Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mr. Right

Mr. Right

Pertemuan Angelina Bale dengan Dean Carter membawa dilema besar yang mengancam hubungan baiknya bersama Raquel Scott. Meski menyadari risiko kehancuran persahabatan mereka, Angie tidak mampu mengendalikan ke mana hatinya berlabuh. Kini ia terjebak dalam pilihan sulit antara kesetiaan pada sahabat atau mengejar cinta sejatinya. Keputusan apa pun yang diambil Angie dipastikan akan menyisakan luka mendalam bagi semua pihak, termasuk dirinya sendiri.
Bab
Bagikan

Bab 1

Angelina Bale tidak ingat mengapa dan sejak kapan dia berada di tempat ini. Lorong sempit yang dilewatinya sunyi dan berwarna putih. Dia mempercepat langkah, ingin mencari tahu apa, atau siapa, yang menunggunya di ujung sana. Namun, kakinya terhalang sesuatu.

Dia menunduk dan mendapati ujung gaun panjang menutupi keseluruhan kaki-kakinya. Dia tidak bisa menemukan alasan mengapa dirinya memakai gaun. Bahkan berwarna merah muda dan dihiasi banyak renda dan pita.

Angie sedikit mengangkat gaunnya agar bisa lebih leluasa bergerak. Namun, meskipun rasanya sudah bermenit-menit berlari, dia belum juga mencapai ujung lorong. Napasnya terengah-engah dan kakinya sudah letih bergerak. Ketika dia akhirnya memutuskan untuk menyerah, indera pendengarannya menangkap alunan piano. Melodi lembut itu telah mengembalikan kekuatannya. Dan ajaibnya, dia berhasil mencapai ujung lorong hanya dalam beberapa langkah.

Ruangan di ujung lorong terlihat sangat menakjubkan. Segalanya tampak putih; kursi-kursi yang melingkari meja bundar, tirai-tirai di setiap sisi jendela, juga panggung di seberangnya. Bunga lili dan mawar putih menjadi penghias panggung dan altar di bagian tengahnya. Seorang pria berdiri membelakanginya di depan altar, dalam setelan tuxedo yang juga berwarna putih. Angie tidak bisa mengenali pemilik rambut ikal sewarna tembaga itu.

Suasana ini... apakah seorang kenalannya akan menikah?

Tiba-tiba pria itu menoleh, namun Angie tidak bisa melihat wajahnya yang diliputi sinar menyilaukan dari lampu sorot di atas panggung. Namun, tangan yang terbungkus lengan jas putih itu terulur, seolah-olah mengundang Angie untuk datang kepadanya.

Merasa heran namun tertarik oleh rasa penasaran, Angie berjalan perlahan menghampirinya. Jarak mereka semakin dekat. Angie menurunkan gaunnya agar bisa meraih tangan lebar yang terulur itu. Ujung jari-jarinya telah menempel di atas ujung jari-jari pria itu. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga nyaris meledak saat mendongak, mencari tahu wajah pemilik badan tegap di depannya.

Bunyi dering memekakakkan telinga yang muncul secara mendadak membuat Angie terlonjak kaget.

Sejenak dia hanya mengerjap, kemudian matanya menangkap permukaan datar berwarna putih di depannya. Selama beberapa saat dia menatap bingung benda itu, yang ternyata merupakan langit-langit sebuah ruangan, flatnya. Tidak lama kemudian sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.

“Astaga, itu hanya mimpi,” katanya setelah berhenti tertawa.

Angie menggulingkan badan ke samping, dia melirik jam persegi di seberang ranjang. Pukul dua belas lebih beberapa menit. Angie tidak bisa memastikan berapa kelebihannya. Yang pasti, jarum panjangnya yang berwarna hitam berada di antara angka satu dan angka dua.

Lantunan salah satu lagu grup band The Chainsmokers yang terdengar dari arah meja mengingatkan Angie alasan mengapa dirinya terbangun. Tangan kirinya menggapai ponsel dan membaca nama Raquel tercetak di layarnya. Seketika erangan tertahan keluar dari bibirnya. Jika saja si penelepon itu bukan teman terbaiknya, Angie akan memilih untuk melemparkan ponsel ke sofa dan menangkupkan bantal ke atas kepalanya seraya kembali berbaring.

