
Mrs Bodyguard
Bab 2
Memasuki rumah milik Kai, bos yang selama ini dikawalnya, terasa nyaman. Tampak Kai sedang bersama Arka, putranya dan juga Nadine, ibu kandung dari Arka. Dru tersenyum saat melihat Nadine. Kekasih dari Kai, yang sebentar lagi akan menikah dengan bos nya itu.
Kai adalah sepupu dari Devan, beberapa waktu ini, Dru ditugaskan untuk mengawal Kai. Sebenarnya Devan enggan, karena merasa lebih nyaman jika Dru yang menjaga putra kembarnya. Tapi Kai meminta khusus, sehingga dirinya mau tidak mau mengiyakan. Kai lebih nyaman dijaga oleh Dru daripada dua Bodyguard yang mengawasinya dari jauh.
"Kamu kenapa ?" Tanya Kai dan juga Nadine bersamaan dengan kening berkerut saat melihat tangan dan juga lengan Dru yang terluka. Apalagi Nadine terlihat lebih khawatir. Bukan sekali ini saja dirinya melihat Dru terluka seperti ini.
Dru tidak menjawab, hanya segera duduk. Nadine segera mengambil kotak p3k. Membantu Dru mengobati lukanya. Setelah selesai seadanya, Nadine meminta Kai untuk mengantar Dru ke rumah Adrian.Pergi ke rumah Adrian adalah pilihan tepat, karena Dokter Adrian bisa mengobati luka Dru dengan lebih baik.
Dru bungkam saat Adrian menginterogasinya tentang luka di tangan dan juga di lengannya.
Freya dan Nadine hanya menghela nafas melihat Dru. Gadis manis yang terlihat seperti laki-laki itu tampak tenang dengan keadaannya.
Tidak ada teriakan kesakitan yang keluar dari bibirnya saat Adrian mengobatinya.
"Aku tadi menolong seorang pemuda yang diserang," ucap Dru pelan setelah Adrian selesai mengobatinya.
Kai menganggukan kepala, biasanya Dru paling malas ikut campur urusan yang bukan tugasnya. Apalagi itu terkait perkelahian, yang bisa saja akan berbuntut panjang.
"Biasanya kamu malas ikut campur, atau kamu mengenal orang itu ?" Tanya Kai dengan kening berkerut.
"Sepertinya mereka pembunuh bayaran yang ditugaskan menculik si pemuda yang aku tolong tadi," ucap Dru tenang yang dibalas anggukan kepala Kai.
"Sudah-sudah, jangan tanya-tanya lagi. Biarkan Drupadi istirahat dulu.Kita pulang ya, kamu istirahat dan jangan melakukan apapun yang berbahaya," ucap Nadine tegas lalu segera mengajak Dru setelah berterimakasih dan berpamitan pada Adrian dan Freya.
"Terimakasih," ucap Dru pelan pada Adrian dan Freya yang membalasnya dengan senyum. Gadis manis itu bahagia walau terluka. Masih ada yang sayang padanya, walau dirinya sendiri tidak mengenali keluarga aslinya.
"Besok aku akan ikut pada acara jamuan makan yang kamu datangi," ucap Dru saat di dalam mobil.
"Tidak usah, aku bisa menjaga diriku. Kamu istirahatlah yang banyak," ucap Kai yang dibalas gelengan Dru.
"Kali ini tolong dengarkan," ucap Nadine membelai lembut rambut Dru yang menghela nafas panjang.
"Tidak apa-apa, ini hanya luka kecil," ucap Dru lagi masih bersikeras. Kai hanya diam saja, berdebat dengan Dru tidak akan pernah menang jika menyangkut tugasnya.
"Hmm gadis keras kepala," gumam Kai yang ditanggapi senyum Nadine dan juga Dru.
***
Hari berganti,tampak Kai rapi dengan jas formalnya. Demikian juga dengan Dru,yang mengenakan jas formal, terlihat tampan. Ia tidak terlihat seperti seorang gadis dalam kodratnya.
Dru mengemudi dalam diam, demikian juga Kai yang asyik dengan ponselnya.
"Dru ...." Kai memanggil Dru yang mendapat anggukan kepala.
"Nanti jangan berdiri jauh dariku, duduk saja di dekatku. Aku tidak nyaman diawasi dari kejauhan. Kalau tidak mau, lebih baik tidak usah mengikutiku," ucap Kai yang mendapat senyum tipis dari Dru. Bos nya ini selalu saja begitu, padahal dirinya lebih nyaman mengawasi dari jauh.
Setelah memarkir mobil pada tempat yang sudah disediakan, Dru mengikuti Kai memasuki gedung yang akan menjadi tempat makan malam. Tampak Devan juga hadir. Kai melangkah ke arah Devan, lalu duduk di samping sepupunya itu. Dru tampak kikuk karena Kai memintanya untuk duduk. Tentu saja dia merasa canggung jika harus duduk, dalam keadaan bertugas. Apalagi ada Devan, pria dingin yang merupakan bos utama, pimpinan Red Eagle dengan nama samaran Ryuu.
"Duduk saja dan jangan kaku begitu," ucap Devan lalu tersenyum manis pada Dru yang mengangguk sambil tersenyum.
