
Pelayan Dinikahi Tuan Muda
Bab 3
“Ap- apa?” Mata gadis itu membola.
Menikah dengan Leon? Tidak mungkin! Attaya juga punya impian dan lelaki yang Attaya cintai. Jika menikah dengannya bagaimana hubungan mereka? Attaya sudah berjanji padanya untuk menunggu sampai dia menyelesaikan studinya di luar negeri.
Yah, yang Attaya pikirkan sekarang bukan hanya nasib Bapaknya di atas pesakitan, tapi juga sakit hati pria yang dia cintai. Pria yang berjanji akan menikahinya dan dia berjanji akan menunggu. Tapi melihat kondisi Bapak, mana Attaua tega mementingkan kebahagiaannya sendiri di atas hidup sang Bapak.
‘Aku harus bagaimana, Mas? Kenapa kamu tak bisa dihubungi dan tak memberi kabar?’
“Attaya.” Suara berat dan pelan Tuan Leon terdengar. Membuyarkan pikiran Attaya yang terbang pada kekasih rahasianya. Lagi dan lagi.
Attaya sudah sangat merindukan pria itu. Namun, kabarnya seperti ditelan bumi.
“Kamu perlu waktu untuk mempertimbangkannya?” tanya pria bertubuh tinggi tegap itu. Ia seperti tak ingin membuang waktu.
Padahal, Attaya yang terdesak di sini, dan tak ingin kehilangan waktu untuk kesembuhan Bapak. Attaya tak mau kehilangan beliau jika tidak segera dioperasi.
“Tidak!” Attaya menggeleng cepat.
Untuk sesaat rasa bersalah pada kekasihnya hadir, akan tetapi memikirkannya yang tak memberi Attaya kabar sejak lama, membuatnya sadar, bahwa Bapak adalah prioritas.
'Ah, bukankah lebih baik begini. Jika hubungan kami baik-baik saja, aku akan menjadi egois dan memikirkan kebahagiaanku sendiri untuk memilihnya, bukannya Bapak yang selama ini merawat dan membesarkanku.'
Saat menoleh, Attaya melihat wajah tampan Tuan Leon. Pria itu tersenyum tipis. Hanya saja Attaya bisa melihat senyum kesombongan karena keinginan dan tawarannya diterima.
'Ya Tuhan, ia memiliki ekspresi mencurigakan, Apa iya aku harus berjodoh dengan pria sepertinya. Pria dingin yang tak kutahu sama sekali pribadinya seperti apa selain seseorang yang ulet bekerja dan suka menghukum pegawainya.'
'Ish, kalau ingat bagaimana dia menghukumku karena mengajak pelayan lain beribadah, rasanya kesal sekali. Apalagi niatku adalah kebaikan. Jika nanti menikah dengannya, apa aku bisa membalasnya?'
Attaya terus bicara dalam hati mempertimbangkan.
"Ya, Tuan. Maksudku aku tak punya pilihan."
“Bagus, aku akan menyiapkan kontraknya.” Tuan Leon bangkit dari duduknya.
“Tunggu.” Attaya pun bangkit. Ingin memperjelas semua. Apa yang diinginkan pria itu dengan pernikahan mereka. Attaya yakin semua tak akan selesai begitu saja setelah akad nikah terjadi.
Attaya juga tahu bahwa Tuan Leon sangat sibuk, tapi ini penting. Karena ini menyangkut masa depannya dan semua yang telah dilalui selama sisa hidupnya nanti saat menjadi istri Leon. Maka setidaknya dia harus menyisihkan waktunya sebentar.
“Ya?” Pria itu menghadap Attaya kembali, hingga mereka bisa saling memandang satu dengan yang lain.
“Apa yang akan Tuan lakukan jika keluarga Tuan tidak setuju dengan pernikahan kita? Lihatlah! Saya hanya seorang anak tukang kebun yang miskin. Saya tahu, mereka pasti menentang ....” Ucapan Attaya menggantung.
Kata-kata itu sungguh dejavu buat Attaya. Kata-kata yang dulu pernah diucapkan di depan kekasihnya, sejak tahu dia berasal dari keluarga kaya raya. Ya, Attaya tahu sejak ia berpamitan akan sekolah di luar negeri. Mana ada orang miskin yang sekolah di luar negeri dan memboyong seluruh keluarganya tinggal di sana?
Kekasihnya dulu meyakinkan Attaya, bahwa dia mencintainya dan akan memperjuangkannya di depan keluarga besarnya. Sampai akhirnya waktu membuat Attaya kehilangan kepercayaan diri.
Jarak membuat hubungan mereka tak sehangat dulu. Kekasihnya pasti berpikir ribuan kali menikah dengannya, karena keluarganya tak setuju. Dan sekarang dia pasti sedang berusaha menjauhi Attaya juga, itu kenapa dia tak pernah lagi menghubungi dan tak bisa dihubungi.
“Heh.” Tuan Leon menaikkan satu sudut bibirnya lagi. Tersenyum miring menanggapi ocehan Attaya. Yah, jelas sekali ekspresi meremehkan di wajahnya.
Mata Attaya menyipit. Sudah ia duga, selain dingin Tuan Leon juga lelaki yang arogan.
“Kamu pintar juga. Tak salah aku memilihmu.” Pria itu bicara memuji tapi juga merendahkan Attaya di waktu yang sama.
Tuan Leon mengembus napas panjang, sebelum akhirnya mengeluarkan pernyataan yang membuat Attaya membelalakkan mata.
“Kamu hanya cukup menikah denganku dan menyembunyikannya dari semua orang, terutama keluargaku.”
“Ap-apa?” tanya Attaya terkejut.
“Kenapa? Kamu pikir, setelah menikah denganku kamu akan menjadi ratu di keluarga Bimantara? Itu yang kamu inginkan? Ah, bahkan semua gadis menginginkan hal itu,” ucapnya pongah.
Attaya hanya meremas rok panjang yang dikenakan. Menahan dan melampiaskan rasa kesal mendengar ucapannya yang merendahkannya sebagai kaum perempuan.
“Dasar laki-laki tak tahu diri! Terlalu percaya diri. Kalau bukan karena Bapak aku akan balik memakimu!” Ingin sekali Attaya katakan itu.
Namun, lagi-lagi demi Bapak ... Attaya harus menahan diri dan bersabar. Yah, menahan diri untuk egois berlari pada kekasihnya dan meredam amarahnya dalam-dalam pada Tuan Leo. Sekali lagi, Attaya tak punya pilihan.
Next
Anda Mungkin Juga Suka





