Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Special CEO

My Special CEO

Cleo Alineava Lynn, gadis bermata biru yang akrab disapa Cheva, lebih memilih bekerja di perusahaan luar daripada memimpin bisnisnya sendiri. Tak disangka, ia justru jatuh hati pada atasannya, Devan Eduardo Hutresky. Devan yang awalnya skeptis terhadap cinta pun terpikat sejak pertemuan pertama. Namun, asmara mereka tak berjalan mulus. Berbagai rintangan terus menguji ketahanan hubungan keduanya. Sanggupkah cinta menjadi alasan mereka bertahan, atau justru memicu perpisahan?
Bab
Bagikan

Bab 3

Cheva baru saja selesai mandi. Jam di atas nakas sebelah tempat tidurnya menunjukkan pukul 5.30 pagi. Dewi sudah mewanti-wanti Cheva untuk tidak terlambat di hari pertamanya bekerja di kantor baru. Karena itu sudah sejak satu jam yang lalu, Cheva dipaksa ibunya yang terus mengomel soal keharusan Cheva untuk mandi dan bersiap-siap.

Setelah memakai skincare dan make up tipis di wajahnya, Cheva beralih ke closet pakaiannya. Memilah-milah beberapa blazer dan kulot. Ia tidak ingin salah kostum pagi ini.

"ED Tech bukanlah perusahaan yang formal-formal banget kayanya. Hm ... bagusnya pakai yang mana ya..." Cheva memadu padankan beberapa kemeja semi formal dan kulot berwarna senada, "Fine. Ini lumayanlah ya to make a good first impression," ucap Cheva setelah memilih kemeja berwarna krem lengan panjang dengan aksen pita kecil dan renda di lehernya dipadukan dengan kulot berwarna coklat tua.

Selesai mengenakan pakaiannya, tidak lupa Cheva menyemprotkan parfumenya di beberapa bagian tubuhnya kemudian berjalan menuju ke ruang makan.

"Sudah ready, Va?" tanya Dewi saat melihat kedatangan Cheva.

"Ya, Mom. Bingung mau pakai apa. Takutnya Cheva salah kostum..." Dewi tertawa.

"Pakaian kamu sudah paling aman. Here, eat your breakfast first."

"Thanks, Mom..." Cheva mengambil piring sarapannya.

Setelah menghabiskan waktu seperempat jam untuk menghabiskan sarapan keduanya. Cheva kemudian berpamitan kepada ibunya.

"Mom, Cheva berangkat dulu yaa. Doain ya mom..." Dewi mengangguk kemudian mencium kening anak gadisnya itu.

"Always. Take care, honey..."

"Yeap!!" Cheva kemudian berjalan menuju garasi mobilnya.

***

Pukul 7.00 Cheva tiba di halaman parkir ED Technology. Gedung pencakar langit tersebut terlihat masih lengang. Namun Cheva memilih untuk turun dari mobilnya dan berjalan menuju lobby.

"Good morning, Miss. May I help you?" sapa security kantor itu.

"Ya, sir. My name is Cheva Lynn. Ms. Sandra ask me to come to office today for some interview..." security itu mengangguk.

"Just call me Edo, Ms. Lynn. Mari saya antarkan..." Cheva mengikuti langkah security bernama Edo tersebut, "Ruang Ms. Sandra ada di lantai empat, Ms. Ruangan pertama sebelah kanan setelah anda keluar dari lift ini. Apakah arahan saya sudah anda pahami, Ms?"

"Oh ya, sir. Thank you..."

"Welcome, Ms. Lynn. Have a nice day..."

Setelah diantarkan ke lift oleh Edo, Cheva kemudian melanjutkan perjalanannya sendiri. Cheva melihat angka di lift sampai ke angka 20. Artinya gedung ini mungkin terdiri atas 20 lantai atau lebih. Perusahaan yang luar biasa.

Ting!!!

Pintu lift terbuka. Cheva kemudian menuju ruangan yang sebelumnya sudah ditunjukkan Edo melalui penjelasannya. Saat ia keluar dari lift, terdapat tulisan besar Human Resource Division di dindingnya.

