Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Pelit Bin Medit

Pelit Bin Medit

Hesti terjebak dalam pernikahan menyiksa bersama Pramono, suami yang luar biasa kikir. Jangankan nafkah layak, urusan belanja dapur pun dikendalikan penuh oleh sang suami. Hesti bahkan tidak memiliki uang pegangan karena seluruh gajinya dikuasai Pramono secara sepihak. Tanpa biaya perawatan diri atau kebebasan finansial, ia hidup dalam tekanan. Akankah Hesti bertahan menghadapi sifat pelit Pramono yang keterlaluan? Simak perjuangan hidupnya dalam kisah ini.
Bab
Bagikan

Bab 1

"Mana uangnya Dek?" tanya Mas Pram suamiku, seraya menadahkan tanganya kepadaku.

Aku yang baru pulang langsung disambut Mas Pram, dengan menanyakan gajiku. Ini sudah menjadi rutinitas dia setiap bulan, meminta gajiku, kemudian menyimpannya. Meski berat hati kukeluarkan juga amplop coklat yang berisi gaji dari tasku.

"Ini Mas," ucapku, menyodorkan amplop pada Pria empat puluh empat tahun itu.

Suamiku mengambil amplop dari tanganku, mbukanya, kemudian menghitung kembali uangnya.

"Yang dua ratus kemana?" tanya suamiku dengan tatapan penuh selidik.

"Hhh ...." Aku menghela nafas, membuang sesak yang tiba-tiba menyergap.

Sudah kuduga, dia akan menanyakan uang yang sudah aku gunakan itu. Padahal aku ingin sedikit menikmati gajiku, sekedar beli gamis murah, yang penting bisa buat gonta ganti, tapi Mas Pram seolah tak rela. Padahal itu hasil keringatku sendiri.

"Tadi ada temen bawa gamis Mas, Murah-murah, bagus-bagus. Temanku banyak yang beli, jadi aku ikutan beli satu. Kan gamisku sudah banyak yang lusuh, sekalian nglarisin dagangan temen. Dia itu masih honorer, dia jualan baju buat tambah-tambah. Dengan membeli dagangannya, aku sudah membantu meringankan sedikit bebannya, itung-itung menolong lah, Mas" jelasku kemudian

"Ini yang aku nggak suka dari kamu, boros. Suka belanja barang yang tidak perlu," sergahnya.

"Nggak perlu gimana? Orang gamisku sudah lusuh semua! Aku cuma beli satu, itu pun yang paling murah. Aku malu, tiap pergi kondangan pakai gamis yang itu-itu saja," gusarku.

"Kan bisa di akal. kamu pergi sehabis ngajar, pas masih pakai seragam," ucap suamiku datar.

"Kalau acaranya malam, masa iya pakai seragam sih, Mas!" ketusku.

"Kamu itu ya, dibilangin suami ngeyel terus! Kamu tahu dosa nggak!" Suara Mas Pram mulai naik satu oktaf.

"Habisnya aku sebel sama kamu, Mas. Beli gamis murah aja dipermasalahkan, bagaimana kalau aku kayak orang-orang? Tiap habis gajian, ke mall borong macam-macam, Kamu bisa marah tujuh hari tujuh malam!" ucapku sengit.

"Hhh ...., sudah lah Dek. Kamu jangan ikutan-ikutan orang! Mereka penampilannya saja yang wah, tapi nggak punya apa-apa. Lebih baik terlihat sederhana, tapi aslinya kaya," ucap Mas Pram dengan suara pelan.

Meskipun pelit, Mas Pram bukan tipe laki-laki yang suka kasar sama istri. Kalau aku mulai emosi, dia melunak. Hingga pertengkaran bisa dihindari.

"Kaya tapi kayak gembel, buat apa?" gerutuku pelan. Entah Mas Pram dengar atau tidak, aku tidak peduli

Begitulah aku, bekerja tapi tak punya kuasa atas gajiku sendiri, semua dikuasai suamiku. Sebenarnya suamiku termasuk orang kaya di kampung ini, tapi entah mengapa dia sangat perhitungan dengan pengeluarannya termasuk untuk dirinya sendiri.

Jangan cari skin care di meja riasku, tidak akan ketemu. Yang ada hanya bedak viv* kemasan plastik dan lipstik dengan merk yang sama, kalau membersihkan muka, aku cukup pakai sabun mandi.

