Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Hot Daddy

My Hot Daddy

Terdesak masalah ekonomi, Joanna terpaksa mengambil keputusan drastis dengan menjadi sugar baby bagi Regan. Pria itu memberikan satu syarat mutlak: hubungan mereka tidak boleh melibatkan perasaan. Namun, di tengah kemewahan tersebut, Joanna mendengar rahasia gelap mengenai jati diri Regan yang sebenarnya. Kini, ia terjebak dalam dilema antara bertahan demi uang atau mengikuti kata hati. Akankah benih cinta tumbuh meski sejak awal telah dilarang?
Bab
Bagikan

Bab 3

Joanna berusaha untuk melangkahkan kakinya meninggalkan pintu depan. Dia tidak ingin mendengar ucapan kasar dari dua orang yang tidak dia kenal sama sekali itu tentang dirinya dan juga keluarganya.

Joanna seakan tidak mampu lagi menahan himpitan dari beban yang diberikan oleh keluarganya. Apalagi kakaknya yang sudah beberapa tahun ini menghilang tiba-tiba saja menjaminkan rumah ini pada penagih hutang. Sungguh hal yang sangat membuat Joanna kaget dan tidak tahu harus berbuat apa.

“Besok pagi kamu sudah harus pergi dari rumah ini. Kalau tidak kamu akan kami usir dan seret keluar dengan paksa!” ucap orang yang ada di depan rumah Joanna.

Joanna merasa kesal dengan ucapan para pria tidak dikenal itu. Dia segera berbalik arah dan berjalan menuju pintu depan rumahnya. Joanna juga ingin mempertahankan rumah ini dan melampiaskan kekesalannya kepada kakaknya pada dua orang itu.

“Jangan seenaknya saja kalian bilang akan menyeret saya dari rumah ini. Ini rumah saya dan ini adalah harta warisan kedua orangtua saya. Megan, Megan Aryani ... tagih aja utang kalian sama Megan karena selama ini Megan sudah tidak ada di tempat ini. Bagiku Megan sudah mati!!” ucap Joanna sedikit berteriak meluapkan perasaannya.

“Tapi Megan sudah menjaminkan rumah ini untuk pinjamannya. Dan ini sudah lewat jatuh tempo serta dia menghilang begitu saja,” ucap si penagih hutang.

“Bodo amat! Lagipula kenapa kalian bego banget mau aja dibohongin sama Megan. Sertifikat rumah ini sudah atas nama saya, jadi Megan gak ada haknya lagi tentang rumah ini. Makanya kalau mau minjemin duit yang pinter, dicek dulu jaminannya apa. Giliran orangnya kabur aja langsung main perintah usir orang lain. Pergi kalian atau saya panggilkan polisi sekarang juga!” bentak Joanna yang tidak merasa takut sedikitpun.

“Mbak Joanna, ada apa?” tanya petugas ronda keliling yang melihat Joanna bertengkar dengan seseorang di depan rumahnya.

“Eh enggak kok Pak, ini loh cuma ada yang lagi nyari Megan,” jawab Joanna sambil tersenyum lebar pada ada petugas ronda itu.

“Sebaiknya kalian pergi ato aku bakalan ngadu sama mereka biar kalian dia keroyok massa,” ancam Joanna sambil mengerutukkan giginya.

“Kita pergi sekarang. Tapi inget, sampai akhir minggu ini ga ada kabar juga, kami ga akan segan buat usir kamu!!” para penagih hutang mengancam balik.

Para penagih hutang itu pun segera pergi meninggalkan rumah Joanna. Mereka berjanji akan segera datang lagi ke sini untuk mengeksekusi rumah Joanna seperti perjanjian yang sudah mereka lakukan dengan Megan.

Joanna segera masuk kembali ke dalam rumah lalu menguncinya. Joanna terduduk di belakang pintu karena merasa kakinya sangat lemas setelah semua energinya keluar untuk melawan para penagih hutang itu. Ini bukan kali pertama dia menghadapi orang yang seperti ini. Tapi kali ini benar-benar membuat Joanna marah karena Megan sudah berani menjaminkan rumah peninggalan orang tua mereka satu-satunya.

Joanna akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya dan beristirahat. Pukulan ujian hari ini benar-benar membuatnya sangat kelelahan. Joanna segera naik ke tempat tidurnya dan mematikan semua lampu yang ada di kamar. Dia ingin segera tidur agar besok mendapatkan tenaga untuk menghadapi hari baru.

“Ya ampun Tuhan, apa aku ini terlalu kuat ya sampai dikasih cobaan kayak begini. Tapi kakiku bener-bener udah capek, udah lemes. Aku pengen istirahat, terus kapan aku bisa beresin semua masalah ini. Ujianku ... ujianku gimana,” gumam Joanna sambil menangis tersedu mengingat masa depannya terancam.

Joanna meluapkan semua rasa kesal dan lelahnya lewat limpahan air matanya. Dia menangis tersedu sambil mengucapkan semua keluhan yang dia rasakan selama ini. Joanna ingin membereskan hatinya agar lebih tenang walaupun belum mendapatkan solusi sedikitpun.

