
Paper Mind
Bab 3
Alarm HP Vianni berbunyi, alarm yang dia pasang sebagai pengingat agar dirinya bisa bangun pagi untuk mempersiapkan sarapan Niscala dan juga sebagai pengingat agar dia membaca diary-nya lebih dahulu sebelum memulai aktivitasnya. Setelah selesai membaca diary-nya, Vianni sudah siap dengan segala aktivitas dan rencananya hari ini termasuk dia yang tidak sabar untuk memasakkan sarapan buat Niscala.
“Kamu sudah bangun?” Suara itu hampir membuat Vianni memecahkan piring saking kagetnya.
Vianni memandang bingung ke lelaki itu begitu pun juga dengan lelaki itu yang tidak kalah bingungnya, “Wow tenang, kita kan sudah bertemu semalam jadi seharusnya kamu sudah terbiasa dengan keberadaanku di sini.” Vianni semakin bingung, kalau mereka sudah bertemu semalam lalu kenapa nama lelaki ini sepertinya tidak ada di buku harian Vianni?
“Niscala …” Itu adalah pertanyaan sekaligus panggilan pertolongan dari Vianni karena tidak melihat wujud Niscala di apartemen itu.
“Niscala keluar lari pagi, sebentar lagi dia pasti kembali.” Laki-laki itu menatap intens Vianni yang masih ragu dengannya.
Dia mulai sadar kalau ada yang tidak beres dengan Vianni, “Okey aku tinggal kamu dulu, lanjutin aja kegiatannya. Aku ada di ruang nonton nungguin Niscala, kalau ada apa-apa jangan segan-segan minta tolong sama aku.” Kesungguhan di mata laki-laki itu membuat Vianni sedikit lebih rileks, dia menganggukkan kepalanya.
Sekitar satu jam Niscala selesai dari aktivitas lari paginya, dia mendapati kakaknya yang tengah bersantai di ruang menonton, “Kak Conan, kau sudah memasak? Aku sudah lapar sekali.” Kakaknya menggeleng.
“Bukan aku yang memasak tapi putri pelupamu itu,” jawab Conan agak kesal.
“Ah benarkah?! Jadi Vianni sudah bangun?” Niscala ingin buru-buru mengecek Vianni.
“Eh tunggu dulu! Berikan aku penjelasan selengkap-lengkapnya tentang dia! Aku sangat bingung dengan tingkahya pagi ini, dia seperti tidak pernah melihatku padahal kita sudah berkenalan semalam.” Niscala tersenyum mendengar penuturan kakaknya.
“Jadi kau sudah merasakan keajaiban itu pagi ini? Kalau dia tidak mengingatmu berarti dia belum sempat menuliskan namamu di diary-nya atau dia sudah menulis diary terlebih dahulu lalu kau datang. Menurut dokter, Vianni mengidap Amnesia Retrogade di mana dia tidak dapat mengingat kejadian yang baru. Uniknya, dia akan melupakan kejadian itu sehari setelah semuanya berlalu. Kejadian masa lalu yang dia ingat hanya namanya, dia lupa dengan keluarganya dan hal penting lainnya. Itulah kenapa aku membawanya ke sini karena aku merasa kasihan dan merasa bertanggung jawab padanya.” Conan sangat prihatin dengan nasib Vianni, pantas saja saat pertama kali melihatnya dia sangat ketakutan seperti itu.
“Memangnya apa yang terjadi sampai kamu bisa bertemu dan bertanggung jawab sama dia?” tanya Conan lagi.
“Aku dalam perjalan pulang dari perayaan kemenangan laguku di awards dan aku akui aku sedikit mabuk. Aku benar-benar nggak sengaja nabrak Vianni dan karena itu aku merasa bertanggung jawab padanya. Walau sebenarnya dokter sudah bilang sama aku kalau amnesia yang diderita Vianni bukan karena penyebab tabrakan itu tapi tetap saja itu menimbulkan trauma yang mungkin memperburuk keadaannya,” jelas Niscala panjang lebar dibalas anggukan oleh Conan.
“Jasmine sudah sangat marah karena aku mambawa Vianni ke sini karena takut dengan karir aku yang bakalan terancam tapi aku nggak bisa ninggalin Vianni dalam keadaan seperti itu, maafkan aku.” Niscala menundukkan kepalanya, selintas Conan tahu kalau Niscala merasa sangat bersalah, dia sangat mengenali adiknya itu.
