
Mysterious of Wedding
Bab 3
-Antonio’s Mansion, Capital City –Paris | 11.00 pm-
Hari mulai menjelang siang, Alina tidak melakukan banyak aktivitas di hari pertamanya setelah menikah dengan pria itu. Kegiatan yang ia lakukan hanya di dalam kamar, melihat – lihat sekeliling mansion dan terakhir, disinilah dirinya, duduk bersantai menonton televisi di ruang tengah.
Ia sedikit memikirkan kegiatan apa saja yang akan ia lakukan setelah makan siang nanti. Sebenarnya, ia berencana untuk keluar berbelanja tetapi mungkin itu hal mustahil. Mengingat dirinya yang sudah menikah, itu artinya ia tidak boleh sembarangan keluar tanpa seijin pria itu. Jika ia meminta ijin pada pria itu, mungkin akan diijinkan.
Hanya saja yang membuat mendesahkan napasnya adalah ia lupa meminta nomer telepon pria itu. Suami istri macam apa mereka ini, bahkan nomer telefon ia tak punya. Ia harus memikirkan kegiatan yang lain, kegiatan yang tidak mengharuskan dirinya meminta ijin pria itu.
Come on Al, think what will you do today.
Ia mencoba memikirkan segala sesuatu. Sampai pada akhirnya, sebuah ide melintas di benaknya dan senyuman mulai terlihat di wajah cantiknya. Ia akan mencoba membuat makan siang untuk pria itu. Setidaknya, ia mencoba menjadi istri yang baik. Good wife for her husband. Pikirnya.
Lantas ia mematikan televisi yang entah menayangkan apa karena ia sama sekali tak memperhatikan, dan hanya sibuk melamun. Lalu beranjak menuju dapur membuat makan siang untuk suaminya.
Berjalan dengan riang dan sedikit bersenandung. Para pelayan yang melihat nyonya baru mereka ikut tersenyum dan bahagia. Mereka bahagia karena Tuan yang mereka layani sekian lama memiliki pendamping hidup yang cantik, baik hati, dan juga selalu membantu orang lain.
Alina sampai di dapur. Disana ia melihat, Emma, kepala pelayan itu sedang memilah bahan makanan. Mungkin bahan makanan untuk makan siang nanti. Kebetulan juga ia membutuhkan bahan itu untuk membuatnya. Jadi, dirinya tak perlu keluar atau meminta pelayan lain untuk membelikan bahan masakan.
"Bibi, apakah itu bahan – bahan masakan untuk makan siang nanti?" tanya Alina berjalan mendekat yang juga ikut membantu memilahnya.
"Oh... Nyonya. Tentu. Ini bahan masakan untuk makan siang nanti. Lalu, mengapa nyonya berada di dapur? Tidak sepantasnya, nyonya berada disini. Dapur tempat untuk pelayan, sedangkan nyonya adalah majikan kami. Jika Tuan melihat, kami akan dimarahi."
"Jika nyonya butuh sesuatu, panggil saya. Nanti saya akan menyiapkannya." Lanjut Emma.
Alina yang mendengarnya mengernyitkan dahi, lalu tak lama ia tersenyum. Tangannya sibuk memilih bahan masakan dan matanya selalu meneliti bahan – bahan tersebut.
"Bibi jangan khawatir. Dia tidak akan marah. Aku yang akan bertanggung jawab jika nanti Sua--, maksudku,Tuan kalian marah." Lidah Alina sedikit kelu ketika akan menyebutkan pria itu dengan kata ' suami'. Ia masih belum terbiasa dengan semua ini. Semua terjadi secara tiba – tiba.
Dimulai dengan pernikahan mereka yang mewah nan megah, lalu fasilitas yang lengkap, serta pelayanan yang memuaskan. Ia terbiasa hidup sederhana. Ia selalu mengerjakan semuanya sendiri. Jika ia mendapatkan semua ini secara mendadak, tentu saja ia terkejut. Untung saja, ia dapat mengendalikan diri.
"Bibi, aku ingin bertanya sesuatu. Dia makan tepat waktu atau tidak? Maksudku apakah ia orang yang disiplin?" tanya Alina sedikit ragu – ragu.
Kepala pelayan itu tersenyum mendengar penuturan majikan barunya yang ragu – ragu bertanya mengenai Tuan mereka. Nyonya mereka sangat polos dan lugu. Beruntungnya Tuan mereka mendapat gadis yang seperti ini.
"Tuan selalu makan tepat waktu. Segala sesuatu yang Tuan lakukan selalu tepat waktu. Beliau orang yang disiplin. Tuan selalu mengatakan pada kami semua, bahwa setiap detikan waktu, menit, jam sangat berharga. Jangan biarkan waktu meninggalkan kalian. Kejar waktu selagi kalian mampu."