Setelah puas menangis, Joanna pun tertidur dengan harapan besok pagi dia akan mendapat pencerahan baru untuk menyelesaikan permasalahannya satu per satu.

Sreeek.

Joanna membuka korden jendela kamarnya dan membuka jendelanya agar dia mendapatkan udara segar di pagi hari ini. Udara tadi malam cukup mencekat tenggorokannya sehingga dia membutuhkan asupan oksigen baru yang lebih segar.

“Kayaknya tadi malam hujan ya, tapi kok aku gak dengar sama sekali ya. Segitu lelapnya aku sampai tidur gak dengar suara hujan,” ucap Joanna di depan jendela sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya.

Joanna segera keluar dari kamarnya untuk mematikan lampu luar dan membuka beberapa jendela untuk menukar udara di dalam dengan udara yang lebih segar secara alami. Dia kemudian segera menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi untuk dirinya sendiri sebelum memulai hari.

“Hari ini aku gak usah ke kampus dulu deh, aku mau cari peluang pekerjaan baru yang lebih optimal. Kalau cuma ngandelin satu kerjaan aja kayaknya aku gak akan mampu buat bayar semuanya. Aku harus siapkan ekstra tenaga lagi biar tetap bisa ikut ujian. Nanti kalau memang bisa dapet kerjaan, paling gak itu nanti kan bisa aku jadikan jaminan buat bagian kemahasiswaan biar bisa kasih aku waktu lagi buat pelunasan,” gumam Joanna tentang rencananya hari ini sambil mengiris beberapa bahan makanan untuk dia masak.

Joanna pun akhirnya segera menyelesaikan acara memasak menu sederhana sebagai asupan tenaga untuk dia berkeliling hari ini. Tadi malam dia sudah menemukan beberapa lowongan pekerjaan yang menerima pegawai partime di beberapa tempat. Hari ini Joanna berniat untuk mendatangi tempat itu dan melamar pekerjaan.

“Lagi di tahun akhir ya? Maaf ya, kalau di tahun terakhir kita gak bisa terima, soalnya biasanya anak yang ada di tahun terakhir tuh sibuk banget. Jadi kasihan aja gitu kalau harus membagi waktu,” ucap seorang manajer yang Joanna temui hari ini.

“Tapi tahun terakhir saya ini gak banyak mata kuliah yang diambil kok. Bahkan saya ya belum ambil jadwal skripsi. Saya pikir masih bisa kok buat ambil kerjaan. Tolong Pak, saya butuh banget sama kerjaan ini,” ucap Joanna sedikit membujuk dan mengiba pada manajer.

“Aduh tapi gimana ya, atasan kami gak bisa terima mahasiswa tahun terakhir. Soalnya kami pernah punya beberapa kali pengalaman dengan mahasiswa tahun terakhir yang tiba-tiba harus memutuskan kontrak secara sepihak karena mereka gak mampu membagi waktu. Kontrak kami ini 1 tahun lho bukan 1 semester, jadi memang agak berat sih kayaknya,” manajer itu memberikan alasan penolakannya kepada Joanna.

“Mau dikontrak 1 tahun atau 2 tahun saya siap kok, Pak. Saya gak akan kaya mereka yang sudah membatalkan kontrak secara sepihak. Saya orang yang tanggung jawab kok, lagian kan ini cuma part time jadi untuk waktu yang lain bisa saya manfaatkan untuk kepentingan belajar saya,” Joanna masih tetap berusaha untuk membujuk si manager.

“Maaf tetep gak bisa. Nanti kalau misalnya kita ada event bolehlah kita nanti ajakin kamu buat tenaga tambahan. Soalnya biasanya restoran kita ini sering banget jadi tempat event. Maaf ya, kita belum bisa untuk terima mahasiswa tingkat akhir.”

Joanna melangkah dengan kaki yang lemas keluar dari restoran. Ini adalah tempat ketiga dia ditolak dengan alasan yang sama. Sepertinya memang untuk mahasiswa tahun terakhir sedikit sulit untuk mendapatkan pekerjaan.

Joanna memilih duduk di sebuah kursi taman yang ada di bawah pohon. Dia ingin menikmati bekal yang tadi sudah dia siapkan di rumah agar energinya kembali terisi untuk terus mencari peluang pekerjaan yang ingin dia dapatkan hari ini.

Mata Joanna tiba-tiba tertuju pada sebuah mobil Range Rover warna hitam yang terparkir tidak jauh dari tempatnya duduk. Seorang pemuda baru saja turun dari mobil itu dan kini sedang berjalan perlahan sambil menerima telepon menuju ke restoran yang tadi menolak Joanna.

“Regan, kenapa tiap kali aku berdoa minta bantuan selalu dia yang muncul. Apa emang harus dia ya? Ah ini gila, gak mungkin! Masa iya aku harus jual diri sama dia. Ngawur itu!” ucap Joanna sambil menggelengkan kepala lalu sedikit memiringkan badannya agar dia tidak melihat Regan lagi.

