Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel NADIN

NADIN

Trauma masa SMP menghantui Nadin akibat ulah Andi, saudaranya sendiri. Saat SMA, kehadiran Gilang memberinya harapan baru, terutama setelah Nadin berhenti dari dunia model dewasa. Namun, masa lalu kembali mengusik saat ia satu kampus dengan Andi. Rama, yang mengetahui rahasia kelam Nadin melalui video lama, berusaha melindunginya hingga terlibat konflik fisik dengan Andi. Di tengah ketegangan, Andi akhirnya mengungkap dendam ibunya terhadap ayah Nadin.
Bab
Bagikan

Bab 3

Ddrrtt … Ddrrtt … Ddrrtt ….

"Aahhhh, apaan si geter mulu hape," Nadin mencari-cari hp nya.

Nadin melihat layar ponsel dengan mata yg lengket bagai diolesi lem.

“What? Apaan Jam 7?! OMG gue telat pake bgt dong, huwaa ...”

Nadin tergesa-gesa pagi itu karena ia sadar bahwa hari sabtu itu dia ada ulangan pak Bowo guru kimia yang sangat killer.

"Buuu, Nadin berangkat dulu yaaa," sambil masih memakai sepatunya dengan tali sepatu yang tak terikat sempurna.

"Gak sarapan dulu Din?" tanya ibu Nadin.

"Nggak bu, udah telat pake bangeeettt,daaaa..Assalamualaikum," Nadin berlari secepat kilat.

"Waalaikumsalam " jawab ibu Nadin.

Pagi itu menjadi hari yang sial bagi Nadin, pasalnya ia telat ke sekolah di hari itu dan sekarang ia tak mendapati ada angkot yang lewat satu pun di depannya.

Hampir 10 menit ia berdiri di pinggir jalan yang sangat sepi kendaraan itu. Maklum saja di desanya sangat susah mendapatkan transportasi umum, kalau ada pun pasti dari pagi hari saat ibu-ibu yang akan ke pasar dan anak sekolah pergi beraktifitas.

Tak berapa lama setelah Nadin lelah menunggu angkot, suara klakson mobil honda jazz mengagetkannya.

Tiin … Tin … Tin …

"Eehhh," Nadin terkejut sampai melompat.

Terlihat mobil itu membuka kaca mobil nya dan tampak seorang lelaki dewasa tersenyum padanya dan berkata

"Butuh tumpangan kan? Yuk," ujar lelaki itu.

Dibukakan pintu depan oleh lelaki itu dengan senyum.

"Wah, ni orang mau nyulik yah. Wah musti kabur nih, teriak? Sambil lari-lari?” pikiran Nadin mulai kacau dan membayangkan hal-hal yang buruk.

"Udahlah, kamu kan udah telat, lagian gak ada angkot udah jam segini. Yuk!" ucapmya menawarkan.

Dengan memantapkan hati dan mencoba tenang, Nadin pun mengikuti orang itu masuk ke dalam mobil.

Mobil pun melaju dengan kecepatan lumayan, mungkin agar Nadin tak terlambat.

Nadin memberanikan diri bertanya pada lelaki itu dengan deg-degannya.

"Eemmm, bapak ini siapa ya kalo boleh tau? " tanya Nadin pelan.

"Hahaha, jangan panggil bapak lah, apa saya setua itu untuk kamu?" Romi tersenyum.

"Eh, om. Eh mas, ka duh," Nadin mulai panik, takut menyinggung lelaki itu.

"Yayaya, panggil mas aja, mas Romi," Jawabnya singkat.

"Oh baik mas Romi terima kasih” ucap Nadin gugup.

“Hah, Mas? Penampilannya kaya pakde ku mau dipanggil mas hihihi,” gumam Nadin dalam hati.

Sepanjang jalan Nadin menengok keluar kaca mobil sambil mengingat sesuatu yang tak asing baginya. Dalam pikirannya Nadin merasa mengenal Romi itu, tapi di mana?

Hampir 15 menit mereka dalam keadaan diam saja, dan Nadin masih dengan melamun memandang ke luar jendela.

Romi yang melihat Nadin dengan rok span pendeknya tak kuasa mencuri-curi pandang ke arah paha mulus Nadin. Ia leluasa memandangi tubuh Nadin karena Nadin masih terus melamun menatap keluar jendela.