"Walau seperti itu, Tuan memiliki memiliki sikap yang tak terduga." Tutur kepala pelayan itu. Sedang Alina, ia bingung maksud penuturan kepala pelayan itu. Lalu ia memutuskan untuk bertanya karena penasaran.
"Maksud bibi, dia berkepribadian ganda?" setelah mengatakan itu, Alina bergedik ngeri. Sambil membayangkan apa yang akan terjadi kedepannya jika pria itu melakukan sesuatu terhadapnya.
"Bukan berkepribadian ganda. Maksud saya, Tuan itu selain memiliki sikap baik dan disiplin, Tuan juga memiliki sikap yang tegas, keras, dan dingin. Siapapun yang menentangnya pasti akan melihat sisi Tuan yang lain. Sikap Tuan yang keras itu menurun dari ayahnya. Sedangkan sikap yang baik hati itu menurun dari ibunya." Jelas kepala pelayan itu.
Alina yang mendengarnya semakin penasaran dengan kehidupan suaminya. Semua seperti puzzle dan teka teki. Terlalu banyak rahasia yang harus diungkapkan.
"Lalu dimana kedua orang tuanya? Saat pernikahan kemarin, aku tidak melihat mereka. Yang kulihat, mungkin, teman bisnisnya." Tanya Alina.
"Kedua orang tua Tuan sudah lama meninggal. Kira – kira enam tahun yang lalu." Jawab Emma, kepala pelayan itu.
"Jika nyonya penasaran dengan semua ini, lebih baik nyonya menanyakan langsung saja pada Tuan. Karena hanya Tuan yang berhak memberitahu semua pada Anda." Lanjutnya. Kepala pelayan itu tahu bahwa, nyonya mereka sangat penasaran dengan kehidupan suaminya. Namun itu bukan hak-nya untuk memberitahu kehidupan Tuannya. Biar Tuannya yang memberitahunya.
"Baiklah bibi. Terima kasih karena sudah memberiku cerita sedikit mengenainya."
"Sama – sama nyonya. Apakah nyonya ingin memasak?" tanya kepala pelayan itu yang mulai berjalan menuju ke lemari pendingin untuk menaruh beberapa bahan yang tidak digunakan untuk dimasak.
"Ah iya. Aku bosan karena tidak ada kegiatan yang ingin kulakukan. Rencananya aku ingin memasak makan siang untuknya. Tapi aku bingung ingin membuat apa, bisakah bibi memberitahuku makanan kesukaannya itu?" Alina bertanya sambil melihat apa yang dilakukan kepala pelayan itu. Ia terus melihatnya. Sebagai kepala pelayan, ia sangat cekatan. Terlihat sekali bahwa ia sudah berpengalaman.
"Tuan tidak memilih – milih dalam makanan. Beliau memakan semua makanan yang disajikan. Dan tidak mempunyai alergi apapun." Ujarnya.
"Kalau begitu, aku akan memasak makan siang untuknya lalu aku akan mengantarnya ke kantornya nanti." Ujar Alina dengan senang. Ini akan menjadi awal yang baik bagi dirinya dan suaminya. Ia akan berusaha untuk membuat suaminya senang tanpa kekurangan apapun. Yah, ia sudah memutuskan untuk memulai dengan caranya sendiri.
Semenjak kedua orang tua Alina meninggal, Alina dapat melakukan apapun walaupun pada awalnya ia sedikit kaku. Namun lama kelamaan karena sudah terbiasa, ia menjadi lebih mahir. Terutama dalam memasak. Keahliannya memang memasak. Bahkan bisa dikatakan itu adalah hobinya dulu. Dulu ia sempat bercita – cita menjadi seorang Chef. Namun semua tidak berjalan sesuai keinginannya. Ia terkendala biaya semenjak orang tuanya meninggal. Ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan fokus bekerja mencari uang.
Ia dapat memasak segala makanan. Dari yang sederhana sampai yang sulit sekalipun. Selama beberapa tahun terkahir ia selalu berpindah – pindah tempat kerja. Ia pernah bekerja sebagai penjual koran. Itu adalah pekerjaan pertamanya.
Setelah bekerja sebagai penjual koran selama enam bulan, ia memutuskan mencari pekerjaan lain. Ia memilih bekerja di sebuah restoran cepat saji. Tempat itu merupakan tempat yang menguntungkan bagi Alina. Karena tempat itu hanya membutuhkan seorang koki untuk membuat masakan sederhana.