"Welcome, Miss. May I help you?" seseorang menyapa Cheva lagi.

"Ah, ya. My name is Cheva Lynn. Saya ingin menemui Ms. Sandra?"

"Oh ya. Mari saya antarkan. Ms. Sandra sudah menunggu anda, Ms." Cheva menganguk.

Ternyata lantai 4 adalah lantai khusus bagian kepegawaian. Setelah Cheva tiba di depan ruangan bertulisan Head of Human Resource Division, gadis yang mengantarkan Cheva mengetuk pintu itu beberapa kali.

"Excuse me, Ms. Sandra. Ms. Lynn is here..."

"Oh, fine. Please come in, Ms. Lynn. Thank you, Livia..." Cheva pun masuk.

"Hello, Ms. Sandra. My name is Cleo Aneliava Lynn. Anda bisa memanggil saya dengan sebutan Cheva..." Joana tersenyum dan menjabat tangan Cheva.

"Welcome to our company, Ms. Cheva. I'm Joana Sandra. Kau bisa memanggilku Joana saja." Cheva tersenyum dan mengangguk, "Have a seat, Cheva..."

"Thank you, Miss..." Joana berjalan menuju lemari berkasnya dan mengeluarkan snechelter hitam dari dalamnya.

"Kau sudah membaca tentang perusahaan kami?"

"Hah? Ah, ya, Miss. Beberapa ya..."

"Kau tahu, kau akan bekerja dengan siapa?"

"Karena jobdesk saya adalah sebagai sekretaris, artinya saya akan menjadi sekretaris kepala devisi mungkin? Mungkin sekretaris anda, Miss?" Joana tertawa kemudian menggeleng.

"No, Cheva. Kau beruntung mendapatkan posisi yang menjadi incaran banyak orang..." Cheva menatap Joana bingung.

"Posisi yang diincar banyak orang? Kenapa, Miss?" Joana tersenyum lalu menyodorkan selembar kertas.

"Kau baca dulu surat perjanjian kerja ini dengan baik. Pahami, jika ada yang kurang jelas, tanyakan padaku. Jika sudah paham dan kau setuju, maka bubuhkan tanda tanganmu..." Cheva mengangguk lalu mulai membaca surat perjanjiannya.

Setelah beberapa menit, Cheva selesai membaca perjanjiannya.

"Saya sudah memahami isi perjanjian ini, Miss..."

"Ada yang ingin kau tanyakan?" Cheva menggeleng.

"Sepertinya sudah cukup jelas."

"Baiklah, kau bisa menandatangani surat itu." Cheva mengangguk kemudian membubuhkan tanda tangannya.

"Here, Miss..." Cheva menyerahkan kembali surat perjanjian itu.

"Baik, setelah ini, aku akan mengantarkanmu ke ruang kerjamu. Termasuk menjelaskan beberapa detil dari ruangan Mr. Hutresky, atasanmu..." Cheva mengangguk, "Kau juga akan menerima salinan dari surat perjanjian ini esok lusa. Karena hari ini, Mr. Hutresky tidak ke kantor. Kemungkinan surat perjanjian ini baru akan ditandatangani beliau besok. Jadi, kau bisa pelajari dulu jadwal kegiatan, hal-hal yang harus kau persiapkan dan kebiasaan dari Mr. Hutresky..."

"W... wait, Miss. Mr. Hutresky adalah..." Joana tersenyum dan mengangguk. Ia paham yang Cheva pikirkan.

"Ya. Mr. Hutresky adalah Mr. Devan Eduardo Hutresky, pemilik dan pemimpin utama ED Technology. Dan kau, akan menjadi sekretarisnya..." Cheva menutup mulutnya.

"How c..." Joana tertawa melihat keterkejutan Cheva.

"Ya, Cheva. Bukankah ini yang biasanya para calon sekretaris inginkan??"

