
Mysterious Love
Bab 2
“Qianqian, apa yang terjadi?”
Pertanyaan dari sang ibu membuat Qianqian terlihat mengubah posisi duduknya menjadi tegak. Sudah empat kali dalam satu minggu Liu Yi Fan melontarkan pertanyaan yang sama, seakan jawaban dirinya masih belum bisa meyakinkan wanita tersebut.
“Ma, sudah aku katakan. Tidak apa-apa.”
Liu Yi Fan menggeleng pelan, lalu berkata, “Kamu bukanlah Da Yuan yang selalu ceroboh, Qianqian. Kalau tidak ada masalah apa pun, pasti kamu tidak akan terluka seperti ini.”
“Ma, sudahlah. Jiejie pasti memiliki alasan tersendiri sampai seperti ini,” bela Da Yuan memegang lengan sang ibu untuk berhenti memarahi kakak pertamanya yang masih berada di rumah sakit.
Sedangkan Huang Yu Ning yang melihat pertengkaran ibu dan anak itu tampak menghela napas panjang, kemudian menghampiri istrinya. Jelas saja tatapan Yi Fan sedikit khawatir, meskipun cara memperlihatkannya dengan marah-marah tanpa alasan.
“Tidak apa-apa. Biarkan Qianqian istirahat sebentar,” timpal Yu Ning memegang kedua pundak istrinya lembut. “Selama ini dia telah bekerja keras. Berada di rumah sakit selama dua minggu bukanlah masalah yang mengejutkan. Bukankah lebih baik ada di sini dibandingkan kantor? Kamu akan lebih sering melihatnya, Istriku.”
Mendengar perkataan yang cukup masuk akal dari suaminya membuat Yu Ning mengangguk beberapa kali, kemudian wanita paruh baya itu kembali menatap anak pertamanya yang terlihat tersenyum paksa, seakan tidak ingin menjadikan sang ibu dalam keadaan lebih emosional.
“Baiklah, aku tidak akan menanyakan masalah kecelakaan ini, Qianqian,” putus Yi Fan mengangguk mantap. “Tapi, kamu juga harus menuruti perintahku!”
“Apa itu?” tanya Qianqian penasaran.
“Kamu harus menerima perjodohan keluarga Lu yang telah ditetapkan kemarin,” jawab Yi Fan melipat kedua tangannya di depan dada sembari tersenyum miring.
Sontak wajah Qianqian langsung ternganga tidak percaya mendengar perjodohan yang kembali dilakukan. Ia memang pernah beberapa kali dimintai persetujuan oleh sang ibu untuk mendatangi keluarga Lu, tetapi wanita itu jelas merasa sangat tidak percaya dengan kencan buta kemarin membuat dirinya merasa sangat buruk jika benar-benar menikahi Lu Jin Feng.
“Tidak!!!” tolak Qianqian keras dengan tatapan horror.
“Kenapa? Keluarga Lu itu sangat baik, Qianqian. Kamu akan hidup bahagia dengan Lu Ji Feng,” ungkap Yi Fan berusaha meyakinkan anak perempuan satu-satunya yang begitu keras kepala.
“Aku sudah memiliki calon suami!” balas Qianqian penuh percaya diri. Ia memang lebih baik berbohong sedikit dibandingkan harus menikah dengan seorang lelaki yang benar-benar ambisius seperti Lu Jin Feng.
“Siapa?”
Pertanyaan dari Liu Yi Fan membuat suasana seketika mendadak hening. Tidak ada yang bersuara sama sekali, seakan menantikan jawaban dari seorang wanita cantik yang kini masih berusaha untuk memulihkan dirinya sendiri.
“Akan aku kenalkan pada kalian berdua,” jawab Qianqian mengangguk meyakinkan.
“Jie, kamu serius, bukan?” tanya Da Yuan menatap penuh keyakinan, entah kenapa tatapan sang kakak yang terlihat gugup membuat lelaki itu merasa semuanya hanyalah kebohongan.
“Tentu saja!” jawab Qianqian mengerjap penuh percaya diri.
Namun, siapa sangka jauh dari dalam lubuk hatinya benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Untuk kedua kalinya Qianqian merasa begitu ceroboh sampai meyakinkan sang ibu bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Walaupun pada kenyataannya dipenuhi oleh kebohongan.
“Hao! Aku akan menunggu Qianqian sampai sembuh sebelum diperkenalkan ke sini,” putus Yi Fan memilih untuk mengalah.
Tanpa sadar Qianqian mengembuskan napasnya lega sambil tersenyum tipis, meskipun dibalik senyumannya menyimpan banyak pikiran yang kemungkinan akan menyiksa wanita itu dalam waktu dekat.
