Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel My Annoying Boss

My Annoying Boss

Demi lepas dari mantan pacar yang toksik, Sina nekat mengeklaim seorang pria asing sebagai kekasih barunya di sebuah restoran. Sialnya, pria itu ternyata Abraham Prama, atasan barunya di kantor. Di sisi lain, Abraham yang terdesak tuntutan menikah dari orang tuanya melihat ini sebagai peluang. Ia pun menuntut pertanggungjawaban Sina atas sandiwara tersebut. Terjebak dalam kesepakatan tak terduga, Sina harus menghadapi tuntutan sang bos miliarder yang menyebalkan.
Bab
Bagikan

Bab 3

Sebelum Sina dekat-dekat dengan Abra, Sina sudah seringkali merasakan kesialan dalam hidupnya. Terlebih setelah ayahnya meninggal akibat kelelahan dalam bekerja. Ibu tiri yang minta ini dan itu, saudara-saudara Sina pun berlagak layaknya orang kaya, padahal bisa makan tanpa kekurangan harusnya sudah sangat bersyukur.

Kesialan menghampiri Sina bertubi-tubi hanya dalam beberapa hari setelah ia berurusan dengan Abraham Prama. Karena selain aura Abra yang menyeramkan, Sina juga terkena getahnya akibat membuat masalah dengan lelaki itu.

Setelah kemarin diminta agar mengosongkan waktu minggunya-yang sama sekali tidak berharga seperti orang-orang kebanyakan, kata-kata Abra seperti menambah beban di kedua bahu Sina. Tiba-tiba akan melamarnya, mengajak menikah, lalu hari ini ia dibawa ke rumah orang tua Abra tanpa memberi kabar ke Sina. Paling tidak, Abra harus menanyainya dulu. Bersedia dinikahi tidak. Walau Sina lahir dari keluarga biasa, tapi dinikahi lelaki dari keluarga kaya raya bukanlah impian Sina.

Bayangan di kepala Sina ketika menikah dengan lelaki kaya-hanya berisi tentang penderitaannya. Bukan cuma disiksa secara batin saja, tapi juga fisik. Misal saja, diminta menyapu dan mengepel dari lantai bawah hingga ke lantai sepuluh cuma sendirian. Wah, itu mengerikan sekali! Mengepel lantai rumahnya sendiri yang sepetak saja, Sina sudah sakit pinggang, kaki keram, tangan ngilu, dan berbagai keluhan lainnya. Apa lagi kalau sampai disuruh mengepel sepuluh lantai. Dan... bayangan mengerikan Sina selama ini sudah tergambarkan dari pertemuan antara dirinya dan orang tua Abra barusan.

"Jangan bawa dia lagi ke sini."

'Woah' adalah satu kata yang keluar dari mulut Sina saat mendengar Ibu Abra mengatakannya secara langsung di depan dirinya. Tatapannya sinis, tentu saja. Tapi, bukan salah ibunya Abra, sih. Kalau posisinya ditukar, Sina juga akan pikir dua kali jika anak lelakinya membawa perempuan kumal seperti dirinya.

"Saya juga nggak berniat datang kemari biarpun diundang secara langsung, sampai di jemput pakai kereta kencana pun, saya lebih baik tidur di rumah." Ingin sekali Sina mengatakannya secara langsung. Biar sama-sama terkejut.

"Aku akan tetap bawa di ke sini sampai Mama setuju."

Abraham Prama sangat tinggi dibanding Sina. Padahal untuk ukuran perempuan, Sina termasuk cukup tinggi. Tapi Abra saja yang serakah. Sina harus merasakan pegal karena terlalu lama mendongak, menatap Abra dengan raut wajah terkejut.

Sebentar, Sina mencium bau-bau kurang sedap. Sepertinya ada yang mendasari kenapa Abra kekeuh ingin menikahi perempuan seperti Sina.

Lagi, karena Abra, Sina jadi merendahkan dirinya. Asal kalian tahu saja, biar Sina tidak secantik dan modis perempuan di luar sana, ada banyak lelaki yang menyukai Sina. Tapi Sina enggan menerima salah satu dari mereka, dan berakhir dengan lelaki-yang ia pacari beberapa waktu lalu. Sina rasa ia akan trauma. Lebih trauma lagi setelah didekati Abra secara tiba-tiba.

