
Pembuktian Cinta
Bab 3
Ningsih membawa Bram ke desa mertuanya.. Desa masa kecil wanita paru baya yang sudah merenggang nyawa.. Selesai mertuanya dimakan kan, Ningsing langsung membawa anaknya ke desa..
Tidak tau entah apa yang sudah terjadi sebelumnya, Ningsih juga tidak tau masalah apa yang dialami suaminya hingga mereka mendapat masalah bertubi - tubi..
Hanya cara itu satu - satunya agar Ningsih bisa selamat dari bahaya, mertuanya benar. dia harus menyelamatkan anaknya, masa depan Bram masih sangat panjang.. Bram harus tetap hidup. Ningsih akan berjuang demi putranya.
"Ma, kita mau kemana, Bram lapar.."
Lamunan Ningsih bubar akibat mendengar suara rengekan anaknya..
"Sabar ya, sayang, nanti kalau kita sudah sampai, mama akan cari makan, kamu minum dulu nak.."
Bram pun mengangguk, sejak tadi tangan anak kecil itu tidak lepas dari lengan mamanya.. Dia takut, jika sampai ada orang jahat lagi yang membunuh mamanya, Bram tidak akan tau mau pergi kemana.. Bram sangat takut dengan yang namanya kematian.. Papa dan neneknya tewas di saat yang bersamaan..
"Ma, kenapa orang jahat itu membunuh papa dan nenek, memangnya apa salah papa dan nenek ma.. Papa itu orang baik, nenek juga orang baik.."
"Sttt, sudah. Jangan di pikirkan, yang penting kita harus berdoa untuk papa dan nenek... Semoga mereka baik - baik saja disana, ya?"
Sampai di alamat yang di tuju, Ningsih turun dari mobil pikap pembawa sayur ke pinggiran kota.. Matanya melirik desa kecil itu, mertuanya benar, desa itu sangat terpencil, jauh dari jangkauan kota.. Rasanya hidup disana akan sulit untuk berkembang..
"Ma, ini rumah siapa?"
"Rumah nenek. Nenek minta kita ketempat ini.. Nanti, kalau keadaan sudah aman, kita bisa pergi mengunjugi papa dan nenek, sayang.."
Bram, mengangguk di pegang nya botol minum yang di berikan mamanya.
"Ma, Bram lapar.."
"Ah, ia. Biar mama periksa dulu ke dalam, ya nak.. Mari kita masuk.."
Ninsih melihat rumah itu sangat kecil, tapi tidak buruk, masih layak untuk di pakai.. Ningsih pun tidak menemukan sesuatu yang bisa di makan..
Yang namanya tinggal di desa, Ningsih tidak bisa menemukan rumah makan, untuk membeli makanan..
Mau tak Mau, Ningsih akhirnya minta makanan pada tetangga. Dia juga sekalian bersilaturahmi pada tetangga disana..
"Oh, menantunya Bu Win toh.. Bu Win aap kabar nya? Sudah lama bu Win tidak berkunjung ke mari. Biasanya sih, bu Win setiap akhir tahun nyekar ke makan orang tuanya.. Hidup Bu Win pasti enak hidup dirumah peninggalan suaminya ya nduk.."
Ningsih hanya tersenyum kecut, enak apanya, nyatanya mertuanya itu sudah tiada.. Ningsih pun akhirnya bercerita tentang kejadian yang sudah menimpa keluarganya, mulai dari suaminya hingga mertuanya. Ningsih juga bercerita, jika dia mengetahui tempat itu atas petunjuk dari mertuanya sendiri..
"Oh, jadi kalian akan tinggal disini toh? Baguslah, desa ini akan semakin ramai nantinya, soalnya ada neng dari kota.."
"Ini anaknya, toh. Tampan sekali.. Sudah kelas berapa?" tanya ibu tetangga itu..
"Kelas lima tante.."
"Wah.. Anaknya sopan ya? "
Dengan kemurahan hati orang disana, Ningsih mendapat makan malam untuk malam itu juga.. Selesai makan, Ningsih meminta Bram untuk segera istirahat. Sedang dirinya sibuk membersihkan rumah tersebut..
"Papa.. Tidak, jangan sakiti papaku. Papa, papa.."
Ningsih kaget, segera dilihatnya anaknya. Ternyata anaknya mengigau. Mimpi buruk di dalam tidurnya. Ningsih memeluk Bram sangat erat..
