
Pengantin Iblis Gila
Bab 3
Pagi setelah perjamuan, Isolde terbangun dengan rasa cemas yang tak bisa dihilangkan. Bahkan udara di dalam kamar terasa lebih berat dari biasanya, seolah setiap sudut mengingatkannya pada perjanjian yang telah dibuat, pada takdir yang telah menunggu.
Dia duduk di tepi tempat tidur, tangannya menggenggam erat sisi kain selimut. Duke Severian Valemont, suaminya yang tak diinginkan, bukan hanya mengerikan karena ketenarannya yang menakutkan, tetapi juga karena kekuatan yang dia miliki. Ada sesuatu yang lebih gelap di balik matanya yang dingin, dan Isolde tahu itu. Dia tidak hanya menikah dengan pria yang dipandang sebagai iblis oleh banyak orang-dia menikahi seseorang yang tidak pernah berkompromi dengan kelemahan.
Pintu kamar terbuka dengan satu hentakan pelan, dan pelayan masuk membawa secangkir teh, mencoba mengalihkan pikiran Isolde.
"Lady Isolde," kata pelayan itu dengan suara lembut, "Duke Valemont mengundang Anda untuk menemui beliau di perpustakaan."
Isolde menatap pelayan itu dengan kosong. Perpustakaan. Sudah hampir satu hari sejak mereka menikah, namun perasaan ini-ketidaknyamanan yang mendalam-tak pernah meninggalkannya.
"Terima kasih," Isolde berkata singkat, dan meskipun ia tahu pertemuan itu tidak akan menyenangkan, ia tetap melangkah keluar dari kamarnya.
Langkahnya terasa berat, setiap detik berlalu membawa beban yang semakin menekan dada. Ketika dia memasuki perpustakaan yang luas, suhu ruangan itu terasa lebih dingin, lebih gelap. Rak-rak buku tinggi menjulang, menciptakan bayangan yang menyerupai dinding tak terlihat, memenjara siapa pun yang berada di dalamnya.
Di meja tengah perpustakaan, Severian duduk, menatap sebuah buku yang terbuka di hadapannya, namun tatapannya kosong, seperti sedang melamun jauh. Isolde menghela napas pelan dan melangkah maju, merasa semakin cemas saat semakin dekat dengan pria itu.
"Apa yang ingin Anda bicarakan, Duke?" tanyanya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang meskipun dalam hatinya bergolak rasa takut dan kebingungan.
Severian tidak segera menanggapi. Dia hanya mengangkat matanya, memandangi Isolde dengan pandangan yang sulit dimengerti. Matanya yang abu-abu terlihat seperti dua kawah yang dalam, penuh dengan segala macam rahasia yang menunggu untuk terungkap.
"Apakah kau benar-benar ingin tahu?" Suaranya terdengar datar, namun ada nada yang hampir seperti peringatan di sana.
Isolde hanya bisa mengangguk. Dia tidak bisa lari, tidak bisa menghindari pria ini.
"Ini tentang kepercayaan, Isolde." Severian akhirnya berbicara, matanya tetap terkunci dengan mata Isolde. "Kau dan aku... tidak bisa hanya menjalani hidup ini seperti pasangan biasa."
Isolde merasakan keringat dingin menetes di pelipisnya. "Apa maksud Anda?"
Severian berdiri dari kursinya dan melangkah mendekat, tiap langkahnya membawa aura kekuasaan yang menakutkan. "Aku tidak percaya pada cinta, Isolde," katanya perlahan, suara yang dalam dan menakutkan itu menggetarkan suasana ruangan. "Kau hanyalah alat yang bisa kugunakan. Dan kau tahu itu."
Isolde merasa tubuhnya membeku, kata-kata itu seperti belati yang menusuk hati. Namun, dia berusaha menenangkan dirinya, berusaha menjaga pikirannya tetap jernih.
"Tapi aku masih manusia," balasnya dengan suara yang terjaga, meski ketakutan masih menggerogoti hatinya. "Aku tidak akan menjadi boneka dalam permainan Anda."
Severian tersenyum dingin, senyum yang tidak mengandung kehangatan sedikit pun. "Kau harus mengerti, Isolde, permainan ini lebih besar dari sekadar kita berdua. Jika kau ingin bertahan hidup, kau harus mengikuti aturanku."
Isolde menggigit bibir bawahnya, berjuang untuk mengendalikan perasaan yang hampir pecah. "Apa yang harus saya lakukan?"
Severian mendekatkan wajahnya, dan untuk pertama kalinya, Isolde bisa merasakan hawa dingin yang tajam di tubuhnya, seolah seluruh dunia terhenti di sekeliling mereka. "Belajarlah untuk menjadi bagian dari dunia ini. Belajarlah untuk tidak ragu, dan lebih dari itu, belajarlah untuk mempercayai dirimu sendiri."
Isolde menatapnya dalam diam, rasa benci dan kebingungannya semakin membara. Namun, dalam dirinya, ada sesuatu yang lebih kuat-sebuah tekad untuk bertahan, untuk mencari jalan keluar dari cengkeraman ini, meski itu berarti harus menghadapinya.
"Aku akan bertahan," bisiknya pelan, "meski harus bertaruh dengan nyawaku."
Severian mengangkat alisnya, tampaknya terkesan dengan keteguhan hati Isolde. Namun, di balik tatapannya yang tajam, ada sesuatu yang lebih gelap, seperti ancaman yang mengintai, siap menghancurkan siapa saja yang berdiri di jalannya.
"Baiklah, Isolde," katanya akhirnya, suaranya lebih rendah dari sebelumnya, "kita lihat seberapa jauh kau bisa bertahan."
Dan dengan itu, dunia Isolde yang sudah gelap, kini semakin menenggelamkan dirinya dalam kegelapan yang lebih dalam lagi.
Anda Mungkin Juga Suka