“Setelah keluar dari sini, kamu harus memperkenalkan calon suami! Kalau tidak, aku akan tetap menjodohkanmu dengan Lu Jin Feng,” tukas Yi Fan terdengar mantap dalam keputusannya.
“Terserah kamu saja, Ma. Aku akan tetap memperkenalkan calon suami luar biasa padamu,” balas Qianqian tidak mau mengalah, ia harus tetap menang apa pun caranya.
Setelah perdebatan masalah pernikahan terjadi, akhirnya sepasang suami-istri itu pun memutuskan untuk kembali pulang. Mereka berdua membiarkan Qianqian kembali beristirahat agar bisa cepat-cepat pulih.
Ditambah Da Yuan memiliki kegiatan di kampusnya membuat lelaki itu mengikuti kedua orang tuanya keluar dari ruangan. Secara bersamaan mereka meninggalkan kamar rawat inap milik Qianqian yang kini merebahkan tubuh dengan kedua mata terbuka lebar.
Jelas saja kini perhatian Qianqian teralihkan mencari seorang lelaki yang berada dalam profesi berbeda dengan dirinya. Agar wanita itu bisa melakukan segala hal dengan mudah. Meskipun ketakutan Qianqian akan tetap terjadi, sebab keraguan memilih lelaki yang pas membuat wanita itu mendadak dilemma.
Qianqian mengembuskan napasnya kasar sembari menendang-nendang angin sampai selimut rumah sakit mendadak terjatuh. Ia menggeram marah menatap langit-langit kamar yang berwarna putih polos.
“Nona Chen Qianqian, apa kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan dari seseorang membuat pergerakan Qianqian mendadak terhenti, kemudian terduduk dengan melebarkan kedua matanya terkejut. Ia mengerjap pelan mendapati seorang dokter yang berdiri memegang berkas di tangannya.
“Ti ... tidak apa-apa,” jawab wanita itu menggeleng pelan sekaligus tergagap bingung sekaligus terkejut mendapati seorang lelaki yang terlihat cukup tampan. “Dokter ...?”
“Margaku Bai, kamu bisa memanggilnya dengan Dokter Bai.” Lelaki tampan itu mulai melangkah mendekat sembari mengambil pulpen di saku depannya dan mencatat sesuatu. “Bagaimana perasaanmu? Apakah sudah lebih baik?”
Sejenak Chen Qianqian kembali merebahkan tubuh, lalu menjawab, “Masih sedikit pusing, Dokter Bai. Tapi, sejauh ini tidak ada apa-apa lagi.”
“Sedikit pusing, ya?” gumam lelaki itu mengambil senter kecil di dalam sakunya.
Dalam diam Chen Qianqian menatap setiap kegiatan yang dilakukan oleh dokter tampan itu. Ia seperti mengenalinya. Garis rahang dan pahatan hidung sempurna itu benar-benar mengalihkan perhatian Qianqian.
“Aku periksa sebentar, ya. Jangan terlalu tegang,” ucap Chou Fei menyalakan senter tersebut.
Lelaki itu mulai mendekati wajah Qianqian yang terlihat gugup. Kedua tangan wanita itu bertaut cemas sembari memegangi selimutnya tepat secara perlahan wajah dokter tampan berhenti tepat di depan wajahnya, hanya berjarak beberapa senti.
Kemudian, Chou Fei menyentuh pipi mulus Qianqian yang kini mendadak memerah. Wanita itu tengah menahan malu dengan jarak yang sedekat ini memungkinan Chou Fei menyadarinya.
Lelaki itu melihat bagian bawah mata Qianqian yang masih sedikit putih, walaupun ada beberapa bagian yang memerah. Membuat Chou Fei mengangguk singkat dan kembali mencatat sesuatu di kertas rekam medis milik Chen Qianqian.
“Sebenarnya tidak ada yang perlu dicemaskan, Nona Chen hanya perlu memulihkan tubuh sampai darah merahnya kembali tercukupi. Kalau bisa lebih baik sesekali makan hati sapi dan minum suplemen dari rumah sakit secara teratur,” tutur Chou Fei memasukkan senter dan pulpennya seperti semula. “Jangan sampai obat yang diberikan tidak diminum. Karena Nona Chen akan semakin lama pulihnya.”
Qianqian mengangguk singkat tanpa menjawab apa pun, sampai pandangan wanita itu mengarah pada sepuluh jemari dokter tampan di hadapannya. Membuat senyuman kecil terbit begitu manis, ia menyadari tidak ada cincin apa pun.