"Tenang nak, papa sudah tidak ada, papa baik - baik saja. Ada mama, ada mama sayang.." Ningsih terisak sambil memeluk putranya..
Di lihatnya Bram sudah tenang, Ningsih tidak lagi lemanjutkan beres - beresnya. Dia pun ikut tidur disamping anaknya, memeluk anak itu, khawatir, anaknya kembali bermimpi buruk..
***
Pagi pagi sekali, Ningsih sudah bangun.. Dia kembali mengerjakan pekerjaan rumah, berberes, menata isi rumah itu agar lebih rapih..
Termenung sesaat, terbayang dengan masa - masa ketika dia masih tinggal dirumah mereka di ibu kota bersama siaminya.. Ningsih kembali terisak, belum percaya rasanya jika saat ini hidupnya jungkir balik.. Hidup tanpa suami. Hidup hanya berdua dengan anaknya.. Mampukah dia menjalani harinya bersama anaknya..
"Mama.."
"Sayang, kamu sudah bangun, nak?"
"Ma, apa Bram akan sekolah.. Apa Bram akan pindah sekolah?" Pertanyaan anak itu membuat Ningsih sakit kepala, bagaimana caranya mengurus surat pindah anaknya.. Beruntung dia menyimpan kontak ponsel kepala sekolah.. Dengan begitu dia bisa minta tolong pada kepala sekolah untuk mengurus kepindahan anaknya..
"Ia, kamu akan sekolah disini. Tidak apakan nak..?"
"Tidak apa, ma. Asal Bram selalu bersama mama.."
"Tenang nak, kita akan selalu bersama. Mama mohon, Bram harus tetap kuat, harus baik - baik saja.. Jangan tinggalin mama ya nak.."
"Hem.."
*
Hari sudah terang, Ningsih pun melihat kebelakang rumah, ada sebidang tanah. Mertuanya memintanya untuk berkebun disana. Ningsih mengetahui, jika di desa itu masyarakatnya menanam sayuran, lalu akan di jual ke kota..
Dia harus bisa berbaur bersama masyarakat disana.. Demi menyambung hidupnya dan juga anak nya..
"Hai, kamu anak kota itu ya, mama ku bilang, ada orang yang baru datang dari kota, kalau boleh tau, siapa nama mu.."
"Nama ku, Bram.. Kalau nama mu siapa?"
"Kanaya.. Panggil Naya saja.. Dada Bram, aku pergi sekolah dulu ya, nanti telat, kalau telat suka disiplin sama ibu guru.. Soalnya ibu gurunya galak.."
Bram, mengangguk lalu mencari keberadaan ibunya, tadinya Bram pergi melihat - lihat di sekitaran rumahnya.. Dibukanya pintu, ada beberapa anak berjalan kaki hendak pergi kesekolah..
"Ma,.."
"Ya, nak. Ada apa. hem?"
"Apa Bram belum sekolah, tadi ada anak yang pergi sekolah, tapi kenapa mereka tidak naik mobil.. Biasanya kan Bram diantar sama supir ke sekolah, atau diantar sama papa.."
"Sayang, disini mana ada mobil seperti di kota.. Dengarin mama ya, nak.. Kehidupan di kota sama disini itu beda.. Kita harus terbiasa hidup seperti orang - orang disini.. Contohnya seperti berkebun.. "
"Oh, jadi mama mau berkebun juga..?"
"Hem."
"Ya sudah, biar Bram bantuin mama, nanti kita bisa jual sayuran seperti orang - orang disini.."
Bram, seketika ceria, dia senang jika mereka berkebun.. Ningsih lega melihat perubahan anaknya, berharap di hari - hari berikutnya senyum anaknya itu tidak pudar.. Ningsih ingin anaknya ceria seperti sebelumnya.. Biarlah dia yang memendam rasa. Memendam semua rasa pahit yang sudah menimpa keluarganya..
"Ya Tuhanku, tolong jauhkan kami dari orang - orang serakah itu, jangan kau ambil nyawa anak ku.. Cukup aku sudah kehilangan suami dan mertuaku.. Sudah sejauh ini kamu kabur, biarlah kami hidup tenang disini.." Doa Ningsih dalam hatinya.. Doa seorang ibu yang ingin buah hatinya tetap hidup dan baik - baik saja..
Anda Mungkin Juga Suka





