
My Lovely Teacher
Bab 3
Dengan penuh keraguan Alice menatap mata Zayn. Bibirnya kelu tak mampu berkata-kata.
"Dia adalah....Tommy..." Alice tak melanjutkan ucapannya.
"Tommy? maksud kamu Tommy teman sekelas aku?" tanyanya tak percaya.
Reaksi Zayn membuat badannya bergetar hebat. Ia tak menyangka bahwa Tommy sahabat karibnya adalah pacar Alice yang sebenarnya.
"Maafkan aku Zayn! aku juga merahasiakannya pada yang lain. Kami sudah setengah tahun ini berpacaran," jelasnya.
Alice meneteskan air mata. Ia tak bisa membendungnya lagi. Selama ini ia berbohong pada Zayn, akan tetapi jauh di lubuk hatinya ia mempunyai sebuah rasa pada pemuda itu.
Zayn terpaku ditempatnya berdiri. Mereka tidak jadi pulang karena ia ingin tahu semuanya tanpa terkecuali.
"Kamu selalu ngomong ke Tommy kalau aku ini manis dan menggemaskan kan? makanya Tommy menyuruhku untuk mengerjaimu sedikit," jelasnya menyesali perbuatannya.
"Jangan bohong kamu!" ia menarik tangan Alice dengan kasar.
"Tidak, aku tidak bohong Zayn! Tommy dan Rendi selalu meremehkanmu dan menjelekkanmu." Jelasnya lagi.
Zayn mulai berlari meninggalkan Alice yang masih menangis dikamar hotel. Ia mengingat kembali perkataan Tommy beberapa hari yang lalu.
"Kalau ada apa-apa ceritakan saja semuanya! kita kan temen," ucap Tommy dahulu padanya.
"Apa maksudnya itu Tommy?" geramnya sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
Tak terasa ia berlari ke arah rumahnya. Hari sudah sangat malam. Ia langsung masuk kedalam rumah tanpa mengetuk pintu karena ia punya kunci cadangan.
Klak...pintu ia buka dengan cepat.
"Zayn...kemana saja kamu? kerjaanmu tiap malam hanya keluyuran aja bisanya," tegur papanya kesal.
"Selamat datang Zayn. Sayang...kamu jangan emosi begitu!" ia mendekati suaminya.
Zayn hanya melirik mereka sekilas saja. Ia sama sekali tak peduli pada kedua orangtuanya.
"Gara-gara kamu gak bisa ngajarin anak, dia jadi sampah kayak gini!" Pria itu mencaci istrinya.
"Kemana aja kamu sampai malam begini baru pulang?" Ia marah pada anak satu-satunya.
Zayn tak menggubris pertanyaan papanya. Ia melangkah masuk kedalam kamarnya.
"Dia pasti main ke rumah tetangga sayang! jangan marahin dia dong!" Mamanya berusaha membela.
"Nggak usah banyak alasan!" Ia menepis tangan istrinya.
Zayn yang berada di dalam kamar mengambil tasnya dan membawa beberapa pasang pakaian. Ia sudah malas berada di rumah yang seperti neraka baginya. Tak lupa ia membawa perlengkapan penting lainnya.
Ia sudah keluar kamar dengan tas di punggungnya. Ia tak memperdulikan kedua orang tuanya yang berdebat.
"Zayn...mau kemana kamu? beraninya mengacuhkanku!" Papanya sungguh berang.
"Zayn, kemarilah nak!" Mamanya hanya mampu memanggil tanpa bisa berbuat apapun.
Klak, pintu sudah dia tutup dengan kencang. Ia melangkah keluar rumah ditengah malam tanpa memperdulikan situasi di sekitarnya.
"Lihat itu anakmu! selalu saja berulah!" Ia kesal dan masuk ke kamarnya disertai membanting pintu keras-keras.
Istrinya hanya bisa mengelus dada melihat tingkah anak dan suaminya.
Zayn yang masih berada di balik pintu hanya bisa tersenyum palsu ketika ia mendengar suara mereka.
Ia menengadah melihat langit malam yang gelap. Ia teringat kehidupan lalu ketika ia masih kecil.
Zayn POV.
Aku berusia sekitar 8 tahun dan masih bersekolah di bangku sekolah dasar. Semua temanku bercerita tentang orangtua mereka yang selalu mengajaknya pergi ke pasar malam dan taman bermain. Berbeda sekali denganku yang mendapatkan perlakuan dingin dari Papa. Papa selalu mengacuhkan aku.
"Pa...hari ini ujianku dan hasilnya sudah keluar!" Ku tunjukkan kertas ujian yang bernilai sempurna.
