Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pembantu dan pewaris muda

Pembantu dan pewaris muda

Amelia terjebak utang ayahnya dan kemiskinan saat bekerja di rumah keluarga De la Vega. Hidupnya berubah sejak Luciano, sang pewaris arogan, mulai memperhatikannya. Hubungan rahasia mereka tumbuh di tengah perbedaan kelas, namun skandal besar mengancam martabat Amelia. Kini ia harus memilih antara cinta yang membara kepada Luciano atau melindungi adiknya serta janin di rahimnya. Dua dunia yang bertabrakan ini siap meledak dalam konflik yang penuh emosi dan pengorbanan.
Bab
Bagikan

Bab 1

Pel pel itu meluncur seolah memiliki ingatannya sendiri, menyeret serpihan tanah, lilin tua, dan noda gelap yang tampaknya tak kunjung hilang. Amelia tak tahu apakah itu darah atau anggur merah kering, tetapi ia menggosoknya dengan amarah yang nyaris tak terbendung, seolah ia bisa menghapus sejarahnya bersama noda itu.

Marmer putih memantulkan kembali bayangan pucat dirinya: kemeja pelayan yang lengannya digulung, kepangnya tergerai ke satu sisi, lututnya merah karena terlalu sering digosok. Aroma disinfektan membakar hidungnya dan tak menyisakan ruang untuk berpikir... tetapi meskipun begitu, ia berpikir.

Tentangnya.

Tentang ayahnya.

Tentang terakhir kali ia melihatnya, mabuk di ambang pintu kamar ibunya, memohon untuk meminjamkannya sedikit uang yang mereka simpan di kotak obat.

Tentang bagaimana ia menghilang keesokan paginya.

Tentang kesunyian berat yang ditinggalkannya.

Ponselnya bergetar di saku celemeknya.

Ia menariknya keluar dengan tangan basah, membiarkan sedikit air sabun menetes ke layar.

"Mereka melihatnya. Ayahmu. Dia meninggalkan kota. Dia berutang uang kepada beberapa orang berkuasa. Mereka bilang mereka mencarimu."

Amelia merasakan hawa dingin menjalar di tulang punggungnya.

Kakinya gemetar.

Kain lap terlepas dari tangannya.

Untuk sesaat, seluruh dunia seakan condong ke arahnya.

"Tidak, tidak, tidak, tidak..." Ia melihat ke kedua arah koridor layanan. Ia tak bisa bernapas. Ia tak bisa berpikir. Hanya satu pikiran yang terlintas di benaknya: Aku harus keluar dari sini. Aku harus menemui Isabelita. Aku harus memperingatkan Elena.

Ia menjatuhkan ember dan kain pel. Jejak kaki basah tertinggal di belakangnya saat ia berlari. Namun, dalam keputusasaannya, ia mengambil jalan yang salah. Ia tidak menuju pintu belakang.

Ia masuk melalui lorong utama.

Lantai marmer yang berkilau. Lukisan-lukisan raksasa. Cermin-cermin berlapis emas. Karpet-karpet yang harganya lebih mahal dari seluruh hidupnya. Segalanya berkilauan, semuanya berbau mahal. Seharusnya ia tak ada di sana. Ia tahu itu.

Dan di sanalah ia.

Luciano De la Vega. Kemeja putih bersih, rambut pirangnya sengaja dibuat acak-acakan, bersandar di salah satu tiang dengan gelas di tangan.

Ia menatapnya dari atas ke bawah.

Seolah ia bukan manusia.

Seolah ia bagian dari sampah yang biasa ia bersihkan.

"Dan apa yang kau lakukan di sini?"

Suaranya tidak agresif. Lebih buruk lagi: acuh tak acuh.

Jenis ketidakpedulian yang lebih menyakitkan daripada teriakan.

Amelia terdiam. Ia merasakan jantungnya berdebar kencang di dadanya, wajahnya memerah, pipinya basah karena malu.

Ia melangkah ke arahnya.

"Kau tersesat? Karena kau tak datang ke sini dengan kain lap di tanganmu."

Ia mengatupkan bibirnya. Ia menelan ludah. ​​Amarah dan ketakutan bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih kuno. Rasa malu.

Ia ingin bicara. Ia tak bisa.