Angie mengempaskan setengah badannya yang terduduk di atas tempat tidur. Bibirnya, yang berwarna merah muda alami, mendesah pelan setelah menyentuh tombol jawab.

“Yeah? Ada hal penting apa yang membuatmu menghubungiku sepagi ini?” dia bertanya tanpa basa-basi.

“Pagi? Astaga. Apakah jam dindingmu mati?” tanya Raquel bernada menyindir. Angie membayangkan Raquel memutar bola matanya yang berwarna abu-abu cerah.

“Nah, tidak. Tetapi aku baru tidur jam sembilan tadi. Jadi, sekarang ini masih dini hari menurutku,” jawab Angie gagal menahan kuapnya.

Terdengar dengusan keras Raquel. “Seharusnya kau berhenti menulis cerita remaja konyol itu dan tidur dengan teratur.”

“Jangan sebut konyol.” Angie menguap lagi. “Kau pikir dari mana uang yang kuhabiskan selama menemani kau liburan akhir tahun lalu? Semuanya hasil dari cerita itu.”

“Yeah, maaf. Aku tidak bermaksud mengatakannya dengan cara yang buruk.” Ada nada penyesalan dalam suara Raquel meskipun Angie tidak sungguh-sungguh memarahinya.

“Aku tahu,” kata Angie menjawab. Dan dia memang tahu bahwa Raquel sangat menyesali ucapannya. “Lalu, kau membangunkanku bukan hanya untuk menguliahiku tentang jam tidur ka~?” Angie gagal menyelesaikan kalimatnya karena tidak berhasil menahan kuapnya.

“Sebenarnya tidak. Aku ingin memberitahumu bahwa aku akan datang dan mengajakmu pergi. Aku segera sampai. Setengah satu. Tidak lebih, tidak kurang.”

Angie mengerang. “Aku butuh tidur. Kau tahu sendiri terakhir kali aku memejamkan mata sudah lebih dari empat puluh jam yang lalu.”

“Waktumu tidak tersisa banyak, sebaiknya cepatlah bersiap-siap. Aku janji kau tidak akan menyesali pergi denganku,” kata Raquel seakan-akan tidak mendengar protes Angie. “Sampai ketemu sebentar lagi,” lanjutnya lalu menutup telepon sebelum Angie sempat membantah.

Wanita itu mengumpat pelan meskipun sebenarnya ingin sekali memaki dan membanting ponsel. Namun, dirinya tidak ingin membuang tenaga untuk melakukan hal tidak berguna semacam itu.

Melirik penunjuk waktu di layar ponsel dan memastikan hanya memiliki sekitar lima belas menit untuk bersiap-siap, Angie turun dari tempat tidur. Bibirnya mendesah lagi saat menyeret kakinya menuju kamar mandi yang jaraknya tidak lebih dari sepuluh langkah.

Dalam lima belas menit, Angie berhasil mandi, menggosok gigi, memakai celana jeans dan sweter rajutan tangan berlengan tanggung mencapai siku, serta mengikat keseluruhan rambut sebahunya ke belakang. Menilik kantung matanya tidak tampak terlalu buruk meskipun dirinya hanya punya waktu tiga jam untuk tidur, Angie mengabaikan keberadaan koleksi alat rias, yang jumlahnya tidak banyak, di dalam keranjang. Lagipula dia sudah mendengar bunyi tin sebanyak dua kali yang dikenalinya sebagai bunyi klakson mobil kesayangan Raquel.

Angie meraih tas selempang seukuran novel dan kunci apartemen serta dompet di antara sekian banyak barang yang berantakan di atas meja. Beruntung kamarnya berada persis di samping tangga lantai dua, sehingga dia langsung menuruninya dengan melompati setiap dua anak tangga sekaligus sesudah memastikan pintunya terkunci rapat.

Raquel melambaikan tangan dari celah kaca jendela yang terbuka di samping kursi pengemudi ketika melihat Angie berjalan mendekat.

“Aku harap kau punya alasan yang pantas mengapa membangunkan aku,” kata Angie memperingatkan seraya mengenyakkan diri di atas jok di sebelah Raquel.