Aku terlahir dengan wajah yang tidak bisa dibilang cantik, tubuhku kurus dan tulang punggungku sedikit bungkuk. Efek waktu kecil aku sering sakit-sakitan, aku terlihat lebih tua dari umurku.

Sejak remaja, hingga menginjak kepala tiga. Aku belum pernah dekat dengan laki-laki mana pun. Bukannya aku tidak suka laki-laki, aku juga pengen merasakan jatuh cinta dan dicintai. Tapi sayang aku kurang beruntung, wajahku tak menarik, hingga tak ada lawan jenis yang melirik.

Hingga akhirnya, orang tuaku menjodohkanku dengan seorang pengusaha tambak. Namanya Pramono, empat puluh tiga tahun, perjaka, sudah punya rumah sendiri, sudah pernah naik haji, orangnya baik tidak neko-neko, begitulah penuturan ibuku menggambarkan sosok Pramono.

Aku yang perawan tua dan buruk rupa tentu sangat bahagia, akhirnya dipertemukan dengan jodohku. Cinta bisa tumbuh seiring perjalanan waktu, begitu prinsipku. Setidaknya aku tidak dilangkahi adiku. Karena menurut mitos, kalau perempuan dilangkahi, apalagi adiknya laki-laki, maka akan seret jodoh, dan kemungkinan tidak menikah seumur hidup.

Pernikahanku digelar dengan acara yang mewah dan meriah, karena aku anak pertama dan perempuan satu-satunya, di keluargaku. Mewah atau sederhana bagiku tidak masalah yang penting sah.

Kupikir menikah dengan lelaki mapan dan matang hidupku akan bahagia, ternyata jauh panggang dari api, aku merasa tertekan dengan sifat irit suamiku.

Bukan hanya soal keuangan yang diatur, bahkan urusan belanja, dia turun tangan sendiri. Semua kebutuhan rumah, termasuk kebutuhan dapur, hingga sayur mayur, dia beli sendiri. Aku hanya bertugas mengolahnya.

Perhitungan sekali suamiku itu, setiap rupiah yang dikeluarkan sangat berarti. Rasanya aku tak percaya, menikah dengan laki-laki model seperti dia.

Meski rumah yang kami tempati relatif besar, semua pekerjaan aku kerjakan sendiri, padahal aku harus pergi mengajar jam tujuh pagi. Sehingga aku sering keteteran tapi Mas Pram tak mau perduli, karena dia pergi ketambak pagi-pagi sekali.

"Mas, kayaknya aku butuh ART untuk membantuku. Aku lelah, lagian perut ini makin besar aku jadi kerepotan" Kataku pada Mas Pramono.

"Kok pembantu sih Dek ...? Bayarannya mahal! Kalau masih mampu mending dikerjakan sendiri," jawabnya menolak permintaanku.

Sebenarnya aku tahu, jawabannya akan seperti ini. Tapi aku benar-benar kuwalahan, aku berharap Mas Pram punya sedikit rasa iba, pada istrinya yang sedang hamil besar ini.

"Tapi aku benar-benar butuh Mas ..., rumah ini terlalu besar untuk ku-urus sendiri. Kan aku tahu sendiri, jam tujuh pagi aku sudah harus ngajar pagi-pagi. Apalagi nanti kalau sudah lahiran, ada bayi yang harus di urus, pasti tambah repot.

Kalau dipaksa mengerjakan semuanya sendiri, aku bisa sakit Mas. Biaya rumah sakit mahal, nanti kamu malah nggak bisa kerja. Pekerjaanmu jadi terbengkalai, rugi kan?" Bicara dengan Mas Pram harus menjelaskan untung dan ruginya. Kalau tidak

"Yo wes lah, kupikir dulu, kalau upahnya tidak terlalu mahal bolehlah," akhirnya kata itu terucap dari bibir Mas Pram.

Aku tersenyum senang, semoga Mas Pram segera menemukan pembantu yang mau bekerja di rumah ini.

* * * * *

Sudah sebulan sejak percakapan kami waktu itu, tapi Mas Pram belum juga menemukan ART untukku. Mungkin mereka nggak mau punya majikan pelit seperti suamiku itu. Maklum kepelitan Mas Pram sudah terkenal di mana-mana.

"Mas, kok belum dapat ART sih ... ? Aku sudah kepayahan bawa badan ini, " ucapku kala itu, saat kami sedang berdua di kamar.