Gaji disana juga cukup memuaskan. Dapat menghidupinya selama beberapa bulan kedepan. Setelah itu, ia mengambil pekerjaan lain yaitu menjadi pelayan itu sebuah club malam. Ia mendapat rekomendai dari teman kerjanya di restoran. Awalnya ia sedikit ragu, namun karena sudah terbiasa, ia mencoba menikmatinya. Walau tak jarang banyak pelanggan yang mencoba menggodanya. Akhirnya ia mengambil dua pekerjaan dalam sehari. Semua ia lakukan sampai ia menikah saat ini.
"Bibi, aku akan mengambil beberapa bahan – bahan ini. Aku akan memasaknya." Ujarnya dengan tersenyum. Kepala pelayan itu yang melihatnya lantas ikut tersenyum. Tentu dengan senang hati ia akan mengijinkan Nyonya mereka memasak. Tak ada yang melarang, karena ia juga pemilik rumah ini.
"Kalau begitu saya akan meninggalkan nyonya. Saya akan membersihkan taman. Jika Anda membutuhkan bantuan, nyonya bisa memanggil pelayan disini." Kata Emma. Alina hanya menganggukkan kepala setelah mendengarnya.
Sepeninggal kepala pelayan itu, Alina sibuk berkutat dengan segala bahan – bahan yang ada disana. Ia akan membuat Spaghetti lasagna sauce. Makanan khas Italia. Ini masakan pertama yang akan ia sajikan untuk suaminya nanti. Jika suaminya menyukai masakannya, ia akan membuat jenis makanan lain.
Mengapa bukan masakan atau makanan Perancis yang ia buat? Entahlah. Dirinya hanya tidak sedang ingin membuatnya. Ingin mencoba sesuatu yang beda. Sesuai dengan segala sesuatu yang baru dihidupnya kini.
Membuat Spaghetti Lasagna sauce sangat mudah bagi Alina. Sebenarnya ini masakan yang disajikan di restoran tempatnya bekerja. Ia tahu resep itu karena dirinya koki di tempat itu. Bahan – bahan yang dibutuhkan pun terjangkau dan mudah di dapat. Sebab itulah, ia membuat makanan yang sederhana.
Tiga puluh menit kemudian, masakan telah selesai. Ia melihat dan meneliti apakah ada yang kurang atau tidak. Setelah dirasa cukup memuaskan, ia membungkusnya dengan tempat makan. Ia terkikih geli saat tahu jika wadah bekal yang digunakan berwarna merah sedikit ungu. Terlihat lucu.
“It’s okay. Jika pria itu marah atau membuang wadah makanan ini, tak masalah. Ia akan menggantinya besok.” Gumamnya. Berjaga – jaga saja jika itu terjadi.
Ia meninggalkan dapur menuju ruang kamar untuk mengganti pakaiannya. Ia menggunakan celana jeans, atasan sweater dan dipadukan dengan sepatu sneaker putih. Sangat cocok untuk dirinya mengingat umurnya masih muda.
Perfect.
Satu kata untuk menggambarkan tentang dirinya. Biarlah dikatakan terlalu percaya diri. Dia hanya berusaha menjadi yang sempurna dihadapan suaminya nanti.
Ia keluar dari ruang kamar lalu menuju dapur dan mengambil masakannya. Ia meminta sopir untuk mengantarnya. Ia melihat mobil mewah berwarna putih yang terparkir dihalaman mansion itu.
“Oh, Nyonya. Anda ingin saya antar ke tempat Tuan?” ujar seorang sopir.
Alina mengangguk, "Benar. Tolong antarkan saya ke kantornya." Pinta Alina.
Sang sopir mengangguk setelah mendapat perintah. Dengan senang hati, ia akan melayaninya.
Perjalanan dari rumah menuju perusahaan itu memakan waktu dua puluh menit. Itu pun jika tidak macet. Jika macet, akan membutuhkan waktu lebih dari tiga puluh menit. Beruntungnya dia yang sampai tepat waktu.
Ia sampai di perusahaan suaminya. Ia turun setelah sang sopir membukakan pintu. Ia bergumam terima kasih yang dijawab senyuman oleh sopir itu. Alina menyuruh sang sopir untuk meninggalkannya disini. Ia akan memanggilnya lagi jika sudah selesai urusannya.
Alina melihat – lihat gedung itu. Sangat besar dan megah. Halaman yang luas dengan hiasan pagar – pagar yang tinggi. Dibagian depan terlihat tulisan J'MikeA Corp. Tulisan yang sangat besar.
Jadi nama perusahaannya, J'MikeA. Gumam Alina.