Di zaman sekarang, lelah sekali menjadi manusia, ya? Sina mau jadi ubur-ubur saja kalau begitu!

Sina memungut baju-bajunya di depan pintu. Setelah berperang dengan Ibu tirinya perihal rumahnya kemalingan karena lupa mengunci pintu saat dipaksa ikut bersama Abra, alhasil satu unik TV, laptop sang adik hilang diambil pencuri, Sina malah diusir oleh Ibu tirinya.

"Gue yang beli TV, yang beli laptop, giliran kemalingan, gue juga yang dimarahin. Diusir pula. Salah mulu gue jadi manusia," gerutu Sina sambil memasukkan baju-baju miliknya ke dalam kantong kresek ukuran besar.

Sina menatap bayangan dirinya sendiri dari cermin hitam di jendela, kemudian pandangannya turun ke kantong kresek di bawah kakinya lalu menurunkan kedua bahu. Persis. Mirip. Benar kata orang, ucapan adalah doa. Akibat Sina terus mengatakan dirinya mirip gembel dan gelandangan di depan Abra, malam ini Tuhan mengabulkan kata-katanya. Penampilan, bawaan Sina, sungguhan mirip gelandangan.

Sina salah apa sih, Tuhan? Dekat-dekat dengan Abra malah membuat Sina sial berkali-kali. Dan asal kalian tahu saja, lelaki itu bahkan menurunkan Sina jauh dari letak rumahnya. Sina harus berjalan lumayan jauh. Dan setelah sampai, hebat, ia diusir oleh Ibu tirinya.

Rasanya, menangis juga percuma. Yang keluar tetap air juga. Asin rasanya. Beda lagi kalau yang keluar itu berlian, atau mutiara. Mungkin Sina akan menampar dirinya keras-keras agar menangis setiap saat, kemudian ia akan menjadi kaya raya hanya dengan menangis.

"Andai aja bunuh diri nggak bikin dosa," gumam Sina berjalan di atas trotoar sendirian. "Tapi, kalau nggak ada dosa di dunia ini, daripada gue bunuh diri, mending gue bunuh Mama tiri, sih. Hidup gue amburadul juga karena dia. Kenapa harus merugikan diri gue sendiri? Iya, kan? Ah, gue emang pintar dari dulu. Cuma nasib aja nggak mendukung."

Sepanjang berjalan kaki, sesekali menengok ke belakang mencari angkutan umum, Sina tidak berhenti menggerutu. Sumber masalah di dalam hidupnya pertama adalah Ibu tiri. Lalu kini Tuhan mengirim sumber masalah lainnya. Abraham Prama. Orang yang patut Sina salahkan sekarang adalah atasannya! Coba saja Abra tidak memaksanya pergi tadi, mungkin rumah Sina tidak kemalingan, Sina tidak diusir, dan Sina tidak menjadi gembel!

"Sina!"

Sina menghentikan langkah, kedua matanya memejam, dalam hati ia berharap itu bala bantuan yang dikirim oleh Tuhan. Siapa tahu ada orang yang mengenali Sina, lalu memberinya tempat tinggal gratis, makan gratis, jadi Sina tidak perlu mengeluarkan uang lagi.

Beruntung Sina imannya kuat. Tidak mudah terpengaruh. Andai saja Sina tidak kuat imannya, mungkin ia sudah menjadi simpanan om-om kaya raya.

"Benar Sina, kan?" Lelaki bermotor hitam itu melepaskan helm, pantas menghampiri Sina sedang berdiri melamun di atas trotoar.

Kedua mata Sina mengerjap. Untuk beberapa saat ia terdiam, hanya anggukkan kepala yang terlihat sebagai jawaban atas pertanyaan lelaki di depannya.

"Kamu mau ke mana, Na? Ini kamu bawa apa? Kenapa malam-malam masih di luar." Kesadaran Sina seolah terenggut hanya karena lelaki itu menghujaninya banyak pertanyaan. Sama seperti dahulu, lelaki ini tidak banyak berubah.

"Aku diusir sama mamanya Mas Bhiyan," adu Sina dengan tatapan yang seluruhnya tertuju pada Bhiyan.