Tentu saja, berikut kutipan panjang dari Bab 1, kini berisi pikiran-pikiran Amelia yang intens dan saling bertentangan saat ia melarikan diri, merasa terbebani oleh roda emosi ketakutan, rasa malu, dan amarah:

Luciano melangkah lagi.

Ia mundur selangkah.

Dan ketika punggungnya menyentuh dinding es, untuk sesaat, ia tak tahu apakah ia akan menangis... atau berteriak di hadapan Luciano.

Tapi ia tak melakukan keduanya.

Ia hanya menundukkan pandangannya, berbalik, dan pergi tanpa meminta izin.

Tanpa menjelaskan apa pun.

Tanpa menoleh ke belakang.

Ia berlari.

Lorong-lorong membentang tanpa akhir, pintu-pintunya kabur.

Kakinya pegal, tetapi ia tak berhenti. Ia tak bisa.

Dan saat ia melarikan diri dari Luciano, dari marmer yang berkilauan dan tatapan arogan Luciano, pikirannya dipenuhi kebisingan.

"Apa yang kau lakukan, bodoh?"

"Dia melihatmu. Sekarang semua orang akan tahu."

"Seharusnya kau tak masuk ke sana. Seharusnya kau tak kehilangan kendali."

Namun, di balik rasa takut itu, sebuah pikiran yang lebih tajam membakar:

"Mengapa dia menatapku seperti itu?"

"Seolah aku tak berharga."

"Seolah aku bagian dari kotoran yang kubersihkan."

Dan kemudian, rasa malu itu berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap.

Kemarahan.

"Dia tak punya hak. Dia tak tahu apa-apa. Dia tak tahu apa yang kualami. Dia tak tahu apa yang baru saja mereka katakan padaku."

"Ayahku melarikan diri seperti pencuri!"

"Dan di sanalah dia, dengan minuman dan kemeja mahalnya... mengira dunia ini miliknya."

Matanya membara.

Dia tak akan menangis.

Tidak di depan mereka. Bukan karena mereka.

"Aku mungkin miskin. Aku mungkin mengepel lantai. Tapi aku bukan sampah."

Dan dengan pikiran terakhir itu tertahan di antara giginya, Amelia melewati pintu belakang rumah besar itu dan menghilang, hanya meninggalkan jejak air kotor... dan hati yang terluka yang sudah mulai berubah.

Luciano menyipitkan mata saat sosok pelayan itu menghilang di ujung lorong.

Ia berdiri diam sejenak, gelas masih di tangannya, tak bergerak. Cairan itu bergetar mengikuti denyut jari-jarinya.

"Apa-apaan itu?"

Ia tidak menjawabnya.

Ia tidak meminta maaf.

Ia bahkan tidak menundukkan kepala seperti yang biasa dilakukan orang lain.

Seharusnya begitu.

Luciano tidak terbiasa diabaikan.

Dan apalagi oleh seorang pelayan.

Apalagi oleh seseorang yang datang dengan sepatu basah dan rambut acak-acakan seolah-olah ia baru saja berkelahi dengan ember.

Ia menelusuri kembali langkahnya, melirik cepat ke lantai.

Bekas pel basah masih ada di sana, di atas marmer.

Jejak kaki kecil, canggung, dan tergesa-gesa.

Seolah-olah ia melarikan diri dari sesuatu... atau seseorang.

Ia mengerutkan kening.

Ia tidak mengenalnya.

Apakah ia orang baru?

Dan mengapa ia masuk melalui aula utama? Siapa yang memberinya izin?

Kemarahan menyerbunya bagai pukulan di perut, cepat dan membara.

"Pelayan kurang ajar? Apa mereka sedang bersikap angkuh sekarang?"

Ia tidak menyukai tatapan itu. Tatapannya.

Bukan rasa takut yang ia lihat ketika mereka berpapasan.

Itu campuran yang aneh. Rasa sakit. Harga diri. Malu. Dan api.

Terlalu panas untuk seorang gadis yang berjalan-jalan dengan seragam basah kuyup dengan sabun belepotan di wajahnya.

Luciano meletakkan gelasnya di rak lorong dan berjalan ke arah yang berlawanan, tetapi pikirannya terus memutar ulang gambar itu:

cara wanita itu menatapnya.

Seolah-olah ia adalah penyusup itu.

