
Obsesi Mafia Tampan
Bab 2
Bab 02. Penyerangan
Keterkejutan Jay melihat Haruka membuat dia tampak panik. "Apa kamu baik-baik saja, Jay?" tanya Haruka heran, dia terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Ah, iya … kenapa kamu nggak ngabarin aku?" jawabnya sedikit gugup, sambil menutup pelan pintu rumahnya, dia tidak berniat membiarkan kekasihnya masuk kedalaman.
Melihat kegugupan Jay cukup membuat rasa penasaran Haruka kembali mengusiknya, "Terus, kenapa wajahmu terlihat pucat? Lalu kenapa aku harus memberi kabar terlebih dahulu hanya untuk bertemu denganmu?" Haruka melempar berbagai pertanyaan beruntun pada Jay, dan menerobos masuk.
Kecurigaan Haruka pada Jay benar adanya, seorang gadis tengah turun dari lantai atas dengan rambut basah. Seperti selesai mandi. Disaat Haruka tidak ingin mempercayai Agas, Jay lebih dulu memberikan bukti perselingkuhannya membawa para gadis kedalaman kediaman miliknya.
Haruka berusaha untuk santai, terlepas dari itu dia juga melihat beberapa pil ekstasi berceceran di atas meja. Tentu saja membuat Haruka benar-benar syok. Pria yang terlihat lemah lembut ternyata memiliki sisi hitam dalam kehidupannya.
Berusaha tenang dan bersikap baik-baik saja, itulah yang saat ini Haruka lakukan. Dia dengan anggun mendekati sofa lalu duduk bersilang.
"H-Haruka aku bisa jelaskan padamu." Jay berusaha menjelaskan padanya. Wajahnya cukup pucat, sementara gadis yang baru saja turun meminta bayaran atas jasanya kemarin malam mendekati Jay.
"Ini tidak seperti yang kamu lihat, Haruka. Aku … aku dijebak dan…." Haruka dengan cepat menyela ucapan Jay yang mencoba untuk mencari alasan.
"Bukankah ini yang dilakukan pria ketika sudah tersudut!" Haruka menyindir Jay dengan sinis. Dia tampak cukup kecewa pada pria yang sudah bersamanya.
"Jadi … mari kita akhiri saja hubungan ini," ujarnya berusaha untuk baik-baik saja meskipun hatinya teramat sakit.
Dia pun bangun dari sofa yang ia duduki, dan beranjak keluar dari apartemen kekasihnya yang saat ini sudah menjadi mantan. Jay hanya menyaksikan punggung Haruka yang sudah menjauh, dia cukup bersalah padanya, namun dia tidak akan bisa mengembalikan kepercayaan Haruka lagi.
Ditengah keramain kota Gores, hatinya kini gundah gulana kala memikirkan Jay yang sudah mengkhianatinya, meskipun begitu dia sedikit penasaran akan penjelasan Jay. Tapi, dia lebih dulu memutuskan sepihak tanpa mendengarkan apa pun.
Hingga terdengar suara tembakan dari seberang jalan tol. Membuat Haruka terlonjak kaget, dia dengan cepat berlari menuju mobil hitam yang terparkir di sisi jalan trotoar.
Dor… dor…
Suara tembakan semakin dekat, dia melihat seorang pria yang terkena akibat serangan tadi.
"Astaga! Da-darah!" Haruka cukup takut melihat darah pria yang ikut bersembunyi di balik mobil hitam tersebut.
"Ugh, tolong ak-aku," ucap pria asing mengerang sakit dengan darah di sekujur tubuhnya. Terlebih lagi beceng hitam di tangan. Sementara Haruka tampak panik karena dia tidak pernah mengalami kondisi menegangkan seperti ini.
Lagi dan lagi, suara tembakan masih bergemuruh seperti bom, sehingga kota cukup kacau, banyak nyawa yang tidak bersalah tergeletak di jalan. Dia seperti menghadapi sebuah peperangan sengit antara dua klan.
Suara sirine polisi serta beberapa TNI datang, sayangnya mereka cukup terlambat, karena jalan yang Haruka lewati sudah seperti lautan mati.
Terlihat dron dari atas melayang dengan speaker, "Kota Gores akan menjadi lautan mati. Ini adalah sebuah peringatan untuk Naga Hitam agar menyerahkan tahtanya!" Sebuah ancaman yang begitu menyeramkan.
Tidak lama peringatan itu muncul, justru dron tersebut jatuh ke tanah karena tembakan dari pria yang Haruka kenal. Dengan kerennya Agaskara menembaki beberapa gangster yang sudah membuat kekacauan di wilayahnya.