Dia memasang sabuk pengaman sementara sahabatnya menjalankan mobil keluar dari area parkir sambil menyengir. Matanya memperhatikan sapuan riasan dan blus biru laut Raquel yang belum pernah dilihatnya sebelum ini. “Dan, omong-omong, kau terlihat cantik.”

“Terima kasih. Aku baru membeli blus ini dua jam yang lalu. Bagaimana menurutmu?”

“Sangat cocok,” kata Angie jujur. Sejak pertama kali mereka bertemu sekitar dua belas tahun yang lalu, Angie tidak pernah satu kali pun melihat sesuatu yang tidak terlihat bagus melekat di badan Raquel.

“Jadi kita akan ke mana?” tanyanya kemudian.

“Nanti kau juga tahu,” jawab Raquel mengulas senyum misterius.

“Hentikan bersikap sok rahasia, Raquel. Katakan saja ke mana kau akan membawaku pergi?”

“Dasar. Kau sama sekali tidak bisa diajak bercanda.”

Angie menaikkan alisnya dengan tatapan menunggu.

“Oke, oke.” Raquel mendesah dengan nada menyerah. “Kita akan pergi makan pizza.”

Bola mata Angelina Bale terbeliak. “Apa? Makan pizza? Jadi kau memaksaku bangun dan menculikku hanya untuk pizza?”

“Menculik? Aku bahkan tidak mengikat tangan dan kakimu.”

“Well, yeah, mungkin tidak secara harfiah.”

Raquel tertawa.

“Kelihatannya kau sadang senang. Aku rasa ini bukan sekadar makan pizza biasa,” kata Angie menebak.

Tidak langsung menjawab, seringai Raquel melebar. “Bisa kau tebak kita pergi dengan siapa?” dia bertanya sambil memutar kemudi mobil ke arah kiri.

“Presiden?” balas Angie asal saja.

Bibir Raquel sedikit mengerut. “Bisakah kau menjawab dengan sesuatu yang masuk akal?”

Kepala Angie masih sedikit pusing akibat kurang tidur. Yang diinginkannya saat ini adalah ranjang nyaman untuknya merebahkan diri, bukan permainan tebak-tebakan ataupun seloyang pizza. Jadi, dia menggeleng.

“Ayolah.”

“Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan.”

“Astaga. Kau sama sekali tidak asyik.”

Angie memutar bola matanya. “Katakan saja. Aku tahu sebenarnya kau sudah tidak tahan ingin segera memberitahuku.”

“Well, jangan kaget. Kau akan bertemu Mr. Right!” seru Raquel tanpa berusaha menyembunyikan nada gembiranya kala menyampaikan informasi tersebut.

Spontan Angie memutar lehernya ke arah Raquel. “Maksudmu, aku akan mendengar berita bagus?”

Angie sangat tahu Raquel sedang tergila-gila pada seorang pria yang disebutnya Mr. Right selama tiga bulan belakangan ini. Dan Angie teringat Raquel berjanji akan memperkenalkan si Mr. Right itu padanya jika hubungan mereka mulai ada kemajuan. “Haruskah aku mengucapkan selamat tinggal pada status lajangmu?”

Tidak langsung menjawab, Raquel tertawa. “Tidak. Maksudku, belum. Kita hanya akan makan pizza bersama.”

“Dan kenapa aku harus ikut?”

“Seperti yang pernah kuceritakan, dia sulit didekati dan selalu menolak ajakanku untuk makan. Dan akhirnya dia setuju. Dia bilang akan mengajak seorang teman dan memintaku melakukan hal yang sama.”

“Anggap saja itu satu pertanda bagus.”

“Yah, kuharap begitu. Kau tahu sendiri betapa susah aku mencoba mendekatinya. Padahal aku yakin aku sudah memberinya sinyal dengan sangat jelas.”

Angie meringis. Dia sering mendengar usaha Raquel membuntuti—Raquel tidak ingin usahanya disebut sebagai kegiatan menguntit—Mr. Rightnya beberapa kali dengan muncul di kafe atau restoran yang sama dengan pria itu seolah-olah mereka hanya secara kebetulan bertemu.

“Tetapi... kenapa pizza?” tanya Angie tidak bisa mengerti alasan Raquel memilihnya.