Betapa hasrat Romi ingin sekali membelai paha mulus Nadin yang saat ini ada di depan matanya, Namun segera Romi menyadarkan diri nya dan tetap fokus menyetir. Bukan karena waktunya yang tidak tepat, tapi Romi ingin membangun image baik di depan Nadin sebelum ia mendapatkan apa yang ia inginkan dari gadis seksi ini.

Tak beberapa lama kemudian Romi telah sampai di depan gerbang sekolah Nadin yang gerbang nya sudah di tutup rapat oleh satpam sekolah.

"Din, Nadin..." suara Romi membuyarkan lamunannya.

"Eh, iya om, eh mas," jawab Nadin terkejut.

"Udah sampe nih, masuk sana kan udah telat,” suruh Romi.

"Oh, iya udah sampe hehe, makasih ya mas Romi atas tumpangannya," Nadin keluar mobil dan berlari menuju kelasnya.

"Pak … pak tolong bukain gerbangnya, ini aku bukannya telat, tapi tadi disuruh pulang dulu ambil tugas dari bu Susi nanti kalo aku gak masuk lagi di marahin loh, ntar aku bilang gak boleh masuk sm pak satpam gerbang nya di kunci hayo," ujar Nadin membohongi pak satpam.

"Yang bener nih?" kata pak satpam ragu.

"Yaudah nih aku telponin yah ke bu Susi, haallo buu...." ujar Nadin dengan aktingnya.

"Udah udah cepet masuk sana," pak satpam akhirnya membukakan gerbang sekolah dengan mempercayai apa yang dikatakan Nadin.

"Yuhuu makasih pak," ucap Nadin setengah berlari menuju kelasnya.

Pagi itu memang menjadi pagi tersial bagi Nadin. Pasalnya bukan hanya tidak bisa mengikuti ujian kimia pak Bowo, tapi Nadin di hukum membersihkan toilet sekolah selama jam pelajaran beliau.

Brak!

Suara bantingan pintu toilet yang dibantingkan Nadin.

"Sial banget sih hari ini, udah ga boleh ikut ulangan, sekarang dihukum bersihin toilet coba" gerutu Nadin sembari mengepel lantai toilet dari ujung ke ujung.

"Cieeee rajinnya temanku ini," ledek Stela yang tiba-tiba ada di belakang Nadin.

"Kampret lu stel, kenapa ga telponin gue sih td pagi, jadi kan gue telat bangun,” omel Nadin sembari melotot.

"Yee, gue juga telat yelah haha," sangkal Stela dengan bangga.

"Terus lu ngapain sekarang di sini? Gaada kelas emang?" tanya Nadin.

"Ada sih, tapi gue males aja pelajaran pak Didin, doi cabul," jawab Stela.

"Eh bukannya lu suka di cabulin?" ledek Nadin.

"Sialan lu, kalo om om ganteng gue masih oke aja, lah ini udah tuwir gitu masih cabul males gue," tegas Stela.

"Eh Stel, masa tadi gue ditebengin sama om om dong," cerita Nadin.

"What? pasang tarif berapa lu semalem sampe ditebengin ke sekolah? Hahaha," goda Stela.

"Yakali, kenal juga nggak, doi nebengin pas gue nungguin angkot," jelas Nadin.

"Emmm, cakep gak?" lirik Stela.

Nadin menatap kaca di toilet itu dengan tatapan bingung.

"Wooiiiiiii," kejut Stela.

"Apaan sih, gue gatau ganteng nggak, gue fokus ke jalan," sangkal Nadin.

"Ah gue ga percaya, pasti ganteng deh sampe lu gabisa deskripsiin mukanya hahahaha," ledek Stela.

Nadin bertanya-tanya dalam hatinya, siapakah lelaki itu. Mengapa ia tak asing dengan sosoknya. Tapi di mana?

Jam istirahat pun tiba dan Nadin pergi ke kantin karena hukuman nya telah berakhir. Seperti biasa Nadin memesan jus melon dengan susu. Ketika ia sedang duduk melamun memandangi botol saos dan kecap di mejanya, tiba-tiba hp nya pun bergetar karena notifikasi dari media sosialnya.

Nadin mengecek hp nya dan iseng membuka pesan di akun IG nya, padahal ia selalu malas membuka pesan-pesan di semua media sosialnya, karena isinya kebanyakan spam dan gombalan para lelaki hidung belang. Namun tak biasanya di pesan akun IG nya ada nama yang tak asing baginya.

"Hah, ini kan..."

"Hai Nad," Sapa Mustofa.

