
Pelit Bin Medit
Bab 3
Ngomong-ngomong soal pelakor, ada kejadian lucu yang nggak bisa aku lupakan sampai sekarang.
Ceritanya, dulu ada janda muda, yang ngontrak rumah depan rumah Mas Pram. Bukan depannya persis tapi agak samping, karena depan rumah Mas Pram ini masih berupa kebun.
Nah, si Janda ini nggak tahu, kalau Mas Pram sudah menikah. Karena waktu itu aku masih dinas di Blora. Menurut cerita Mbak Hana, tetangga sekaligus temanku ngajar di SMP. Janda ini naksir sama Mas Pram, mungkin dia pikir enak kali punya suami kaya.
Si Janda ini hampa setiap hari ngirim makanan ke rumah. Entah itu lauk pauk, atu sekedar makanan ringan, seperti kue, atau kolak buatan Mbak Janda.
Namanya orang pelit tur ngirit, di kasih makanan ya mau-mau saja. Lumayan menghemat pengeluaran, begitu kan yang ada pikiran Mas Pram.
Si Janda ini sudah GR, dia pikir Mas Pram juga punya rasa sama dia. Karena tiap dikirim makanan, Mas Pram selalu tersenyum semringah, bilang terima kasih berkali-kali.
Mereka berdua bahkan pernah kepergok makan bakso di warung pojok pasar Ratu. Jangan tanya siapa yang bayar, sudah pasti si Janda. Mas Pram ngga bakalan mau jajan apalagi nraktir orang, bisa hilang label pelit di jidatnya.
Hubungan yang mengunjungi Mas Pram ini berjalan beberapa bulan, hingga kemudian aku kembali di tugaskan di Jepara. Suatu sore, Mbak Janda yang sudah tampil cantik dan seksi, bertandang ke rumah.
"Mas Pramnya ada, Mbak?" tanya Mbak Janda yang akhirnya kutahu bernama Julaichah, tapi minta dipanggil Juli.
"Belum pulang dari tambak, Mbak," jawabku kala itu.
"Oh, belum pulang ya? Kirain sudah, wong pintu rumahnya terbuka," ucap Mbak Juli, dengan nada kemayu.
"Maaf, Mbak ini ada perlu apa nyari Mas Pram," tanyaku sopan.
"Bukan urusanmu, memang kamu siapa nanya-nanya, kepo!" ucap Mbak Juli ngegas. Padahal aku ngomongnya pelan, dengan nad sopan lho. Kok dia jawabnya judes gitu.
"Saya Hesti, Mbak. Istri Mas Pramono, kalau Mbak ada perlu, bicara sama saya saja, nanti saya sampaikan sama Mas Pram," ucapku masih dengan nada sopan.
Meskipun aku sudah tahu tentang sepak terjang janda yang sering ngecengin suamiku ini, aku tetap berusaha netral. Maksudku aku tidak mau langsung marah, atau melabrak.
"Apa kamu bilang! Kamu istrinya Pramono? Kamu ngaca dong! Masa istrinya Pramono kayak pembantu gini? Cantikan juga aku, glowing dan seksi!" ucapnya dengan nada tinggi, hingga berhasil memancing tetangga kanan kiri untuk mendekat.
"Iya memang bener saya istri nya, nggak percaya? Tanya saja orang sekampung, siapa saya sebenarnya," tantangku kala itu.
"Masak sih? Kok Pramono mau-maunya punya istri dibawah standar gini," hinanya. Mata Mbak Juli memindaiku dari atas kebawa, seolah memastikan apa aku cukup layak menjadi istri Pramono yang kaya raya menurut dia.
"Saya memang jelek, Mbak. Tapi saya istri sahnya," balasku kalem, karena aku tahu Mbak Juli ini hanya korban, dia dimanfaatkan Mas Pram untuk mendapat makanan gratisan.
"Eh, kamu kalau menghalu jangan ketinggian ya? Kamu tuh jadi pembantu yang bener, nggak usah mennghayal jadi istri majikan! Mentang-mentang Pramono kaya, dan belum menikah," ucap Mbak Janda dengan suara lantang.
Hinggap mengundang mertuaku, dan beberapa tetangga mendekat.
"Ini ada apa to? Kok ribut-ribut?" tanya mertuaku.
"Ini lho Bu, Mbak Juli ini nyari Mas Pram. Saya bilang Mas Pram nggak ada, belum pulang. Kalau ada perlu ngomong sama saya aja, biar nanti saya sampaikan. Karena saya ini istrinya. Eh dia nggak percaya, malah ngatain saya jelek, nggak pantes jadi istrinya Mas Pram. Lebih pantes jadi pembantu," jelasku pada mertuaku, sementara Mbak Juli melengos membuang muka.