"Diusir sama Mama? Kenapa bisa? Itu rumah kamu sama Ayah kamu. Kenapa malah Mama ngusir kamu?" tanya Bhiyan bingung. Sejenak, Bhiyan tersadar jika mereka ada di tempat umum. Berisik. "Ayo, Na, ikut pulang ke rumah Mas aja. Sini bawaan kamu, biar Mas aja yang pegang." Sebelumnya Bhiyan melepas jaket miliknya, kemudian menyampirkan jaket itu ke bahu Sina.

Sina duduk di belakang Bhiyan. Kewarasan Sina selalu bermasalah jika ada di dekat Bhiyan. Astaga, ayo sadar, Sina! Bhiyan itu Kakak tirinya, sudah beristri pula! Lagi pula, menjadi perebut suami orang bukan cita-cita Sina.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95PFW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95PFW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dalam Keheningan
8.8
Aria yang bisu sejak lahir kerap diabaikan hingga takdir membawanya menjadi nyonya di Keluarga Kurnia. Ia tahu suaminya, Ian, tidak mencintainya. Saat Letty, cinta pertama Ian, kembali dari luar negeri dan menjalin hubungan lagi dengan suaminya, Aria sadar pernikahan ini harus berakhir. Demi melindungi rahasia kandungannya, Aria menyembunyikan hasil tes kehamilan dan memutuskan untuk mundur dari kehidupan pria miliarder tersebut.
Sampul Novel Direktur Iblis Takut Kehilangan
8.4
Hidup Lia Adelia hancur seketika saat ia kehilangan suami dan diusir dari rumahnya sendiri. Sebagai janda dengan dua anak, ia berjuang mencari kerja meski terus diremehkan karena status dan fisiknya. Takdir mempertemukannya dengan Bagas Samudra, direktur bank yang dingin dan menyebalkan. Meski Lia bersumpah tidak akan menikah lagi demi mendiang suaminya, sikap Bagas perlahan berubah menjadi penuh perhatian. Apa sebenarnya rencana sang direktur terhadap Lia?
Sampul Novel Kehadirannya Membuatku Tersiksa
9.8
Hidup Arlena berubah total pasca perjodohan mendadak dengan pria asing. Alih-alih pernikahan datar, suaminya justru sangat perhatian dan selalu hadir menuntaskan masalahnya secara misterius. Rahasia besar terungkap saat Arlena melihat siaran televisi tentang miliarder tampan yang sangat memuja istrinya. Arlena syok menyadari pria di layar adalah suaminya sendiri. Ternyata, di balik kesederhanaan mereka, tersimpan kekuasaan besar dan cinta tulus sang suami.
Sampul Novel Kerinduan Tak Berujung
9.4
Lima tahun membina rumah tangga, Stella justru menemukan kenyataan pahit bahwa dokumen pernikahannya dengan Felix adalah palsu. Status istri sah ternyata diberikan kepada wanita lain bernama Tania demi melancarkan bisnisnya di luar negeri. Felix mengira Stella yang telah mengorbankan segalanya tidak akan pernah pergi. Namun, rasa sakit hati yang teramat dalam membuat Stella memutuskan untuk menghilang selamanya, tepat saat Felix mencoba membawa akta pernikahan yang asli.
Sampul Novel Mr. Quick
8.4
Bunga Humaira melarikan diri ke luar negeri demi menyembuhkan luka hati setelah kegagalan pernikahannya. Namun, harapan untuk memulai hidup baru yang tenang justru terusik oleh kehadiran Afrain Derson. Pria kaya dan mapan itu muncul dengan kepribadian serba cepat yang sangat memaksa. Meski Bunga merasa tertekan oleh sikap impulsif Afrain, sang miliarder tetap berkeras bahwa dirinya adalah pasangan sempurna yang tidak pantas untuk ditolak oleh Bunga.
Sampul Novel Nick
8.0
Nick Gustron adalah pengusaha sukses yang mendominasi dunia informatika dengan ketegasannya. Namun, dominasinya kini ditantang oleh klien bisnisnya sendiri, Salas Cano, pria asal Venezuela. Persaingan mereka tidak hanya soal bisnis teknologi, melainkan perebutan hati seorang gadis desa yang sederhana. Kedua pria tampan, cerdas, dan kaya ini harus bersaing ketat demi cinta. Siapakah yang akhirnya memenangkan hati sang gadis? Harap bijak, terdapat konten dewasa.