Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Dearest One

My Dearest One

Danessa terbangun di tempat asing dalam kondisi hilang ingatan. Setiap kali ia mencoba menggali masa lalunya, rasa sakit hebat menyerang kepalanya. Namun, saat kepingan memori mulai kembali, ia terkejut menyadari bahwa dirinya yang dulu bukanlah sosok baik yang pantas dicintai. Kini Nessa terjebak dalam dilema identitas. Akankah ia kembali menjadi wanita penuh cela di masa lalu, atau mempertahankan kepribadian barunya yang lembut dan dicintai semua orang?
Bab
Bagikan

Bab 2

Gadis itu menatap ke arah jendela dengan tatapan hampa, kepalanya yang terlilit perban berwarna putih disandarkan dengan lemah pada kaca jendela. Tatapan matanya menerawang, tak  jelas apa yang tengah diperhatikannya kini. Jemari tangannya secara tak sadar membuat pola-pola abstrak di permukaan kaca yang tampak sedikit berembun.

_______

"Dia mendekatimu lagi?" tanya gadis itu dengan nada sinis yang sangat kentara.

"Bukan begitu Nessa, dia hanya menanyakan tugas  padaku."

"Cukup! Kamu tak sadar atau memang bodoh? Jangan terlalu naif! Kamu tak tahu dia itu mengincarmu? Sekali lagi dia mendekatimu, akan kupastikan dia habis di tanganku!"

________

"Ahh..."

Gadis itu meringis pelan sambil  menyentuh keningnya ketika satu lagi kepingan puzzel masa lalunya kembali teringat.

"Siapa sebenarnya aku ini?" hanya itu pertanyaan yang selalu ditujukannya pada diri sendiri. Namun hingga saat inipun tak kunjung ada jawabnya.

Sejenak ia mengalihkan tatapannya ketika mendengar suara pintu berderit pelan. Seorang pemuda tampak berdiri dengan santai dengan sekeranjang buah bertengger di tangan kanannya.

Pria itu tampak melihat sekitar sebelum pandangannya tertuju kepada gadis yang sedari tadi duduk di sebuah kursi roda dekat jendela, gadis itu tampak sedang memegang kepalanya sambil sesekali meringis pelan. Melihat pemandangan itu, pemuda tadi langsung melangkahkan kakinya ke arah gadis itu dan langsung berlutut untuk memastikan keadaannya.

"Nessa kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil meraih wajah gadis itu ke dalam rengkuhan kedua tangannya.

"Tidak... kepalaku sakit sekali." Nessa terbata sambil sesekali memukul kepalanya. Berharap rasa sakitnya akan sedikit berkurang, namun jelas itu pemikiran yang bodoh. Karena bukannya berkurang, rasa sakit itu malah semakin parah, berdentum-dentum seakan kepalanya mau pecah.

"Jangan lakukan itu! Kamu justru akan lebih menyakiti dirimu sendiri. Sebentar, akan kupanggilkan dokter dulu!"

"Jangan pergi Davin, di sini saja, temani aku. Kumohon..." Nessa memejamkan mata menahan sakit yang terus menerus mendera.

Davin yang sedari tadi menggenggam tangannya bahkan merasakan kedua tangan itu bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.

Demi apapun Davin tak akan pernah mampu melihat keadaan Nessa seperti ini. Nessa yang dulu tak akan pernah terlihat selemah dan semenderita ini. Nessa yang dulu adalah gadis keras kepala, sombong, suka menindas dan sangat menjengkelkan. Namun yang terpenting, dia adalah gadis yang kuat.

"Ah... sakit sekali!" cukup. Davin sudah tak bisa lagi menahannya.

Dengan cepat pria itu mengangkat tubuh Nessa, menidurkannya di ranjang kemudian memencet tombol merah berkali-kali. Davin kemudian ikut naik ke atas ranjang dan merengkuh Nessa ke dalam pelukannya. Mengusap kepala gadis itu dengan pelan. Berharap perhatian kecilnya itu mampu sedikit saja mengurangi rasa sakit yang kini dialami kekasihnya.

"Apa kamu mencoba mengingat lagi?" Nessa hanya mampu terdiam, karena Davin jelas telah berkali-kali mengingatkan agar jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya.

Namun terbangun di tempat asing, dengan seluruh tubuh menjeritkan dua kata yaitu sakit dan nyeri, dikelilingi oleh banyak orang namun tak ada satupun yang kau kenal, bukanlah hal yang menyenangkan menurut Nessa.

Gadis itu secara tak sadar akan memutar otaknya, berusaha menggali ingatan-ingatan masalalunya. Siapa namanya? Siapa orang yang sedari pertama kali dirinya membuka mata, selalu mencoba menawarkan kenyaman untuknya? Siapa orang tuanya? Bagaimana ia bisa berada di sini? 

Dan berjuta pertanyaan lain yang tak pernah menuai jawabannya. Yang gadis itu dapatkan hanyalah rasa nyeri yang berdentam, seakan memukul-mukul kepalanya setiap kali satu atau beberapa gambaran masalalunya muncul ke permukaan.

Hal terakhir yang Nessa tahu adalah, ia lagi-lagi terbangun di ranjang putih dalam ruangan serba putih ini. Rumah sakit, itulah kesimpulan nama ruangan ini jika dilihat dari suasana dan segala hal yang berada di dalamnya. Dan gambaran yang sebelumnya sempat berkelebat di benaknya akan kembali sirna. Benar-benar kesakitan yang percuma.