“Dokter Bai, apa kamu memiliki seorang kekasih?” tanya Qianqian dengan wajah penasaran.
Mendengar pertanyaan tidak terduga itu, Bai Chou Fei mendelik terkejut.
“Atau ... seorang istri?” lanjut wanita itu semakin menjadi-jadi.
Chou Fei menggeleng singkat, lalu menjawab, “Itu terlalu privasi. Aku pikir, tidak bisa menjawabnya.”
Mendengar hal tersebut, Qianqian pun bangkit dengan terduduk menatap kesal ke arah lelaki di hadapannya.
“Kalau sudah tidak ada yang diperlukan lagi, aku pergi dulu!”
Belum sempat Qianqian membalasnya, tubuh tegap nan menjulang tinggi milik Bai Chou Fei telah lenyap di balik pintu. Membuat wanita berpakaian pasien itu tampak menipiskan bibir menahan kesal.
Akan tetapi, otak pintar miliknya langsung memberikan perintah membuat Qianqian langsung meraih ponsel yang berada di atas nakas. Ia mencari nomor seseorang yang bisa membantu dirinya dengan sukarela.
“Halo, Jing Lin. Aku ingin meminta informasi seseorang,” ucap Qianqian tersenyum miring yang begitu menawan. Wajah pucatnya benar-benar menutupi api semangat yang berkobar.
***
Tepat siang hari Qianqian menghubungi sekretarisnya sendiri untuk mencari informasi mengenai seorang dokter tampan bermarga Bai. Tidak dapat dipungkiri wanita itu merasa gugup menatap berkas di tangannya yang masih tertutup rapat membuat Jing Lin tersenyum geli sembari menikmati potongan buah milik sang bos.
Terkadang Qianqian begitu baik hati membagi makanannya pada Jing Lin, meskipun tempramental wanita itu sangat menyeramkan. Bahkan Qianqian akan sangat mengamuk ketika suasana hatinya buruk, begitupun sebaliknya.
“Semua yang ada di sini informasinya, Jing Lin?” tanya Qianqian entah sudah berapa kali melontarkan hal yang sama.
“Shi, shi, Presdir Chen,” jawab Jing Ling mengangguk beberapa kali, kemudian menaruh pisau buahnya dengan menggigit apel terakhir yang telah dikupas. “Tidak sulit mendapatkan informasi tentang Dokter Bai. Karena ternyata dia adalah anak kedua salah satu orang terpenting di China.”
“Apa maksudmu?” tanya Qianqian mengalihkan pandangannya dengan kening berkerut bingung.
“Ternyata selama ini Dokter Bai benar-benar bersikap sederhana, padahal aslinya dia kaya raya. Anak keluarga kaya nomor 3 di China,” jawab Jing Lin menggeleng tidak percaya menyadari kenyataan dokter tampan itu benar-benar mengagumkan.
“Benar atau palsu? Dia benar-benar orang penting ternyata. Pantas saja aura yang dia miliki sangat kuat dan mampu mengalihkan duniaku.”
Sejenak Qianqian mulai membuka berkas yang ada di tangannya. Ia melihat curriculum vitae milik Bai Chou Fei ketika lelaki itu melamar pekerjaan sebagai dokter. Seorang lelaki tampan dengan lulusan universitas favorit di Jerman itu benar-benar bisa disebut sebagai Dewa Penyelamat.
Seakan Bai Chou Fei dilahirkan hanya untuk menjadi seorang dokter. Walaupun keluarganya berasal dari keluarga medis terkenal sejak zaman leluhur, tetapi lelaki itu benar-benar memiliki kemampuan melampaui kedua orang tuanya sendiri.
Namun, sejak kejadian sesuatu menimpa lelaki itu, Bai Chou Fei memilih untuk menyembunyikan identigasnya sebagai anak dari keluarga terhormat Bai. Bukan tidak mungkin, informasi yang bisa menjangkau seluruh fakta lelaki itu memang tidak main-main.
Qianqian memiliki banyak macam cara untuk mendapatkan semua informasi yang tidak diketahui oleh orang lain. Selain tangan yang mampu dibuat untuk bekerja tanpa lelah, nyatanya otak pintar Qianqian tidak pernah didiamkan sama sekali. Wanita itu memperluas kolega bisnisnya sampai pada orang-orang tertentu yang tidak bisa ditebak.
