Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My BadBoy

My BadBoy

Adzando Dalwes dikenal sebagai siswa nakal yang tampan sekaligus jago berkelahi. Meski banyak gadis mengejarnya, luka masa lalu membuat Adzando menutup hati dan menganggap semua wanita sama. Namun, persepsi itu goyah saat Vania Deltasya hadir. Siswi baru blasteran Amerika-Indonesia ini membawa perubahan besar dalam hidup Adzando. Apakah sang pembuat onar benar-benar jatuh cinta? Mampukah Vania membalas perasaan lelaki yang selama ini dikenal dingin tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Gue gamau lo kenapa-kenapa cuma karena lo nolongin gue"

🌸🌸🌸

*Vania POV*

"Huftttt... " Aku menghembuskan nafasku setelah sampai di kamar ku. Aku masih memikirkan kejadian tadi dengan seenaknya cowok itu menyuruh ku untuk pulang bareng supirnya saja memangnya dia siapa huh.

Lalu aku segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah itu mengerjakan PR.

Selesai aku membersihkan diriku, Aku langsung menuju ke meja belajar untuk mengerjakan pr. namun tiba-tiba ponselku berbunyi tanda ada panggilan masuk, Langsung saja aku meraih ponselku yang berada diatas ranjang.

081xxxxxxx is calling...

Nomer tidak dikenal, langsung saja aku menekan tombol berwarna hijau.

"hallo?" ujar suara disebrang sana.

deg.

Aku kenal suara ini, Ya dia adalah Adzando Dalwes. Dia dapet nomerku darimana?

"Vania?Bener nama lo Vania?" tanyanya

"Eh iya iya, ini siapa?" tanyaku purapura tidak mengenal suaranya.

"Lo udah sampe dirumah kan?bener dianter sama supir gue?" tanya Adzando di sebrang sana.

"Oh ini lo, iya udah" jawab ku bisa menebak dia siapa.

"Yaudah bagus deh" kata Adzando dan kudengar dia menghembuskan nafasnya lega.

Dengan memberanikan diri aku bertanya. Karena rasa penasaranku begitu besar. "Dapet nomer gue dari mana ya?" tanyaku.

tut tut tut...

Aku menatap layar ponselku dan kulihat panggilan sudah berakhir.

"Nih orang ya seenaknya aja main suru-suruh gue tadi pulang dijemput supirnya dan sekarang main tutup panggilan aja tanpa jawab pertanyaan gue! Huh dasar gatau diuntung lo!" gerutu diriku sendiri.

Aku membayangkan wajah cowok itu. Kalau dipikir-pikir yaa cowok itu memang ganteng sih tapi kenapa sikapnya seenaknya gitu ga ada attitudenya sama sekali .

Dan cewek yang di rumah sakit tadi. Apa bener itu pacarnya ya? tapi pantes aja sih Zando dapetin cewek itu yaa karena menurutku sih cewek itu juga cantikk, jauh dibanding diriku kemana mana tapi samanya sikap cewenya gitu yaa sebelas duabelas lah sama zando.

Ehh kok jadi mikirin dia sih, Gapenting. langsung saja aku melanjutkan mengerjakan pr ku yang tadi sempat tertunda.

~~~~~

*AUTHOR POV*

"Woy Van udah ngerjain PR belum?" tanya Ana kepada Vania sambil menaik turunkan alisnya.

Langsung saja Vania mengeluarkan buku pr nya dan memberikan kepada Ana, karena ia sudah sangat hafal pasti Ana ingin menyontek Pr-nya.

"An, kok Adzando tau nomer gue ya? dia semalem telfon gue" tanya Vania kepada Ana

Ana langsung cengengesan tidak jelas. "Hehe maaf yaa, gue yang kasih ke Zando nomor lo" jawab Ana dengan enteng.

"Ihh kenapa lo kasih?" tanya Vania dengan kesal.

"Dia maksa lewat Azka sih. Yaudah gue kasih aja" jawab Ana dengan enteng

Vania hanya diam dan pikirannya entah kemana.