Kedua netra Dru tampak berkeliling meneliti ruangan yang di tata demikian bagus. Tapi tatapannya berhenti pada seseorang yang terus menatapnya tanpa berkedip. Duduk disana pemuda yang dua hari lalu di tolongnya. Masih terdapat bekas luka pada bibir bawah si pemuda. Tapi wajah babak belurnya sudah hilang, berganti wajah tampan yang lebih pada cantik. Indah tanpa cela, hanya luka itu saja yang membuatnya sedikit ternoda.
Dru segera berpaling, tidak nyaman di tatap begitu tajam. Ingin rasanya dia menghampiri si pemuda, lalu menghajarnya hingga babak belur.
"Aish ... sial, kenapa dia terus menatapku, aku akan buat perhitungan dengannya nanti," gumam Dru pelan yang masih dapat di dengarkan oleh Kai.
"Kamu marah sama siapa ? Mau menghajar siapa lagi ?" Tanya Kai yang mendapat senyum cengengesan dari Dru.
Selesai acara makan malam dan pembahasan beberapa hal. Tampak Devan berjalan ke arah laki-laki yang berdiri bersama pemuda yang di tolong oleh Dru. Karena Kai mengikuti Devan, tentu saja Dru juga mengekor dari belakang.
"Halo tuan Tanaka," sapa Devan pada laki-laki paruh baya yang masih tampak gagah dengan senyum yang manis. Laki-laki itu menyambut uluran tangan Devan dan juga Kai.
"Ini bodyguard baru anda ?" Tanya tuan Tanaka pada Devan, karena melihat Dru hanya terdiam di samping Kai.
"Ini keluarga," ucap Kai sebelum Devan membuka mulutnya. Yang dibalas anggukan tuan Tanaka tanda mengerti.
Dru melirik pemuda yang berdiri di samping tuan Tanaka yang masih juga menatap padanya.
"Papa ... pemuda ini yang sudah menolongku," ucap si pemuda yang berada di samping tuan Tanaka. Tentu saja Kai dan Devan kaget. Kai mengaitkan dengan keadaan Dru dua hari lalu.
"Terimakasih banyak," ucap tuan Tanaka tulus sambil membungkukkan badannya tanda penghormatan. Dru membalas membungkuk sebagai sopan santun.
"Oya kenalkan, ini Kendra putra bungsuku, ia baru kembali dari luar negeri satu bulan yang lalu," ucap tuan Tanaka memperkenalkan si pemuda pada Kai dan juga Devan.
Si pemuda segera menyalami dua pria yang diperkenalkan oleh Papanya dengan penuh hormat.
Setelah berbasa-basi Devan segera berpamitan diikuti Kai dan juga Dru yang berjalan di belakang Kai. Dari gerakan Dru, tuan Tanaka sudah dapat menebak jika pemuda yang bersama dua orang yang dihormatinya itu adalah seorang bodyguard, dilihat dari gaya berpakaian dan juga gerak-geriknya.
"Aku menginginkan bodyguard seperti itu," ucap Kendra menatap punggung Dru yang menjauh.
"Apakah Papa bisa usahakan ?" Tanya Kendra pada sang Papa yang menggeleng dan mengangkat bahu.
"Jika itu adalah orang kepercayaan Devan atau Kai, maka akan sulit mendapatkannya. Mereka dilatih dengan kesetiaan yang tiada duanya." Setelah mengucapkan hal itu, tuan Tanaka segera meninggalkan putra kesayangannya itu, untuk menyapa beberapa koleganya.
Kendra menarik nafas panjang. Ia mencari orang seperti pemuda itu, para bodyguard yang bersamanya sering berganti-ganti. Terkadang dia yang tidak cocok atau bodyguardnya yang tidak merasa nyaman dengannya. Saat ini dirinya sudah memiliki seorang bodyguard, tapi entah mengapa rasanya tetap tidak nyaman.
Persaingan bisnis mengharuskannya memiliki bodyguard untuk berjaga-jaga akan keselamatannya.
***
Kendra sedang bersantai di bar bersama teman-temannya, saat kedua netranya tidak sengaja melihat pemuda yang pernah menolongnya.
Kendra segera berjalan ke arah si pemuda sambil membawa minumannya.
Kendra duduk di kursi yang kosong di samping kursi Dru.
"Kita bertemu lagi," ucap Kendra pada Dru yang hanya memutar kepalanya untuk melihat siapa yang menyapanya, lalu kembali pada posisi semula dengan gaya cuek.
Dru menyesap wine yang ada di tangannya tanpa memperdulikan Kendra yang masih duduk di sampingnya.
"Aku ingin berterimakasih karena kamu sudah menyelamatkan nyawaku. Aku orang yang tidak bisa hidup dengan memiliki hutang budi pada seseorang. Berapa uang yang kamu minta, maka akan aku berikan," ucap Kendra masih menatap ke arah Dru.
"Cukup jangan ganggu aku, anggap saja kita tidak pernah bertemu. Itu caramu berterimakasih padaku dan caramu membayarku. Aku menolongmu bukan karena aku ingin, tapi keadaan yang mendesak." Dru meneguk habis wine nya, lalu segera meninggalkan meja bartender. Berjalan pergi tanpa memperdulikan Kendra yang kesal di buatnya. Baru kali ini melihat orang yang demikian keras kepala dan menolak sesuatu hal tentang uang. Kendra makin penasaran pada sosok pengawal Kai tersebut.
Anda Mungkin Juga Suka