“Bai Chou Fei menyelesaikan program sarjana menjadi Magna Cumlaude di Oxford University. Sayangnya ketika mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan magister, dia memilih untuk pulang ke negaranya, China. Bai Chou Fei melanjutkan pendidikan kedokteran di Shanghai Jiao Tong University,” ucap Jing Lin menunjuk ke arah bukti sertifikat yang didapatkan lelaki itu ketika mengikuti banyak kegiatan kedokteran di kampus ataupun rumah sakit ternama, termasuk milik keluarganya meski mereka juga tidak mengenal satu per satu dari peserta.
“Selesai pulang di negaranya, dia kembali melanjutkan pendidikan dokter residen di Jerman untuk mengikuti penelitian sekaligus memperdalam ilmu kedokterannya menjadi spesialis. Karena Bai Chou Fei mengambil spesialis bedah syaraf yang menyuruh lelaki itu untuk belajar lebih lama,” lanjut Jing Lin menunjuk ke arah sertifikat berbahasa Inggris di tangan Qianqian.
“Dan, baru-baru ini dia kembali lagi ke China untuk menyalurkan ilmu yang selama ini dia dapat selama menjelajahi ilmu medis diberbagai negara. Cukup mengagumkan menghabiskan waktu usia mudanya dengan pendidikan,” tukas Jing Lin menyudahi perkataannya.
“Wah, kenapa hebat sekali!” puji Qianqian mendadak takjub dengan seorang lelaki yang tanpa disangka memiliki banyak gelar dalam bidang pekerjaannya.
“Nona Chen, ini belum seberapa yang kamu lihat. Karena Bai Chou Fei melewati masa sekolah menengahnya akibat dia terlalu pintar. Bisa dikatakan dia setara dengan professor yang menjadi panutan bagi banyak orang. Sebab, dia belajar medis sama seperti belajar selama 10 tahun penuh, meskipun dia baru saja menyelesaikan selama delapan tahun penuh,” balas Jing Lin tersenyum senang membayangkan lelaki mengagumkan seperti itu menjadi suami masa depannya. Kemungkinan ia tidak akan perlu merasa pusing ketika malas untuk ke rumah sakit, sebab suaminya sendiri sudah menjadi dokter yang dihormati banyak orang.
“Apa lagi yang kamu temukan?” tanya Qianqian menatap penuh minat.
“Uhm ... dia pernah menjadi relawan di Harbin ketika dalam wabah Virus Corona,” jawab Jing Lin mengembuskan napasnya panjang sembari tersenyum kecut.
Menyadari sikap sekretarisnya yang terlihat berbeda, Qianqian pun mengernyit bingung. Entah kenapa ia semakin penasaran dengan semua yang pernah dilalui oleh Bai Chou Fei. Sedikit rasa cemas terhadap lelaki itu dengan kemampuan medisnya yang berada di atas rata-rata.
“Dokter Bai pernah mengalami isolasi selama empat minggu penuh akibat kondisinya yang tertular virus mematikan tersebut,” lanjut Jing Lin mengangguk meyakinkan. “Ketika semua orang berusaha menjauhi orang yang terjangkit, tapi tidak dengan Dokter Bai yang langsung menanganinya tanpa merasa takut sama sekali.”
“Lalu, apa yang terjadi?” tanya Qianqian semakin penasaran.
“Tenang saja, Dokter Bai melewati semua itu dengan baik,” jawab Jing Lin tersenyum tipis. “Demam yang menjadi ciri-ciri penyakit itu menghilang dengan sendirinya dalam waktu satu bulan. Bahkan Dokter Bai benar-benar tidak diperbolehkan untuk mendekat kepada siapa pun. Dia berada di tenda khusus dan hanya orang-orang medis berpakaian Alat Pelindung Diri yang bisa mendekat. Untuk sekedar memberikan makanan dan minuman, lalu obat untuk menurunkan demas sekaligus sesekali mengecek tubuhnya sendiri.”
Tanpa sadar Qianqian meneteskan air mata mendengar perkataan sekretarisnya yang benar-benar mengejutkan. Ia tidak menyadari bahwa lelaki dengan keluarga kaya raya tanpa harus bekerja keras itu sangat mengagumkan.
Bukan hanya wajahnya yang tampan, tetapi hatinya benar-benar seperti malaikat. Julukan Dewa Penyelamat yang disahkan pada Bai Chou Fei memang sesuai dengan tindakannya. Lelaki itu tidak memedulikan apa pun, termasuk nyawanya sendiri. Membuat kekaguman Qianqian semakin besar dan yakin bahwa pilihannya tidak akan salah.
“Okay, I will choose him,” ucap Qianqian menutup berkas tersebut sembari tersenyum miring, lain halnya dengan Jing Lin yang mengangguk kaku melihat sikap sang bos begitu serius memutuskan sesuatu.
Anda Mungkin Juga Suka