“Kenapa harus minta maaf sih, keputusan kamu untuk membawa Vianni ke sini itu sudah tepat jadi jangan merasa bersalah lagi. Masalah karirmu nanti kita pikirkan bersama bagaimana cara menjauhkan Vianni dari kerumunan fans dan media.” Conan menepuk pundak Niscala untuk memberikannya semangat.
***
Mereka makan dengan khidmat, masakan Vianni sangat enak sampai Conan memuji masakannya. Vianni akhirnya bisa tertawa lepas dengan lelaki itu walau masih sedikit bingung dengan identitasnya. Setelah selesai makan Vianni merapikan piring kotor di meja dan bersiap mencucinya, “Vianni, ada yang mau aku bicarakan sama kamu.” Vianni duduk disamping Niscala setelah mengikuti permintaannya.
“Vianni, ini adalah kakakku, Conan Apuila Ivander, panggil saja Conan. Semalam kalian sudah bertemu tapi mungkin kamu lupa menuliskannya di buku harianmu. Sebentar kau ada jadwal check up dengan doktermu tapi mungkin aku tidak menemanimu karena aku ada kegiatan syuting jadi kalau kak Conan yang menemanimu tidak masalah, kan? Aku janji bakal jemput kamu pulang nanti setelah dari syuting.” Vianni mengiyakan, menurutnya segala permintaan Niscala harus dia ikuti sebagai bukti rasa terima kasihnya ke Niscala.
“Tenang saja Vianni, aku juga adalah seorang dokter di rumah sakit yang sama dengan rumah sakit yang mau kau kunjungi hari ini. Aku bisa mengerti kalau kau sedang tidak baik-baik saja jadi kau aman bersamaku dan Niscala pasti lebih lega kalau kau pergi bersamaku.” Vianni menatap yakin lelaki dihadapannya ini, dia sangat mirip dengan Niscala walau tetap saja senyumannya tidak bisa disamakan, dia tidak punya lesung pipi seperti Niscala.
“Aku siap-siap dulu kalau begitu.” Niscala menuju kamarnya sementara Vianni kembali dengan aktivitas membersihkannya.
Sebeanrnya sedari tadi ada hal yang menganggu Conan, “Vianni, kenapa kau sangat patuh pada Niscala? Aku yakin dia tidak masalah apabila terlambat ke tempat syuting kalau tadi kamu menolak pergi bersamaku.” Lama Vianni dan Conan terdiam.
Vianni berbalik kemudian menyenderkan badannya di dinding sambil menatap Conan serius, “Dia sudah melewati banyak pro dan kontra juga pergulatan batin dengan hanya membawaku ke sini. Aku tau dia sangat mencintai pekerjaannya dan aku tidak mau karena keegoisanku membuat karirnya terancam. Dia adalah penyelamat hidupku dan aku tidak punya apa-apa untuk berterima kasih padanya selain patuh terhadap permintannya.” Conan memandang takjub gadis ini.
Conan tidak tau trauma apa yang menimpa gadis ini di masa lalu tapi sudah pasti itu menimbulkan akibat yang sangat fatal. Conan harus mengingatkan Niscala untuk tidak menghancurkan perasaan gadis ini, setidaknya itu saran Conan agar Vianni bisa sembuh. Terjadi keadaan yang hening kembali diantara Conan dan Vianni, “Aku udah siap, kalian siap-siap juga gih.” Niscala memecah keheningan yang dia rasa sangat aneh itu.
***
Vianni dan Conan sampai di depan ruangan yang diinfokan oleh Niscala, mereka berpisah di depan rumah sakit setelah Niscala mengikuti mobil kakaknya untuk memastikan Vianni pergi ke rumah sakit dengan tenang, “Ayo masuk, aku antar sampai selesai, kebetulan aku tidak sibuk hari ini.” Vianni tersenyum senang, setidaknya dia tidak sendirian menemui dokternya.
Mereka memasuki sebuah ruangan yang lumayan rapi dan Vianni melihat seorang lelaki dengan pakaian jas putih tengah sibuk membelakangi mereka, “Kau kelihatan sangat sibuk, Winola.” Vianni memandang Conan bingung, sepertinya Conan mengenal dokternya.
“Oh kak Conan, tumben sekali bermain ke depertamenku? Apa di depertemenmu sendiri tidak sibuk?” Dokter itu langsung memeluk Conan seperti sudah lama tidak bertemu.
“Aku sedang off, aku ke sini ingin mengantar pasienmu dan kebetulan juga aku rindu bercakap-cakap dengamu.” Conan menarik kursi agar Vianni bisa duduk begitu dengan dirinya.