“Jangan ingatkan aku. Aku terus menyesalinya sejak mengatakan itu kemarin. Seharusnya aku mengajak dia pergi ke tempat yang lebih privat. Makan malam dan minum wine akan bagus untuk mendekatkan hati kami berdua.”

“Menurutku, makan pizza sebagai permulaan tidak buruk juga. Lagipula kita sudah sampai,” kata Angie menambahkan saat melihat plang kedai pizza di kiri jalan.

“Yeah, kuharap kau benar.”

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Tak Mau Dimadu
9.7
"Aku menolak dipoligami!" tegas diriku. Tidak ada seorang istri pun di dunia ini yang rela berbagi cinta, termasuk aku. Situasi kian menyakitkan karena sosok madu tersebut adalah perempuan dari masa lalu yang pernah mengisi hati suamiku. Naya, camkan ini baik-baik: hingga embusan napas terakhirku, aku bersumpah tidak akan membiarkanmu merebut suamiku. Aku akan mempertahankan rumah tanggaku dan memastikan kau takkan pernah bisa memilikinya kembali.
Sampul Novel CINTA LINA
9.1
Dalam kisah romansa modern yang penuh emosi ini, Lina harus menghadapi kenyataan pahit saat dirinya terjebak dalam sebuah perjodohan yang tidak pernah ia inginkan sebelumnya. Di tengah tekanan tradisi keluarga yang begitu kuat, ia berusaha mencari makna cinta sejati di balik ikatan pernikahan yang dipaksakan. Akankah komitmen yang bermula dari rencana orang tua ini berubah menjadi perasaan tulus, atau justru menjadi beban yang menghancurkan kebahagiaannya?
Sampul Novel Cinta Palsu di Balik Perjalanan Dinas
8.3
Empat dekade tertipu, rahasia suami terbongkar lewat tablet cucu. Isinya ribuan foto mesra dia dan sahabatku, Wulandari, saat perjalanan dinas palsu. Bahkan Rizal, putraku, lebih memilih memuja pelakor itu daripada ibu kandungnya. Ternyata aku hanya dimanfaatkan sebagai inkubator karena Wulandari mandul. Tak sudi jadi babu, aku menuntut cerai dan menguras harta mereka. Kini aku sukses di Bali, membiarkan mereka hancur dan mengemis tanpa ampun sedikit pun.
Sampul Novel Hanya Suami di Atas Kertas
8.0
Agnes Permatasari, seorang wanita karier, terpaksa mengakhiri pernikahannya dengan Rama Pratama akibat tekanan mertua dan ipar yang toksik. Setelah bercerai, Rama segera menikahi wanita kaya pilihan ibunya, meninggalkan Agnes dalam bayang-bayang status janda. Di tengah hinaan dan cacian masyarakat, Agnes harus berjuang menentukan arah hidupnya. Apakah perpisahan ini akan membuatnya semakin terpuruk, atau justru menjadi titik balik baginya untuk bersinar?
Sampul Novel Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku
7.9
Dalam novel misteri modern Kakakku Menjadi Gila Setelah Kematianku, hubungan darah tidak menjamin kasih sayang. Sang kakak sangat membenci adiknya dan terang-terangan berharap agar dia lenyap. Pertanyaan pilu sang adik tentang status persaudaraan mereka hanya dibalas dengan penolakan dingin bahwa ia tidak menganggapnya ada. Namun, setelah sebuah kecelakaan mobil tragis merenggut nyawa sang adik malam itu juga, penyesalan dan misteri mulai mengubah segalanya hingga membuat sang kakak perlahan kehilangan akal sehatnya.
Sampul Novel My BadBoy
8.6
Adzando Dalwes dikenal sebagai siswa nakal yang tampan sekaligus jago berkelahi. Meski banyak gadis mengejarnya, luka masa lalu membuat Adzando menutup hati dan menganggap semua wanita sama. Namun, persepsi itu goyah saat Vania Deltasya hadir. Siswi baru blasteran Amerika-Indonesia ini membawa perubahan besar dalam hidup Adzando. Apakah sang pembuat onar benar-benar jatuh cinta? Mampukah Vania membalas perasaan lelaki yang selama ini dikenal dingin tersebut?