Mustofa adalah salah satu lelaki yang menyukai Nadin di sekolah itu, meski Nadin tak pernah meladeninya namun Mustofa tak patah semangat untuk mencoba mendekati Nadin dengan berbagai cara.

"Hai," ucap Nadin cuek namun tetap tersenyum.

"Oh iya malam minggu besok free ngga?" tanya Mustofa.

"Mm paling keluar sama Stela sih sekalian nyari buku buat tugas kimia, ada apa emang?" tanya Nadin.

"Sebenernya aku mau ngajak kamu makan malam nanti malam minggu, tapi kalo kamu udah ada acara sama Stela gapapa deh" ujar Mustofa.

"Oh gitu, sorry ya," jawab Nadin santai.

"Woiii, udah di sini aja lo, eh ada my Musmus," sapa Stela dengan panggilan kesayangannya pada Mustofa.

"Hai Stel," sapa Mustofa seperlunya.

"Ada apa nih tumben nyamperin gue kayaknya kita sehati," ujar Stela dengan percaya dirinya.

"Ini Mustofa mau ngajak jalan malam minggu, tapi kita udah ada janji kan yak Stel, mau cari buku buat tugas kimia?" tanya Nadin sambil melirik tajam ke arah Stela.

"Lah gue kan IPS mana ada mapel kimia maemunah," jawab Stela dengan polosnya.

"Ih kan gue minta anterin nyari buku dari minggu kemaren dudul," Nadin menajamkan tatapannya dan memberi kode pada Stela agar mengiyakan.

"Yaudah gini aja deh kita cari bukunya bertiga aja gimana? gimana mau ga my Musmus,” tanya Stela dengan genitnya pada Mustofa.

"Iiihh cacing kremi," Nadin melotot pada Stela yang masih menatap genit pada Mustofa.

"Oke boleh deh, ntar aku wa kamu ya Nad, yaudah aku duluan ya," ucap Mustofa.

"Tiati My Musmus see u satnight yaaaaa," ucap Stela.

"Ih lu apa-apaan sih Stel, gue males tau jalan ama dia malah lu ajakin jalan bertiga," ujar Nadin kesal.

"Kalo lu males ntar lu balik duluan aja gue yang jalan sama my musmus," ucap Stela.

"Bangke lu ah," ucap Nadin.

"Eh btw pak Samsuri gak masuk jadi jam terakhir lo kosong kan? Cabut yuk," jelas Stela.

"Seriusan, okelah lagian gue juga lagi suntuk pengen nyalon ni," jawab Nadin.

"Eh Stel, lo masih inget ngga cowo yang nawarin gue pemotretan itu?" tanya Nadin.

"Mm, yang mana si?" jawab Stela bingung.

"Itu yang nge dm gue di IG, masa ga inget?"

"Oh, yang lo tolak itu kan? iya kenapa gue inget," jawab Stela santai.

"Ini doi nge dm lagi," Nadin kembali membuka akunnya dan melihat pesan dari lelaki itu.

"Jurus apa yang doi keluarin buat bujukin lo biar mau pemotretan?" jawab Stela ketus.

"Nih baca deh," Nadin menunjukan hp nya dan tertulis di pesan itu bahwa

“Hai Nadin, masih ingat saya? Oiya tawaran minggu lalu apa sudah ada pertimbangannya? Kalau belum tolong dipikirkan lagi ya, padahal tadi pagi saya mau kasih tau langsung tentang rencana saya mau orbitkan kamu jadi talent saya, tapi kamu buru-buru dan sampai telat kan sekolahnya hahaha (Om Romi)” pesan melalui instagram.

"What? Jadi bener ‘kan, tadi pagi yang nebengin gue itu om Romi ini," Nadin terkejut dan melotot ke arah Stela.

"wah kebetulan yang kebetulan dong ya mending lu pikirin lagi deh tawarannya Nad, kalo doi sampe niat gitu hubungin lu berarti lu ada potensi jadi model kan," ujar Stela.

"Ah gatau deh gue bingung, tapi disisi lain gue pengen juga sih punya penghasilan sendiri seenggaknya bisa bantuin ibu gue bayar hutang-hutang bapak gue yang gak bertanggung jawab ninggalin keluarganya dengan setumpuk hutang di mana-mana," jawab Nadin.

"Pokoknya keputusan apapun yang lu ambil gue tetep dukung, asal komisi lu 15% buat gue," jawab Stela.