“Aku sangat yakin kalau kau sedang berbohong kalau merindukanku. Hai Vianni, bagaimana kalian bisa bertemu? Apa kau tersesat menemukan ruanganku?” Vianni menatap dokternya senang, ternyata dokternya sangat ramah dan pandai mencairkan suasana.
“Tidak, dia datang bersamaku hari ini dan ke depannya dia mungkin lebih sering bersamaku ke sini. Walinya sangat sibuk dan kebetulan aku mengenal walinya jadi dia mempercayakan Vianni kepadaku.” Vianni mengerti kenapa Conan tidak mengatakan tentang Niscala, lagi-lagi ini demi kepentingan karir Niscala.
Dokter itu mengangguk mengerti seperti mengetahui dengan benar kalau wali Vianni adalah Niscala sang artis terkenal itu, “Okey Vianni, namaku Winola Conary Arkwight, kau bisa memanggilku Winola. Sebenarnya hari ini aku belum melakukan banyak treatment padamu, aku baru mau memulai sesi pengenalan denganmu agar nanti kau bisa nyaman melakukan sesi treatment bersamaku. Jadi apa saja kegiatanmu semenjak keluar dari rumah sakit ini dan bagaimana kau bertemu dengan orang-orang?”
“Ehm … aku hanya melakukan aktivitas normal biasa yang seingatku sering aku lakukan waktu dulu, seperti memasak dan membersihkan. Aku sebenarnya belum bertemu dengan banyak orang tapi setiap aku bertemu dengan orang baru, aku selalu berusaha menuliskannya di diary-ku yah walaupun banyak juga yang aku lupa tuliskan di sana.” Dokter itu tersenyum ke Vianni.
“Itu sudah sangat bagus, kau tidak harus menuliskan semua hal cukup tulis saja yang menurutmu sangat penting. Seperti yang aku bilang kalau hari ini pertemuan sesi pengenalan saja jadi minggu depan kau harus datang dua kali dalam seminggu dan ingat untuk menuliskan hal itu di diary-mu.” Vianni tersenyum dan ingin beranjak dari sana tapi dia mengurungkannya.
“Dokter … apakah aku akan sembuh?” Pertanyaan itu sukses mengagetkan Winola dan Conan.
“Aku ingin terus mengingat semua orang khususnya orang yang aku cintai. Setiap aku bangun tidur dan melupakan segalanya kemudian membaca buku harian itu lagi aku merasa sangat bersalah karena sudah melupakan mereka semua.” Air mata Vianni menetes.
“Kau akan sembuh Vianni, kau harus percaya padaku karena aku akan mengusahakan yang terbaik buat kamu.” Winola memnggenggam tangan Vianni untuk menenangkannya.
Setelah dirasa agak tenang, Conan memutuskan untuk Vianni mencari udara segar di luar ruangan Winola, “Vianni, kamu tunggu aku di luar dulu yah, ada yang harus aku bicarakan dengan dokter Winola.” Vianni kembali mengangguk saja.
Sepeninggal Vianni, Conan memulai pembicaraan empat matanya dengan Winola, “Ada apa sebenarnya dengan dia? Apa dia akan benar-benar sembuh?”
“Dokter yang pertama kali menangani Vianni bilang kalau dia trauma akan suatu hal sehingga dia menjadi pelupa seperti itu. Tapi saat melihat dia pertama kali terbaring di rumah sakit, aku mulai curiga dengan isi otaknya. Kalau kau masih ragu aku bisa melakukan CT Scan untuk kepala Vianni minggu depan setelah dia selesai treatment denganku.” Conan menganggukkan kepalanya setuju.
“Aku setuju dengan saranmu, hal yang terpenting sekarang adalah membuat Vianni sembuh dan mengetahui apa yang selama ini membuat dia tersiksa.”
***
Rumah sakit, 24 Februari 2019
Aku sangat senang karena hari ini banyak diisi dengan orang yang sangat baik padaku. Kak Conan, dia sangat mirip dengan Niscala, sangat baik dan ceria tapi ada sedikit perbedaan dengan Niscala. Kak Conan sangat pandai memasak dan dia adalah seorang dokter, siapapun yang nanti akan menjadi istri kak Conan pasti akan sangat bahagia. Kak Conan pasti salah satu dokter idaman di rumah sakit yang dia tempati bekerja karena dia sangat ramah, baru mengenalnya pertama kali aku langsung merasa sangat akrab dengannya. Dia sangat bertanggung jawab dan tentu saja sangat menyayangi Niscala dan anehnya aku juga merasakan seperti disayangi oleh kakakku sendiri.