~~~

"Ayo Van kekantin, udah laper nih gue" ajak Ana kepada Vania

"Iyee bentar" jawab Vania sambil menata buku bukunya dimeja.

Setelah itu mereka berdua langsung bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang kosong.

"Lo makan apa Van?" tanya Ana

"Samain aja kek lo" jawab Vania sambil memainkan iphonenya.

Mereka saling sibuk dengan ponselnya masing-masing sambil menunggu makanan datang.

"An nanti pulang sekolah temenin gue ke gramedia yukk, Mau cari buku" ajak Vania membuka suara.

"Hari ini?" tanya Ana

Vania mengangguk.

"Yahh gue kayaknya gabisa deh Van, Udah janji mau nonton sama my baby Azka nanti" ujar Ana dengan nada penyesalan.

"Huftt yaudah deh gue sendiri aja" jawab Vania

Ana langsung mengetik sesuatu di Iphonenya.

~~~~

Waktu jam pulang sudah tiba. Ana dan Vania menuju gerbang untuk menunggu jemputannya masing masing. kemudian Azka datang membawa motor ninjanya untuk menghampiri Ana.

"Maaf ya Van gabisa anter lo ke Gramedia hari ini" ujar Ana kepada Vania sambil menaiki motornya Azka.

"Iya gapapa gue bisa kesana sendiri kok, naik taxi" jawab Vania

"Oke byeee" ujar Ana sambil melambaikan tangannya.

Vania menunggu taxi lewat tetapi tidak ada yang lewat. Kemudian Vania mendengar suara klakson motor dibelakangnya dan Vania langsung bergeser kearah kanan untuk memberi jalan motor tersebut tanpa membalikkan badan.

Kemudian motor tersebut berhenti tepat di depan Vania dan si pengendara motor tersebut membuka helm full facenya.

Vania terkejut, ternyata itu Adzando. Cowok yang gapunya attitude dengan gaya sok kerennya itu.

"Lo?!" tanya Vania sedikit terkejut sambil menunjuk kearah zando. Karena baru saja kemarin Vania

menjenguknya dan sekarang sudah ada dihadapannya dengan keadaan yang bisa dibilang baik-baik saja.

"Ayo naik" ajak Zando kepada Vania

"Ngapain?" tanya Vania polos

"Lo mau ke gramedia kan?ayo gue anter" ujar Zando datar

"Kok tau? pasti dari Ana ya?" tanya Vania sudah bisa menebak siapa yang memberitahu.

Adzando mengangguk. "Ayo, jadi ke gramed ga?" tanya Zando lagi masih datar

"Gapapa gue bisa naik taxi kok, Lo pulang aja. Lo kan harus banyak-banyak istirahat masih belum pulih banget" ujar Vania menceramahi Zando.

"Lo mau digangguin sama gengster yang kemarin? gengster yang kemarin keroyok gue itu masih dendam sama lo dan masih incer lo karena lo kemarin teriak-teriak minta tolong!"

Vania hanya diam sambil mencerna perkataan Adzando barusan.

"Gue gamau lo kenapa kenapa cuma karena lo nolongin gue dan kemarin gue nyuruh lo nunggu supir gue buat jemput itu karena gue takut kalo lo nanti bakal dicegat dijalan sama gengster itu" Lanjut Adzando dengan nada berbeda bukan ketus atau datar lagi. Entah mengapa dirinya itu tiba-tiba menjadi perduli terhadap seorang wanita didepannya ini.

Vania hanya mematung mendengar penuturan dari Adzando.

"Ayoo tunggu apalagi cepet naik!" ujar Zando kembali ketus sehingga membuyarkan lamunan Vania

"Tapi gue naiknya gimana?" tanya Vania polos karena Vania bingung bagaimana cara menaiki motor itu dengan seragam sekolahnya ini.

"Hahaha lo polos banget sih" Adzando tertawa meledek Vania, Karena baru kali ini dirinya bertemu dengan cewek yang polosnya kebangetan berbeda dengan cewek cewek diluaran sana. Mungkin ini kali pertamanya dirinya tertawa di depan cewek yang baru dikenalnya.