Ia melangkahkan kakinya memasuki lobby kantor. Disana banyak orang berlalu lalang. Terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka. Ada yang menelpon, mengobrol, dan ada yang sedang menulis. Sungguh kesibukan bagi orang – orang kantor. Sedikit meeasa iri dengan mereka.
Tak ada gunanya. Dirinya sudah dimiliki oleh suaminya. Dan juga, ia sudah putus sekolah. Tidak mungkin untuk melanjutkan. Lebih baik, fokus dengan keidupan barunya.
Ia menuju meja resepsionis. Disana ia disambut seorang wanita cantik yang sangat modis dengan dandanan seperti model. Bahkan baju yang dipakai sangat ketat. Sangat memperlihatkan bentuk tubuh. Entah ia sengaja membuat seperti atau memang ukuran bajunya yang kecil.
"Permisi." Sapa Alina.
"Ya? Ada yang bisa dibantu?" tanya resepsionis itu.
"Apakah direktur kalian ada diruangannya?" tanya Alina langsung. Resepsionis itu mengernyitkan dahi bingung. Tersadar akan ucapannya, buru – buru ia meralatnya, “Ah, maksudku adalah, aku ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini.” Resepsionis itu bertanya – tanya untuk apa orang asing ingin menemui atasan mereka. Ia memperhatikan Alina dari atas ke bawah. Seperti menilainya.
Alina yang diperhatikan sedikit risih. Ada apa dengan wanita itu? Ia berdehem dan resepsionis itu mengerjapkan mata dan melihat Alina.
"Apakah Anda sudah membuat janji?" tanya resepsionis.
"Belum. Tapi, atasan kalian mengenalku. Katakan saja kalau aku Alina." Jawab Alina.
"Kalau begitu tunggu sebentar. Saya akan menanyakan Presdir dulu." Ujar resepsionis. Dengan rasa yang terpaksa, ia menelpon sebentar lalu memberitahu kepada Alina.
"Presdir ada diruangannya. Ruangannya berada di lantai tiga puluh. Silahkan lewat lift yang disebeleh kanan." Ujar resepsionis itu.
Alina mengucapkan terima kasih dan melangkah menuju lift. Ia memencet tombol lift. Dan tak lama lift pun terbuka. Ia masuk dan memencet tombol lantai tiga puluh. Ia kagum dengan desain perusahaan itu. Bahkan liftnya pun didesain sedemikian rupa. Interiornya sangat rumit.
Ting....
Bunyi lift menandakan bahwa ia telah sampai pada tujuannya. Ia keluar dari lift. Disana ia melihat satu meja besar dan panjang. Di balik meja itu ada seseorang. Yang ia tebak sebagai asisten suaminya.
Ia melangkahkan kakinya menuju meja asisten itu.
"Permisi" sapanya. Thomas melihat dan ternyata istri Tuannya yang sudah ditunggu.
"Selamat datang Nyonya. Tuan sudah menunggu Anda di dalam. Nyonya langsung masuk saja." Ujar Thomas dengan ramah. Langsung saja Alina melangkahkan kaki kesana. Sebelum itu, ia mengetuk pintu untuk menunjukkan kesopanan.
Ia mendengar sahutan dari dalam. Ia membuka pintunya perlahan.
Dan disanalah, ia dapat melihat suaminya sedang berkutat dengan beberapa kertas – kertas yang berserakan dimeja kerjanya. Ia sangat serius. Sepertinya, ia tidak mengetahui bahwa ia sudah memasuki ruangan itu.
Alina melihat apa yang dilakukan suaminya. Bahkan pakaian yang dikenakan suaminya masih rapi. Dengan setelah jas dan kemeja. Tak lupa dasi yang bertengger disekitar lehernya. Sangat maskulin. Menambah kadar ketampanan suaminya.
"Mengapa masih berdiri disana?" kata suaminya. Alina tersentak kaget mendengar suara suaminya. Ia meruntuki dirinya yang malah melamun sesaat tadi.
"Aku...datang kemari membawakanmu makan siang. Aku memasaknya sendiri. Tapi aku tidak tahu apakah kamu menyukai atau tidak." Ujarnya pelan. Suaranya sedikit bergetar karena menahan gugup. Apalagi saat mengatakan kalimat itu, suaminya menatapnya intens.
"Bawa kemari." Perintah Mike. Ia membereskan beberapa lembar kertas yang berserakan. Lalu melepaskan jas yang melekat ditubuhnya dan menyampirkannya di kursi. Ia berjalan menuju sofa yang disediakan di ruangan itu yang dilengkapi dengan meja.
Alina berjalan menuju tempat dimana suaminya berada. Lalu meletakkan makanan yang ia bawa ke atas meja. Ia mengeluarkannya dan menyajikannya di meja. Tak lupa dengan alat makan yang lain.