***

Hari sudah sore. Joanna kembali ke rumahnya untuk beristirahat setelah seharian Dia berjalan dari satu tempat ke tempat lain mencari pekerjaan. Namun hasilnya tetap saja nihil sekarang dia masih belum punya rencana lagi untuk besok.

“Aduh kenapa yang masuk malah chat penagihan pelunasan ujian. Coba yang masuk itu tawaran pekerjaan kek,” gumam Joanna yang membaca pesan chat dalam ponselnya.

Joanna melemparkan ponselnya ke atas tempat tidur lalu dia segera mengambil salah satu buku koleksinya untuk dia baca mengisi waktu sebelum dia tidur. Waktu Joanna membuka buku tiba-tiba ada yang terjatuh dari dalam sana.

“Regan lagi. Apa ini petunjuk ya? Apa aku harus menghubungi dia?” ucap Joanna yang memegang kartu nama Regan di tangannya lalu menoleh ke arah ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur.

“Aah sudahlah, lebih baik aku ....”

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Seksi Tuan Cedric
8.2
Falisha Marbella, mahasiswi berusia 19 tahun, terjebak dalam tragedi saat kekasihnya, Ben Andrigo, meninggal dunia di sisinya. Ayah Ben, Cedric Andrigo, seorang miliarder kejam yang menguasai bisnis ilegal, menyalahkan Falisha atas kematian putranya. Didorong dendam membara, pria arogan ini bersumpah menyiksa hidup Falisha. Cedric menjadikan Falisha budak pemuas nafsu demi membalas dendam. Mampukah Falisha lepas dari jerat penderitaan dan kekejaman Cedric?
Sampul Novel CLARITTA, KAMU MILIKKU
9.1
Claritta Indriana, model populer, terjerat dalam pernikahan rumit dengan pewaris Andromeda Group, Aslan Teryeka. Meski mengaku cinta, Aslan memperlakukan Claritta semena-mena dan bersikap posesif, bahkan tega berselingkuh dengan sekretarisnya. Di tengah pengkhianatan dan kebencian Aslan yang membara, Claritta terjebak dalam dilema besar. Haruskah ia bertahan sebagai boneka dalam hubungan hancur ini, atau memilih menghilang selamanya demi meraih kebebasan?
Sampul Novel Dream come true
8.7
Zefanya sempat merasa dicintai Andrew, hingga kesalahpahaman fatal menghancurkan segalanya. Kehormatan Zefanya direnggut secara paksa, menghancurkan impiannya untuk memiliki keluarga tulus. Sepuluh tahun berlalu, Andrew hidup menderita dalam kekayaan dan rasa bersalah yang mendalam. Saat takdir mempertemukan mereka kembali, Zefanya bukan lagi wanita yang sama. Andrew kini berjuang keras demi sebuah maaf, namun benarkah hanya itu yang ia inginkan?
Sampul Novel Kecemerlangan Tak Terbelenggu: Menangkap Mata Sang CEO
8.3
Leanna dipaksa bercerai setelah dikhianati suami dan mertuanya dalam pernikahan yang didasari utang. Usai berpisah, ia bangkit dengan harta gono-gini dan kebebasan penuh. Leanna mengungkap jati dirinya sebagai peretas ahli, pembalap, profesor medis, hingga desainer perhiasan ternama. Meski simpanan mantan suaminya terus mengganggu, ia tetap tak tergoyahkan. Hingga akhirnya, Matthew hadir dan menawarkan diri untuk menjadi suami baru bagi sang wanita jenius ini.
Sampul Novel Meninggalkan Pengkhianatan Maut, Merangkul Kehidupan Baru
7.9
Sepuluh tahun pengabdian pupus saat Bramanta memilih menikahi Hana di altar yang kurancang. Demi selingkuhannya, ia tega memaksaku donor darah, membiarkan kucingku mati, hingga nyaris menenggelamkanku. Puncaknya, ia membiarkanku sekarat akibat syok anafilaksis demi menolong drama Hana. Sadar nyawaku terancam oleh pengkhianatannya, aku menerima tawaran ayah untuk menjalani pernikahan kontrak dengan CEO Arga Hadinata. Di titik nadir ini, aku memilih bangkit bersama pria baru.
Sampul Novel Oriaga Niel, Cintailah Aku
8.5
Menikah sebulan dengan Oriaga Niel, CEO brand Gregorious, menjadi neraka bagi Amanda. Tanpa cinta, hubungan mereka hanyalah ajang pelampiasan nafsu dan dendam masa lalu Oriaga terhadap keluarga Amanda. Amanda merasa terhina karena hanya dianggap sebagai alat pemuas saat dibutuhkan. Terjebak dalam kebencian yang mendalam, ia merasa seperti tawanan yang dibeli selamanya oleh sang suami yang dingin dan penuh ambisi untuk menghancurkannya.