
Pelabuhan cinta Daffin
Bab 2
"Jadi, seharusnya Daffin bagaimana Pa? supaya Papa memaafkan Daffin."
"Menikah lah dengan Zalfa!" ucap tuan Aziz. Hal ini membuat Daffin maupun Zalfa terkejut tak kepalang. Sebab, mereka berdua saling tidak mengenal satu sama lain.
Belum habis keterkejutan mereka, datang Mbok inah, membawa seseorang di tengah mereka.
"Maaf Tuan, ini ada yang nyariin Tuan," Mbok Inah berdiri di depan Tuan Aziz dengan membawakan seseorang.
"Oh iya, silahkan duduk!" ucap Tuan Aziz mempersilahkan orang itu yang tidak lain adalah seorang seorang wedding organizer.
Setelah sang wedding organizer, duduk disana. Tuan Aziz mulai bicara.
"Saya mau kamu atur semua persiapan pernikahan, besok siang saya ingin semua sudah selesai!"
"Baik, Pak. Siang besok pasti semua sudah saya siapkan semua nya. Baiklah, kalau begitu saya permisi pulang dulu."
Usai itu Tuan Aziz melihat kepada Zalfa dan berucap,"Zalfa, telpon Ayah dan semua keluargamu! biar malam ini di urus keberangkatan mereka,"
"Tapi Pak, saya tidak ingin menikah," tandas Zalfa pada akhirnya. Suara yang tercekat sedari tadi pun akhirnya keluar juga.
"Sama saya juga tidak mau menikah, apalagi dengan dia," Daffin menimpali ucapan Zalfa.
"Zalfa, saya dan istri saya secara pribadi sangat berharap kamu mau menerima lamaran ini, untuk menjadikanmu sebagai istri Daffin. Meskipun terlalu mendadak, tapi saya yakin kamu calon yang terbaik buat Daffin,"ucap tuan Aziz penuh harap.
"Iya nak, dan lagi pula semua Persiapan nya sudah disiapkan. Insyaallah besok siang semua sudah selesai. Apakah kamu akan menolak niat baik kami ini?" tutur Saidah menimpali ucapan suami nya sambil mengelus punggung Zalfa dengan lembut.
Dengan berat hati dan terpaksa Zalfa menjawab keinginan dari orang yang sudah sangat baik kepada nya itu, "Baiklah," ucap Zalfa pada akhirnya.
Apalagi yang bisa dia jawab selain dari kata baiklah. Selain itu Zalfa merasa, seperti sedang menuruti permintaan orang tua kandung nya sendiri.
'Ya Allah jadi rindu emak dan ayah di kampung' batin Zalfa.
"Alhamdulillah," ucap tuan Aziz begitu pun Saidah. Mereka sangat bahagia, akhir nya Daffin menikah juga dengan menantu pilihan mereka.
Daffin yang merasa terpojokkan, langsung berdiri dan beranjak dari sana.
"Mau kemana kamu Fin?" tegur Saidah.
"Mau kerumah teman Ma," jawab Daffin singkat dan berlalu dari sana. Namun langkah nya berhenti, ketika tiba di depan pintu.
"Apaan sih pak?!" bentak Daffin murka. Terlebih rasa kesal nya yang tadi belum lagi reda.
"Ini perintah Tuan den, kalau Aden mulai hari ini, dilarang bepergian sampai pernikahan selesai," jelas Pak Sukri.
"Arrrghhh" pekik Daffin kesal dan kakinya menendang kosong di udara. Dengan geram ia mengepalkan tangannya masuk kedalam rumah lagi menuju kamar. Namun di tengah jalan ia berselisih dengan Zalfa.
Dengan penuh kebencian Daffin menatap dan membentak nya.
"Bagus kamu, ya! entah dari mana asal nya, tiba-tiba mau jadi istriku. Kamu kira aku akan suka dengan kamu?! asal kamu tau, aku sudah memiliki seorang kekasih. Jadi meskipun kamu nantinya sah jadi istriku, jangan pernah mimpi untuk bisa mendapatkan aku," ancam Daffin tanpa kontrol. Mata nya menyala merah seakan-akan terbakar saat ini juga.
Mendengar perkataan Daffin yang sangat menyakitkan itu, seolah seperti Zalfa saja, yang sangat menginginkan pernikahan ini. Tentu saja Zalfa tidak rela dituduh begitu. Tentu saja ia akan membalas nya. Jangan dikira, Zalfa perempuan lemah. Tidak ya, huh.
"Kamu pikir, aku sangat ingin menikahimu?! kalau ngomong itu, ucapan nya di saring dulu! Jangan asal main keluarkan aja! aku akui, tidak pernah memiliki kekasih, tapi orang seperti dirimu ini, dalam mimpi pun aku tidak pernah berharap untuk dijadikan teman hidup," balas Zalfa tidak kalah sengitnya dan berlalu dari sana.