Dan ia tidak akan membiarkan itu terjadi bahkan dari rekan bisnisnya.

Apalagi dari seorang karyawan dengan tangan bernoda pemutih dan tatapan menantang.

"Aku akan mencari tahu siapa kau, 'putri pel'," gumamnya dengan gigi terkatup.

Dan ia berjanji, tanpa menyadari bahwa pelayan manja ini-yang bahkan tak berkenan memberitahunya namanya-akan menjadi, tanpa disadari, orang yang paling tak terduga di dunianya yang sempurna.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 MINGGU MENGEJAR CINTA
8.7
Rencana perjalanan bisnis Anya berubah kacau saat kendala teknis memperpanjang durasi kunjungannya menjadi tiga minggu. Situasi kian rumit ketika keponakan rekan bisnisnya melamar secara impulsif dan mengancam nyawanya setelah ditolak. Di tengah kekalutan, Anya bertemu Dastan, mantan teman sekelasnya yang datang membantu. Namun, ia mulai meragukan ketulusan Dastan. Apakah ini murni bantuan teman lama atau ada perasaan tersembunyi? Anya hanya punya waktu singkat untuk menuntaskan segalanya.
Sampul Novel Ending Scene: Wanita Terakhir di Hati Presdir
8.6
Kirei Nakamoto bersedia menikahi River King Mountbatten, jutawan yang buta dan lumpuh, demi membalas dendam atas kehancuran keluarganya. Di sisi lain, River hidup dalam trauma setelah dikhianati kekasihnya dan berencana melawan ibu serta adik tirinya yang tamak. Meski awalnya hanya sekadar kerja sama demi tujuan masing-masing, luka yang sama justru menumbuhkan benih cinta di antara mereka. Akankah Kirei menjadi sosok wanita terakhir yang mampu menyembuhkan hati River?
Sampul Novel MENANTU KONTRAK
9.2
Pasca diusir ibu tirinya, Anindya yang hidup sulit terpaksa menerima kontrak pernikahan dengan Reivan, miliarder yang menutup diri akibat masa lalu kelam. Nyonya Nadia menjodohkan mereka demi memenuhi permintaan terakhir Nenek Zylvana yang sedang sakit. Meski awalnya terpaksa, sikap manja sang nenek justru mendekatkan mereka. Namun, ego Reivan memicu konflik besar hingga Anindya harus mempertaruhkan nyawa demi cinta di tengah rahasia yang mulai terkuak.
Sampul Novel Mengungkap Hati: Istriku Seorang Miliarder?!
9.7
Melanie menikahi Ashton demi balas budi, namun ia justru terjebak dalam penderitaan. Puncaknya, Ashton dengan tega mencoba mengambil darah Melanie tanpa peduli rasa sakitnya. Sadar akan perlakuan dingin sang suami, Melanie memilih bercerai demi harga dirinya. Saat proses perpisahan, identitas asli Melanie sebagai miliarder terungkap dan memicu kegemparan. Di tengah badai tersebut, ia menyadari bahwa Derek, paman suaminya, selama ini diam-diam melindunginya.
Sampul Novel P. S. I LOVE YOU
8.5
Cyra Alesha, mahasiswi cantik berusia dua puluh tahun, harus berjuang di kota besar dengan bekerja paruh waktu. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat ia terjebak kesalahpahaman dengan Felix Domil. CEO muda yang kejam itu tega menginjak harga diri Cyra dan menyeretnya ke dalam penderitaan. Meski disiksa oleh kekejaman sang pewaris tunggal, Cyra justru terjebak dalam pesonanya. Mampukah ia bertahan atau justru memilih berontak demi membebaskan diri?
Sampul Novel Rahasia Hati Sang Pewaris
8.0
Siti, gadis desa yang gigih, tak sengaja bertemu Reza, putra mahkota bisnis perhotelan yang menutupi jati dirinya. Perbedaan kasta memicu ketegangan hebat di antara mereka, namun takdir justru menyeret keduanya ke dalam pusaran misteri kelam yang berbahaya. Di tengah kepungan dusta dan ancaman nyata, mampukah perasaan tulus mereka bertahan? Inilah kisah perjuangan cinta melawan rahasia besar di balik kemegahan harta dan kasta sosial yang memisahkan.