"Ya. But, Miss, you know that I'm just a fresh graduation's secretary and I have no experience about this job. Apakah tidak terlalu beresiko menempatkan saya di posisi penting seperti ini?"

"So, you mean that kau tidak percaya diri?" Cheva terdiam. Dia sangat percaya diri, dia yakin dirinya bisa. Tapi, di perusahaan besar seperti ini.

"I totally trust my self, Miss. But..."

"So, don't make Mr. Devan menyesali keputusannya menerimamu menjadi sekretarisnya, Cheva. I know you'll learning and trying hard. Right?" Cheva tersenyum dan mengangguk.

"Terima kasih karena sudah mempercayai saya, Miss. Mohon bimbingannya!" Joana tersenyum.

"C'mon, aku akan mengantarkanmu ke ruang kerjamu..." Cheva mengangguk lalu mengikuti langkah Joana.

***

Cheva diam dan memperhatikan selama ia dan Joana dalam perjalanannya menuju ruang kerja Cheva saat ini. Saat di lift, Joana menekan tombol 18. Artinya ruangannya dan mungkin ruang kerja CEO perusahaan ini berada di lantai 18.

Benar saja. Saat keduanya keluar dari lift, mereka disambut dengan logo besar bertuliskan ED Technology Indonesia. Dan tidak banyak ruangan di lantai itu. Hanya sebuah ruang rapat, ruang tamu besar, pantry, ruang sekretaris (yang tentu saja menjadi ruang milik Cheva kedepannya) terkoneksi dengan sebuah ruangan lain bertuliskan CEO.

"Ini adalah ruanganmu. Pastikan ruanganmu bersih dan wangi. Mr. Devan tidak menyukai barang-barang yang berserakan atau tidak rapi..." ucap Joana yang dibalas anggukan oleh Cheva, "Ayo, kita ke ruangan Mr. Devan..." Cheva mengangguk.

Joana mengajak Cheva memasuki ruangan Devan. Ruangan yang cukup luas, terdiri atas ruang tamu dengan sofa besar berwarna dark, senada dengan interior ruangan yang juga berwarna kombinasi putih, abu-abu dan navy. Di sudut ruang tamu terdapat taman kecil berhias air terjun yang menambah kesan cozy karena gemericik air yang terdengar di seluruh ruangan itu.

Di bagian lain, terdapat satu meja kerja lengkap dengan all in one pc, printer, fax dan telpon kantor. Di belakang meja kerja tersebut tergantung lukisan besar yang cukup artistik. Kemudian ada lemari kecil berisi bingkai-bingkai foto. Baru saja Cheva hendak melangkah mendekat kearah lemari tersebut, langkahnya terhenti.

"Ehm, apa yang kalian lakukan di sini?!" sebuah suara yang terdengar berat mengejutkan keduanya.

"Sir??" kali ini Joana yang menjawab. Cheva ikut menoleh dan tatapannya terhenti pada sosok laki-laki yang berdiri di belakang mereka.

"Kenapa kau membawa orang lain ke ruanganku, Jo?!" untuk sesaat pandangan mata Cheva menatap lurus ke arah laki-laki itu.

"Maafkan saya, sir. Ehm... Cheva, Cheva!!!" Joana memanggil Cheva yang nampak belum sadar karena ia terus menatap Devan.

"Erhhmmm!!!" suara keras Devan mengagetkan Cheva sekaligus menyadarkannya. Dan Cheva baru menyadari kalau ia sedang ditatap oleh dua orang.

"Cheva!!" panggil Joana kali ini. Cheva langsung bergegas mendekati Joana, "Maafkan saya, sir. Ini adalah Ms. Lynn, sekretaris baru anda. Saya baru saja mengenalkan ruangan di lantai ini padanya..." Cheva membungkuk.

"Hallo, Sir. Perkenalkan, nama saya Cleo Aleniava Lynn. Anda bisa memanggil saya Cheva..." ucap Cheva sopan.