Merasa dirinya ditertawakan , Vania langsung saja menaiki ninja milik Adzando itu dengan tasnya ia letakkan didepan sebagai jarak antara dirinya dengan Adzando.

Adzando langsung mentancap gasnya dan Vania reflek memeluk Adzando, Karena Adzando mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Lalu Adzando tersenyum miring saat melihat wajah panik Vania lewat kaca spion ninjanya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Vania langsung sadar dengan apa yang ia lakukan lalu ia segera melepaskan pelukannya itu dari pinggang Zando.

"Jangan ngebut-ngebut dong, lo sengaja ya?!" omel Vania membuka suara

Bukannya menjawab pertanyaan Vania, Adzando malah semakin menjadi mentancap gasnya dan dengan reflek Vania memeluk Adzando lagi.

Sesampainya di gramedia Vania langsung turun begitu saja tanpa menghiraukan Zando dan berjalan mulai mencari-cari buku.

"Vann kenapa buru-buru sih santai aja jalannya" kata Adzando kepada Vania sambil mengikuti langkah Vania dari belakang

Vania tetap jalan saja tanpa menghiraukan Adzando.

"Van kenapa sih?marah ya sama gue?" tanya Adzando

"Vann"

"Vaniaa"

Vania tetap tidak menjawab pertanyaan Adzando. Karena Vania masih kesal dengan Adzando yang sengaja

membawa motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar dirinya menang banyak, mungkin begitu.

"Huh dasar semua cowok sama aja suka cari kesempatan dalam kesempitan" batin Vania gerutu.

Adzando tetap mengikuti Vania kemanapun Vania berjalan.

"Duh ni cowok kenapa masih ngikutin gue si!" batin Vania keaal sambil menengok sesekali kearah belakang.

Kemudian Vania berhenti, Adzando pun ikut berhenti.

Lalu Vania membuka suara. "Gue pulangnya masih lama, lo pulang aja sana!" ujar Vania berbohong. Karena Vania berusaha menghindar agar tidak terulang lagi kejadian yang tadi.

"Yakin? lo mau digangguin sama gengster itu?" tanya Adzando

"Duh bener juga nih cowok, kalo gue balik sendiri naik taxi terus tuh gengster cegat gue ditengah jalan gimana. Ahhh nyesel gue nolongin tuh cowok" batin Vania sambil memikirkan pertanyaan Adzando barusan.

"Tapi naik motornya gausah kek tadi lagi ngebut-ngebut , gue tau lo cari-cari kesempatan dalam kesempitan yakan??" tanya Vania kepada Adzando

"Muka lo lucu kalo panik gitu jadi gue demen ngeledekinnya" kata Adzando.

Tidak dihiraukan oleh Vania, Langsung saja Vania mencari buku yang ia ingin beli. Adzando tetap mengikuti langkah kemana Vania berjalan dari belakang.

"Van sekali lagi makasih ya" ujar Adzando tulus saat Vania selesai membayar buku yang Vania beli.

"Makasih?untuk apa?" tanya Vania bingung

"Itu yang gengster."

Vania hanya mengangguk.

"Sebagai tanda terimakasih lo gue traktir makan, yuk?" ajak Adzando sambil menarik tangan Vania untuk mengikutinya.

"Eh?" Vania reflek mengeluarkan kata itu karena tiba-tiba Adzando memegang tangannya.

"Kenapa?" tanya Adzando bingung lalu ia mengikuti arah matanya Vania saat ini dan langsung saja Adzando melepas tangannya yang sedang memegang tangan Vania

"Ehehe sorry-sorry reflek" kata Adzando dengan kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dirinya menjadi salah tingkah.

"Mau makan di mana?" tanya Vania mengubah topik pembicaraan.

"Kita cari restoran yang enak di dekat sini" jawab Adzando

"Eh gausah makan di restoran, di pinggir jalan aja lebih enak kok" Kata Vania menyarankan

"Yakin lo mau?" tanya Adzando

Vania mengangguk.

"Baru kali ini ada cewek yang diajak makan di restoran malah mintanya di pinggiran jalan, emang beda nih cewek" batin Adzando sambil menatap Vania dengan yakin.