Mike yang melihat apa yang dilakukan istrinya hanya diam dan memperhatikan. Dari Alina mengeluarkan makanan dari bungkusnya sampai menyajikannya dimeja. Sebenarnya ia sudah tahu jika istrinya diruangan ini. Namun, ia masih mencoba melihat seberapa jauh istrinya akan bertindak. Sampai akhirnya, dirinya sendiri yang memulai.
"Cobalah." Ujar Alina.
Tanpa menjawab, Mike mengambil makanan itu dan ia melihatnya. Ia menaikkan alisnya. Spaghetti dengan saus. Terlihat menggiurkan. Mike mengambil garpu dan mencicipinya dalam diam. Ia sedikit mengernyitkan dahi.
Alina yang melihat raut wajah Mike sedikit takut jika masakan yang ia buat tidak memuaskan. Ia masih berdiri dan memperhatikan suaminya yang masih makan itu. Ia meremas jarinya untuk mengurangi kegugupannya.
Mike yang melihat Alina masih berdiri lantas menyuruhnya duduk didekatnya. Awalnya Alina menolak, namun karena tatapan tajam milik suaminya, mau tak mau ia harus menurutinya.
"Lezat." Kata Mike. Alina menoleh dan menatap suaminya.
"Masakanmu nikmat." Ujarnya sekali lagi. Alina yang mendengarnya sangat senang. Ia tak menyangka bahwa suaminya berkata demikian. Lain kali ia akan membuatnya lagi. Kalau perlu setiap hari untuk menyenangkan suaminya. “Sangat pas di lidah. Hampir sama dengan masakan Emma yang biasanya memasak untukku.” Lanjutnya.
"Terima kasih." Ujar Alina dengan tersenyum. Mike yang melihat raut kegembiraan Alina ikut senang, walaupun tak ia tunjukkan lewat senyuman namun melalui makanan yang ia makan. Rasanya sangat lezat dan nikmat. Ia ingin mencicipinya lagi.
Mike sudah menyelesaikan makan siangnya. Ia lalu melihat Alina yang membereskannya. Istrinya ini walaupun terbilang masih muda dan terpaut jauh dengan dirinya, namun Alina bisa menjadi istri yang baik. Ia tahu bagaimana caranya melayani suami yang baik.
Tak salah jika ia memaksa gadis itu untuk menikah dengannya. Namun juga, ada sebuah alasan mengapa ia harus menikahi gadis itu. Dan mungkin...akan tetap menikahi gadis itu walau tanpa ‘alasan itu’.
"Tetaplah disini. Kau pulang denganku." Kata Mike sambil berdiri dan berjalan menuju meja kerja melanjutkan pekerjaannya.
"Tapi-"
"Temani aku bekerja" perkataan Alina terpotong dengan ucapan Mike. Ia menghela napas memutuskan untuk menurut dan kembali duduk di sofa. Jelas tidak bisa menolak, capan pria itu bukan sebuah kalimat permohonan, namun lebih merajuk pada perintah. Kini, ia harus memikirkan segala sesuatu untuk menghilangkan kebosanannya.
Alina memutuskan untuk memainkan ponselnya. Dan lagi – lagi disana banyak notifikasi dari kekasihnya. Ralat, mantan kekasihnya atau – masih menjadi kekasihnya. Ia tak tahu harus menjawab apa. Lalu ia membuka aplikasi game untuk menghilangkan kebosanan.
Tiga puluh menit berlalu, ia mulai mengantuk akibat terlalu lama bermain game. Ia meletakkan ponselnya di meja. Ia melihat suaminya masih dengan posisi yang sama dan berkutat dengan beberapa lembar kertas. Ia memilih untuk membaringkan tubuhnya di sofa dan menunggu suaminya selesai bekerja.
Mike melihat istrinya tertidur di sofa. Ia berdiri dan berjalan menuju istrinya. Ia menunduk dan menggendong istrinya menuju ruangan khusus. Ruang pribadinya. Ruangan itu terdapat tempat tidur ukuran sedang. Tempat yang ia gunakan ketika ia sedang beristirahat.
Ia membaringkan Alina. Lalu ia melihat wajah istrinya. Ia singkirkan helaian rambut yang menutupi wajah istrinya. So beautiful. Pikirnya. Ia menundukkan kepala dan mengecup kening istrinya lalu meninggalkan istrinya untuk beristirahat. Sementara dirinya akan melanjutkan pekerjaannya. Ia harus menyelesaikannya.
****
Anda Mungkin Juga Suka