Oh iya, aku juga akhirnya bertemu dengan dokter yang selama hari-hari ke depan akan membantuku menyembuhkan penyakit anehku ini, namanya dokter Winola. Aku pikir semua dokter itu cenderung tegas dan membosankan tapi ternyata sebuah pengecualian bagi dokter Winola. Dia sangat ramah, ceria dan mampu mencairkan suasana agar pasiennya tidak tegang, dia mampu menenangkan hatiku seolah-olah semuanya akan baik-baik saja kalau aku bersama dengan dia.
Sesuai dengan keinginannya agar aku terus ingat dengan perjanjian pertemuan sesi treatmentku dengannya makanya aku menuliskan janji ini kalau aku akan rajin bertemu dengannya seminggu dua kali agar aku sembuh. Aku sangat yakin kalau dokter Winola pasti bisa menyembuhkanku karena keyakinan seorang pasien pasti mempengaruhi kinerja seorang dokter bukan.
Aku ingin sembuh, aku tidak mau terbangun dan melupakan semua orang kemudian harus memulai semuanya dari awal lagi. Terlebih aku tidak mau melupakan Niscala, aku tidak mau terus-menerus merasa bersalah setiap terbangun dari tidurku kemudian melupakannya lagi dan harus mengingatnya lewat diary. Ini terdengar sangat egois tapi jika aku hanya bisa sembuh dengan mengingat satu orang saja maka aku tetap bersyukur dan memilih untuk terus mengingat Niscala.
Aku ingin ingat wajah bahagianya saat menyantap masakanku yang baru aku buatkan hari ini, dia mengatakan dia sangat menyukainya. Aku ingin mengingat kebiasaanya bangun pagi untuk berlari pagi dan menyukai aktivitasnya itu yang sebenarnya sangat terbatas karena harus bangun pagi buta agar menghindari serangan fans.
Aku ingin mengingat semua yang dia sukai dan juga mengingat semua yang tidak dia sukai. Aku ingin sembuh agar tidak merepotkannya lagi sampai membuat dia harus memilih antara mengurusku atau melakukan pekerjaannya. Maafkan aku yang akan terus membuat kau khawatir Niscala, aku mohon bersabarlah sampai aku sembuh dan aku mohon tetaplah di sampingku sampai semua ini berakhir.
***
Conan memandang Vianni yang tertidur di meja kerjanya, buku hariannya terbuka lebar dihadapannya sepertinya dia habis menuliskan sesuatu di sana. Sebenarnya dia sudah berpesan kepada Vianni untuk sementara tinggal dulu di rumah sahabat kecilnya sampai Niscala selesai bekerja kemudian menjemputnya di sana tapi Vianni menolak dengan alasan dia takut kalau Niscala mencarinya di rumah sakit karena tadi Niscala berpesan kalau dia akan menjemput Vianni di sini.
Tak lama terdengar suara orang berlari menuju ruangannya, sudah dipastikan itu Niscala yang masuk ke dengan napas ngos-ngosan, “Dia sudah lama tertidur seperti itu?” ucap Niscala yang kasihan melihat Vianni karena tertidur dalam posisi yang tidak nyaman.
“Sepertinya, aku tadi meninggalkan dia agak lama karena memeriksa pasien yang harus aku operasi besok dan baru kembali sekitar sejaman tadi.” Niscala segera membereskan barang Vianni dan cepat-cepat menutup buku hariannya seolah-olah tidak ingin melihat isinya, setidaknya itu yang ada di pikiran Conan.
“Besok-besok jangan membuat janji supaya dia menunggumu di sini, kau kan tahu kalau ruanganku tidak ada sofa dan aku tidak mungkin menyuruhnya tidur di kamar anak koas. Kasihan dia kalau harus menunggumu lama dan tertidur seperti tadi, ijinkan saja dia besok menunggu di rumah Lakeisha.” Niscala mengiyakan saja.
Dia menggendong Vianni dan agaknya itu menganggu tidur Vianni, “Niscala …” Suara lembut Vianni yang terbangun membuat Niscala menatap manik matanya.
“Tidurlah Vianni, kita akan segera pulang ke rumah.” Entah sadar atau tidak, Vianni hanya mengangguk lalu tertidur kembali.
Anda Mungkin Juga Suka