"Yang sabar to Dek ... Nyari pembantu jaman sekarang itu susah, mereka maunya kerja ringan, tapi gaji minta ditinggikan," ucapnya dengan nada kesal.

"Memang mereka minta gaji berapa Mas?"

"Lima puluh ribu perhari, kerja dari jam delapan, pulang jam empat sore. Kayak kerja kantoran saja. Bahkan ada yang minta gaji UMR (UMR Jepara 2.200.000,-) gila nggak tuh!"

"Lima puluh ribu itu tidak mahal Mas, memang rata-rata bayarannya segitu, memang Mas tawar berapa?"

"Dua puluh lima ribu."

Aku hanya bisa mengelus dada, kalau begini caranya. Kalau begini caranya, sampai anakku bisa main bola, gak bakalan dapat pembantu.

Bersambung ....

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Menikah Dengan Seorang Miliarder Berkondisi Vegetatif?!
7.9
Valerie dijebak oleh kekasih dan adiknya hingga terjebak dalam skandal semalam dengan pria misterius. Fitnah perselingkuhan membuatnya dibuang, lalu dipaksa ayah kandungnya menikahi miliarder yang sedang koma demi kepentingan keluarga. Valerie bangkit melawan ketidakadilan dan memutus semua ikatan masa lalunya. Saat sang suami akhirnya sadar dan mengejarnya untuk meminta pertanggungjawaban, Valerie memilih untuk pergi demi memulai hidup yang baru tanpa beban.
Sampul Novel FINDING MOM
9.1
Demi menemukan ibu kandungnya, seorang gadis nekat merantau ke luar negeri sebagai buruh migran. Di sana, ia bertemu beberapa pria yang jatuh hati padanya, namun tak disangka salah satu dari mereka adalah kekasih sang ibu. Sementara itu, ibunya telah lama melupakan keluarga demi hidup bebas. Takdir mempertemukan mereka tepat saat sang gadis dilamar oleh pria masa lalu ibunya. Konflik batin pun memuncak dalam pencarian jati diri dan cinta ini.
Sampul Novel Gadis yang Ternoda
7.9
Akibat insiden satu malam yang berujung pada kehamilan Leanna, Dean terpaksa membatalkan rencana pernikahannya dengan Trisha. Meski kini terikat dalam ikatan rumah tangga, api kebencian masih berkobar di hati Dean karena ia menganggap Leanna sebagai penghancur kebahagiaannya. Di tengah dinginnya sikap sang suami, mampukah Leanna meluluhkan kekerasan hati Dean? Perjuangan Leanna mencari cinta dalam pernikahan yang diawali dendam ini pun dimulai.
Sampul Novel Istri Kelima Sang Presdir
8.3
Menjadi istri Presdir kaya mungkin impian banyak orang, namun bagi Cassandra, hal itu adalah jebakan maut. Lewat siasat licik Bardolf Konstantino, ia terikat kontrak sebagai istri kelima. Hidupnya penuh penghinaan dan ia dipaksa melahirkan anak demi bertahan hidup. Demi melindungi masa depan sang adik dari ancaman keluarga Konstantino, Cassandra harus bertahan. Kini ia bertekad memenangkan hati suaminya yang dingin, meski pria itu tampak tak punya perasaan.
Sampul Novel Kumpulan Cerita Dewasa Untuk 21+++
9.3
Antologi ini menyajikan deretan kisah romansa modern yang dikhususkan bagi pembaca dewasa. Setiap cerita di dalamnya dirancang dengan narasi yang berani dan eksplisit, sehingga sangat tidak disarankan bagi pembaca di bawah umur. Fokus utama karya ini adalah mengeksplorasi hubungan intim serta momen-momen penuh gairah yang intens. Pastikan Anda telah cukup umur sebelum menyelami kumpulan narasi sensual yang ditujukan khusus untuk audiens berusia 21 tahun ke atas ini.
Sampul Novel Pelayan Ranjang Maduku
9.6
Kalila adalah wanita karier sukses yang selama dua tahun rela menyokong gaya hidup mewah keluarga Arkan, suaminya. Meski sering diperingatkan sahabatnya bahwa ia hanya dimanfaatkan, Kalila tetap bertahan atas nama cinta. Namun, kesabarannya habis saat pengorbanannya tak lagi dihargai. Ia pun memilih bersikap dingin dan memutus semua dukungan finansial bagi mertua serta adik iparnya. Kini, Kalila bertekad berhenti menjadi tumpuan bagi mereka yang tidak tahu berterima kasih.