Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembuktian Cinta

Pembuktian Cinta

Bram berjuang membuktikan cintanya pada gadis masa kecil yang ia temui saat keluarganya dibantai musuh sang ayah. Setelah bertahun-tahun terpisah demi bertahan hidup, takdir mempertemukan mereka kembali saat dewasa. Demi melindungi sang kekasih dari fitnah keji, Bram rela mendekam di penjara. Namun, pengorbanannya dibalas kehampaan karena sang pujaan hati tak pernah datang menjenguk. Akankah Bram menemukan kebahagiaan setelah bebas, atau justru melihat wanita itu bersama orang lain?
Bab
Bagikan

Bab 3

Ningsih membawa Bram ke desa mertuanya.. Desa masa kecil wanita paru baya yang sudah merenggang nyawa.. Selesai mertuanya dimakan kan, Ningsing langsung membawa anaknya ke desa..

Tidak tau entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, Ningsih juga tidak tau masalah apa yang dialami suaminya hingga mereka mendapat masalah bertubi - tubi..

Hanya cara itu satu - satunya agar Ningsih bisa selamat dari bahaya,  mertuanya benar. dia harus menyelamatkan anaknya, masa depan Bram masih sangat panjang.. Bram harus tetap hidup. Ningsih akan berjuang demi putranya.

"Ma, kita mau kemana, Bram lapar.."

Lamunan Ningsih bubar akibat mendengar suara rengekan anaknya..

"Sabar ya, sayang, nanti kalau kita sudah sampai, mama akan cari makan, kamu minum dulu nak.."

Bram pun mengangguk, sejak tadi tangan anak kecil itu tidak lepas dari lengan mamanya.. Dia takut, jika sampai ada orang jahat lagi yang membunuh mamanya, Bram tidak akan tau mau pergi kemana.. Bram sangat takut dengan yang namanya kematian.. Papa dan neneknya tewas di saat  yang bersamaan..

"Ma, kenapa orang jahat itu membunuh papa dan nenek, memangnya apa salah papa dan nenek ma.. Papa itu orang baik, nenek juga orang baik.."

"Sttt, sudah. Jangan di pikirkan, yang penting kita harus berdoa untuk papa dan nenek... Semoga mereka baik - baik saja disana, ya?"

Sampai di alamat yang di tuju, Ningsih turun dari mobil pikap pembawa sayur ke pinggiran kota.. Matanya melirik desa kecil itu, mertuanya benar, desa itu sangat terpencil, jauh dari jangkauan kota.. Rasanya hidup disana akan sulit untuk berkembang..

"Ma, ini rumah siapa?"

"Rumah nenek. Nenek minta kita ketempat ini.. Nanti, kalau keadaan sudah aman, kita bisa pergi mengunjugi papa dan nenek, sayang.."

Bram, mengangguk di pegang nya botol minum yang di berikan mamanya.

"Ma, Bram lapar.."

"Ah, ia. Biar mama periksa dulu ke dalam, ya nak.. Mari kita masuk.."

Ninsih melihat rumah itu sangat kecil, tapi tidak buruk, masih layak untuk di pakai.. Ningsih pun tidak menemukan sesuatu yang bisa di makan..

Yang namanya tinggal di desa, Ningsih tidak bisa menemukan rumah makan, untuk membeli makanan..

Mau tak Mau, Ningsih akhirnya minta makanan pada tetangga. Dia juga sekalian bersilaturahmi pada tetangga disana..

"Oh, menantunya Bu Win toh.. Bu Win aap kabar nya? Sudah lama bu Win tidak berkunjung ke mari. Biasanya sih, bu Win setiap akhir tahun nyekar ke makan orang tuanya.. Hidup Bu Win pasti enak hidup dirumah peninggalan suaminya ya nduk.."

Ningsih hanya tersenyum kecut, enak apanya, nyatanya mertuanya itu sudah tiada.. Ningsih pun akhirnya bercerita tentang kejadian yang sudah menimpa keluarganya, mulai dari suaminya hingga mertuanya. Ningsih juga bercerita, jika dia mengetahui tempat itu atas petunjuk dari mertuanya sendiri..

"Oh, jadi kalian akan tinggal disini toh? Baguslah, desa ini akan semakin ramai nantinya, soalnya ada neng dari kota.."

"Ini anaknya, toh. Tampan sekali.. Sudah kelas berapa?" tanya ibu tetangga itu..