Vania merasa dirinya ditatap seperti itu oleh Adzando langsung saja ia berjalan keluar tanpa menghiraukan tatapan Adzando.

Kemudian Adzando tersadar dan langsung mengikuti langkah Vania dari belakang lagi.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LWJ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LWJ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Balas Dendam
8.0
Pasca kematian orang tuanya, Alena Geraldine terjebak dalam pernikahan paksa dengan CEO kejam, Azam Dirgantara, akibat ulah paman dan bibinya. Alena diperlakukan layaknya tawanan tanpa cinta, karena Azam hanya memanfaatkannya demi membalas dendam pada Jonatan. Namun, benih cinta justru tumbuh di hati Alena bagi Azam. Ironisnya, Azam masih terobsesi pada cinta pertamanya. Sanggupkah Alena bertahan saat suaminya sendiri mendambakan wanita lain?
Sampul Novel Dicerai kakak Dinikahi adik
8.0
Pasca bercerai dari Win, Iyas berjuang menata kembali hidupnya yang sempat hancur. Ia mencoba bangkit dengan membuka toko bunga demi melupakan masa lalu kelam. Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Bhaga, adik kandung mantan suaminya. Meski Bhaga adalah bagian dari sumber luka lamanya, pria itu justru hadir memberikan kenyamanan. Di tengah dilema antara benci dan rasa trauma, Iyas mulai merasa kembali berharga dan layak untuk dicintai olehnya.
Sampul Novel Diuber Janda
8.8
Amin adalah seorang montir yang memiliki obsesi besar untuk mendapatkan cinta dari seorang gadis perawan. Namun, kenyataan hidup justru membawa dirinya ke dalam situasi yang sangat tak terduga dan penuh komedi. Alih-alih berhasil mendekati gadis belia impiannya, Amin malah menjadi incaran para janda di sekitarnya. Mereka saling bersaing ketat demi menarik perhatiannya, membuat perjuangan asmara sang montir menjadi sangat rumit dan penuh rintangan.
Sampul Novel Gairah di Kota kecil
8.2
Selamat datang dalam sebuah kisah romansa modern yang memikat, berlatar di sudut kota kecil yang tenang namun menyimpan sejuta rasa. Narasi ini dirancang secara mendalam untuk membawa imajinasi Anda menjelajahi momen-momen intim dan penuh gairah antar karakter. Pembaca diharapkan bijak saat menikmati setiap babnya, karena jalinan ceritanya mampu membangkitkan fantasi tentang hubungan raga yang sangat intens dan membuai pikiran secara nyata.
Sampul Novel "Gita Cinta dari Gadjah Mada"
8.1
Gita Cinta dari Gadjah Mada menyajikan kisah asmara antara Gita, mahasiswi penuh talenta, dan Mada, pemuda yang sangat ambisius. Berlatar di lingkungan Universitas Gadjah Mada yang dinamis, hubungan mereka menghadapi berbagai dinamika kehidupan perkuliahan. Pembaca akan diajak menyelami perjuangan cinta yang emosional di tengah atmosfer kampus yang berwarna. Sebuah narasi tentang romansa masa muda yang harus bertahan melewati segala rintangan dunia akademik.
Sampul Novel Kakak Kelas Jahat itu Suamiku
8.0
Piona, mahasiswi sastra tingkat akhir berusia 21 tahun, terjerat dalam pernikahan mendadak demi menyelamatkan ekonomi keluarganya. Namun, rahasia besar masih menyelimuti alasan di balik perjodohan ini. Situasi kian pelik saat calon suaminya ternyata adalah kakak kelas masa SMA yang sangat ia benci. Dulu, pria tampan itu selalu memicu pertengkaran hebat dengannya. Kini, takdir memaksa dua musuh bebuyutan ini bersatu dalam ikatan suci yang penuh ketegangan.