![Sampul Novel My [Secret]ary](https://v.melolo.com/b1265344voduse1318177724/a06eef1b5001834806832637051/bf1PRRjDwa8A.webp!15491.webp)
My [Secret]ary
Bab 2
Seumur hidup, Raya tidak pernah berkhayal kalau dia akan ada di dalam satu mobil yang sama dengan seorang Jevano. Dulu, saat masih kuliah, mendekat pun Raya tidak mampu. Dia terlalu takut dengan tembok tebal yang Jevano bangun agar orang lain tidak menerobos masuk ke dalam hidupnya.
Sekarang, rasanya seperti sebuah keajaiban. Jevano datang ke rumahnya, menghadap ayahnya, sebagai seorang sekretaris baru yang akan membimbingnya. Apalagi yang bisa Raya rasakan selain perasaan senang tak terkira?
Kalian tahu bukan, jatuh cinta itu sangat menyenangkan. Merasakan bagaimana letupan emosi membuncah di dada seperti lava panas gunung berapi. Terasa mendebarkan. Bahkan hanya dengan duduk di belakang mobil dengan Jevano yang menyetir membuat Raya merasa seluruh dunia sedang berputar di sekelilingnya. Dia merasa menjadi pemeran utama dalam cerita romansa novel.
Ah, dia mulai berkhayal sekarang. Baiklah hentikan itu sebelum semuanya menjadi jauh.
“Kita mau ke mana deh?” tanya Raya, mencoba membuka percakapan. Padahal dia sudah tahu kalau mereka sedang menuju kantor skincare Chinara, salah satu anak perusahaan Chinar Group.
Jevano melirik Raya lewat kaca spion di atas kepalanya. Hanya lirikan saja, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. Lirikan itu pun seakan memberi tahu Raya kalau dia akan mengetahui ke mana mereka pergi saat mobil yang dikendarai Jevano berhenti di satu tempat.
Gagal sudah rencana Raya membuka percakapan. Namun, Raya yang tidak suka dengan suasana keheningan dalam mobil segera mencari topik pembicaraan lain. Dia harus membuat Jevano mengucapkan beberapa patah kata.
“Kita belum kenalan loh, apa nggak mau kenalan dulu?” Raya memancing topik pembicaraan dengan hal lain. Tujuannya saat ini hanyalah membuat Jevano berbicara.
“Saya udah tahu kamu.” Jawaban singkat itu membuat Raya memajukan bibirnya.
Benar-benar Jevano ini. Tidak bisakah dia diajak bersantai sedikit? Kenapa sikapnya dingin dan kaku sekali? Dasar laki-laki es.
“Tapi aku belum tahu kamu siapa!” seru Raya. Lama-lama kesal juga dengan Jevano yang sama sekali tidak menunukan minat berdialog dengannya.
Sekali lagi Jevano melirik ke arah spion di atas kepalanya, melihat ke Raya. Satu alisnya terangkat, seolah mengatakan ‘kamu yakin?’.
Raya rasanya seperti tertangkap basah sewaktu Jevano terus menatapnya dari kaca spion, lantas melontarkan sebuah kalimat ketika mobil berhenti di perempatan jalan karena lampu merah.
“Orang yang pernah mengirimi saya penangkal mimpi tidak mengenal saya? Bagaimana mungkin?”
Oh! Shit! Raya tidak pernah membayangkan sama sekali kalau Jevano mengetahui dialah pelaku pemberi penangkal mimpi di hari kelulusannya. Waktu itu Raya hanya sedikit iseng, dia membuat penangkal mimpi warna putih dengan hiasan bulu-bulu di sampingnya. Raya pikir benda itu bisa memberi ketenangan untuk Jevano selama tidur.
Dikirimkannya penangkal tidur itu lewat salah seorang mahasiswa kampus yang kebetulan datang ke wisuda. Raya tidak mengenal orang itu, tapi dia memintanya untuk mengantarkan hadiah ke Jevano. Jadi, dia tak pernah tahu apakah Jevano bahkan menerima hadiahnya serta mengetahui dia pengirimnya.
Ternyata, kenyataan yang selama ini Raya tidak ingin tahu terbongkar secara gamblang tepat di depan matanya, dengan pelaku si objek utama dari kisah itu.
Lagi pula, kenapa Jevano malah berbicara soal itu? Laki-laki es di depannya ini seperti tak punya perasaan saja. Membahas sesuatu yang berhubungan dengan hati seakan tak ada yang terjadi. Pasalnya di dalam hadiah itu, Raya juga menuliskan surat kalau dia sangat mengagumi Jevano selama dirinya berkuliah di kampus.
