya. Gadis kecil itu tampak enggan meninggalkan Alina, tapi akhirnya menurut setelah diberi tahu bahwa ia harus makan.
Alina memanfaatkan waktu itu untuk beristirahat. Ia duduk di ruang belajar, memeriksa catatan yang sudah ia buat untuk pelajaran berikutnya. Namun, ketenangannya terganggu oleh suara pintu yang terbuka.
Ketika ia menoleh, Adriel berdiri di sana, membawa dua cangkir kopi. "Saya pikir Anda butuh ini," katanya, menyerahkan salah satu cangkir pada Alina.
"Terima kasih, Pak," ujar Alina, sedikit terkejut. Ia menerima cangkir itu dengan hati-hati, merasa canggung berada di dekat pria itu.
Adriel duduk di kursi yang sebelumnya ditempati Naya. Ia menatap Alina dengan tatapan yang sulit diterjemahkan. "Bagaimana hari pertama Anda? Apakah Naya terlalu sulit diatur?"
"Tidak, Pak. Naya anak yang cerdas dan menyenangkan," jawab Alina jujur.
Adriel mengangguk pelan. "Bagus kalau begitu. Tapi saya tetap ingin Anda waspada. Naya punya kebiasaan... terlalu cepat terikat pada orang lain. Itu sering membuatnya kecewa."
Alina terdiam. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang lebih dalam di balik kata-kata itu. Tapi ia tidak berani bertanya.
"Jadi, saya harap Anda tidak membuat janji yang tidak bisa Anda tepati," lanjut Adriel, tatapannya kini langsung menembus mata Alina.
"Tidak, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik," jawab Alina dengan suara tenang, meski di dalam hatinya ia merasa ada sesuatu yang aneh dalam hubungan ini.
Adriel mengangguk, lalu berdiri. "Bagus. Selamat menikmati kopi Anda."
Saat Adriel pergi, Alina hanya bisa duduk diam. Ia memandangi cangkir kopi di tangannya, sambil merenung. Dunia ini, rumah ini, dan terutama keluarga ini-semuanya terasa seperti misteri yang belum sepenuhnya ia pahami.
Namun, satu hal yang ia tahu pasti: hidupnya tidak akan pernah kembali seperti dulu.
Anda Mungkin Juga Suka