"Lindungi yang masih tersisa!" perintahnya dengan tegas, sehingga para angkatan darat ikut membantu meskipun mereka tidak menyukai sindikat Naga Hitam, yang masih memiliki darah kriminal. Tapi, mereka mengutamakan keselamatan warga kota Gores yang masih bisa diselamatkan.
Sementara Haruka dan pria misterius yang bersimbah darah masih bersembunyi. Agaskara yang menyadari idolanya berada dalam bahaya, dia dengan cepat menghampirinya.
Benar saja, antek-antek dari musuh Agaskara diam-diam ingin menyerang mereka yang bersembunyi di samping mobil. Beruntung Agaskara dengan sigap mengeluarkan beceng miliknya dan berhasil melumpuhkannya.
"Haruka, apa kamu tidak apa-apa?" sarat wajah Agaskara cukup khawatir terlebih tangannya berlumur darah. Dia berpikir Haruka yang terluka, nyatanya pria yang ada di sebelahnya.
"Tolong pria ini, Agas. Dia berdarah!"
Netranya begitu tajam saat Haruka mengkhawatirkan pria lain, daripada dirinya. "Tidak bisa, mungkin saja pria ini adalah musuh." Tolak Agas sedikit cemberut.
"Dia sekarat Agas, bagaimana bisa kamu bersikap tidak memiliki hati!" Haruka cukup marah pada sikap Agaska yang tidak memiliki empati pada orang yang sekarat.
Melihat wajah idolanya sering tersenyum seperti boneka di depan kamera , kini mengeluarkan ekspresi marah dan kecewa padanya. Mau tidak mau Agas memapah tubuh pria misterius itu. Akan tetapi suara tembakan masih terdengar, mereka bertiga bergegas mencari tempat berlindung.
"Ikuti aku, tempat ini masih tidak aman."
Haruka mengikuti langkah Agas, lalu membantu Agas untuk memapah pria itu.
"Terima kasih sudah mendengarkan aku," ucapnya tulus. Mendengar ucapan Haruka, Agas hanya terdiam namun hatinya sungguh mabuk kepayang. Ekspresi datar tanpa senyuman membuat Haruka kesal, terlebih lagi tidak ada jawaban atas ucapannya tadi.
Mereka bertiga sampai di sebuah bangunan kafe. "Tunggu aku akan mencari alkohol untuk mengeluarkan peluru dari perutnya."
Agaskara bergegas mencari beberapa kotak obat serta alkohol untuk membalut lukanya. "Beruntung pelurunya tidak terlalu dalam," ucapnya sambil menumpahkan setengah botol alkohol pada luka yang terkena peluru.
Sehingga pria itu menjerit, "Arghhh!!"
"Diam! Kau ingin musuh tahu kita ada disini!" Agaskara membentaknya, sehingga Haruka pun tidak bisa membuka mulutnya saat melihat pria asing yang ia tolong menjerit sakit.
Bagaimana tidak? Agaskara tidak memberinya obat bius agar pria ini tidak merasa sakit, meskipun Agaskara memiliki obat bius yang selalu ia bawa.
Dia masih kesal atas perhatian Haruka padanya, Agaskara berpikir jika dia terluka, mungkin saja Haruka akan mengkhawatirkannya.
Malam menjelang, suara tembakan semakin berkurang, sementara Haruka masih takut dengan kejadian tadi yang menimpanya.
Terjebak dibangunan yang telah ditinggalkan karena tembakan tadi membuat perasaannya khawatir, terlebih lagi bersama dua pria. Haruka tampak tidak nyaman, apalagi dia baru saja putus dengan kekasihnya. Sementara Agaskara duduk di kursi sambil membersihkan pistol miliknya yang terkena cipratan darah. Haruka yang sedari tadi duduk di depannya, hanya memperhatikan dari kejauhan.
Sehingga pria yang mereka tolong bangun dan membawa senjata yang ada di genggamannya. Membuat Agaskara dan Haruka terkejut, sementara ujung pistol pria itu mengarah padanya.
Haruka sangat takut, karena pria yang ia tolong justru ingin melukai mereka, tangannya gemetar saat menatap ujung pistol berada 1 meter dari dahinya.
Dor… dor..
Suara tembakan kembali terdengar, "Awas!!" teriak Agaskara melemparkan tubuhnya pada Haruka yang hampir terkena senapan yang sejak tadi membidiknya.
Anda Mungkin Juga Suka





