
Neraka dalam Pernikahanku
Bab 3
"NERAKA dalam Pernikahanku "
Author by Natalie Ernison
...
Hari-hari Diane, kini tidak seindah dulu. Setiap harinya, harus menyimpan kekesalan dan menahan diri untuk tidak bertindak nekat.
-------
"Mansion kediaman Keluarga Herrol Caspian"
"Ayah ingin kalian tetap berada di mansion ini, namun ayah sadar bahwa kalian harus hidup mandiri." Ucap Mr. Herrol.
"Ah, yah ayah." Jawab Diane dengan tersenyum sendu.
"Diana, apa kau kurang sehat?" Tanya Mr. Herrol cemas.
"Tidak ayah, aku sangat sehat." Jawab Diane dengan hati yang sebenarnya sedih.
"Katakan saja pada ayah, jika terjadi sesuatu padamu."
"Baik ayah, terima kasih." Ucap Diane dengan berat hati.
Mr. Herrol sangat memperhatikan anaknya, bahkan menantunya sangat ia pedulikan. Namun, Mr. Herrol memiliki kelemahan tubuh yang harus selalu dijaga. Ia tidak boleh menerima berita yang buruk, karena hal itu akan sangat membuat kondisi kesehatannya turun total. Hal itulah yang membuat Diane membungkam mulutnya rapat-rapat.
***
Setelah beberapa bulan menikah, kehidupan mereka bisa dikatakan mendekati kebahagiaan, namun pertengkaran juga menjadi bumbu pedas di dalam pernikahan mereka. Al sangat kasar dalam berbicara, dan nyaris berlaku ringan tangan pada sang istri, Diane.
"Mansion Kediaman Keluarga Alexavier Caspian & Diane"
Diane dan Al kini hanya tinggal berdua bersama para pelayan mansion. Al tidak mengijinkan Diane untuk bekerja, karena baginya wanita hanya akan kembali ke rumah tangga. Selain itu juga, Al juga menyanggupi segala kebutuhan sang istri dan tidak terlalu sulit.
Al ternyata memiliki pribadi yang sangat dingin dan arogan. Setelah menikah, Al sangat sibuk bekerja, dan pulang hanya disaat malam tiba.
Huh.. "Sangat membosankan," keluh Diane yang mulai jenuh dengan kesehariannya.
Diane melanglah menuju lantai dasar mansion dan berniat untuk mengajak sang pelayan pergi bersamanya.
"Bibi, bisakah bibi menemaniku untuk berbelanja kebutuhan rumah?" Tanya Diane sopan.
"Baik Nyonya, aku akan bersiap terlebih dahulu." Sang pelayan bergegas mempersiapkan diri.
Diane juga tidak diijinkan untuk pergi seorang diri, mereka pergi bersama dua pelayan dan satu supir pribadi.
"Nyonya, apakah kita bisa pergi sekarang?" Tanya sangs supir yang sudah tiba di loby utama.
"Yah, kita pergi sekarang. Aku harus mendapatkan daging-daging segar." Ucap Diane semangat, dan mereka pun bergegas untuk pergi berbelanja.
***
Diane sangat suka barang-barang antic, dan ia pun memutuskan untuk pergi ke sebuah Mall ternama di kota New York.
Mereka berbelanja daging segar, dan tanpa sengaja Diane melewati area bermain anak-anak.
Diane terhenti sejenak, sedangkan para pelayan sudah terlebih dahulu dengan mendorong trolley.
"Nyonya," panggil para dua pelayan wanita yang pergi bersama Diane. Mereka terdiam sejenak, tatkala melihat Diane tersenyum tipis ke arah permainan anak-anak itu.
Diane berdiri dan fokus memandangi anak-anak yang sedang bermain. Tanpa ia sadari, kedua matanya sedang berkaca-kaca. Diane sepertinya merindukan kehadiran seorang anak di dalam pernikahan mereka.
Setelah dirasa puas, Diane pun berbalik dan melanglah maju ke hadapan dua pelayannya. Dua pelayannya pun hanya bisa diam, mereka tahu jika Tuan mereka masih belum menginginkan kehadiran seorang anak.
"Nyonya, apakah tidak ada lagi yang ingin nyonya cari?" Tanya sang pelayan.
Diane menggeleng, "tidak bi. Kurasa sudah cukup, dan semua kebutuhanku pun masih banyak." Jawab Diane dengan wajah sendunya.
Sejak kembali dari Mall, Diane kerap kali melamun dan mengingat anak-anak yang ia lihat di area tempat bermain itu.
***
"Mansion Kediaman Keluarga Alexavier Caspian"
Setiap kali waktu menunjukan bahwa Al akan segera pulang dari pekerjaannya, Diane selalu duduk manis menunggu sang suami di ruang tamu. Karena Al hanya ingin Diane yang melayani segala kebutuhannya.
Suara mesin mobil milik Al sudah terdengar jelas, Diane melangkah dengan semangat untuk menyambut sang suami pulang dari pekerjaannya.
"Selamat sore sayang," ucap Diane dengan senyuman lemnbutnya. Al hanya membalas dengan berdehem singkat.
Al pergi ke kamar untuk membersihkan diri dan bersiap untuk menyantap makan malam berdua bersama Diane.
Diane sangat ingin bercerita tentang pengalamannya siang hari ini, namun ia menunggu saat mereka akan kembali ke kamar untuk beristirahat.
... ...
Keduanya kini berada di atas tempat tidur, dan Diane pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk berbicara.
"Sayang," ucap Diane dari balik punggung Al yang sedang membelakanginya.
Hmm... Al hanya menjawab seperti biasanya dan masih fokus dengan ponsel miliknya.
"Sepertinya, mansion ini akan terasa lebih ramai, ketika ada bayi-bayi lucu..—" ucap Diane antusias, namun tidak dengan Al.
"Sudah kukatakan, aku tidak ingin memiliki anak untuk saat ini. lagipula aku sangat sibuk, dan pada akhirnya kau akan merasa terabaikan, bukan?" ketus Al.
"Tapi, bukankah kita memiliki segalanya, dan kurasa kehadiran seorang anak akan membuat..—"
"Hentikan Diane, aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi." Al pun menutup topic pembicaraan. Diane sangat kesal dan juga sedih hingga membuatnya tak bisa tidur dengan nyenyak.
Mengapa Al tidak menginginkan anak di dalam pernikahan mereka, bukankah segala hal telah keluarga mereka miliki?
Mengapa Al tidak menginginkan anak di dalam pernikahan mereka, bukankah segala hal telah keluarga mereka miliki?
***
Anda Mungkin Juga Suka