Cheva sedikit tertegun. Sepertinya ia pernah bertemu dengan bossnya ini. Dan ya, kenapa bossnya ini nampak sangat muda sekali. Cheva mengira, Devan adalah seorang laki-laki tua kaya raya berusia 50-60 tahunan. Ia benar-benar tidak menyangka akan menjadi seorang sekretaris dari seorang boss muda. Tapi, kenapa wajah bossnya ini sangat familiar?

"Ya. Apakah kau memang punya hoby termenung?" Cheva terdiam. Joana harus menyikutnya pelan agar Cheva kembali tersadar.

"Pardon me, sir??"

"KAU TIDAK MENDENGARKAN UCAPANKU SAMA SEKALI???!!!" suara Devan seketika meninggi. Joana dan Cheva sama-sama menunduk.

Sial! Kenapa aku harus kena marah di hari pertamaku bekerja! benak Cheva.

"KAU JANGAN MAIN-MAIN MEMBERIKANKU SEKRETARIS SEPERTI INI, JOANA!!! AJARI DIA ATAU AKU AKAN SEGERA MEMECATNYA!!!" Cheva terdiam.

Kasar sekali laki-laki ini. Dia menyepelekan seorang Cheva??!! Cheva kesal setengah mati mendengar ucapan Devan.

"Maafkan saya, sir. Saya akan pastikan Cheva tidak membuat kesalahan. Anda jangan khawatir..."

"PERGILAH. BERI TAHU DIA AGENDA-AGENDA PENTINGKU. AKU TIDAK INGIN ADA KESALAHAN LAGI." Joana mengangguk. Ia kemudian mengajak Cheva untuk keluar dari ruangan Devan.

***

"Apakah Tuan Devan memang kasar seperti itu??" ucap Cheva saat ia kembali ke mejanya. Joana tertawa.

"Kau harus segera terbiasa, Cheva. Aku yakin kau bisa. Perhatikan yang sudah aku jelaskan tadi. Okay. Aku pergi!!!" baru saja Cheva akan mencegah Joana pergi, tapi wanita itu sudah keburu menghilang di balik pintu. Cheva menghela nafas.

Awal yang cukup berat. Bagaimana tidak, baru saja akan bekerja namun Cheva sudah memberikan kesan yang buruk dengan atasannya. Namun untungnya, Cheva tidak bertemu lagi dengan bossnya itu hingga jam kerja berakhir.

***

Di ruangannya, Devan terpaku menatap lurus ke arah jendela kaca besar yang berada di salah satu sisi ruangannya yang tepat mengarah ke meja Cheva, sekretaris baru yang sebelumnya dikenalkan Joana. Sejak beberapa jam yang lalu, saat Devan menemukan keberadaan gadis itu di ruangannya, jantungnya berdegup sangat kencang. Terlebih saat gadis itu tiba-tiba berbalik dan menatapnya, mata biru gadis itu seakan menghipnotis dirinya, membuatnya sedikit tidak bisa berpikir dan bertingkah laku dengan baik.

Sehingga lagi-lagi, kata yang keluar dari mulutnya hanyalah ucapan kasar. Padahal ia sama sekali tidak berniat mengucapkannya.

Devan terus memandangi Cheva dari dalam ruangannya. Ya, hingga saat ini, tidak ada yang menyadari bahwa kaca depan ruangan Devan adalah kaca satu arah dari luar. Namun Devan tetap bisa memperhatikan apa yang dilakukan sekretarisnya dari dalam.

Sepertu saat ini, Devan melihat Cheva sedang berjalan mondar-mandir di ruangannya. Seakan sedang kebingungan.

"Ada apa dengan gadis ini? Apakah dia sedang memikirkan sesuatu?" ucap Devan sambil memandang ke arah Cheva.

Tiba-tiba, Cheva berjalan kearah pintu ruangan Devan.

"W... wait, wait. Mau apa kau kemari, huh?" Devan sedikit gugup. Ia tidak siap jika harus berhadapan dengan Cheva kembali. Namun gadis itu terhenti di depan pintu. Ia nampak berpikir sejenak lalu kembali menuju mejanya, "Gadis aneh!!! Apa yang sebenarnya dia pikirkan!!" ucap Devan kesal.