"Kelas lima tante.."

"Wah.. Anaknya sopan ya? "

Dengan kemurahan hati orang  disana, Ningsih mendapat makan malam untuk malam itu juga.. Selesai makan, Ningsih meminta Bram untuk segera istirahat. Sedang dirinya sibuk membersihkan rumah tersebut..

"Papa.. Tidak, jangan sakiti papaku. Papa, papa.."

Ningsih kaget, segera dilihatnya anaknya. Ternyata anaknya mengigau. Mimpi buruk di dalam tidurnya. Ningsih memeluk Bram sangat erat..

"Tenang nak, papa sudah tidak ada, papa baik - baik saja. Ada mama, ada mama sayang.." Ningsih terisak sambil memeluk putranya..

Di lihatnya Bram sudah tenang, Ningsih tidak lagi lemanjutkan  beres - beresnya. Dia pun ikut tidur disamping anaknya, memeluk anak itu, khawatir, anaknya kembali bermimpi buruk..

***

Pagi pagi sekali, Ningsih sudah bangun.. Dia kembali mengerjakan pekerjaan rumah, berberes, menata  isi rumah itu agar lebih rapih..

Termenung sesaat, terbayang dengan masa - masa ketika dia masih tinggal dirumah mereka di ibu kota bersama siaminya.. Ningsih kembali terisak, belum percaya rasanya jika saat ini hidupnya jungkir balik.. Hidup tanpa suami. Hidup hanya berdua dengan anaknya.. Mampukah dia menjalani harinya bersama anaknya..

"Mama.."

"Sayang, kamu sudah bangun, nak?"

"Ma, apa Bram akan sekolah.. Apa Bram akan pindah sekolah?" Pertanyaan anak itu membuat Ningsih sakit kepala, bagaimana caranya mengurus surat pindah anaknya.. Beruntung dia menyimpan kontak ponsel kepala sekolah.. Dengan begitu dia bisa minta tolong pada kepala sekolah untuk mengurus kepindahan anaknya..

"Ia, kamu akan sekolah disini. Tidak apakan nak..?"

"Tidak apa, ma. Asal Bram selalu bersama mama.."

"Tenang nak, kita akan selalu bersama. Mama mohon, Bram harus tetap kuat, harus baik - baik saja.. Jangan tinggalin mama ya nak.."

"Hem.."

*

Hari sudah terang, Ningsih pun melihat kebelakang rumah, ada sebidang tanah. Mertuanya memintanya untuk berkebun disana. Ningsih mengetahui, jika di desa itu masyarakatnya menanam sayuran, lalu akan  di jual ke  kota..

Dia harus bisa berbaur bersama masyarakat disana.. Demi menyambung hidupnya dan juga anak nya..

"Hai, kamu anak kota itu ya, mama ku bilang, ada orang yang baru datang dari kota, kalau boleh tau, siapa nama mu.."

"Nama ku, Bram.. Kalau nama mu siapa?"

"Kanaya.. Panggil Naya saja.. Dada Bram, aku pergi sekolah dulu ya, nanti telat, kalau telat suka disiplin sama ibu guru.. Soalnya ibu gurunya galak.."

Bram, mengangguk lalu mencari keberadaan ibunya, tadinya Bram pergi melihat - lihat di sekitaran rumahnya.. Dibukanya pintu, ada beberapa anak berjalan kaki hendak pergi kesekolah..

"Ma,.."

"Ya, nak. Ada apa. hem?"

"Apa Bram belum sekolah, tadi ada anak yang pergi sekolah, tapi kenapa mereka tidak naik mobil.. Biasanya kan Bram diantar sama supir ke sekolah, atau diantar sama papa.."

"Sayang, disini mana ada mobil seperti di kota.. Dengarin mama ya, nak.. Kehidupan di kota sama disini itu beda.. Kita harus terbiasa hidup seperti orang - orang disini.. Contohnya seperti berkebun.. "

"Oh, jadi mama mau berkebun juga..?"

"Hem."

"Ya sudah, biar Bram bantuin mama, nanti kita bisa jual sayuran seperti orang - orang disini.."

Bram, seketika ceria, dia senang jika mereka berkebun.. Ningsih lega melihat perubahan anaknya, berharap di hari - hari berikutnya senyum anaknya itu tidak pudar.. Ningsih ingin anaknya ceria seperti sebelumnya.. Biarlah dia yang memendam rasa. Memendam semua rasa pahit yang sudah menimpa keluarganya..