Nessa mendongakkan kepalanya sehingga dapat melihat Davin yang menunduk tepat berada di depannya. Davin, orang pertama yang langsung mendatangi dan menggenggam tangannya ketika pertama kali ia membuka mata. Sosok pemuda yang mengaku sebagai kekasih hatinya.

"Davin, boleh aku bertanya sesuatu?" hanya anggukan sebagai jawaban dari pertanyaan bernada lirihnya tadi.

"Dulu, aku orang yang seperti apa?" senyum yang awalnya menghiasi wajah tampan itu entah mengapa menguap begitu saja, menyisakan satu senyuman miris yang entah artinya apa.

"Sebaiknya jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya." Jawab pria itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Demi apapun, Davin tidak pernah berminat untuk mengungkit masa lalu kekasihnya.

"Kamu tahu? Ingatanku sedikit demi sedikit kembali. Ya, meskipun hanya berupa gambaran samar, tapi aku yakin, sebentar lagi ingatanku akan kembali dengan sempurna." Davin tampak tertegun mendengar penuturan kekasihnya itu.

Terbesit rasa khawatir dalam hatinya. Jujur, dia jauh lebih mencintai pribadi kekasihnya saat ini dari pada yang dulu. Pribadi yang bahkan Davin sekalipun sangat sulit untuk memahaminya.

"Davin, kenapa melamun?"

Lambaian tangan mungil di depan wajahnya itu seakan memaksanya untuk kembali ke alam nyata.

Davin langsung menangkap tangan mungil itu dan menggenggamnya dengan erat sambil sesekali mengecupnya dengan sayang.

"Yang jelas, aku jauh lebih menyukai dirimu yang sekarang sayang~"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 3 Sayap Pelindungku
9.0
Lauren, bungsu keluarga Torres yang sakit-sakitan, kembali dari Gereja Mistik setelah empat tahun. Awalnya, ketiga kakaknya menolak kehadirannya dengan sinis. Namun, suasana berubah drastis saat pesta ulang tahunnya. Ternyata, Lauren memiliki kemampuan meramal masa depan. Ia menyelamatkan nyawa kakak sulungnya, mencegah kebangkrutan kakak keduanya, dan mendeteksi penyakit kakak ketiganya. Kini, para kakak yang dulu membencinya justru menjadi pelindung setia bagi Lauren.
Sampul Novel Bukan Cinta, Hanya Perjanjian Utang
9.5
Adhitama terpaksa menikahi Riani, seorang janda yang asing baginya, demi kepentingan keluarga. Adhit bersikap dingin untuk menjaga jarak, namun ketenangan Riani tak tergoyahkan. Keadaan berbalik saat sebuah tragedi membuat Adhit rapuh dan Riani setia merawatnya tanpa pamrih. Perhatian Riani mulai meluluhkan hati Adhit hingga rasa cemburu pun muncul. Kini, Adhit bertekad meruntuhkan tembok yang ia bangun sendiri demi mendapatkan cinta tulus dari istri yang dulu ia abaikan.
Sampul Novel Bunda
9.6
Terinspirasi kisah nyata, Bunda adalah wanita tangguh yang diadopsi keluarga sederhana meski orang tua kandungnya kaya raya. Setelah melewati berbagai hinaan, ia bangkit menjadi pengusaha sukses. Namun saat roda berputar, ia harus bertahan hidup hanya dengan kiriman uang putra sulungnya sebesar 350 ribu per minggu. Di tengah keterbatasan, ia berhasil membesarkan si kembar Nayla dan Nathan hingga tumbuh menjadi sosok cerdas dan sukses meski pernah didera kelaparan.
Sampul Novel Diuber Janda
8.8
Amin adalah seorang montir yang memiliki obsesi besar untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis perawan. Namun, kenyataan hidup justru membawa dirinya ke dalam situasi yang sangat tak terduga dan penuh komedi. Alih-alih berhasil mendekati gadis belia impiannya, Amin malah menjadi incaran para janda di sekitarnya. Mereka saling bersaing ketat demi menarik perhatiannya, membuat perjuangan asmara sang montir menjadi sangat rumit dan penuh rintangan.
Sampul Novel HASRAT NAKAL ISTERI KECIL
9.5
Naura tumbuh besar di bawah asuhan Gilbert Louise Tom, asisten ayahnya yang telah ia panggil Daddy sejak balita. Seiring berjalannya waktu, sosok duda tampan berusia empat puluh tahun dengan perawakan kekar itu justru terlihat semakin memikat di mata Naura. Kedekatan yang terjalin sejak kecil kini berubah menjadi ketertarikan yang mendalam. Naura pun mulai merasa sulit untuk melepaskan diri dari pesona laki-laki matang yang sangat menggoda tersebut.
Sampul Novel Ibu Mertuaku, Godaanku
8.5
Nathan memulai lembaran baru bersama istrinya, Elira Devina, di tengah kemegahan kota. Namun, kehadiran Seraphine, ibu mertua yang janda dan penuh pesona, menciptakan ketegangan tak terduga. Meski awalnya hanya ada rasa hormat, Nathan mulai merasakan getaran terlarang melalui tatapan dan sentuhan yang tidak sengaja. Di balik kebahagiaan rumah tangganya, tumbuh rahasia gelap yang mengancam segalanya saat batasan antara menantu dan mertua perlahan memudar.