"Mbak Juli, Hesti ini memang istrinya Pramono," ucap Ibu mertua.
"Kalau Pramono sudah punya istri, kenapa sampeyan nggak cerita!" bentak Mbak Juli.
"Lha situ nggak nanya," jawab mertuaku tanpa merasa bersalah.
"Tanpa saya tanya, harusnya dari awal sampeyan menjelaskan, bahwa Pramono sudah punya istri. Biar saya nggak berharap banyak, nggak perlu kirim-kirim makanan setiap hari!" ujar Mbak Juli sengit.
"Lha situ ngirim makanan sendiri, Pramono nggak minta! Namanya rejeki nggak boleh ditolak!" balas Ibu mertua tak kalah sengit.
"Jadi selama ini kalian hanya memanfatkan saya, biar dapat makanan gratisan? Rugi dong saya! Dasar keluarga matre!" maki Mbak Juli.
"Eh ... Enaknya aja ngatain keluarga saya matre! Situ yang gatel, ngejar laki-laki sampai segitunya, pakai acara ngasih makanan segala! Makanan nggak enak juga, mau melet anak saya, ya? Untung peletnya nggak mempan, anak saya kan rajin ibadah!" ucap nertuaku tak mau kalah sama Mbak Juli.
"Alah, sok-sok an mencela, tapi dimakan juga! Dasar nggragas!"
Pertikaian Mbak Juli dan Ibu mertua semakin sengit, mereka saling balas cacian. Aku dan para tetangga menjadi penonton setia. Nggak ada yang berniat melerai, seolah mendapat hiburan gratis.
Berkali-kali aku meminta Ibu untuk diam saja tidak membalas ucapan Mbak Juli, tapi Ibu tetap meladeni Mbak Juli.
Hingga orang yang diributkan datang.
"Bu, Bu! Ini ada apa to? Kok malah ribut sama Mbak Juli?" Mas Pram yang baru datang, buru-buru memarkirkan motornya, lalu menghampiri ibunya.
"Ini dia biang keroknya! Sudah punya istri, tapi masih memberi harapan pada perempuan lain! Maksudmu apa coba?" Kali ini Mbak Juli memaki Mas Pram.
"Memberi harapan apa to, Jul? Aku kan nggak pernah janji apa-apa sama kamu?" ucap Mas Pram sok innocent.
"Kamu memang nggak pernah janji, tapi sikapmu itu membuatku berharap lebih! Kalau kamu sudah punya istri, harusnya kamu menolak pemberianku, menolak ajakanku!" balas Mbak Juli.
"Lha namanya rejeki, masak ditolak?" ucap Mas Pram enteng.
Mata Mbak Juli melotot, wajahnya merah padam. Sepertinya dia benar-benar marah pada Mas Pram.
"Heh Pramono! Kamu itu guoblok apa gendeng? Memangnya kamu nggak bisa menangkap sinyal dari saya! Lain kali buang saja mukamu yang nggak punya malu itu! Bisa-bisanya memanfatkan perempuan untuk makan gratis!" Mbak Juli melempar wajah Mas Pram dengan tisu yang sudah lecek.
Puas memaki Mas Pram dan ibunya, Mbak Juli pulang ke kontraknya. Tak lama terdengar pintu dibanting keras, oleh janda semlohe itu.
"Yang dikatakan Mbak Juli itu bener, Mas?" tanyaku saat kami sudah berada di dalam rumah.
"Iya Dek, bener," ucap Mas Pram bener.
"Kamu yo kebangetan kok, Mas. Masak nggak tahu kalau Mbak Juli itu menaruh hati sama kamu?"
"Kan bukan aku yang minta, Dek. Dia sendiri yang ngasih," sanggah Mas Pram, tetap merasa tidak bersalah.
"Tapi kan kasihan Mbak Juli, Mas. DiPHP-in sama kamu?"
"Ya salah dia, kenapa jadi perempuan agresif."
Mas Pram selain pelit, merasa paling benar sendiri. Sudah jelas kalau kelakuan dia membuat Mbak Juli salah mengerti, kenapa tidak langsung dijelaskan dari awal?
Setelah kejadian itu, Mbak Juli memutuskan untuk pindah. Dia sudah terlanjur malu, setiap hari jadi gunjingan tetangga.
Sementara hubunganku sama Mas Pram baik-bain saja sampai sekarang, aku tetap memaafkannya, toh hubungannya dengan Mbak Juli tidak sampai ke ranjang.
Kalau kayak gini, pelakor manapun bakal mikir seribu kali buat deketin Mas Pram.
Bersambung ....
Anda Mungkin Juga Suka





