
Obsesi Kencan Buta Sang Pewaris
Bab 3
Mobil berhenti di depan sebuah gedung tinggi yang tampak sepi, hanya disinari cahaya lampu yang redup, menciptakan suasana yang semakin membuat Livia merasa cemas. Gedung itu tampak seperti milik pribadi, bukan tempat umum, dan kesan pertama yang ia dapatkan adalah kesan tak terjangkau. Segalanya terasa begitu tertutup dan penuh rahasia, seperti dunia yang sama sekali berbeda dari yang ia kenal.
Damien tidak berkata sepatah kata pun saat keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu utama gedung. Livia, yang merasa semakin tak nyaman, dengan enggan mengikuti langkahnya. Ia merasa seperti bayangan, hanya mengikuti tanpa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Begitu mereka memasuki gedung itu, Livia merasa terhenyak oleh betapa mewahnya segala sesuatu di sekitar mereka. Ruangan besar dengan lantai marmer yang bersinar, dinding yang dihiasi dengan lukisan-lukisan mahal, dan lampu kristal yang menggantung di langit-langit memberikan kesan bahwa ini adalah dunia yang tak terjangkau oleh kebanyakan orang. Setiap detail menunjukkan bahwa tempat ini milik orang yang sangat berkuasa, dan Livia tidak bisa menahan rasa takut yang semakin dalam di hatinya.
"Di sini," Damien berkata, membuka pintu sebuah ruangan besar yang tampaknya berfungsi sebagai ruang kerja atau ruang pribadi. Ia melangkah masuk terlebih dahulu, membiarkan Livia terdiam di ambang pintu.
Livia menatap ruang itu dengan cemas. Di tengah ruangan terdapat meja kayu besar yang tampak sangat kokoh, dengan kursi kulit hitam di belakangnya. Di sisi lain, ada rak buku besar yang penuh dengan koleksi buku-buku berharga. Namun, apa yang paling mencuri perhatian Livia adalah benda di sudut ruangan-sebuah kursi yang tampaknya terbuat dari besi, dengan tali-tali yang membelit bagian sandaran dan lengan kursi. Matanya membelalak, dan sejenak, ia merasa dunia ini semakin mengerikan.
"Ini adalah ruanganku," kata Damien dengan nada yang hampir terdengar puas. "Di sini, kamu akan belajar. Tentang apa artinya menghargai konsekuensi."
Livia menelan ludah, merasa seperti kehilangan pijakan. Semua ini semakin terasa seperti mimpi buruk yang tidak ada ujungnya. Ia mencoba untuk berbicara, mencoba mencari jalan keluar, namun lidahnya terasa kelu. "Damien... Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?" tanyanya, suaranya lebih lembut daripada yang ia harapkan.
Damien berbalik, menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan. "Aku ingin kamu mengerti bahwa setiap tindakan memiliki akibatnya. Kamu sudah melukai harga diriku, Livia, dan aku akan membuatmu membayar itu. Tidak dengan uang, bukan dengan sekadar kata maaf. Aku ingin kamu merasakannya."
Livia tidak bisa menahan kegelisahannya. "Tapi aku sudah minta maaf! Aku tidak sengaja," suaranya sedikit bergetar.
Damien mendekat, dan setiap langkahnya membuat Livia merasa semakin terpojok. "Kamu tidak mengerti, kan?" katanya pelan, namun sangat tajam. "Tidak ada yang bisa membatalkan apa yang telah terjadi. Maafmu terlalu murah untuk menebus ini."
Livia mundur sedikit, tak tahu lagi harus berbuat apa. "Apa yang akan kamu lakukan padaku?" tanyanya, suaranya hampir tercekik karena ketakutan.
Damien tersenyum, senyum yang sangat berbeda dari sebelumnya. Senyum yang lebih penuh pengertian, namun tetap dingin dan menakutkan. "Kamu akan berada di sini, di dunia aku, untuk sementara waktu," jawabnya dengan tenang. "Dan di sini, aku yang mengendalikan semuanya."
Livia merasa seluruh tubuhnya kaku, seolah-olah ruang ini semakin mengepungnya, dan Damien yang berdiri di hadapannya kini bukan lagi sosok pria biasa. Ia adalah seseorang yang bisa menghancurkan hidupnya hanya dengan sebuah keputusan.
"Apa yang aku lakukan ini bukan sekadar hukuman," lanjut Damien, berjalan lebih dekat lagi, membuat Livia mundur sedikit lebih jauh. "Ini adalah pelajaran untukmu. Pelajaran yang akan mengubah cara pandangmu terhadap dunia ini."
Livia ingin melawan, ingin berteriak, tetapi ada sesuatu dalam dirinya yang merasa tidak berdaya. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan, tapi semakin jelas bahwa Damien bukanlah seseorang yang mudah dilawan. Ia adalah pria dengan kekuatan yang jauh lebih besar daripada apa yang bisa ia bayangkan.
"Dan jika kamu pikir kamu bisa keluar dari sini begitu saja," kata Damien dengan suara yang lebih rendah, "kamu salah besar."
Livia menelan air liur, menatapnya dengan mata penuh kebingungan dan ketakutan. Apa yang akan terjadi padanya selanjutnya? Bagaimana dia bisa keluar dari semua ini?
Anda Mungkin Juga Suka