Mahen tidak pernah tahu kelakuannya yang satu itu, karena kalau Mahen sampai tahu, sudah habis Raya dimarahi. Mahen adalah tipe yang tidak membiarkan perempuan mengejar laki-laki demi cinta yang belum tentu terbalas.
Pada akhirnya Raya membuang muka ke samping, memilih memperhatikan pemandangan di luar jendela mobil. Mood mengajak bicara Jevano sudah terjun entah ke mana. Malah sekarang dia ingin sekali segera menghilang dari hadapan Jevano untuk menyembunyikan rasa malunya.
***
“Bu Puji dan yang lain sudah menunggu di dalam.” Seorang perempuan yang bekerja sebagai sekretaris Bu Puji berbicara ketika Raya dan Jevano tiba di depan ruang pertemuan.
Raya mengangkat alis. “Yang lain? Maksudnya bukan cuma Bu Puji yang ada di dalam?”
Sekretaris yang ditanyai terlihat bingung, dia lantas mengangguk patah-patah. Ya memang, pertemuan kali ini ingin membahas produk skincare baru yang akan diluncurkan, jadi tidak hanya ada Bu Puji saja di dalam.
“Hah? Tapi Ayah tidak bilang begitu ta—“
Ucapan Raya terpotong ketika Jevano berjalan lebih dulu melewatinya, membuka pintu ruang pertemuan. Tangannya memberi gerakan, mempersilahkan Raya masuk ke dalam.
“Aku tidak mau masuk,” kesalnya. Dia ingin berbalik pulang, melakukan protes ke ayahnya dan bilang kalau dia tidak pernah siap untuk hal ini.
Namun, sebelum melakukan itu, Jevano lebih dulu menarik lengan Raya, sedikit mendorongnya pelan untuk masuk ke ruang pertemuan. Jevano mengikuti di belakang, menutup pintu ruangan.
Semua mata langsung tertuju pada mereka. Jevano lagi-lagi berjalan lebih dulu, memberi isyarat pada Raya untuk mengikutinya.
Mata Raya terpejam sebentar sebelum akhirnya menghela napas panjang. Dia membuka matanya, lalu tersenyum hangat ke semua orang di dalam ruangan. Kakinya melangkah mengikuti Jevano. Tidak ada pilihan lain, Raya harus mengikuti apapun yang akan terjadi dalam pertemuan ini. Sekretaris menyebalkannya itu sama sekali tidak membantu. Dia sepertinya malah ingin menjebak Raya, memaksanya melakukan apapun.
Jevano berhenti melangkah di dekat satu kursi yang berada hampir dekat dengan ujung, seperti kursi tempat duduk para petinggi. Tangan Jevano menarik kursi itu ke belakang, menyuruh Raya duduk lewat isyarat.
Yang disuruh hanya bisa menuruti, dia sudah ada di sini sekarang. Tak ada gunanya melakukan protes ke Jevano atau nanti dia akan mempermalukan nama ayah dan citra perusahaan.
“Selain ingin mempromosikan produk baru dari brand kita, saya juga ingin memperkenalkan seseorang yang akan menjadi direktur utama, memimpin perusahaan ini ke depannya. Silahkan.” Bu Puji meminta Raya berdiri untuk perkenalan.
Raya sendiri sempat syok di tempat, dia kaget sewaktu Bu Puji bilang kalau dia akan menjadi direktur utama perusahaan skincare ini. Hei! Dia bahkan datang ke sini atas dasar paksaan ayahnya. Dia tidak tahu sama sekali terkait pengangkatan ini.
Oh my god. Kepala Raya mendadak pusing sekali. Begitu banyak kejutan dia terima dalam satu hari.
“Silahkan perkenalkan diri Anda,” pinta Bu Puji.
Raya mengangguk pelan, menangkupkan kedua tangan di depan tubuh. Dia gugup sekali. Semua mata terus memandang ke arahnya seakan dia adalah hal menarik yang tak boleh dilewatkan.
“Saya Naraya Putri Chinar ....” Kalimatnya terhenti di sana, dia bingung ingin berbicara apa lagi. Kepalanya menoleh ke belakang, mencari keberadaan Jevano.
Raya seakan meminta tolong, ingin Jevano membantunya berbicara. Namun, sekretarisnya itu hanya membuang wajah, melihat ke arah lain.
Astaga! Benar-benar menjengkelkan! Oh Tuhan. Selamatkan Raya sekarang juga.
Anda Mungkin Juga Suka





