Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Bad Boss

My Bad Boss

Xavier Narendra Maximilian pernah bersumpah takkan menikah karena menganggap wanita hanya teman tidur. Namun, prinsip itu goyah sejak ia bertemu sekretarisnya, Adeeva Adelia Albert, yang sama sekali tidak tertarik menggodanya. Xavier merasa pertemuan ini adalah anugerah terindah, sementara Adeeva sempat menganggap Xavier sebagai hal terburuk dalam hidupnya. Kini, kebencian itu berubah menjadi hari-hari penuh keindahan bagi mereka berdua.
Bab
Bagikan

Bab 3

Bab 3 Lautan Kondom

[ Adeeva Adelia ]

"Ruangan saya di mana?" tanyaku, masih sedikit gugup seraya menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sama sekali.

"Tuh.." katanya seraya menunjuk sebuah pintu yang ada di sebelah kanan ruangan ini.

Aku pun terburu buru berjalan memasuki ruangan yang ada di sebelah. Karena terdapat pintu terhubung di ruangan itu mungkin agar tidak repot harus keluar ruangan, dan dinding ruangan yg memisahkan ruangan itu dan Mr.Maximilian hanyalah sebuah kaca besar termasuk juga pintunya. Jadi untuk apa di pisah jika dinding dan pintunya adalah kaca?

Aku membuka pintu kaca itu, begitu pintu terbuka aku terkejut bukan main melihat ruangan yang berantakan. Astaga ruangan macam apa ini, berantakan sekali di mana mana ada bekas kondom.

"ASTAGA RUANGAN APA INI!!" teriakku refleks.

Aku berbalik kembali ke meja Mr.Maximilian dengan kesal. Aku tidak peduli dia akan marah. Aku lebih marah sekarang.

"Apa lagi?" tanyanya dengan nada kesal, saat ia melihat aku tidak jadi masuk keruanganku dan kembali berdiri di depan mejanya.

"Ruangan macam apa itu? Kenapa di mana mana ada kondom bekas!" ucapku membentaknya. Aku tau aku terlalu berani telah membentaknya.

Mr.Maximilian terbelalak saat aku membentaknya, namun seketika raut wajahnya kembali santai. "Oh itu ruangan biasa Aku pakai untuk bercinta. Kenapa? Kau mau mencobanya?" tanyanya dengan santai bahkan bisa di kategorikan sangat santai.

"APA? TIDAK!! BERSIHKAN SEKARANG JUGA!" teriakku marah.

"APA?? TIDAK MAU!!" tolaknya yang juga berteriak.

"BERSIHKAN SEKARANG!!" ucapku dengan nada memerintah.

"TIDAK!!" bantahnya tetap tidak mau membersihkan ruangan lautan kondom bekas itu.

"BERSIHKAN MR.MAXIMILIAN!!"

"TIDAK MAU! AKU INI BOSMU BUKAN BABUMU!"

"AKU TIDAK PERDULI DENGAN KAU BOSKU ATAU BUKAN! SEKARANG BERSIHKAN RUANGAN ITU!"

Aku mendorong tubuhnya masuk keruangan yang akan menjadi ruanganku. Aku tidak tau kenapa aku bisa seberani ini dengan bosku sendiri sekarang, aku jadi merasa takut bagaimana kalau ia akan menghukumku karena telah berani membentak dan berteriak padanya, bahkan menyuruhnya. Padahal ini hari pertama kali aku kerja, apa ia akan memecatku di hari pertama aku kerja bahkan aku belum bekerja.

Hmm tapi sepertinya itu bagus, eh. Sudah lupakan dan lihat saja apa yg akan terjadi. Loh memangnya kalian bisa melihat haha maksudku baca apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku melihat Mr.Maximilian yang sedang memunguti kondom bekas itu, sambil menggerutu kesal lalu membuangnya ke kotak sampah yang ada di ruangan itu.

Astaga aku benar-benar takut sekarang, aku telah berani membentak dan menyuruh seorang boss... oh Tuhan hukuman apa yang akan ia berikan nanti. Huh kenapa aku tidak berpikir ulang dan langsung membentaknya tadi?

"Sudah! Cepat masuk keruanganmu sebelum aku berubah pikiran dan aku yang akan memasukimu!" sunggutnya kesal.

Tanpa di perintah untuk yang ke dua kalinya, aku langsung masuk keruanganku dengan berjalan tetap menunduk.