"Taik lu, hhhhaahhh (menghela nafas panjang) gue cuman gak habis pikir sih sampai saat ini gue gak pernah tau bapak gue itu dimana dan kenapa dia ninggalin keluarganya, kadang gue pengen benci tapi disisi lain gue juga pengen tau penjelasan dia atas apa yang dia lakuin ke kita terutama ke ibu gue," Keluh Nadin.

"Apapun masalahnya pasti bokap lu punya alasan kenapa kek gini, aaa udah yuk jangan sedih-sedih lagi, mending pesen bakso aja pake sambel setengah mangkok yaaaa gue di traktir elu deh," ucap Stela menenangkan Nadin.

"Disaat sedih pun elu masih aja morotin gue ya Stel," ucap Nadin.

Dan suasana pun kembali cair dengan canda taa Stela yang berusaha menghibur Nadin dari kesedihannya.

Bersambung ...

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95HTJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95HTJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bali, Awal Baru Ibu Melindungi
8.2
Anggita hancur saat ayahnya, Farhan, mencabut hak warisnya demi Dahlia, sang asisten. Fitnah kejam Dahlia membuat Anggita diusir dalam kondisi dihina sebagai wanita mandul. Namun, sebuah fakta terungkap: Anggita tengah mengandung anak Sagara. Demi melindungi buah hatinya dari pengkhianatan keluarga, ia memalsukan identitas dan melarikan diri ke Bali. Di sana, ia memulai lembaran baru dan bersumpah tidak akan pernah menoleh kembali ke masa lalunya yang kelam.
Sampul Novel Cinta di Tengah Bahaya
8.5
Saat hamil, sang istri terharu menyerahkan seluruh tabungannya pada Arif yang berjanji berubah. Namun, ia justru menyaksikan para penagih utang bersikap hormat pada suaminya yang ternyata bos mafia kaya. Di dalam mobil mewah, Arif dan sahabat kecilnya, Lina, sepakat melanjutkan sandiwara kemiskinan ini untuk menguji kesetiaannya melahirkan anak mereka. Menyadari cintanya selama ini hanya dipermainkan lewat ujian kejam, ia pun menangis dan bertekad menolak cinta penuh kebohongan tersebut.
Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama mempermalukanku di hari pernikahan kami dengan menyebutku milik kakaknya demi kembali pada mantan kekasihnya, Saskia. Dia sengaja menunda kesembuhan Saskia demi menikmati hubungan mereka, yakin aku akan setia menunggu. Namun, Baskara salah besar. Aku tidak akan diam saja saat dia berencana memiliki kami berdua. Aku mendatangi penguasa sejati keluarga mereka, Dananjaya Aditama, dan memintanya menikahiku untuk menghancurkan Baskara.
Sampul Novel Hadiah Madu Untuk Suamiku
9.6
Indana Zulfa Hewatun menganggap poligami sebagai solusi agar ia bisa mengejar impian kuliah di luar negeri. Ia bahkan rela menjodohkan Jidan, suaminya, dengan seorang santriwati dari pesantren ayahnya. Namun, rencana itu terancam gagal saat Jidan mencurigai hubungan Inda dengan sang mantan kekasih. Akankah kepercayaan yang hancur membatalkan perjodohan ini? Sebuah kisah tentang perjuangan meraih cita-cita tanpa harus mengorbankan pernikahan.
Sampul Novel Kau Tak Menyadari Disaat Aku Pergi
9.6
Bianca adalah sosok istri idaman yang sangat manja dan penuh kasih, membuat Adrian merasa sangat dicintai. Namun, kebahagiaan itu hancur saat sebuah pesan misterius membongkar pengkhianatan Adrian. Alih-alih mengamuk, Bianca justru memilih membalas dengan keheningan yang dingin tanpa peringatan sama sekali. Adrian pun terperangkap dalam kebingungan mendalam, hingga ia akhirnya tersadar bahwa kehilangan cinta secara perlahan jauh lebih menyiksa.
Sampul Novel Lovely Rivalry
8.5
SMA Melody menjadi saksi perseteruan Kayana Setyawan, sang Ratu Es kaya raya, dengan Naruga Indra, jenius fisika sederhana. Perbedaan kasta memicu konflik tajam hingga insiden berdarah di sekolah memaksa keduanya bekerja sama. Kayana mengandalkan hartanya sementara Ruga memakai logika murni untuk mengungkap misteri siswa koma. Di tengah rivalitas sengit, tumbuh cinta tak terduga yang menguji prinsip mereka. Mampukah integritas menyatukan dua dunia yang berbeda?