Daffin, menatap punggung Zalfa, yang sudah hampir menghilang dari pandangan nya. Namun tidak dengan emosi nya. Tetap saja ia masih mengumpat kesal pada gadis itu.
"Sial! enak saja dia membalas aku hah, memangnya dia siapa?" geram Daffin berjalan masuk kedalam kamar. Bokong nya ia hempaskan di atas sofa seraya meraih ponsel dari kantong celana. Jemarinya menari mencari nama sang pujaan hati dan menekan tombol biru yang ada disana.
"Hallo sayang, ada apa?" Sapa suara dari seberang sana dengan lembut dan manja.
"Aku mau bicara serius dengan kamu," balas Daffin.
"Tumben serius? Dimana kita ketemuan nya?"
"Aku ga bisa keluar, aku bicara lewat telepon aja."
"Why??"
"Besok siang aku mau menikah."
"Sayaaang, kenapa buru-buru sih, besok kan bisa kita bicarakan."
"Aku serius Alisa."
"Iya aku tau, kan aku pernah bilang ke kamu kalau aku juga serius sama kamu, tapi kamu sendiri tau kan? kalau profesi aku tuh model, jadi aku belum siap untuk berhijab."
"Aku akan menikah besok siang, tapi bukan sama kamu, namun dengan orang lain," jelas Daffin kepada Alisa.
"Maksud kamu? Kamu bercanda kan Fin? Kamu lagi mabuk ya? atau lagi prank aku," terka Alisa asal.
"Aku serius Alisa." terdengar lirih namun sangat serius dan menyakinkan, membuat Alisa shock.
"Tidak!, pasti kamu bohong, kamu itu kan cinta sama aku, kamu tidak mungkin akan menikah dengan orang lain, iya kan Fin?"
"Tapi itu sekarang Kenyataan nya. Aku dipaksa papa sama mama menikah dengan orang yang tidak aku kenal sama sekali."
"Jadi ini seriusan?"
"Kan dari tadi aku sudah bilang ini semua serius dan bukan candaan."
"Tapi kamu tidak bisa lakuin itu sama aku Fin, kamu ga boleh menikah dengan orang lain." terdengar suara Alisa yang mulai parau.
"Maaf Alisa, aku tidak bisa menolak perintah Papa, kamu tau sendiri gimana keras nya Papaku," ucap Daffin lalu mematikan ponsel nya.
Tut tut tut
Sambungan telepon terputus namun Alisa, masih tidak percaya dan mencoba menghubungi Daffin kembali, namun nomor yang dihubungi sudah di luar jangkauan.
******
Rembulan, telah berganti dengan mentari pagi. Setiap sudut ruangan tertata dengan rangkaian bunga yang indah. Begitu pula dengan hidangan katering yang di pesan pun, sudah tiba.
Keluarga inti Zalfa, dari kampung pun sudah tiba juga dan menempati kamar tamu. Sekarang Zalfa sudah ada di kamar yang ditempati Ayah dan Emaknya.
Dengan penuh hikmat Zalfa, mencium punggung tangan Ayahnya lalu tangan Emaknya. Lalu berpelukan melepaskan rasa rindu yang sudah sangat bertumpuk mendera di hati nya selama ini.
"Zalfa sangat rindu dengan Emak"ucap Zalfa sambil memeluk erat tubuh Emak.
"Iyolah tu, Emak pun juga rindu sangat dengan Zalfa. nak! kalau boleh emak nak tanya? macam mana boleh jadi macam ni? Coba ceritakan sama Emak!" Emak menatap Zalfa dengan pandangan yang meneduhkan.
"Ntah lah Mak, Zalfa pun tidak mengerti, nak menjelaskan dari mana? sama Emak dan Ayah, tapi mungkin ini adalah takdir Allah SWT untuk hidup Zalfa."
"Manalah boleh macam tu, nak tentu pula lah sebab nya, masalah pernikahan ni soal komitmen hidup, bukan boleh nak dijalani sehari dua hari. Kalau boleh sampai menuo sama-sama." Emak menasihat Zalfa. Tak luput pula rasa risau menghantui hatinya. Macam mana tidak, beberapa bulan anak bungsu mereka merantau, kini mereka dijemput jauh-jauh dari kampung secara tiba-tiba untuk melangsungkan pernikahan nya. Tentu lah ia bertanya apa sebenarnya yang terjadi. Keluarga mereka di kampung pun juga menjadi gempar dengan kabar pernikahan Zalfa ini.
Anda Mungkin Juga Suka