Hah selamat, Mr.Maximilian tidak menghukumku atas tindakanku yg terlalu berni itu. Atau mungkin belum? Ya setidaknya bukan sekarang.

Skip...

Aku menghembuskan napas panjang berkali-kali. Baru hari ini bekerja di perusahaan Maximilian Corp, sudah membuatku pusing setengah mampus begini!

Mungkin lama lama aku bisa mampus beneran kalau begini!

Bagaimana tidak. Di hari pertama aku bekerja, aku sudah di beri tugas yg seharusnya di kerjakan oleh Mr.Maximilian sendiri, tanpa di beritahu bagaimana caranya!

Maksudku-- ayolah aku ini kan anak baru, setidaknya ada bimbingan Untukku kan?

"Sudah selesai." ucapnya berbicara lewat intercom.

Aku mendengkus kesal, dasar pemalas! Untuk apa dia jadi bos kalau mengerjakan tugasnya saja tidak mau?

Aku menumpuk kembali kertas kertas itu, menyusunnya hingga rapi. Setelah itu aku beranjak dari dudukku, membuka pintu dan berjalan kearah Mr.Maximilian yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai.

"Sudah." ucapku menjatuhkan kertas kertas itu di mejanya.

"Di mana aku harus tanda tangan?"

Aku melotot sebal mendengar itu. Kenapa harus tanya, dia bisa membuka kertas itu sendiri kan?

"Kenapa diam?"

"Maaf, berkasnya sudah ada di hadapan anda, Mr.Maximilian... jadi anda bisa membuka dan melihatnya sendiri di mana anda harus tanda tangan." balasku berusaha berbicara sesopan mungkin walau pun rasanya aku ingin memakinya saat ini juga.

"Jadi apa gunanya aku mempekerjakan kau?" tanyanya mengerutkan dahinya menatapku sebal.

"Kalau begitu jangan pekerjaan saya." balasku santai.

"Hei! Kenapa kau selalu membalas ucapanku." ucapnya berbicara dengan nada yang sedikit meninggi.

"Jika Saya tidak membalas ucapan Mr.Maximilian nanti saya dikatakan tidak tahu diri... di tanya sang boss tidak mau menjawab." ucapku dengan tersenyum paksa.

"Ah bukan itu maksudku! Baiklah lebih baik kau pergi dari ruanganku, kau menyebalkan... minta dengan Rossa untuk membelikan aku makan siang."

Aku memutar badanku, berbalik arah untuk keluar ruangan Mr.Maximilian menutup pintu dengan sedikit tidak santai {keras} lalu berjalan menuju meja Rossa yang berada di depan ruangan Mr.Maximilian.

Rossa adalah sekretaris Mr.Maximilian, aku tidak tau mengapa ia membutuhkanku jika sudah ada Rossa! Ah aku hampir lupa, jelas saja dia membutuhkanku... Uhm maksudku adalah dia membutuhkan sekretaris pribadi, karena dia itu pemalas.

Contoh bos yang TIDAK patut untuk di contoh!

"Hai, Miss.Adeeva... ada apa? Sepertinya kau terlihat sedang kesal." tanya Rossa.

Yap, kami sudah berkenalan.

"Tidak perlu terlalu formal, Rossa. Kau cukup memanggilku Deeva saja."

"Oh baiklah, jadi apa yang terjadi, kenapa mukamu kusut sekali?" tanya Rossa lagi.

Aku mendengkus kesal. "Bosmu itu sangat menyebalkan." sunggutku.

"Jangan lupa fakta bahwa dia juga bosmu, Deeva." balas Rossa di iringi dengan senyuman. Kami memang baru mengenal, tapi Rossa adalah orang yang baik untuk di jadikan teman.

"Oh Tuhan... apa salahku? Sehingga kau menghukumku seperti ini? Semoga aku cepat di pecat dari kantor ini." keluhku kesal.

"Haha, biasanya yang menjadi sekertaris pribadi Mr.Maximilian selalu berdoa pada Tuhan agar Mr.Maximilian tidak memecatnya, tapi kenapa kau sebaliknya?" tanya Rossa menatapku heran.

"Oh--"

"Hmm, apa makananku sudah di pesan?"

Aku menoleh kebelakang dan melihat Mr.Maximilian yang sedang menatapku tajam.