Hingga jam kerja berakhir, Devan sama sekali tidak ingin mengganggu Cheva. Bukan karena dia tidak punya hal yang ingin Cheva kerjakan, namun Devan merasa dirinya belum siap jika harus menatap mata gadis itu lagi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Ditinggal Suami Dinikahi Adik Ipar
8.9
Shifra, yatim piatu yang dinikahi miliarder Elzien Kagendra, harus kehilangan suaminya akibat kecelakaan tragis. Hidupnya berubah menjadi pelayan di rumah mertua hingga sebuah insiden satu malam memaksanya menikahi adik iparnya sendiri. Saat telah memiliki anak, Elzien yang disangka wafat tiba-tiba muncul kembali. Kini Shifra terjebak dalam dilema besar antara cinta pertamanya atau suami kedua yang merupakan ayah dari bayinya. Siapa yang akan dia pilih?
Sampul Novel Hakikat cinta yang kau nodai
9.1
Hana lelah menghadapi perselingkuhan Devan yang terus berulang meski telah berkali-kali dimaafkan. Setelah delapan tahun bersabar, ia akhirnya memilih bercerai. Di tengah luka, hadir Rama, pewaris Abimana Group yang saleh, sebagai oase ketenangan. Namun, cinta mereka terhalang status Hana sebagai janda dua anak dan hierarki bisnis keluarga Rama. Akankah Rama diterima oleh anak-anak Hana, atau justru Devan kembali mengejar mantan istrinya yang dulu ia khianati?
Sampul Novel Harga yang Harus Dibayar : Sugar Baby
8.0
Arina merupakan sosok gadis cerdas dan ambisius yang terjebak dalam pusaran dunia mafia setelah bertemu Alvaro. Sebagai pemimpin jaringan bisnis ilegal berpengaruh di kota, pria berusia awal 40-an tersebut terobsesi menjadikan Arina miliknya. Alvaro tidak ragu memanfaatkan kekayaan serta kekuasaannya demi mendapatkan apa yang diinginkan. Kini, kehidupan Arina berubah total saat dirinya dianggap sebagai permata berharga oleh sang penguasa gelap tersebut.
Sampul Novel ISTRI ORANG
8.2
Ayana terjebak dalam kesepian akibat sikap dingin Devaro, suaminya. Di tengah kehampaan itu, kehadiran Javier sang bos memberikan warna baru hingga Ayana jatuh hati. Tanpa disadari, hubungan terlarang mereka adalah bagian dari rencana balas dendam Javier terhadap Devaro. Namun, niat jahat itu perlahan terkikis oleh cinta tulus yang tumbuh tak terduga. Akankah Devaro sanggup menghadapi kenyataan bahwa istrinya telah berpaling pada pria yang sangat membencinya?
Sampul Novel Membebaskan Diri: Cinta CEO yang Hilang
8.8
Miley bertahan dalam pernikahan dingin dengan Harold meski sang suami mencintai wanita lain. Saat semua orang menanti kehancurannya karena kembalinya cinta sejati Harold, Miley justru memilih pergi dan menandatangani surat cerai. Harold yang murka menuntut penjelasan, namun Miley dengan tenang mengumumkan rencana pernikahan barunya. Ternyata, selama ini Miley tidak benar-benar mencintai Harold; ada sosok lain yang selama ini diam-diam ia dambakan dalam hatinya.
Sampul Novel Mendadak Kaya
8.4
Pasca kehilangan pekerjaan, seorang gadis berlesung pipi mendapat tawaran tak terduga yang mengubah nasibnya. Ia diminta berkencan satu malam di rumah seorang pria misterius dengan imbalan fantastis sebesar seratus juta rupiah. Sang pria menjamin bahwa agenda mereka hanyalah makan malam bersama tanpa ada tuntutan lainnya. Bak rezeki nomplok di tengah kesulitan, ia pun menyadari bahwa roda kehidupan memang berputar dengan sangat tidak terduga.