Papa menepis tanganku dan berjalan menjauh sambil berkata,"Papa capek jangan ganggu kalau hanya buat melihat hal kecil seperti itu."
Aku yang mendengar perkataan Papa merasakan sakit di dada sebelah kiri. Rasanya keberadaanku tidak dianggap lagi olehnya.
Berulang kali aku diacuhkan oleh Papa. Aku pun sering melihat mereka bertengkar mulut dikamarnya.
Waktu aku SMP, aku tak sengaja terbangun karena mendengar suara ribut-ribut. Aku keluar dari kamar dan mendengar pertengkaran kedua orang tuaku. Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri, mama ditampar dan dipukuli oleh papa.
Sebuah pertanyaan sekaligus pernyataan papa membuatku kembali menderita sendirian. Aku yang masih berada diluar kamar hanya bisa mendengar suara mereka.
"Kamu belum putus hubungan sama pria itu juga ya?! ternyata Zayn memang bukan anak kita kan??" nada bicara papa sungguh kejam.
Sambil berkata ia langsung menampar pipi Mama. Aku terbelalak tak percaya dengan pendengaranku barusan.
"Kenapa Mama diam saja? benarkah kalau aku ini..?" batinku seketika terluka begitu dalam.
Zayn POV end.
Sejak Zayn SD sampai sekarang, keluarganya masih saja berantakan.
Pengkhianatan, saling benci, tak pernah ada rasa percaya, ia sudah muak dengan semua itu.
Tes...tes...tes
Langit malam yang semula cerah berhiaskan bintang-bintang, tiba-tiba saja mendung dan menurunkan hujannya. Akan tetapi hujan tidak membuat langkah Zayn terhenti.
Ia masih berjalan dalam hujan dan menaiki tangga jembatan layang.
Tiba-tiba saja ia terbersit keinginan yang tidak masuk akal.
"Kalau jatuh dari sini bakalan langsung mati gak ya?" Ia melihat ke arah bawah jembatan.
Disaat yang sama di sebuah restoran Jepang.
Ada beberapa orang berkumpul di satu meja makan.
Suara bantingan gelas di meja kayu.
"Aah...dasar! masa aku dibilang berisik sama muridku sendiri sih? anak kayak gitu ada juga ya, nyebelin banget!!" Evelyn menceritakan pengalamannya pada teman sejawat.
"Lagian kayaknya kamu juga nggak bisa marahin mereka kan?" Pria disampingnya tersenyum menanggapi ocehan Evelyn.
"Bener banget deh, lagian kayaknya kamu gak cocok jadi guru deh," teman wanitanya merespon.
"Hah... nggak cocok? apa menurut Fino aku juga gitu?" Ia memandang wajah pria didepannya dengan sangat lama dan tak mengindahkan perkataan Lily.
"Waktu di sekolah, kamu emang sedikit cengeng sih. Tapi kan kamu udah 2 tahun lebih jadi Guru. Menurutku usahamu sudah lumayan keras," ia tersenyum pada Evelyn yang meminta pendapatnya.
"Jadi begitu ya!? senior Fino aja yang gantiin aku gimana?" Ia meminum sodanya lagi.
"Apaan sih kamu ini malah melantur!" sanggahnya.
Mereka memutuskan untuk menyudahi makan malamnya. Kelima orang itu keluar dari restoran setelah membayar semuanya.
"Yah, hujan deh," Lily mengeluh.
"Kamu aku antar pulang ya!" ajak Fino pada Evelyn.
"Gak pa-pa kok, aku bawa payung dan saatnya aku membakar lemak dengan berjalan kaki." Ia tersenyum lebar.
Mereka berpisah, Fino mengambil payung wanita itu. Mereka berdua berjalan dan menaiki jembatan didepannya.
"Tapi aku kaget juga lho...gak nyangka kamu bakalan terus jadi guru. Kalau Andrew tahu dia pasti juga kaget," Ia berjalan disebelah Evelyn.
"Iya... " Wanita itu menyahut singkat.
"Sejak saat itu sudah dua tahun ya!" Fino menerawang.
"Benar... sudah dua tahun," Evelyn tersenyum sendu.
"Sudah dua tahun sejak pacarku meninggal, Andrew kamu pasti bisa melihatku sekarang kan?" batinnya sedih.
"Woi Lyn, dia itu lagi ngapain ya?" Fino melihat ke sisi kiri jembatan.
"Eh dia kan...
IG @Swan_princess1904
Anda Mungkin Juga Suka