"Ya Tuhanku, tolong jauhkan kami dari orang - orang serakah itu, jangan kau ambil nyawa anak ku.. Cukup aku sudah kehilangan suami dan mertuaku.. Sudah sejauh ini kamu kabur, biarlah kami hidup tenang disini.." Doa Ningsih dalam hatinya.. Doa seorang ibu yang ingin buah hatinya tetap hidup dan baik - baik saja..

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MKU" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MKU
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bangkitnya Sang Menantu Benalu
8.7
Selama tiga tahun, Stefan hidup menderita sebagai menantu yang dihina dan dianggap benalu oleh keluarga Lionny. Pasca kecelakaan yang memicu amnesia, posisinya kian terpuruk hingga ia nyaris gila. Putus asa, ia mencoba mengakhiri hidup dengan menelan ratusan butir obat sekaligus. Namun, keajaiban terjadi; alih-alih tewas overdosis, ingatan Stefan justru pulih sepenuhnya. Inilah titik balik sang menantu sampah untuk bangkit dan menunjukkan jati diri aslinya.
Sampul Novel Code Name Amaryllis
8.6
Indonesia tahun 2050 hancur akibat korupsi yang melumpuhkan hukum. Demi memulihkan keadilan, Presiden membentuk lembaga rahasia berisi pemuda berbakat dengan peralatan mutakhir. Mereka bergerak di balik bayang-bayang untuk menghancurkan konspirasi para pejabat korup. Cerita ini berfokus pada agen muda berkode Amaryllis yang mempertaruhkan nyawa dalam misi penuh intrik dan aksi berbahaya. Sebagai harapan terakhir bangsa, mampukah Amaryllis menumpas akar kejahatan di tanah air?
Sampul Novel Gadis Nakal Sang Bidadari Surga
7.9
Ayana adalah pemimpin geng motor The Wild Ants yang terkenal pemberontak. Kenakalannya membuat sang Papa mengirimnya ke pesantren untuk dibina. Di sana, ia terkejut saat mengetahui dirinya dijodohkan dengan Gus Farhan, putra pemilik pesantren. Ayana tak berdaya menolak karena perjodohan tersebut merupakan wasiat terakhir almarhumah ibunya. Kini, ratu jalanan itu harus berjuang menghadapi kehidupan religi dan komitmen pernikahan yang tak pernah ia duga.
Sampul Novel Hasrat Luar Nona Muda
8.4
Kecewa karena dikhianati kekasihnya, Floretta Shopia Copper yang sedang mabuk nekat menyerahkan kehormatannya kepada pengawal pribadinya, Jeff Nickolas Edmund. Meski Nick telah memperingatkan konsekuensinya, Shopia tetap teguh pada keputusannya demi mencari pengalaman pertama yang tak terlupakan. Namun, di balik kepatuhan sang bodyguard, tersimpan niat tersembunyi yang mengincar Shopia dan orang tuanya tanpa disadari oleh sang nona muda tersebut.
Sampul Novel Nelangsa TAKDIR
8.7
Pertemuan kembali setelah belasan tahun memicu obsesi gelap bagi Caleb. Saat Eddith gagal mengingat masa lalu mereka, kebahagiaan Caleb berubah menjadi kekejaman yang tak terduga. Pria tanpa belas kasihan itu kini menguasai hidup Eddith sepenuhnya. Meski Eddith berusaha melawan dan menolak, hasrat Caleb justru semakin membara. Di bawah ancaman rasa sakit yang lebih hebat, Eddith terjebak dalam cengkeraman takdir pria yang kini ia sebut sebagai seorang bajingan.
Sampul Novel Pejuang Restu
8.5
Basti berusaha keras melindungi ibunya dari ancaman Aldri, pria yang tega menyudutkan Helen demi harta kekuasaan. Meski Aldri bersikeras mengungkit rencana masa lalu mereka untuk menguras kekayaan Jonas, Helen kini justru menunjukkan sikap yang berbeda. Di tengah tekanan fisik dan intimidasi mental, Helen tetap bungkam seraya terus meronta. Aldri yang terbakar amarah dan nafsu mencoba memaksa Helen kembali ke sisinya demi ambisi pribadi yang licik.