"Belum--" belum selesai aku berbicara Mr.Maximilian sudah memotong ucapanku.

"Kenapa belum! Aku sudah menyuruhmu sejak sepuluh menit yg lalu." ucapnya semakin menatapku dengan tajam.

"Um, sebenarnya itu karena saya lupa tanya kepada anda... anda ingin makan siang apa?" tanyaku hati hati.

Um Mr.Maximilian sepertinya marah saat ini, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat menyeramkan itu.

"Kau!"

"Aku?" ulangku menunjuk diriku sendiri.

"Ya. Kau."

Apa maksudnya? Memangnya aku makanan apa?

Aku mengalihkan pandanganku untuk menatap Rossa yang sepertinya kembali di sibukkan dengan pekerjaannya.

"Dasar bodoh! Ikut aku."

"Eh, mau kemana?" tanyaku saat Mr.Maximilian dengan tiba tiba menarik tanganku memasuki ruangannya dan menghempaskan ku di sofa.

Aku menatapnya kesal, aku tau dia boss di sini. Tapi dia juga tidak bisa seenaknya main tarik tarik tangan orang sembarangan kan?

Bersambung.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MCR" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MCR
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dendam Putri Liar Sang CEO
9.3
Dijual oleh ayahnya sendiri kepada Fahreza Murni, seorang CEO dingin, sang putri liar mengira ia dicintai hingga pengkhianatan menyakitkan terjadi. Fahreza justru memberikan pusaka ibunya kepada Elok, wanita manipulatif yang ia bela meski telah menghina warisan tersebut. Setelah diseret ke rehabilitasi, cinta berubah menjadi dendam membara. Saat Fahreza kembali memohon maaf, ia menerimanya hanya untuk menghancurkan Murni Group dari dalam sebagai pembalasan yang setimpal.
Sampul Novel Dua Istri CEO
9.0
Pasca momen intim yang hangat, Brian dikejutkan oleh permintaan Azzura agar dirinya menikah lagi. Meski memiliki kekayaan dan rupa menawan, Brian tak pernah berniat mendua karena cintanya sudah utuh untuk sang istri. Namun, Azzura bersikeras tanpa alasan yang jelas, hingga membuat Brian merasa geram sekaligus tidak percaya diri. Di tengah ketegangan itu, Azzura justru mendekap Brian erat demi meyakinkan bahwa rasa cintanya tidak pernah pudar sedikit pun.
Sampul Novel Duri Pernikahan
9.4
Nada mendirikan studio yoga dan menaruh perhatian pada seorang murid baru yang sangat lentur. Namun, murid tersebut justru menggoda Nathan, suami Nada, serta menyebarkan fitnah keji hingga memicu keretakan rumah tangga mereka. Saat Nada mencoba mengeluarkannya, Nathan justru membela sang murid dan mengusir Nada. Konflik memuncak ketika murid itu datang dalam kondisi hamil dan meminta Nada mundur demi ahli waris. Nada pun memilih menyerah, tanpa menyadari rahasia besar bahwa Nathan sebenarnya mandul dan terlilit utang puluhan juta.
Sampul Novel Gelora Hasrat sang Presdir
8.3
Hidup Laura berubah drastis setelah merayakan pesta pelepasan masa lajang bersama adik dan teman-temannya. Akibat mabuk berat, ia terbangun di kamar hotel asing bersama seorang pria misterius. Kejadian buruk itu langsung diketahui oleh ayahnya begitu Laura tiba di rumah. Akibatnya, rencana pernikahan yang sudah di depan mata dibatalkan seketika, dan Laura diusir dari kediaman keluarganya. Kini, ia harus menghadapi masa depan yang tidak pasti sendirian tanpa arah.
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten
9.4
Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.
Sampul Novel Melarikan Diri dari Pernikahan
8.4
Kehamilan tak terduga membuat Andika Senjaya, pria yang selalu menghindari komitmen, tiba-tiba melamar Cathy. Di tengah kebahagiaannya, Cathy menerima lamaran tersebut tanpa ragu. Namun, tepat di hari pernikahan mereka, sebuah kebenaran kejam terungkap. Cathy tidak sengaja mendengar percakapan Andika dengan temannya. Andika mengaku terpaksa menikahinya demi masa depan anaknya bersama Nancy, karena ibunya menolak latar belakang Nancy. Andika bahkan merendahkan Cathy dan menyebutnya sangat membosankan.